"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Desa tanpa sifat dan penduduk aneh
Kami melangkah masuk ke dalam Desa Tenang dan Damai. Dari luar kelihatan biasa saja. rumah-rumah kayu berjejer rapi, jalanan berdebu halus, dan lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu karena senja mulai turun. Tapi Leon tahu, di balik ketenangan ini pasti ada kekacauan besar. Soalnya penciptanya yaitu dia sendiri lupa memberi tahu sifat asli penduduknya.
“Wah, enak banget nih tempatnya!” seru Zarek dengan semangat, sambil menepuk-nepuk punggung warga desa yang lewat di depan kami. “Warga sini ramah banget ya, senyum-senyum terus!”
Warga desa yang ditepuk itu memang tersenyum lebar sekali, sampai terlihat semua giginya, tapi matanya terasa kaku, tidak berkedip sama sekali. Dia hanya diam, tersenyum, lalu berjalan lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Liora mengerutkan kening, menatap warga itu sampai menghilang dari pandangan. “Ada yang aneh deh… Mereka tersenyum, tapi rasanya kosong sekali. Kayak… boneka yang hanya diatur untuk tersenyum saja.”
Leon hanya bisa menggaruk kepala sambil memegang dadanya yang terasa agak berdebar. Benar kata Liora. Karena dia lupa memberi sifat, emosi, atau kebiasaan mereka, jadinya mereka seperti program yang belum selesai dipasang. Mereka tahu harus ramah, harus tersenyum, harus sopan, tapi tidak tahu bagaimana harus bereaksi kalau ada hal yang tidak biasa terjadi.
Kami menuju balai desa untuk meminta izin menginap. Kepala desa, seorang kakek berbadan bungkuk dengan janggut putih panjang, menyambut kami dengan senyum yang sama lebar dan kaku seperti warga lain.
“Selamat… datang… Tuan Putri… Ksatria… dan… Tamu… Asing…” katanya pelan, berhenti sejenak di setiap kata, suaranya datar sekali seperti robot yang sedang membaca teks. “Silakan… istirahat… semua… tersedia… makanan… tempat tidur… aman… di sini…”
“Terima kasih, Kakek,” jawab Liora dengan sopan, meski di wajahnya masih terlihat kewaspadaan. “Kami hanya ingin beristirahat semalam saja, besok pagi langsung melanjutkan perjalanan ke istana.”
“Baik… baik… semua… boleh… semua… senang…” jawab kakek itu lagi. Setelah itu dia hanya berdiri diam di tempat, senyumnya tidak pernah hilang dari wajah, matanya lurus ke depan dan tidak bergerak sedikit pun.
Zarek berbisik ke arah Leon sambil menggaruk kepalanya, “Leon… kakek ini kenapa sih? Kenapa diam saja kayak patung yang hidup? Emang begini kebiasaan orang desa sini ya?”
“Hahaha… mungkin… mungkin mereka memang orangnya pendiam ya,” jawab Leon mengarang asal, sementara di dalam hatinya sudah panik setengah mati. Ini bahaya sekali. Kalau mereka tidak punya sifat yang jelas, reaksi mereka bisa berubah drastis kapan saja tergantung apa yang terlintas di pikiran mereka atau sisa-sisa tulisan yang masih berantakan.
Malam makin larut. Kami duduk di beranda balai desa, menikmati roti dan sup sederhana yang disiapkan warga. Semua penduduk desa bergerak di sekitar kami, menyiapkan segala keperluan, tapi tetap dengan ekspresi yang sama: senyum kaku, diam, bergerak teratur, dan tidak ada yang mengobrol satu sama lain. Rasanya cukup menyeramkan, seperti berada di desa hantu yang badannya ada tapi jiwanya belum diberikan.
Liora duduk di samping Leon, suaranya sangat pelan agar tidak didengar siapa pun. “Leon, kamu tidak merasa ada yang aneh? Ini bukan sekadar pendiam, Leon. Ini seperti… mereka tidak punya keinginan sendiri. Mereka hanya melakukan apa yang harus dilakukan, tapi tidak tahu alasannya.”
