Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 12
Farrel melangkah kembali ke dalam kamar tidur utama yang remang-remang.
Aroma mawar dan kehangatan tubuh Nisa yang baru selesai mandi masih tertinggal di udara, berbaur dengan keharuman seprai sutra yang mewah.
Di atas kasur berukuran besar itu, Nisa berbaring miring. Gaun tidur sutra berwarna merah marunnya sedikit tersingkap hingga ke pangkal paha, memperlihatkan lekuk kaki mulusnya yang putih bersih di bawah pencahayaan lampu tidur yang kuning hangat.
Napasnya teratur, namun begitu mendengar ketukan halus pantofel Farrel di atas lantai marmer, kelopak matanya perlahan terbuka.
Mata sayu Nisa langsung mengunci sosok Farrel yang sedang melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya.
Farrel melonggarkan dasinya dengan satu tangan, sebuah gerakan sederhana yang entah mengapa terlihat begitu jantan dan berkuasa di mata Nisa.
"Belum tidur, Nis?" bisik Farrel, suaranya berat, menggema rendah di dalam keheningan kamar.
Nisa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggeser tubuhnya, memberikan ruang di atas kasur, lalu mengulurkan tangannya yang halus ke arah Farrel.
Sebuah undangan tanpa suara yang penuh kepasrahan.
Farrel merangkak naik ke atas kasur, memosisikan tubuhnya di atas Nisa tanpa menekan gadis itu.
Detik itu juga, Nisa bisa merasakan aura dominasi Farrel yang begitu pekat mengurungnya.
Tangan kekar Farrel merayap lembut ke pipi Nisa, ibu jarinya mengusap bibir bawah gadis itu yang sedikit gemetar karena gugup sekaligus mendamba.
"Farrel..." desis Nisa manja. Suaranya nyaris hilang saat wajah Farrel mendekat.
Ketika bibir mereka bertemu untuk kedua kalinya malam itu, tidak ada lagi keraguan. Ciuman Farrel kali ini terasa lebih dalam dan menuntut.
Lidahnya menjelajah dengan ritme yang lambat namun pasti, menghisap habis seluruh pasokan udara Nisa hingga gadis itu terengah-engah.
Tangan Nisa merayap naik, mencengkeram bahu kokoh Farrel, menenggelamkan jari-jarinya ke dalam kemeja putih pria itu.
Sentuhan Farrel turun ke leher jenjang Nisa, mengecup kulit halusnya di sana, meninggalkan sensasi geli yang membuat Nisa melengkungkan punggungnya.
Kain sutra tipis gaun tidur Nisa terasa seperti tidak ada gunanya ketika telapak tangan Farrel yang hangat mulai merayap di atas perutnya yang rata, lalu naik perlahan menuju ke puncak dadanya yang sensitif.
Nisa melepaskan lenguhan halus yang tertahan di tenggorokan saat jari-jari Farrel memilin lembut bagian intimnya di balik kain tipis tersebut.
Seluruh tubuhnya bergetar, dibakar oleh gelombang gairah yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
【 Ting! Interaksi intim yang mendalam dengan Target Nisa Amanda berhasil memicu kepuasan emosional yang maksimal! 】
【 Tingkat Kesetiaan Nisa Amanda kini mencapai: 95% (Cinta Buta)! 】
【 Tingkat afinitas yang tinggi berhasil membuka hadiah tambahan dari Sistem: Penguatan Fisik Permanen untuk Target sebesar 20% dan Tambahan Saldo Tunai sebesar Rp 100.000.000! 】
Merasakan tubuh Nisa yang kian lemas dan sepenuhnya pasrah di bawah kendalinya, Farrel menarik diri sedikit untuk menatap mata gadis itu yang berkabut kabur oleh gairah.
"Malam ini, istirahatlah yang cukup, Nis. Kamu aman di sini,"
bisik Farrel lembut sambil mengecup dahi Nisa dengan penuh kasih sayang, menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh karena ia tahu tubuh Nisa masih lelah setelah syok berat di terminal pagi tadi.
Nisa memeluk leher Farrel dengan erat sebelum akhirnya memejamkan mata dengan senyuman bahagia terukir di wajah cantiknya. Rasa aman yang diberikan Farrel benar-benar menjadi candu baginya.
Tepat pukul dua dini hari, ketika kota Bogor diguyur hujan deras yang menyamarkan segala suara, sebuah gudang tua di pinggiran kawasan sirkuit Sentul menjadi saksi bisu dari pergolakan jalur darah baru.
Di dalam gudang yang pengap dan hanya diterangi satu lampu pijar yang berkedip kedip, Hardi sang mantan Ketua Ranting ormas duduk terikat di sebuah kursi besi.
Wajahnya yang bopeng kini dipenuhi memar kebiruan, dan darah segar masih menetes dari sudut bibirnya yang pecah.
