Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Aska masih berdiri di lorong rumah sakit dengan ponsel menempel di telinga.
Di ujung sana, Celsi diam cukup lama.
"Kalau nitip salam, Mama bakal nanyain. Kamu siap buat ketemu mama aku?"
Celsi sempat tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke luar jendela taksi. Jalanan sore mulai ramai. Langit masih terang, tapi ada warna jingga yang perlahan turun.
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Tapi entah kenapa membuat dadanya bergerak pelan.
Ketemu mama.
Kalimat yang sederhana.
Namun buat Celsi, itu bukan sekadar bertemu.
Itu seperti ada garis yang selama ini tidak pernah disentuh.
Celsi tertawa kecil.
"Ya ampun, Koh. Aku cuma nitip salam."
Aska diam.
Celsi lanjut bicara.
"Lagian Mama Koko lagi sakit. Fokus aja dulu."
Aska menarik napas.
"Oke."
Nada suaranya biasa.
Tapi entah kenapa Celsi merasa pria itu sedikit kecewa.
"Aska?"
"Hm?"
"Jaga Mama ya."
Aska menutup mata sebentar.
"Iya."
Telepon ditutup.
Aska berdiri diam di tengah lorong.
Lalu menatap layar ponselnya cukup lama.
Tidak ada alasan dia kecewa.
Memang belum waktunya.
Dia sendiri juga belum pernah bilang apa pun.
Tapi entah kenapa saat sadar Celsi pulang diam-diam, ada rasa aneh.
Seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dia pegang.
Aska menghela napas lalu kembali ke ruang rawat.
Begitu pintu dibuka, Ayu langsung menoleh.
Tatapannya tajam.
Aska langsung tahu.
Bahaya.
"Koko."
Aska pura-pura santai.
"Hm?"
Ayu menyipit.
"Duduk."
Aska menurut.
Begitu duduk, Ayu langsung melipat tangan.
"Siapa?"
Aska berkedip.
"Siapa apa?"
"Yang bikin kamu lari kayak orang kehilangan dompet."
Aska langsung mengalihkan pandangan.
"Enggak ada."
Ayu tertawa pendek.
"Kamu lupa kamu anak siapa?"
Aska diam.
Ayu mendekat sedikit.
"Dari kecil kalau bohong kuping kamu merah."
Refleks Aska menyentuh telinganya.
Ayu langsung menunjuk.
"Nah."
Aska menghela napas.
"Mama ini lagi sakit loh."
"Makanya jawab."
Aska menunduk sebentar lalu mengusap wajah.
"Tadi ada teman."
Ayu mengangkat alis.
"Teman?"
"Iya."
"Cewek?"
Aska langsung diam.
Ayu melotot.
"ASTAGA."
Aska langsung mengelus dada.
"Ma..."
Ayu makin semangat.
"Kamu tadi panik karena cewek?"
Aska buru-buru membela diri.
"Enggak panik."
Ayu menatap datar.
"Kamu tadi lari sampai mama dipanggil tiga kali."
Aska terdiam.
Ayu menyandarkan badan.
Matanya mulai berbinar penuh rasa penasaran.
"Siapa namanya?"
Aska tersenyum kecil.
"Rahasia."
Ayu langsung menghela panjang.
"Selama dua puluh delapan tahun kamu enggak pernah rahasia sama mama."
Aska diam.
Kalimat itu membuatnya menoleh.
Benar.
Dia memang selalu cerita.
Tentang kerjaan.
Tentang teman.
Tentang masalah.
Tentang apa pun.
Tapi yang satu ini...
Dia sendiri belum tahu mau kasih nama apa.
Jadi bagaimana dia menjelaskannya?
Aska akhirnya menggenggam tangan mamanya.
"Nanti aku cerita."
Ayu menatap anaknya lama.
"Janji?"
Aska mengangguk.
"Janji."
Ayu memicing.
"Kamu suka sama dia?"
Aska langsung berdiri.
"Aku keluar beli makan."
"Aska!"
Pria itu tertawa lalu cepat keluar lagi.
Dan Ayu yang ditinggal justru makin penasaran.
Sampai akhirnya beliau tersenyum sendiri.
"Ya Allah..."
Lalu pelan berbisik.
"Kalau memang benar... semoga yang ini baik."
Di sisi lain.
Di bangsal anak.
Suasananya jauh berbeda.
Sunyi.
Tapi sesak.
Vena duduk di samping inkubator dengan mata sembab.
Tangannya terus menempel di kaca.
Di dalam sana anaknya tidur dengan alat bantu pernapasan.
Tubuh kecil.
Dada kecil yang naik turun tidak stabil.
