Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 ambang batas fana dan pancingan di celah Surga
Jauh di atas hamparan debu dunia fana, melampaui Lautan Awan Spiritual, dan menembus lapisan dimensi yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan manusia, terbentanglah sebuah keabadian yang membekukan jiwa. Tempat ini tidak memiliki siklus siang dan malam. Langitnya berwarna putih keemasan murni, memancarkan cahaya yang tidak menyilaukan mata, melainkan menembus langsung ke dalam esensi keberadaan setiap makhluk.
Inilah Alam Ilahi (*Divine Realm*). Rumah bagi entitas-entitas yang telah lama melupakan konsep kematian, kelaparan, dan penderitaan.
Di salah satu sudut perbatasan terluar alam tersebut, berdiri Paviliun Pengawas Kosmik. Bangunan itu dipahat dari sebongkah kristal bintang purba yang ukurannya menyamai sebuah benua kecil. Di dalam aula utama paviliun, Dewa Pengawas Qingxu duduk bersila di atas teratai giok yang mengambang. Jubah putih sucinya tidak bernoda sedikit pun. Rambut peraknya menjuntai hingga menyentuh lantai kristal. Matanya yang berwarna perak murni menatap sebuah piringan air gaib yang menampilkan pusaran karma dari dunia-dunia di bawahnya.
Tiga hari yang lalu—menurut waktu Alam Ilahi—Mata Penghakiman secara otomatis terbuka dan memancarkan peringatan. Sebuah anomali karma tingkat tinggi telah terdeteksi di Benua Tengah. Seorang manusia fana telah memutuskan garis takdir yang seharusnya mengalir selama sepuluh ribu tahun ke depan.
Dewa Pengawas Qingxu menghela napas panjang. Embusan napasnya menciptakan badai salju kecil di sudut ruangan.
"Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi telah musnah," suara Qingxu bergema, berbicara kepada seorang dewa pelayan yang berdiri menunduk di ambang pintu. "Garis keturunan Titah Langit yang kita tanam sebagai anjing penjaga di dunia bawah telah dicabut hingga ke akar-akarnya. Bahkan tiga kaisar purba yang sedang tertidur ikut ditelan ketiadaan."
"Apakah kita harus mengirimkan Pasukan Hukuman Ilahi sekarang, Yang Mulia?" tanya dewa pelayan tersebut dengan nada datar, seolah sedang menanyakan apakah mereka perlu menyapu dedaunan kering di halaman.
Qingxu menggelengkan kepalanya pelan. "Membuka gerbang dimensi menuju dunia bawah membutuhkan biaya energi kosmik yang tidak sedikit. Mata Penghakiman telah memberikan waktu satu siklus matahari bagi anomali tersebut untuk merenungi dosanya sebelum hukum alam semesta menghapusnya. Lagipula..."
Qingxu memutar tangannya di atas piringan air tersebut, menampilkan wajah seorang pemuda berjubah hitam yang sedang tersenyum sinis.
"...mengirimkan dewa sejati hanya untuk membunuh seekor lintah darat yang kebetulan menemukan pusaka kuno adalah sebuah pemborosan martabat. Biarkan pemuda bernama Cang Qixuan itu menikmati tumpukan emasnya selama beberapa saat. Saat siklus matahari berakhir, api penyucian akan turun, dan seluruh dunia bawah itu akan diubah kembali menjadi ketiadaan untuk disusun ulang."
Dewa Pengawas itu menutup matanya, kembali bermeditasi, sama sekali mengabaikan fakta bahwa anomali yang ia anggap sebagai "serangga" tersebut sedang merakit mesin pemotong rumput berskala kosmik yang siap memangkas taman sucinya.
Tiga bulan waktu dunia fana telah berlalu sejak kejatuhan Ibukota Titah Langit.
Pemandangan di Benua Tengah kini tidak lagi memancarkan keagungan surgawi. Di mana-mana, terlihat cerobong asap raksasa yang memuntahkan debu vulkanik ke udara. Pegunungan giok yang dulunya menjadi tempat meditasi para tetua ortodoks kini telah dibelah menggunakan mesin-mesin spiritual berteknologi tinggi. Ribuan kultivator yang dulunya mengenakan jubah mewah sekte, kini memakai kerah pembatas qi dan memanggul beliung baja, bekerja siang malam menambang urat bumi di bawah pengawasan ketat Pasukan Naga Hitam.
Kekaisaran Bayangan yang dipimpin oleh Cang Qixuan tidak datang untuk memerintah dengan belas kasihan. Mereka datang untuk memeras setiap tetes nilai dari tanah para dewa tersebut.