Leon menelan makanannya dengan susah payah. “Iya… memang terasa agak aneh sih. Mungkin… pengaruh letak desa ini yang berada di wilayah tulisan yang belum jelas, seperti yang dikatakan para Kurcaci tadi.”
Liora menatap Leon dengan pandangan yang tajam, tapi kali ini terasa ada rasa khawatir di dalamnya. “Leon, aku merasakan ada bahaya di sini. Bukan bahaya diserang musuh, tapi bahaya yang tidak biasa. Rasanya batas dunia di sini sangat tipis, seperti kertas yang hampir robek. Dan anehnya… sejak kamu ada di sini, bagian yang robek itu terasa makin terlihat, tapi juga makin diperbaiki sedikit demi sedikit. Kamu membawa sesuatu, Leon. Sesuatu yang bisa mengubah dunia ini.”
Jantung Leon terasa berdebar kencang lagi. Liora makin peka sekali. Dia harus mengalihkan pembicaraan, atau memperbaiki keadaan sebelum semuanya menjadi kacau.
Belum sempat Leon menjawab, suasana desa tiba-tiba berubah secara drastis.
Angin berhembus sangat kencang, membawa suara bisikan-bisikan aneh yang datang dari segala arah. Cahaya lampu minyak tiba-tiba berubah warna menjadi ungu pucat. Dan yang paling bikin merinding… semua warga desa yang tadinya tersenyum kaku, sekarang mulut mereka makin melebar, sampai hampir menyentuh telinga, dan senyum itu berubah menjadi seringai yang menakutkan.
“Ah… akhirnya… ada yang datang…” suara-suara itu keluar dari mulut semua warga secara bersamaan, nadanya berubah menjadi berat dan bergema. “Kami… bingung… kami… merasa kosong… kami… tidak tahu… siapa diri kami…”
Zarek langsung berdiri, mencabut pedangnya dan bersiap bertarung. “WOY! KALIAN KENAPA?! MAU MENYERANG KAMI YA?!”
Kepala desa yang tadi terlihat kaku, sekarang melangkah mendekat dengan langkah yang lebih berat dan cepat. Matanya yang tadinya kosong, kini memancarkan cahaya merah samar. “Kami… tidak bermaksud jahat… tapi kami… tidak tahu harus berbuat apa… Penulis… lupa… Penulis… meninggalkan kami… kami butuh… arahan… kami butuh… peran!”
Tanpa peringatan lebih lanjut, semua warga desa mulai bergerak mendekat ke arah kami, tangan mereka terulur ke depan, wajahnya terlihat sangat menderita sekaligus mengerikan. Mereka tidak ingin menyakiti, mereka hanya merasa bingung dan membutuhkan jawaban. Tapi kalau mereka makin tertekan karena kekosongan itu, mereka bisa saja berubah menjadi makhluk yang berbahaya.
Liora mengangkat tangannya, cahaya putih lembut mulai memancar dari telapak tangannya sebagai bentuk pertahanan. “Mundur! Tolong, kami tidak bisa membantu kalian kalau kalian terus mendekat!”
“KAMI BUTUH PENULIS!” teriak mereka serentak, suaranya sampai membuat tanah bergetar. “DIA YANG MENCIPTAKAN KAMI, DIA YANG HARUS MENGISI HATI KAMI! DI MANA DIA?!”
Leon berdiri kaku di tengah keributan. Ini semua salahnya. Mereka menderita hanya karena dia malas menuliskan sifat dan jati diri mereka. Dia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri. dia adalah penulis yang ceroboh, dan sekarang ciptaannya menderita karena kelalaiannya.
Tangannya tanpa sadar meremas tas yang tergantung di pinggang, merasakan buku catatan tebal yang ada di dalamnya. Di buku itu, dia bisa menulis apa saja dan akan menjadi kenyataan. Dia berjanji tidak akan sembarangan menulis lagi, tapi kalau hanya diam saja, Liora, Zarek, dan semua orang di sini bisa celaka.
“BERHENTI!” teriak Leon sekeras mungkin, suaranya memecah kebisingan malam itu.
Ajaibnya, semua warga desa langsung berhenti melangkah. Ratusan pasang mata mereka kini menatap lurus ke arah Leon.