Di hadapannya, sepuluh anggota inti dari faksi saingannya, Ormas Cakar Bumi, berdiri dengan senjata tajam di tangan.
Mereka dipimpin oleh seorang pria berambut cepak bernama gahar, Baron, yang dikirim langsung oleh Komisaris Jenderal Purnawirawan Hermawan untuk membersihkan jejak Hardi sebelum Grup Garuda Hitam mengambil alih semuanya.
"Lu udah gak berguna, Hardi.
"Jenderal gak suka sama orang kalah yang bikin rahasia bisnisnya bocor,"
kata Baron dingin sambil mengasah sebilah golok panjang di tangannya.
"Baron! Tolong... bilang sama Jenderal, gua gak bocorin apa-apa! Mobil hitam itu... mereka bukan manusia biasa!"
teriak Hardi dengan suara serak, ketakutan setengah mati.
"Telat," jawab Baron singkat. Ia mengangkat goloknya, siap menebas leher Hardi.
Brak!!!
Pintu besi gudang seberat ratusan kilogram itu mendadak jebol, terlempar ke dalam akibat hantaman tendangan yang luar biasa kuat.
Debu dan cipratan air hujan menyeruak masuk ke dalam ruangan.
Dari balik kegelapan malam, sebuah sosok jangkung melangkah masuk dengan santai.
Farrel masih mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku berdiri di sana.
Di belakangnya, Tiger dan lima personel tim elit bertopeng tengkorak mengawal dengan senapan serbu siap tembak.
"Siapa lu?!" bentak Baron,
langsung berbalik arah sambil mengacungkan goloknya.
Sembilan anak buahnya ikut bersiaga, menggenggam celurit dan parang mereka dengan tangan gemetar karena melihat moncong senjata api di depan mereka.
Farrel tidak menjawab. Matanya berkilat dingin saat mengaktifkan kemampuan pasifnya: Mata Sang Penguasa.
Di mata Farrel, gerakan otot Baron dan anak buahnya melambat, memperlihatkan setiap celah fatal dalam pertahanan mereka.
"Tiger, jangan ada yang menembak," perintah Farrel datar. "Gua pengen olahraga sedikit malam ini."
【 Ting! Tugas Mandiri Aktif: Bantai faksi pembersih Jenderal Hermawan tanpa bantuan senjata api! 】
【 Hadiah Tugas: Keterampilan Bertarung: Seni Bela Diri Militer Mematikan (Level Maksimal) & Peningkatan Stat Kecepatan sebesar +5 poin! 】
"Sombong banget lu, bocah!" Baron berteriak murka.
"Serang dia!!!"
Tiga orang anak buah Baron langsung merangsek maju.
Pria pertama mengayunkan celuritnya dengan gerakan menebas horizontal ke arah leher Farrel.
Farrel tidak berkedip. Dengan kecepatan fisik yang kini berada di atas rata-rata manusia, ia melangkah maju satu tapak ke dalam jangkauan serangan musuh, membuat tebasan celurit itu meleset hanya beberapa milimeter di belakang punggungnya.
Tanpa membuang momentum, Farrel melayangkan pukulan lurus dengan tangan kanannya tepat ke arah jakun pria tersebut.
Krak!
Suara hantaman keras terdengar. Pria itu langsung tumbang ke lantai, memegangi lehernya yang hancur, kehabisan napas dalam hitungan detik.
Dua orang berikutnya menyerang bersamaan dari kiri dan kanan dengan parang terangkat. Farrel menekuk lututnya, merunduk rendah menghindari dua tebasan silang di atas kepalanya.
Dari posisi berlutut, ia melayangkan tendangan menyapu (sweep kick) yang sangat bertenaga, mematahkan tulang pergelangan kaki kedua pria itu sekaligus.
Brak! Brak!
Begitu mereka jatuh tersungkur, Farrel bangkit berdiri dengan gerakan secepat kilat, menginjak dada salah satu pria dengan sepatu pantofelnya hingga terdengar suara tulang rusuk yang patah dan menembus jantung.
Pria itu langsung tewas di tempat dengan mulut menyemburkan darah hitam.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, lima anak buah Baron sudah tergeletak tak bernyawa di atas lantai gudang yang kini banjir darah.
Baron yang menyaksikan keganasan mengerikan itu langsung pucat pasi. Golok di tangannya bergetar hebat.
Pria di hadapannya ini bukan lagi seorang petarung dia adalah malaikat pencabut nyawa yang bergerak tanpa belas kasihan.
Farrel mengambil selembar kain sisa di dekatnya, mengusap setitik darah musuh yang tepercik di pipi tampannya, lalu menatap Baron dengan senyuman dingin yang sangat mengerikan.
"Sekarang tinggal lu, Baron,"
kata Farrel, nadanya selembut desau angin malam, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Bilang sama bos lu, Jenderal Hermawan... kalau besok malam, giliran kepalanya yang bakal gua injek seperti ini."