NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. KEKACAUAN

Suara raungan monster mengguncang udara. Jeritan para pelayan bercampur dengan teriakan para kesatria yang berusaha memertahankan garis pertahanan.

Ledakan demi ledakan terus terdengar dari area retakan Abyss yang kini membelah halaman istana seperti luka menganga pada dunia.

Langit yang tadinya cerah berubah suram. Kabut hitam perlahan menyebar dari retakan itu.

Energi Abyss yang pekat membuat siapa pun yang berada di dekatnya merasakan tekanan yang menyesakkan.

Di tengah kekacauan itu, Rowan tetap tenang, atau setidaknya berusaha terlihat tenang. Meskipun di dalam dirinya sendiri amarah dan kecemasan sedang bergejolak.

"Semua pelayan keluar dari bangunan sekarang juga!"

Suara Rowan menggema di koridor.

"Tinggalkan semua barang!"

"Prioritaskan nyawa kalian!"

Para pelayan yang masih panik langsung tersadar. Mereka berlari mengikuti instruksi sang Kesatria itu.

Beberapa membantu pelayan lain yang ketakutan. Sebagian lagi menggendong pelayan yang terluka akibat pecahan kaca dan reruntuhan.

"Ke area timur! Menjauh dari bangunan ini! Jangan ada yang bergerombol! Terus bergerak!" teriak Rowan lagi.

Sebagai seorang komandan, Rowan terbiasa menghadapi situasi darurat.

Instruksinya tegas, jelas, dan mudah dipahami. Kepanikan perlahan berubah menjadi keteraturan.

Setelah memastikan para pelayan bergerak keluar, Rowan kembali menoleh kepada Cecilia.

Gadis itu masih duduk di atas tempat tidur. Meski wajahnya tenang, tubuhnya jelas belum sepenuhnya pulih. Tanpa mengatakan apa pun, Rowan langsung menghampirinya. Lalu mengangkat tubuh Cecilia ke dalam gendongannya.

"Rowan?" Cecilia terkejut.

Namun Rowan sudah membopongnya dengan kedua tangan.

"Tidak ada waktu untuk berdebat. Kita harus keluar," katanya cepat.

Cecilia refleks melingkarkan kedua tangannya ke leher Rowan agar tidak terjatuh.

Rowan meninggalkan kamar yang setengah hancur itu. Dan bergerak stabil meski ia sedang berlari.

Sepanjang koridor, Rowan masih terus memberikan perintah.

"Pastikan semua orang keluar!"

"Periksa setiap ruangan!"

"Jangan tinggalkan siapa pun!"

"Laporkan jika ada yang terluka!"

Para kesatria dan pelayan langsung bergerak mengikuti arahannya.

Sementara itu Cecilia memerhatikan wajah Rowan dari jarak dekat.

Pria itu tampak sangat fokus.

Namun Cecilia juga bisa melihat ketegangan yang berusaha disembunyikannya.

Rowan meliriknya sesaat. Kemudian berkata, "Kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."

Nada suara Rowan tegas. Seolah itu adalah janji yang tidak akan pernah ia ingkari.

Entah kenapa Cecilia tidak mau membantah, tentu tidak akan ia lakukan dalam keadaan seperti ini.

Beberapa menit kemudian mereka berhasil keluar dari bangunan.

Namun saat kaki Rowan menginjak halaman luar ...

Keduanya langsung membeku, karena situasi di luar jauh lebih buruk daripada yang mereka bayangkan.

Kacau. Benar-benar kacau.

Monster-monster terus keluar dari retakan Abyss. Jumlahnya tidak masuk akal.

Puluhan.

Ratusan.

Dan terus bertambah.

Makhluk-makhluk mengerikan dengan tubuh penuh duri.

Serigala hitam bermata merah.

Monster berbentuk laba-laba raksasa.

Makhluk berwujud manusia besar berkepala kerbau, bertanduk dan membawa kapak besar.

