NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Duniamu yang Runtuh

...

Langkah kaki Zidan terasa begitu berat saat dia menyusuri lorong berlantai marmer putih menuju ruang perawatan intensif tempat ayahnya berbaring. Bunyi pantulan sepatunya yang biasanya terdengar angkuh dan tegas, malam ini terdengar kaku, seolah mencerminkan jiwanya yang sedang kehilangan arah. Pria narsis itu menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu kaca ICU secara perlahan, mencoba memasang kembali topeng ketenangannya yang dingin.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram itu, Papa tampak terduduk bersandar pada bantal-bantal besar yang ditumpuk. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil yang melingkar di hidungnya. Wajah galak yang biasanya mendominasi rumah kini terlihat menyusut, meninggalkan Guratan-guratan keriput yang tampak semakin dalam akibat menahan sakit.

Begitu mendengar pintu terbuka, mata tua Papa langsung melirik tajam ke arah Zidan. Harapan samar yang sempat melintas di mata tua itu seketika padam begitu melihat bahwa yang datang sendirian adalah anak laki-lakinya, bukan sosok wanita yang sejak sore tadi dia tunggu-tunggu kehadirannya.

"Di mana Pamela?" suara Papa terdengar serak, pelan, namun getaran menuntut di dalamnya tidak bisa disembunyikan. Pria tua itu bahkan mengabaikan sapaan hormat dari anaknya sendiri.

Zidan menghentikan langkahnya di sisi ranjang, berdiri kaku dengan kedua tangan yang saling meremas di balik punggungnya. Sifat angkuhnya bergolak di dalam dada, merasa sesak karena lagi-lagi dipojokkan oleh nama mantan istrinya. "Papa... fokus saja dulu pada pemulihan kesehatan Papa. Dokter bilang Papa tidak boleh banyak pikiran."

"Saya tanya, di mana Pamela?!" suara Papa meninggi satu oktav, memicu layar monitor jantung di sampingnya berbunyi bip-bip dengan ritme yang lebih cepat. Pria tua itu menatap Zidan dengan pandangan penuh amarah yang dingin. "Kamu pikir Papa bodoh, Zidan?! Mama dan adikmu dari tadi siang bermuka pucat, menangis gak jelas, dan tidak ada satu pun dari mereka yang becus membawakan makanan yang bisa Papa telan! Pamela tidak pernah membiarkan Papa kelaparan seperti ini di rumah sakit!"

Zidan memejamkan matanya sejenak, menahan denyutan perih yang kembali menghantam pelipisnya. Kehancuran ini terlalu nyata untuk dia tutupi lagi dengan kebohongan. "Pamela... Pamela sudah pergi dari rumah, Pa. Dia mendaftarkan gugatan cerai pagi ini."

Kata-kata itu meluncur dari mulut Zidan seperti sebuah pengakuan yang teramat berat, meremukkan sisa-sisa harga diri narsisnya di depan sang ayah.

Papa tertegun. Matanya membelalak menatap anak laki-laki kebanggaannya yang selama ini selalu dia puji karena kepintarannya dalam berbisnis. Detik berikutnya, pria tua itu mencengkeram sprei rumah sakit dengan sangat kuat hingga urat-urat tangannya menonjol.

"Kamu... kamu menceraikan dia hanya karena perempuan simpananmu yang hamil itu?!" desis Papa dengan suara yang bergetar hebat karena emosi yang meluap. "Dasar anak bodoh! Egois! Narsis!" umpatnya lagi. Padahal ingin ia pendam sebab mendengar percerain itu lagi membuatnya sesak.

"Pa, tenang dulu, Pa—"

"Bagaimana saya bisa tenang?!" bentak Papa, mengabaikan rasa perih di dadanya yang kembali menusuk. "Kamu pikir perusahaan properti kita bisa berjalan tenang sampai sekarang itu karena kehebatanmu sendiri, hah?! Kamu bisa fokus rapat berhari-hari, bisa pulang malam dalam keadaan bersih, itu semua karena ada Pamela yang menjaga rumah ini tetap tegak! Dia yang mengurus ibumu yang cerewet, dia yang mengurus adikmu yang manja, dan dia yang memastikan saya tidak mati karena serangan jantung setiap hari dengan makanan dietnya!"

