NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Perjalanan menuju pinggiran kota terasa begitu panjang bagi Andre dan Riko.

Begitu mobil yang dikendarai Deacon memasuki sebuah perkampungan dengan jalanan yang hanya beralaskan semen seadanya, jantung kedua pria muda itu mulai berdegup kencang karena cemas.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana berdinding batako tanpa plesteran mewah, dengan halaman kecil yang ditumbuhi pohon mangga rimbun. Itulah rumah lama Jihan.

Deacon turun dari mobil, menghirup udara segar sore hari dalam-dalam dengan wajah berseri-seri.

"Wow, amazing! Suasana di sini sangat asri dan tenang. Udara pedesaan ini sangat bagus untuk kesehatan," puji Deacon dengan senyuman lebar.

Berbanding terbalik dengan Deacon yang menikmati suasana, Andre dan Riko melangkah turun dengan wajah yang ditekuk dalam-dalam.

Begitu menginjakkan kaki di teras rumah yang hanya beralaskan tegel abu-abu kuno, Riko langsung menutup hidungnya.

"Mas, tempat apa ini? Kamar mandinya pasti jorok sekali," bisik Andre dengan ekspresi sangat jijik, menatap langit-langit teras yang berdebu.

"Tahan, Dre. Ingat rencana kita. Kita hanya perlu berpura-pura di depan bule sialan ini," sahut Riko pelan melalui sudut bibirnya, meski hatinya sendiri meronta ingin segera pulang ke mansion mewah mereka.

Namun, lamunan mereka tentang rencana licik itu seketika buyar saat Deacon berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.

Tatapan ramah pria Kanada itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tegas, persis seperti tatapan Darren saat menginterogasi bawahannya.

"Andre, Riko, kemari. Serahkan semua dompet, ponsel, dan sisa uang saku dua juta kalian sekarang," perintah Deacon tanpa basa-basi, mengulurkan sebuah kotak kayu kosong ke hadapan mereka.

Andre terkesiap. "Lho, Deacon! Tapi Papa tidak bilang kalau uang saku kami juga harus disita!" protesnya tidak terima.

"Di sini, aku yang memegang kendali atas perintah Darren," potong Deacon dengan suara bariton yang tidak menerima bantahan. Dengan terpaksa dan hati yang menggerutu, Andre dan Riko merogoh saku mereka dan menyerahkan seluruh sisa uang serta ponsel mereka.

Tidak sampai di situ, Deacon dengan cepat menyambar kunci motor matic yang diletakkan Riko di atas meja kayu, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri.

"Kunci motor ini juga aku sembunyikan. Mulai hari ini, tidak ada fasilitas kendaraan untuk kalian."

Riko mengepalkan tangannya di balik saku celana, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Tanpa uang dan tanpa kendaraan, mereka benar-benar lumpuh di desa terpencil ini.

Deacon tersenyum tipis melihat wajah frustrasi kedua pangeran kaya tersebut.

Ia menunjuk ke arah ruang tengah yang hanya berisi tikar pandan dan sebuah televisi tabung kecil.

"Malam ini kalian boleh beristirahat. Tapi ingat, besok pagi-pagi sekali, kalian berdua harus bangun. Aku sudah berbicara dengan kepala desa di sini. Besok pagi, kalian dipaksa harus bekerja membantu warga desa di gudang beras untuk mengangkat karung-karung padi seberat lima puluh kilo. Hanya dengan cara itu kalian bisa mendapatkan uang untuk makan besok," ucap Deacon tegas sebelum melangkah masuk ke dalam kamar utama yang akan ditempatinya.

Tinggallah Andre dan Riko yang berdiri mematung di ruang tengah yang remang-remang.

Bayangan besok pagi harus bermandikan keringat dan memikul karung beras yang kotor membuat kedua tangan mereka yang biasanya hanya memegang pena dan kemudi mobil mewah kini bergetar hebat karena geram sekaligus merana.

Malam semakin larut di perkampungan. Suasana di dalam rumah tua milik Jihan terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari balik pekarangan dan dengkur halus Deacon dari kamar sebelah yang menandakan pria Kanada itu sudah tertidur pulas setelah kelelahan menempuh perjalanan jauh.

Di ruang tengah yang remang-remang, Andre dan Riko perlahan membuka mata mereka.

Mereka saling berbalas pandangan penuh arti, lalu bangkit berdiri dari atas tikar pandan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

"Mas, mumpung si bule itu sudah tidur, ayo kita cari cara untuk kabur atau cari sesuatu yang bisa kita gunakan," bisik Andre dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desiran angin.

Riko mengangguk setuju.

Dengan mengandalkan cahaya bulan yang menerobos masuk dari celah ventilasi, kedua bersaudara itu mulai mengendap-endap menggeledah setiap sudut rumah tua yang sederhana itu.

Mereka membuka lemari kayu yang sudah berderit, memeriksa tumpukan koran bekas, hingga ke area dapur, namun tidak menemukan apa pun selain perabotan usang yang semakin membuat mereka muak.

Sampai akhirnya, langkah Riko terhenti di sebuah sudut ruang kerja kecil almarhum orang tua Jihan.

Di sana terdapat sebuah meja kayu jati tua yang tampak kokoh namun berdebu.

Riko mencoba menarik laci-lacinya, semuanya kosong. Namun, ketajaman instingnya sebagai anak pengusaha membuat ia menyadari ada kejanggalan pada sekat bagian bawah laci terdalam.

Ceklek!

Riko menekan sebuah sudut kayu yang tersembunyi, dan sebuah laci rahasia yang tipis perlahan terbuka.

Di dalamnya, terdapat sebuah kotak kaleng tua berwarna kusam yang terkunci rapi.

