Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Darius," panggil Dominic tanpa menoleh ke belakang.
Dari balik bayangan pohon palem di sudut taman, Darius melangkah maju dengan kepala tertunduk hormat. "Ya, Pemimpin."
"Bagaimana dengan tikus tua di pelabuhan? Apa dia masih hidup?" tanya Dominic, suaranya kini sepekat malam, sangat kontras dengan suaranya saat mengobrol dengan Isabella tadi.
"Antonio masih hidup, Tuan. Tim medis darurat dan pasukan pribadinya langsung mengevakuasinya dari hanggar subuh tadi," lapor Darius dengan detail. "Sesuai perkiraan, dia tidak kekurangan uang atau aset untuk memulihkan diri. Tapi informan kita mengatakan bahwa Antonio benar-benar murka. Wajahnya memerah menahan dendam karena Anda telah menggagalkan transaksi terbesarnya dan merampas seluruh 25 ton pasokan logistik utamanya. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh putranya sendiri."
Dominic menyunggingkan sebuah smirk kejam yang teramat dingin di sudut bibirnya. Ia menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin.
"Biarkan saja dia marah sampai terkena serangan jantung," desis Dominic sinis. "Uang melimpah tidak akan bisa membeli kembali reputasinya yang sudah hancur di tanganku. Biarkan si tua bangka itu tahu bahwa masanya sudah habis. Awasi setiap faksi yang mencoba mendekatinya. Jika dia menggunakan kekayaannya untuk menyewa tentara bayaran demi mengacaukan pernikahan baruku... habisi mereka semua sebelum sempat menginjakkan kaki di kota ini."
"Dimengerti, Tuan." Darius membungkuk hormat lalu kembali mundur, menghilang dengan senyap ke dalam bayang-bayang penjagaan.
Dominic mengembuskan napas perlahan. Ia merapikan kembali kemeja kasualnya, memastikan perban di bahunya sama sekali tidak menonjol. Aura pembunuh itu ia tekan sedalam mungkin ke dasar jiwanya. Dominic bangkit berdiri, lalu melangkah lebar masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah.
Saat Dominic melangkah masuk ke ruang tengah, pemandangan di depannya langsung membuat gurat tegang di wajahnya mencair. Isabella dan Damian sudah duduk lesehan di atas karpet bulu yang tebal, dikelilingi oleh buku gambar besar dan puluhan krayon yang berserakan.
"Mommy, warnai bagian sayap naga ini dengan warna merah. Naga ini kuat, seperti aku yang akan melindungimu," ucap Damian dengan nada tegas namun terselip rasa sayang yang besar untuk ibunya.
"Wah, anak Mommy hebat sekali, masih kecil sudah mau melindungi Mommy," puji Isabella sambil mengusap gemas kepala Damian, membuat bocah itu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat langka.
Dominic tidak tahan lagi untuk tidak ikut campur. Ia langsung berjalan mendekat dan dengan santai mendudukkan tubuh kekarnya di atas karpet, tepat di samping Isabella, memotong jarak antara istrinya dan Damian.
"Kalau naganya diwarnai merah oleh Mommy, maka Daddy akan mewarnai ksatria di sebelahnya dengan warna hitam," sahut Dominic tiba-tiba, merebut sebuah krayon hitam dari kotak. "Ksatria ini yang akan mengontrol naga kecil itu agar tidak bertingkah di depan ratunya."
Damian langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap krayon hitam di tangan Dominic, lalu mendongak menatap wajah ayahnya dengan pandangan menantang dari balik kacamata hitam kecilnya yang belum dilepas.
"Ksatria hitam biasanya berakhir menjadi villain yang kalah di akhir cerita, Dad," balas Damian lempeng, kata-katanya kembali menusuk dengan akurat. Ia lalu membenarkan posisi kacamata hitam kecilnya sembari menatap Dominic tanpa kedip. "Lagipula, bukankah ruangan ini terlarang untuk orang dewasa berwajah sangar?"
Dominic langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak mewarnai. Rahangnya mengeras seketika, menatap putra kandungnya dengan pandangan tidak percaya. Sang iblis Salvatore yang semalam sanggup membuat Antonio menjerit histeris di pelabuhan, kini dibuat merana di atas karpet bulu hanya karena sebutan "berwajah sangar" dari bocah berusia empat tahun.
"Damian," desis Dominic dengan suara bariton yang ditekan serendah mungkin, mencoba mengintimidasi. "Wajah ini yang membiayai seluruh krayon dan kacamata hitam yang sedang kau pakai itu."
"Itu namanya kewajiban finansial seorang ayah, Dad. Tidak mengubah fakta bahwa ekspresi wajahmu saat ini bisa membuat anak-anak tetangga menangis ketakutan," sahut Damian tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura mengintimidasi milik ayahnya. Dengan sangat santai, Damian kembali menggeser duduknya hingga menempel pada kaki Isabella. "Mommy, tolong lindungi aku. Orang sangar ini mulai mengeluarkan suara rendahnya lagi."
Pft... hahaha!
Pertahanan Isabella benar-benar runtuh. Ia tertawa lepas hingga bahunya terguncang hebat, merasa sangat terhibur dengan drama bapak dan anak yang sama-sama memiliki gengsi setinggi langit ini. Isabella segera merangkul Damian, lalu menatap Dominic yang wajahnya sudah tertekuk masam dan penuh rasa cemburu.
"Sudah, sudah. Dominic, berhentilah memasang wajah seperti itu, nanti Damian benar-benar takut," goda Isabella, sengaja memanaskan suasana sembari mengerlingkan matanya jenaka ke arah sang suami.
"Aku tidak takut, Mommy. Aku hanya sedang melakukan penilaian taktis terhadap musuh," ralat Damian dengan nada yang sangat tegas dan dewasa.
Dominic mendengus kasar, melempar krayon hitamnya kembali ke dalam kotak dengan gemas. Rasa kesal dan cemburu bercampur menjadi satu di dadanya melihat bagaimana Isabella dan Damian tampak begitu kompak menyudutkannya pagi ini. Baru tiga hari mereka menikah, dan Dominic sudah tahu siapa rival terberatnya di rumah ini.
Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Dominic memajukan tubuh kekarnya, merebut buku gambar di depan Damian, lalu menarik Isabella ke dalam pelukannya menggunakan tangan kanannya yang sehat.
"Taktismu gagal, Bocah," ucap Dominic dengan smirk kemenangan yang teramat tampan, mengabaikan tatapan tajam Damian. Ia mengecup pipi Isabella dengan sengaja di depan putranya. "Mau seberapa sangar pun wajahku, Mommy-mu ini sudah resmi menjadi milikku. Dan kau... harus berbagi denganku."
Damian hanya menghela napas panjang, menatap ayahnya dengan pandangan bosan seolah sedang menghadapi anak kecil yang sedang merajuk. "Sangat tidak profesional, Dad. Kau menggunakan kekuatan fisik untuk menang."