Semuanya menyerbu ke segala arah.

Para kesatria istana bertarung mati-matian menahan mereka.

Suara benturan pedang dan raungan monster memenuhi udara.

Darah membasahi tanah. Asap dan debu beterbangan memenuhi pandangan.

Ledakan sihir muncul di berbagai tempat. Bahkan beberapa bangunan kecil di area luar istana sudah runtuh akibat pertempuran.

Wajah Rowan mengeras. Naluri militernya langsung bekerja. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan.

Rowan harus berada di garis depan. Harus memimpin dan mengendalikan situasi. Namun kemudian ia menunduk. Dan melihat Cecilia di dalam gendongannya.

Rahang Rowan langsung mengeras.

Tidak. Ia tidak bisa meninggalkannya. Tidak setelah apa yang terjadi tiga hari terakhir ketika ia hampir kehilangan Cecilia.

Rowan tidak mau.

Cecilia memerhatikan perubahan ekspresi Rowan, dan ia langsung mengerti.

Pria ini sedang bimbang antara tugasnya sebagai komandan dan keselamatan Cecilia.

Cecilia menghela napas pelan. Kemudian berkata, "Turunkan aku."

Rowan langsung menoleh. "Apa?"

"Aku akan baik-baik saja. Tubuhku sudah sehat," kata Cecilia.

"Tidak," bantah Rowan cepat.

"Aku akan mencari tempat aman," lanjut Cecilia.

"Tidak," ulang Rowan lagi, lebih keras dari sebelumnya.

Cecilia menghela napas. "Rowan-"

"Tidak," potong samg Pria. Rowan menatap Cecilia. "Kau tetap bersamaku apa pun yang terjadi," lanjutnya.

Cecilia hampir tertawa. Sikap keras kepala Rowan terkadang benar-benar luar biasa.

"Tapi kau harus memimpin para kesatria. Kau dibutuhkan di sana," Cecilia mengingatkan.

"Kau lebih membutuhkanku. Dan mereka bukan Kesatria istana jika mereka kalah," tolak Rowan tanpa berpikir. Lalu langsung menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Cecilia juga terdiam.

Namun Rowan tetap melanjutkan, "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dalam kekacauan ini, Cecilia. Kau baru saja sadar. Aku tidak akan mengambil risiko."

Namun Cecilia tidak menyerah. "Aku akan aman. Berikan aku pedang atau belati dan ku akan baik-baik saja," katanya.

Rowan menatapnya seolah mendengar lelucon. "Kau serius?"

"Aku sangat serius. Kau lupa siapa aku?" Cecilia menyilangkan tangan

Rowan tidak menjawab.

"Aku pemburu relik. Aku bertahan hidup tiga tahun di dunia luar. Aku menghadapi monster. Aku menghadapi bandit. Aku menghadapi kutukan. Dan aku masih hidup sampai sekarang," ujar Cecilia mengingatkan kalau gadis itu bukan gadis lemah.

Rowan terdiam. Tidak bisa menyangkal karena semua itu benar.

Cecilia bukan gadis bangsawan yang rapuh. Ia mungkin terlihat lembut, namun kenyataannya jauh lebih kuat dari pada kebanyakan orang.

Cecilia menatapnya lurus. "Percaya padaku."

Hanya tiga kata namun entah kenapa Rowan merasa pertahanannya runtuh. Karena selama ini Cecilia selalu melakukan hal-hal mustahil dan berhasil melewatinya.

Akhirnya Rowan menghela napas panjang dan menyerah.

"Baik," kata Rowan akhirnya.

Cecilia tersenyum.

Namun Rowan langsung mengangkat jari.

"Tapi dengarkan aku. Sembunyi di tempat aman. Jangan mendekati bahaya. Jangan bermain pahlawan. Jangan mencoba melawan sesuatu yang tidak bisa kau lawan," syarat Rowan kepada Cecilia.

