⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kegelapan. Bau.
Slamet tidak tahu mana yang lebih dulu dia sadari. Yang jelas, ketika kesadarannya kembali, hidungnya sudah terlebih dahulu memprotes.
Bau itu menyengat, tajam, seperti kombinasi antara lemari tua, got belakang rumah, dan sesuatu yang mati beberapa minggu lalu. Slamet pernah mencium bau seperti ini sekali, waktu tetangga kosnya lupa membuang bangkai tikus di bawah tempat tidur selama sebulan penuh.
Ini lebih parah dari itu.
Dia tidak bergerak. Matanya masih tertutup. Pikirannya berusaha mengingat apa yang terakhir terjadi.
Kentang. Elf perempuan. Teriakan. Perempuan rambut perak dengan payung.
Lalu kegelapan.
Ah. Gue mati, mungkin.
Dia tidak panik. Entah karena sudah terlalu capek atau karena otaknya belum sepenuhnya menyala, Slamet hanya berbaring di tempat yang keras, dingin, dan terasa berpasir.
Lantai. Dia berbaring di lantai.
Matanya terbuka. Gelap, hampir tidak ada cahaya. Tapi perlahan, setelah beberapa detik, matanya mulai beradaptasi.
Langit-langit rendah. Dinding dari batu. Ruangan ini kecil, mungkin selebar tiga meter, dengan langit-langit yang hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya.
Dia duduk perlahan. Kepalanya sedikit pusing, tapi tidak terlalu parah.
Di sudut ruangan, ada sesuatu yang bergerak. Bukan sesuatu yang kecil seperti tikus atau kecoa biasa. Sesuatu yang besar.
Slamet membeku.
Dua pasang mata merah, besar, dan bersinar redup di kegelapan menatapnya dari sudut itu. Dan suara gesekan antara kulit keras dan lantai batu terdengar ritmis.
Krik. Krik. Krik.
Slamet tidak tahu itu suara apa, tapi nalurinya tiba-tiba berteriak agar jangan bergerak.
Dari sudut ruangan yang gelap, makhluk itu akhirnya bersuara. Bukan raungan atau desisan, melainkan suara yang sangat formal, anggun, namun bergetar menahan ketidakpercayaan.
"...Seorang manusia? Bagaimana bisa ada manusia di ruangan ini?"
Suara itu tiba-tiba meninggi karena syok. Makhluk itu bergerak cepat ke arahnya. Slamet tidak sempat lari, tapi makhluk itu tidak menyerangnya. Makhluk itu berhenti sekitar satu meter di depannya, lalu mengaktifkan sebuah item sihir kecil yang memancarkan cahaya redup di telapak tangannya.
Dan Slamet melihatnya.
Makhluk itu bertubuh tegak menyerupai serangga besar setinggi pria dewasa, mengenakan jubah mewah layaknya seorang bangsawan. Namun, di sekujur tubuhnya, di sela-sela jubah dan lantai di sekitarnya, bergerak-gerak ribuan kecoa berukuran besar yang merayap tanpa henti.
Kyouhukou, sang Penguasa Wilayah Kapsul Hitam di Lantai Dua Nazarick, menatap Slamet dengan tatapan kebingungan yang mendalam.
"Dari mana asalmu? Bagaimana kau bisa menembus sistem pertahanan Great Tomb of Nazarick?"
Namun, sebelum Slamet menjawab, mata merah Kyouhukou melebar saat menatap dinding di belakang Slamet.
Di sana, ada bayangan. Bukan bayangan biasa. Bayangan itu bergerak setengah detik lebih lambat daripada gerakan tubuh Slamet sendiri.
Secara logika, hal itu sama sekali tidak seharusnya mungkin terjadi.
Kyouhukou mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding batu. Sebagai entitas tingkat tinggi, instingnya mendeteksi ketidakselarasan yang sangat mengerikan dari fenomena tersebut.
"Keberadaan macam apa kau ini? Ini mustahil..."
Slamet menatap makhluk serangga berjubah itu dengan ekspresi datar.
"Gue manusia biasa," katanya. "Cuma lagi nyasar."
Dia kemudian merasakan pergelangan tangan kirinya terasa gatal. Slamet menunduk dan melihat sepotong tanda kecil berbentuk segitiga hitam yang baru muncul di kulitnya, tidak lebih besar dari kancing baju.
Dia tidak tahu apa arti tanda itu. Dan tidak ada seorang pun di Nazarick yang mampu menjelaskannya.
"Bro," kata Slamet, menatap sang Raja Kecoa dengan nada malas. "Gue cuma mau tahu pintu keluar di mana."
Sementara itu, jauh di lantai paling atas Nazarick, tidak ada alarm yang berbunyi keras. Melainkan sebuah notifikasi sihir internal yang langsung muncul di hadapan Albedo selaku Pengawas Penjaga Lantai.
Peta sihir Nazarick mendeteksi adanya satu titik anomali asing tak dikenal yang mendadak muncul langsung di dalam wilayah Kapsul Hitam di Lantai Dua.
Melewati seluruh sistem gerbang utama tanpa memicu mantra pertahanan luar sama sekali.
Sebuah celah keamanan fatal yang seharusnya mustahil terjadi dalam sejarah Great Tomb of Nazarick kini resmi terbuka.