Rangga berdiri di samping sambil menatap laporan dokter.
Tangannya dingin.
Barusan dokter menjelaskan.
Gangguan pernapasan yang dialami bayinya ternyata bukan ringan.
Ada komplikasi.
Butuh pemantauan ketat.
Butuh perawatan.
Dan belum bisa dipastikan kapan membaik.
Rangga menunduk.
Vena akhirnya bicara lirih.
"Mas..."
Rangga langsung menoleh.
Vena menangis lagi.
"Dia sembuh kan?"
Rangga diam.
Karena dia sendiri takut menjawab.
Akhirnya dia mendekat lalu memeluk bahu istrinya.
"Sembuh."
Suara itu pelan.
Tapi tegas.
"Kita usaha."
Vena menangis makin keras.
Pintu terbuka.
Weni masuk lebih dulu.
Di belakangnya ada Ratna.
Wajah Ratna tidak terlalu menunjukkan kekhawatiran.
Lebih terlihat tidak nyaman.
Begitu melihat kondisi cucunya, Weni langsung menutup mulut.
"Ya Allah..."
Beliau mendekat.
Matanya langsung merah.
Ratna ikut melihat.
Diam cukup lama.
Lalu menghela napas.
Dan kalimat berikutnya langsung membuat suasana berubah.
"Dulu Mama udah bilang."
Rangga menoleh.
Ratna masih menatap inkubator.
"Harusnya pilih dari keluarga yang bagus."
Ruangan mendadak sunyi.
Ratna lanjut bicara.
"Beda gen. Biar keturunannya kuat."
Vena menunduk.
Tangannya mulai gemetar.
Ratna belum berhenti.
"Yang satu enggak bisa punya anak."
"Yang ini punya anak tapi sakit terus."
"Entah keluarga mana yang..."
"Ma."
Rangga memotong.
Suaranya rendah.
Ratna diam.
Rangga menatap ibunya.
"Cukup."
Ratna mengerut.
"Apa salah mama?"
Rangga menarik napas.
"Jangan ngomong begitu di depan Vena."
Ratna mendengus.
Tapi Weni yang dari tadi diam akhirnya bicara.
Suaranya dingin.
"Oh jadi sekarang keluarga saya yang salah?"
Ratna menoleh.
"Enak aja nyalahin keluarga saya. Justru benih si Rangga noh yang harusnya dipertanyakan. Bagus nggak? Sama Celsi enggak bisa punya punya anak. Berarti enggak bagus benihnya. Di Vena udah berhasil tapi lihat ini! Jelas berarti sumbernya dari situ!"
"Heh! Sembarangan kamu ya!" Ratna tak terima.
"Sudah! Sudah! Jangan bertengkar di rumah sakit!" teriak Rangga menengahi. "Maksud kalian datang kemari buat apa? Buat lihat anak kami kan? Cucu kalian! Terus kenapa malah bertengkar begini saling menyalahkan!?" ia menatap Weni dan Ratna bergantian. "Hargai kami! Kami hancur dengar kalian terus menyalahkan! kalau kalian masih mau terus menyalahkan, silahkan keluar saja! aku nggak mau anak kami sedih mendengarnya!" tegas Rangga.
Weni terdiam, begitu pun dengan Ratna. diam juga.untuk sesaat ruangan itu hening. Hanya suara mesin yang terdengar.
"Jangan-jangan ini karena keluarga mas Rahman."
Rangga langsung menoleh cepat. "Buk! Jangan mulai lagi!"
Weni masih bicara.
"Aku enggak mulai, Rangga. Aku cuma ngomongin pendapatku. Kita enggak ada yang salah, tapi pasti ini kelakuan Celsi."
"Dia pasti masih sakit hati dan dengki."
Rangga langsung berdiri tegak.
"Bu."
Weni menoleh.
Rangga menatap satu per satu.
"Jangan."
Suaranya pelan.
Tapi tajam.
"Tolong jangan bawa siapa pun ke sini."
Vena menangis lagi.
Rangga menoleh ke anaknya.
Lalu menatap dua ibunya.
"Kita lagi di rumah sakit."
"Anak saya lagi sakit."
"Bukan waktunya cari siapa yang salah. Kalau masih saja, kalian sebaiknya pergi!"
Ruangan kembali diam.
Rangga menelan sesuatu di tenggorokan.
Lalu mendekat ke inkubator.
Menatap anak kecil yang sedang berjuang bernapas.
Dan untuk pertama kali sejak masuk rumah sakit...
dia merasa benar-benar tidak punya kuasa apa pun.
Yang bisa dia lakukan hanya berdiri.
Menunggu.
Dan berharap.