Di pusat kawah obsidian—bekas Ibukota Titah Langit—sebuah markas komando sementara telah didirikan. Bangunan itu terbuat dari lempengan baja hitam yang sangat tebal, berbentuk segi delapan tanpa jendela, murni dirancang untuk efisiensi militer dan logistik.
Di dalam ruang rapat utama markas tersebut, suasana terasa sangat berat dan menekan. Shen Feiyan berdiri di depan meja bundar holografik, menumpukkan setumpuk gulungan laporan yang beratnya mencapai puluhan kilogram. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata wanita rubah yang biasanya selalu tampil sempurna itu. Kelelahan mental merenggut sebagian rona merah di pipinya.
"Panglima," Shen Feiyan memulai laporannya, suaranya sedikit parau. "Konsolidasi aset Benua Tengah telah mencapai tahap akhir. Semua mata uang Kristal Inti Bintang telah kita tarik dari peredaran dan kita gantikan dengan *Surat Berharga Bunga Emas*. Delapan puluh persen urat bumi utama telah kita alihkan alirannya menuju tungku-tungku peleburan Nona Hong Lian. Walaupun demikian, kita menghadapi sebuah hambatan yang sangat fatal."
Cang Qixuan duduk di kursi kebesarannya di ujung meja. Posturnya tetap tenang dan tidak terbaca. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar Feiyan melanjutkan.
Shen Feiyan memproyeksikan sebuah gambar rancangan kapal raksasa di udara. "Ini adalah desain *Bahtera Pemecah Dimensi Ilahi* yang Anda minta. Hong Lian telah berhasil merancang mesin pendorongnya menggunakan sisa energi dari *Inti Matahari Buatan*. Sayangnya... kita kekurangan material fisik untuk membangun lambung kapalnya."
Putri Yan Ling, yang duduk di sebelah kanan Qixuan, mengerutkan kening. "Kekurangan material? Bukankah kita baru saja menjarah seluruh pegunungan giok dan baja bintang di Benua Tengah? Gudang kita bahkan sudah tidak muat lagi menampung logam spiritual!"
"Baja bintang dan giok purba adalah material terkuat di dunia fana," sebuah suara berat menimpali dari ambang pintu. Hong Lian melangkah masuk. Pakaian pandai besinya dipenuhi noda pelumas spiritual dan bekas luka bakar baru. Ia berjalan tertatih, tanda bahwa ia telah berdiri di depan tungku tanpa henti selama berminggu-minggu.
Hong Lian menjatuhkan sebuah lempengan baja bintang berukuran tebal ke atas meja. Lempengan itu terlihat penyok dan meleleh di bagian tengahnya.
"Material fana memiliki batas toleransi, Wali Penguasa," jelas Hong Lian, mengambil cerek air dingin di meja dan menenggaknya langsung. "Hamba telah melakukan simulasi tekanan antar-dimensi. Saat kapal kita mencoba menembus tabir yang memisahkan dunia ini dengan Alam Ilahi, gesekan hukum alam akan terjadi. Panasnya jutaan kali lipat lebih buas daripada Api Inti Bumi. Lempengan baja bintang terbaik kita akan menguap menjadi gas sebelum kapal kita setengah jalan melewati portal."
Kenyataan pahit itu membuat seisi ruangan terdiam. Uang dan kekayaan yang mereka kumpulkan di alam bawah terbukti tidak memiliki nilai konversi fisik yang cukup untuk menahan hukum dari dimensi yang lebih tinggi.
"Lalu, apa yang kita butuhkan untuk melapisi kapal itu, Sang Teratai Pandai Besi?" tanya Qixuan perlahan, memutar-mutar *Koin Timbangan Surga* di sela jari-jarinya.
"Kita membutuhkan material yang berasal dari Alam Ilahi itu sendiri, Tuanku," jawab Hong Lian tegas, menatap lurus ke mata majikannya. "Entah itu Tulang Naga Ilahi, Kristal Awan Suci, atau Baja Nirvana. Benda-benda yang secara alami memang dirancang untuk eksis di bawah hukum Alam Ilahi. Jika kita tidak memiliki setidaknya satu ton material semacam itu untuk dijadikan lapisan pelindung inti haluan... armada pemecah dimensi ini hanyalah peti mati besi yang dihias mewah."
Yan Ling mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Mendapatkan material dari Alam Ilahi adalah kemustahilan absolut. Portal ke sana tertutup rapat. Dewa-dewa itu baru akan turun sembilan bulan lagi saat siklus matahari berakhir untuk mengeksekusi kita. Apakah kita harus pasrah menunggu mereka datang membawa senjata mereka, baru kita rampas materialnya?"