Cecilia mengangguk patuh. "Baik."

Baru setelah itu Rowan menurunkan sang gadis.

Mereka berada di area taman batu yang cukup jauh dari retakan Abyss. Masih berbahaya namun jauh lebih aman dibanding garis depan.

Kemudian Rowan melakukan sesuatu yang membuat Cecilia terkejut. Ia melepas pedangnya sendiri. Pedang yang selalu berada di pinggangnya, lalu menyerahkannya kepada Cecilia.

"Pegang ini," kata Rowan.

Cecilia menerima pedang itu.

Pedang itu berat. Jauh lebih berat dari pada yang ia bayangkan. Tentu saja karena itu pedang yang digunakan untuk menebas para monster setiap saatnya.

Rowan menatap Cecilia lama seolah berusaha menghafal wajahnya.

"Jika bisa aku tidak ingin kau sampai mengangkat pedang itu. Jaga dirimu baik-baik, mengerti?" mata Rowan.

Cecilia mengangguk. "Aku mengerti."

Rowan tampak sedikit lega, kemudian menarik Cecilia ke dalam pelukan.

Pelukan itu erat dan penuh kekhawatiran. Kemudian Rowan menunduk untuk mencium pucuk kepalanya.

"Aku akan segera kembali," bisik Rowan.

Sebelum Cecilia sempat menjawab. Pria itu sudah melepaskan pelukannya, dan kembali menjadi komandan. Wajah lembut itu menghilang. Digantikan ekspresi dingin seorang pemimpin perang.

"Kalian berdua," Rowan memanggil dia Kesatria yang ada di sana.

Dua kesatria yang berjaga langsung berdiri tegak.

"Ya, Tuan Rowan!"

"Jaga dia. Nyalakan suar darurat jika ada sesuatu terjadi di area ini. Jangan tinggalkan dia bahkan untuk sesaat," perintah Rowan.

"Siap!" ujar kedua Kesatria itu.

Baru setelah itu Rowan berbalik, dan berlari menuju medan pertempuran. Langkahnya cepat penuh tekad seperti badai yang menerjang.

"Cepat bentuk garis pertahanan kedua!" teriak Rowan sebelum bahkan mencapai area tempur.

"Kesatria perisai maju ke depan! Unit pemanah ke sisi kiri! Jangan biarkan monster menembus area evakuasi!"

Seketika para kesatria mendapatkan arah. Dan kekacauan yang sebelumnya tidak teratur mulai memiliki struktur.

Cecilia memerhatikan dari kejauhan. Ia sempat lupa kalau Rowan adalah komandan tertinggi Kesatria Aurelius ini. Sosok yang membuat ratusan kesatria mengikuti perintah tanpa ragu.

Dan jujur saja pria itu terlihat luar biasa mengagumkan.

Tak lama kemudian. Sesosok pria berambut pirang turun dari langit.

Petir biru menyambar tanah.

BOOOM!!!

Beberapa monster langsung meledak.

"Duke Aaron," gumam Cecilia yang terkesima dengan kedatangan sang penyihir terkuat di benua ini.

Pria itu tampak seperti dewa perang yang mengamuk. Jelas ia kesal dengan semua monster yang menghancurkan sebagian istana ini walau ini bukan istana kerajaannya, tapi tetap ini istana dari kerajaan tempat istrinya lahir dan tumbuh.

Tangan Aaron terus menembakkan petir ke arah monster.

Tidak jauh darinya. Api biru menyala memenuhi udara. Gelombang panas langsung menyapu area sekitar.

Duke Evan muncul, pria itu mengayunkan pedangnya. Dan satu tebasan api raksasa dari pedangnya langsung membelah belasan monster sekaligus.

BOOOOM!

Tanah meledak.

Monster-monster berjatuhan.

"Aku mulai muak dengan Abyss," gerutu Evan.

Aaron mendengus. "Setuju."