Papa menunjuk wajah Zidan dengan telunjuk yang gemetar hebat. Kekerasan verbal dari sang ayah menghantam ego Zidan tepat di pusat kesombongannya. "Perempuan kaya yang kamu bawa itu... si Karina... apa dia mau mengubur masa mudanya untuk melayani keegoisan keluarga ini seperti yang Pamela lakukan selama tujuh tahun?! Gak akan pernah, Zidan! Kamu sudah membuang berlian demi seonggok batu kerikil yang berkilau, dan ingat kata-kata Papa... rumahmu, duniamu yang mewah itu, sebentar lagi akan runtuh total tanpa sisa!"

Amukan dari Papa terputus saat pria tua itu tiba-tiba terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya yang kembali terasa sesak. Alarm monitor jantung berbunyi nyaring, membuat dua orang perawat dan seorang dokter jaga langsung berlari masuk ke dalam ruangan untuk melakukan tindakan darurat.

Zidan dipaksa melangkah mundur, digiring keluar dari ruangan oleh perawat dengan tubuh yang terasa kaku seperti patung. Begitu pintu kaca ICU ditutup di depan wajahnya, Zidan menyandarkan punggungnya ke dinding lorong yang dingin. Kata-kata ayahnya terus berputar di kepalanya bagai kutukan yang lambat laun mulai terbukti kebenarannya. Dia merasa seluruh kendali hidup yang selama ini dia banggakan telah slip dari jemarinya, meninggalkan rasa hampa yang membakar jiwanya dengan emosi yang tak menentu.

...

Di belahan bumi yang lain, di mana malam disambut oleh suara deburan ombak yang menenangkan, Pamela sedang duduk di atas dipan kayu teras rumah panggungnya. Di sampingnya, sebuah lampu teplok minyak kecil menyala dengan api yang bergoyang pelan ditiup angin laut, memberikan siluet hangat pada wajah manisnya.

Di atas pangkuannya, terdapat sebuah buku catatan kecil bergaris yang baru dia beli di toko kelontong sore tadi. Dengan memegang sebuah pena murah, tangan Pamela tampak bergerak lincah menuliskan beberapa baris kalimat. Wajahnya tidak lagi menampakkan kesedihan yang pekat; ada binar kehidupan yang baru dan segar di matanya yang indah.

‘Menu Kedai "Selasih" untuk Minggu Depan:

1. Serabi Kuah Kencana (Menu Utama)

2. Kue Mangkok Mekar Pandan Suji

3. Klepon Gula Aren Cair

Catatan belanja bahan subuh: Tepung beras murni 5kg, kelapa agak muda 3 butir, gula aren asli Ciamis...’

Pamela membaca kembali catatannya dengan senyuman kecil yang tulus. Menyiapkan pekerjaan untuk besok pagi tidak lagi membuatnya merasa tertekan atau ketakutan seperti dulu. Dulu, setiap malam sebelum tidur, dia harus mengingat dengan detail gaun mana yang harus disetrika untuk Keysha, jam berapa Zidan harus dibangunkan dengan kopi hangatnya, dan bagaimana cara meminimalkan suara langkah kakinya agar tidak memicu kemarahan Mama mertua.

Sekarang, catatan di tangannya adalah tentang dirinya sendiri, tentang masa depannya yang merdeka. Pekerjaan sebagai juru masak camilan di kedai Ibu Sarah adalah batu loncatan pertamanya untuk kembali berdiri tegak sebagai seorang wanita yang mandiri.

"Mbak Pamela... belum tidur?"

Suara ramah Mbok Darmi terdengar dari balik pagar pembatas bambu. Wanita tua itu baru saja kembali dari dermaga setelah mengantarkan bekal makan malam untuk suaminya yang bekerja sebagai nelayan.

Pamela menoleh dan menutup buku catatannya. "Belum, Mbok. Ini lagi nulis beberapa resep buat di kedai besok pagi. Mbok baru pulang?"

"Iya, Nak. Ini Mbok bawakan ikan bakar bumbu serai sedikit, tadi dikasih sama temen orang kapal. Dimakan ya, buat lauk makan malam," ucap Mbok Darmi sambil menyodorkan sebungkus daun pisang yang masih hangat dari celah pagar.

"Ya ampun, Mbok... terima kasih banyak ya. Selalu saja repot-repot buat Pamela," jawab Pamela sambil bangkit berdiri dan menerima bungkusan itu dengan kedua tangan, menunjukkan rasa hormat yang tulus.

"Gak repot, Nak. Di kampung ini, kita semua itu saudara. Kalau ada rezeki ya dibagi. Wis, sekarang dimakan terus istirahat, besok kan hari pertamamu kerja di kedai Bu Sarah. Harus kelihatan segar," tutur Mbok Darmi penuh perhatian sebelum berjalan kembali menuju rumahnya.