"Dre, kemari! Lihat ini," panggil Riko dengan nada tertahan yang dipenuhi rasa penasaran.

Andre segera mendekat. Dengan menggunakan sepotong kawat kecil yang ia temukan di dapur, Riko dengan cekatan mengotak-atik lubang kunci kaleng tersebut hingga terdengar suara denting kecil tanda kunci terbuka.

Begitu tutup kaleng dibuka, mata Andre dan Riko seketika membelalak sempurna.

Di dalam kotak itu, tidak ada perhiasan emas atau uang tunai, melainkan tumpukan surat-surat lama yang kertasnya sudah mulai menguning, beberapa foto usang, serta sebuah buku harian milik Jihan sebelum ia menikah dengan Darren.

Riko mengambil selembar foto dan membacanya di bawah temaram cahaya.

Foto itu menampilkan sosok Jihan beberapa tahun lalu yang tampak tersenyum sangat bahagia berdampingan dengan seorang pria muda berwajah tampan.

Di balik foto itu, tertulis sebuah nama dengan tinta hitam yang sudah agak pudar: Albert.

Dengan cepat, Andre membuka buku harian tersebut dan membaca untaian kalimat yang ditulis langsung oleh tangan Jihan dengan penuh perasaan:

"Biar bagaimanapun badai yang menghadang, hatiku hanya milikmu, Albert. Aku sangat mencintaimu, dan tidak akan ada pria lain yang bisa menggantikan posisimu di dalam hidupku..."

Membaca untaian kalimat cinta yang begitu mendalam dari masa lalu Jihan untuk pria bernama Albert itu, seulas senyuman licik dan mengerikan perlahan terbit di wajah Riko.

Rasa lelah dan jengkelnya karena diasingkan ke desa ini mendadak sirna seketika, digantikan oleh rasa puas yang luar biasa membuncah.

"Hahaha. Dre, kita dapat jackpot!" bisik Riko dengan tawa tertahan yang terdengar sangat berbisa di kegelapan malam.

"Si gajah itu selalu berakting sok suci dan pura-pura sangat mencintai Papa di depan kita semua. Ternyata, dia punya masa lalu kelam dan menyembunyikan cinta mati pada pria lain di rumah tua ini!"

Andre ikut menyeringai puas, matanya berkilat penuh dendam.

"Benar, Mas! Papa itu pria paruh baya yang sangat cemburuan dan punya harga diri yang sangat tinggi. Kalau Papa sampai tahu kalau istri yang dibanggakan dan dimanjakannya ini ternyata masih menyimpan dokumen cinta untuk pria lain, Papa pasti akan merasa dikhianati dan langsung menceraikannya!"

Sembari merapikan kembali dokumen-dokumen itu dan menyembunyikannya di dalam saku jaket mereka, Andre dan Riko merasa berada di atas angin.

Tugas berat mengangkat karung beras besok pagi tidak lagi terasa menakutkan bagi mereka, karena di tangan mereka kini sudah tergenggam sebuah kartu as yang sangat mematikan untuk menghancurkan Jihan berkeping-keping di depan Darren.

Riko merapatkan jaketnya, memastikan dokumen-dokumen berharga itu aman di dalam saku dalamnya.

Tatapan matanya yang sedingin es beradu dengan kilatan ambisi di mata Andre.

"Kita harus mencari tahu siapa Albert ini sebenarnya, dan di mana dia sekarang," bisik Andre, wajahnya maju beberapa senti dengan ekspresi menggebu-gebu.

"Kalau kita bisa menemukannya dan mengajak dia bekerja sama untuk merebut Jihan kembali, kita tidak perlu repot-repot mengotori tangan kita lagi. Papa akan mengusir perempuan gajah itu dengan tangannya sendiri!"

Riko menganggukkan kepalanya dengan mantap, menyetujui ide cemerlang adiknya.

Seringai licik tercetak jelas di bibirnya. "Kamu benar, Dre. Papa paling tidak suka dikhianati, apalagi dijadikan pelarian oleh wanita yang dipujanya. Kita cari tahu latar belakang Albert ini. Pria yang dicintai Jihan di masa lalu pasti bukan orang kaya, bisa jadi dia hanya pemuda kampung sini atau orang biasa."

Riko menjeda kalimatnya, lalu menepuk bahu Andre pelan.

"Begitu kita dapat nomor telepon atau alamatnya, kita tawarkan kerja sama yang menguntungkan. Kita beri dia uang atau apa pun, asalkan dia mau muncul di depan Papa dan berakting seolah-olah dia dan Jihan masih menjalin hubungan di belakang Papa."

"Rencana yang sempurna, Mas," sahut Andre dengan tawa tanpa suara yang sarat akan kelicikan.

"Besok, sambil dipaksa si bule sialan itu bekerja mengangkat karung beras, kita gunakan kesempatan itu untuk mengorek informasi dari warga desa tentang siapa itu Albert. Orang-orang desa di sini pasti tahu sejarah percintaan si gajah."

"Ya. Sekarang mari kita simpan ini baik-baik dan kembali tidur sebelum Deacon bangun," perintah Riko.

Kedua bersaudara itu kembali merebahkan diri di atas tikar pandan yang keras dengan hati yang dipenuhi rasa puas.

Kasur yang tipis dan udara malam perkampungan yang dingin tak lagi membuat mereka mengeluh.

Di dalam benak Andre dan Riko, mereka sudah membayangkan skenario besar di mana Jihan akan tersungkur menangis di kaki Darren saat rahasia masa lalunya bersama Albert terbongkar ke permukaan.

Mereka tidak sabar menunggu hari esok tiba, hari di mana mereka akan memulai perburuan rahasia di balik topeng suci ibu tiri mereka.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!