Dan mereka langsung bergabung bersama Rowan. Tiga petarung terkuat itu berdiri di garis depan. Melawan gelombang monster tanpa henti.

"Fokus pada retakan!" teriak Rowan.

"Jangan biarkan monster berkumpul!"

Aaron mengangkat tangannya dan puluhan lingkaran sihir muncul, lalu petir turun seperti hujan.

Evan melompat.

Api memenuhi langit sementara Rowan sendiri bergerak seperti badai.

Tanpa pedangnya ia menggunakan tombak salah satu kesatria. Dan tetap menghabisi monster demi monster dengan luar biasa cepat.

Namun meski terlihat mendominasi, mereka semua menyadari satu hal bahwa retakan itu belum berhenti.

Masih terbuka dan memuntahkan energi gelap. Dan terus mengeluarkan monster.

Cecilia menggenggam pedang Rowan lebih erat. Perasaan tidak nyaman muncul di dadanya karena sesuatu terasa salah.

Retakan Abyss biasanya muncul di wilayah liar.

Di pegunungan.

Di reruntuhan.

Di tempat-tempat yang jauh dari pusat kehidupan.

Namun kali ini retakan muncul tepat di dalam istana seolah sengaja bahwa seseorang menginginkannya terjadi.

Dan saat Cecilia memandang retakan itu lebih lama ia merasakan sesuatu yang samar. Namun cukup membuat bulu kuduknya berdiri.

Energi yang familiar, energi yang pernah ia rasakan. Di Alam Arwah kini mendekatinya.

Mata Cecilia perlahan membesar.

Dan saat itu suara jeritan kedua Kesatria yang menjaga Cecilia terdengar memanggil nama sang gadis dengan keras.

"Putri Cecilia?!"

Namun belum sempat Cecilia sadar akan apa yang terjadi, tubuhnya sudah terpental ketika sosok besar tinggi dengan gada di tangan tiba-tiba datang bersama beberapa monster dan menyerang ke arah Cecilia.

Saat itu Rowan yang berada di kejauhan menoleh ke arah tempat Cecilia. Firasatnya seketika sangat buruk.

Cecilia? batin Rowan penuh kekhawatiran.

1
Septi Wijaya
so emosional tp lega
Hary Nengsih
lega dh gak merasa bersalah lg
Eli Rahma
semangat Lowan..
Wenty Lucia Wardhani
aku terharu sekali😭😭😭
Nisfu Romadhon
/Sob//Sob//Sob/mengandung 🧅🧅🧅ihh k Othor,,,
Archiemorarty: Selanjutnya lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
mengsedih /Cry/Rowan yang kuat ya
Nisfu Romadhon
ishh,,, ikut ngerasain nyesek nya Rowan,,, rindu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri,,,hiks/Sweat/
Archiemorarty: Apalagi meninggal karena salah komando si Rowan 😭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, akhir bab mengandung bawang 🧅🧅🧅hiks,,, Rowan teringat paman Colton sang Guru /Sob//Sob//Sob/
Archiemorarty: Nanti bakal lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
hih,,, dasar curang,,,g berani ngadepin Cecil sendirian mesti minta bantuan monster-monster lainnya buat pengalih perhatian,,, Cecil aku mendukungmu,,,kamu pasti bisa 💪💪💪
Archiemorarty: biasa lah yah, pengecut mah gitu 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aishh,,, musuh kembali datang
Nisfu Romadhon
aihh aihh,,,baru sadar udah dapat kissing aja Cecil,,, dasar Lowan mengambil kesempitan dalam kesempatan,,, ehh /Chuckle/
Archiemorarty: Abang Lowan emang suka gitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
g sadar bacanya sambil nahan nafas,,,huft,,,baru dihela nafas nya kalo bab nya selesai 🤦🫣
Archiemorarty: Napas kak napas 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Archiemorarty: Hahaha...kolosal nggak tuh 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Nisfu Romadhon: iya tuh✌️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!