Pamela membawa bungkusan ikan bakar itu masuk ke dalam rumah kayunya. Saat dia duduk di meja makan kecilnya, air mata kelegaan kembali menetes perlahan di pipinya. Kehangatan sejati yang dia cari selama tujuh tahun di dalam rumah mewah berlantai marmer di kota, ternyata justru dia temukan di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir pantai, dari orang-orang biasa yang bahkan tidak memakai pakaian bermerek mahal.

Dia menyuap nasi dan ikan bakar itu dengan tenang, menikmati setiap detik dari kebebasannya yang lambat namun berharga. Pamela tahu bahwa badai di kota sana mungkin belum sepenuhnya selesai, terutama dengan sifat Zidan yang narsis dan keras kepala. Namun, di dalam hatinya yang kini sedingin es untuk masa lalunya, Pamela sudah menutup pintu rapat-rapat. Dunianya yang baru telah dimulai di sini, dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan diizinkan untuk merusaknya lagi.

...

Kembali ke pusat kota, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Zidan akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam rumah mewahnya. Langkah kakinya terasa begitu lelah, jiwanya remuk setelah seharian menghadapi kemarahan sang ayah di rumah sakit dan kekacauan pikiran di kantor.

Begitu dia membuka pintu depan, pandangannya langsung disuguhi oleh pemandangan ruang tamu yang berantakan. Beberapa koper pakaian berukuran besar tampak tergeletak di dekat sofa, dengan beberapa pakaian bermerek yang menyembul keluar secara acak.

Di tengah ruangan, Karina berdiri dengan pakaian perginya yang modis, lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Di tangannya, dia memegang sebuah tas tangan mewah. Wajah cantiknya tampak penuh dengan ekspresi muak dan tidak sabaran.

"Karina? Apa-apaan ini? Kamu mau ke mana malam-malam begini membawa koper?" tanya Zidan, suaranya terdengar sangat dingin namun ada nada frustrasi yang kental di dalamnya.

Karina mendengus sinis, menatap Zidan dengan pandangan yang tidak lagi manja seperti biasanya. Sifat egoisnya telah mencapai batas toleransi terhadap kekacauan keluarga Zidan. "Aku mau pergi dari rumah sialan ini, Zidan. Aku gak tahan lagi tinggal di sini."

"Karina! Jaga ucapanmu! Kamu sedang hamil anakku!" bentak Zidan, emosinya yang tertahan sejak di rumah sakit akhirnya pecah menjadi kekerasan verbal yang tajam. Dia melangkah mendekat, mencengkeram pergelangan tangan Karina dengan cukup kuat.

"Lepasin, Zidan! Sakit!" jerit Karina sambil menyentak tangannya kasar. "Anakmu? Iya, ini anakmu! Tapi aku gak mau anak di dalam kandungan aku ikut stres gara-gara keluarga kamu yang berantakan ini! Kamu lihat sendiri kan? Ibumu cuma bisa ngomel, adikmu kayak pembantu gak guna, bapakmu kritis di rumah sakit, dan kamu... kamu dari kemarin cuma bisa bentak-bentak aku!"

Karina menunjuk wajah Zidan dengan pandangan menghina. "Aku ini Karina, Zidan! Aku biasa hidup mewah, tenang, dan dihormati di lingkungan sosialku! Aku masuk ke sini karena kamu bilang hidupku bakal lebih bahagia dari si Pamela itu! Tapi apa?! Baru tiga hari di sini, rumah ini udah kayak neraka jahanam! Aku gak sudi jadi pengganti pembantumu yang kabur itu! Aku mau pulang ke apartemenku sendiri, dan jangan cari aku sampai kamu bisa beresin semua masalah sampah keluargamu ini!"

Dengan gerakan cepat, Karina menarik koper-kopernya, melangkah lebar melewati Zidan yang berdiri terpaku dengan napas memburu karena marah dan terhina. Suara pintu depan yang dibanting dengan sangat keras oleh Karina meninggalkan gema sunyi yang teramat mencekam di dalam rumah mewah itu.

Zidan perlahan menurunkan pandangannya, menatap lantai ruang tamu yang kosong. Satu per satu, orang-orang yang dia bawa masuk untuk memuaskan keangkuhannya kini berbalik membuangnya. membiarkannya berdiri sendirian di tengah runtuhan dunia megah yang dia ciptakan dari atas kesombongannya sendiri.

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!