“Kamu… kamu…” bisik mereka serentak. “Kamu… terasa berbeda… kamu… memiliki jejak… Dia… ada dalam dirimu…”
Liora dan Zarek menatap Leon dengan wajah sangat terkejut.
Leon menarik napas dalam-dalam. Dia harus berbicara, dia harus memberi mereka setidaknya sedikit jawaban, sedikit sifat, agar mereka tidak lagi merasa kosong. Dia tidak bisa memberikan semuanya sekaligus, tapi setidaknya bisa membuat mereka kembali merasa damai.
Leon melangkah maju selangkah, menghadapi ratusan warga yang terlihat mengerikan tapi sebenarnya sedang merasa sedih itu. “Dengarkan aku! Penulis… Penulis tidak bermaksud meninggalkan kalian! Dia hanya lupa, dia ceroboh, tapi dia tidak pernah berniat menyakiti kalian!”
Wajah-wajah mereka perlahan berubah, seringai di bibir mereka memudar, diganti dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
“Terus… kami… apa? Kami… siapa sebenarnya?” tanya Kepala desa dengan suara yang gemetar.
“Kalian…” Leon berpikir secepat mungkin, menyusun kata-kata yang sederhana tapi bermakna. “Kalian adalah Penjaga Kenangan. Tugas kalian adalah menyimpan cerita setiap orang yang lewat di tempat ini, menceritakannya kembali, dan menjaga kedamaian di desa ini. Kalian orangnya ramah, baik hati, suka mendengarkan, dan senang berbagi kebahagiaan. Itu adalah jati diri dan sifat kalian mulai sekarang!”
Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Leon, tiba-tiba cahaya lembut menyebar dari tubuhnya dan menerangi seluruh desa. Itu adalah kekuatan dari seorang pencipta. setiap kata yang diucapkan dengan keyakinan akan menjadi hukum yang berlaku di dunia ini.
Wajah-wajah mengerikan itu perlahan berubah kembali. Seringai menghilang, cahaya merah di mata mereka memudar, dan diganti dengan tatapan yang hangat, hidup, serta senyum tulus yang benar-benar memiliki makna. Angin kencang berhenti berhembus, dan cahaya lampu yang tadinya ungu kembali menjadi kuning yang hangat dan menenangkan.
Kepala desa menunduk memberi hormat ke arah Leon, matanya kini bersinar penuh rasa syukur. “Terima kasih… terima kasih banyak… akhirnya… kami tahu siapa diri kami… kami adalah Penjaga Kenangan… kami merasa bahagia sekarang…”
Semua warga lain ikut menunduk hormat sambil bergumam, “Terima kasih… terima kasih…”
Zarek melongo sampai mulutnya terbuka lebar. “Loh? Kok bisa berubah begitu? Leon, sihir apa yang kamu gunakan?! Luar biasa hebatnya! Cuma dengan bicara saja mereka berubah menjadi orang baik lagi!”
Liora menatap Leon dengan pandangan yang sulit dijelaskan.campuran rasa kagum, heran, dan juga kepastian. Dia sudah yakin seratus persen sekarang. Leon bukan orang biasa, dia adalah sesuatu yang jauh lebih besar.
Malam itu berakhir dengan keadaan yang damai. Desa Tenang dan Damai benar-benar menjadi desa yang damai seperti namanya. Para warga sekarang sibuk mengobrol, tertawa, dan saling bercerita, benar-benar menjalankan sifat baru yang diberikan Leon.
Ketika malam makin larut, Leon duduk sendirian di bangku kayu di pinggir desa sambil menatap langit yang bintang-bintangnya terlihat dengan bentuk yang aneh-aneh. Liora datang dan duduk di sampingnya, tidak langsung berbicara apa-apa.
“Kamu bukan sekadar orang yang sering membaca banyak buku ya, Leon,” kata Liora dengan suara lembut namun tegas. “Kata-katamu mampu mengubah dunia ini. Kamu memberi mereka jati diri. Hanya Dewa Penulis yang bisa melakukan hal seperti itu.”
Leon menatap wajah Liora, rasanya ada beban yang sangat berat di dadanya. Rahasianya sudah terbuka, meski belum diucapkan secara langsung.
“Kenapa kamu menyembunyikan hal ini, Leon?” tanyanya lagi sambil menatap mata Leon lekat-lekat. “Kalau kamu memang Dewa Penulis… kenapa kamu membuat dunia ini menjadi berantakan? Kenapa kamu masuk ke dalamnya? Dan kenapa kamu justru berjuang membantu kami?”
Leon membuka mulutnya, awalnya ingin menyangkal, tapi rasanya sudah lelah terus berbohong. Di depan gadis ini, di depan ciptaannya sendiri yang memiliki hati baik dan tulus, dia tidak sanggup lagi mengelak.
“Karena aku bodoh, Liora,” jawabnya pelan, suaranya terasa bergetar. “aku menulis dengan asal-asalan, tidak memikirkan dampaknya, hanya sekadar iseng mengisi waktu. Sampai akhirnya aku terjebak masuk ke dunia ini, dan baru sadar… kalian semua benar-benar nyata. Kalian memiliki perasaan, dan kalian menderita karena kesalahan aku. aku datang ke sini untuk memperbaiki semuanya. aku ingin memberikan akhir cerita yang bahagia untuk kalian semua, meskipun aku sadar aku adalah penulis yang ceroboh dan kurang baik.”
Leon bersiap untuk dimarahi, atau dipandang dengan rasa benci. Tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Liora tersenyum. senyum yang paling tulus dan indah yang pernah dilihat Leon. Dia mengulurkan tangannya, lalu menepuk punggung tangan Leon dengan lembut.
“Kamu bukan penulis yang buruk, Leon. Kalau kamu buruk, kamu tidak akan peduli dengan nasib kami. Kamu rela masuk ke dunia ini dan berjuang untuk bertanggung jawab. Itu justru membuatmu menjadi penulis yang terbaik untuk kami.”
Rasanya air mata hampir menetes, tapi Leon berusaha menahannya. Beban berat yang selama ini ada di pundaknya terasa berkurang setengahnya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba tanah kembali bergetar, kali ini lebih kencang dan terasa lebih mengerikan. Dari arah hutan tempat kami lewati tadi, muncul kabut hitam tebal yang bergerak cepat menuju desa. Suara tawa yang berat dan penuh kebencian bergema di udara.
“Jadi kamu ada di sini… Pencipta yang ceroboh…”
Itu suara Lord Valgus!
Leon langsung berdiri terkejut, sementara Liora segera bersiap dan berdiri di sampingnya. Zarek berlari keluar dari balai desa dengan pedang sudah tergenggam erat di tangan.
“SIAPA ITU?! KELUAR DAN TUNJUKKAN DIRIMU!” teriak Zarek dengan gagah.
Dari balik kabut hitam itu, melangkah keluar sosok tubuh yang tinggi besar dan mengenakan jubah hitam. Matanya yang menyala merah menatap tajam tepat ke arah Leon. Wajahnya terlihat bengis, penuh amarah yang sudah dipendam bertahun-tahun hanya karena Leon lupa menuliskan alasan mengapa dia harus menjadi tokoh jahat.
“AKU ADALAH LORD VALGUS!” serunya dengan suara lantang yang membuat daun-daun pohon berguguran. “DAN MALAM INI… AKU AKAN MENAGIH SEMUA KERUGIAN YANG KAU BUAT, WAHAI PENULIS YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!”
Leon menelan ludah dengan susah payah. Inilah saatnya. Pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu: antara penulis dan tokoh penjahat ciptaannya sendiri. Dan dia sadar, pertarungan ini bukan hanya soal pedang atau sihir, tapi soal kebenaran, keadilan, dan nasib seluruh dunia yang selama ini berantakan.
Leon meraih buku catatan di dalam tasnya dan menggenggamnya erat. Dia harus berjuang sekarang. bukan hanya untuk bisa pulang ke rumah, tapi juga untuk melindungi mereka yang sudah percaya padanya.
“Baiklah, Valgus,” gumam Leon, matanya kini menatap balik dengan pandangan yang tegas. “aku ada di sini. Dan aku tidak akan lari lagi. Mari kita selesaikan semua kekacauan ini mulai sekarang.”
Petualangannya baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Dan dia harus siap menulis akhir cerita yang epik. kali ini bukan hanya dengan pena, tapi dengan usaha dan keberaniannya sendiri.
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