Menunggu adalah kata pantangan dalam kamus seorang Cang Qixuan. Duduk diam membiarkan musuh menentukan waktu dan lokasi pertemuan adalah strategi orang bodoh yang siap disembelih.
Qixuan menghentikan putaran koin di tangannya. Bunyi *klik* logam tersebut menggema di ruangan yang sunyi, menarik perhatian semua jenderalnya.
"Kita tidak akan menunggu siapa pun," Qixuan bangkit berdiri, merapikan jubah linen hitamnya. Matanya memancarkan kedalaman samudra malam yang tidak berujung. "Jika toko penjual material bangunan menutup pintunya rapat-rapat, seorang pengembang yang baik tidak akan duduk menangis di depan pagar. Ia akan menjebol jendela toko itu, mengambil batu batanya, lalu meninggalkan tagihan di atas meja kasir."
Shen Feiyan terbelalak. "Tuanku... Anda berniat membuka portal itu secara paksa dari sisi kita? Menggunakan apa? Kita tidak memiliki formasi peninggalan dewa untuk melakukan hal itu!"
"Kita tidak membutuhkan formasi peninggalan orang lain," Qixuan melangkah menuju pintu keluar ruang rapat. "Tiga bulan yang lalu, Mata Penghakiman Alam Ilahi itu membuka sebuah retakan dimensi di langit untuk mengintip kita. Walaupun retakan itu sudah menutup, jejak koordinat spasialnya masih tertinggal. Sebuah bekas luka di kanvas dunia fana."
Pemuda itu menoleh ke arah Mo Chen yang sedari tadi berdiri menyatu dengan bayangan ruangan. "Pengawal Bayangan. Siapkan arena. Kosongkan radius sepuluh kilometer di sekitar kawah obsidian ini. Aku ingin tidak ada satu pun lalat yang berani terbang melintas."
"Hamba laksanakan, Penguasa," Mo Chen membungkuk, sosoknya langsung melebur ke dalam ketiadaan untuk menjalankan tugas.
Qixuan kembali menatap Hong Lian dan Shen Feiyan. "Feiyan, cairkan seratus juta batu spiritual tingkat atas dari cadangan bank sentral kita. Bawa semuanya ke tengah kawah. Hong Lian, siapkan wadah penyimpanan ekstrem yang sanggup menampung material bersuhu mutlak. Malam ini, aku akan pergi memancing di langit surga. Pastikan keranjang tangkapannya sudah siap."
Mendengar perintah yang melanggar setiap aturan logika kultivasi tersebut, kedua wanita itu merasakan adrenalin yang bercampur dengan teror mengalir deras di nadi mereka. Tuan Muda mereka tidak sedang merencanakan sebuah pertempuran; ia sedang merencanakan perampokan lintas dimensi murni menggunakan kekuatan modal.
Malam turun menyelimuti sisa-sisa Ibukota Titah Langit. Bintang-bintang di angkasa Benua Tengah bersinar terang, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang di bawah sana sedang bersiap untuk merobek kanopi mereka.
Di tengah-tengah kawah obsidian yang luas dan datar, seratus juta batu spiritual tingkat atas telah ditumpuk menyerupai sebuah piramida raksasa yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Energi murni yang memancar dari tumpukan harta itu begitu masif hingga udara di sekitarnya berubah menjadi embun spiritual yang menetes-netes ke tanah.
Cang Qixuan berdiri tepat di puncak piramida batu spiritual tersebut. Angin malam meniup jubahnya dengan lembut. Di sekeliling kawah, sejauh puluhan kilometer, puluhan ribu prajurit elit Naga Hitam berdiri membentuk pagar betis absolut, sementara Mo Chen melayang di kegelapan, siap memenggal siapa pun yang berani mengganggu prosesi gila ini.
Qixuan mendongak, menatap ke arah titik spesifik di langit malam, tepat di mana Mata Penghakiman pernah terbuka. Dengan mata telanjang, langit itu terlihat sempurna. Menggunakan panca indera *Domain Bumi* tahap awalnya, Qixuan bisa melihat sebuah garis retakan halus bercahaya redup—bekas luka dimensi yang belum sembuh total.
"Sebuah celah kecil yang sengaja ditinggalkan untuk mempermudah turunnya pasukan mereka nanti," gumam Qixuan, menganalisis struktur ruang tersebut. "Kalian memang memiliki arogansi tinggi, para dewa."
Pemuda itu merentangkan kedua lengannya. *Inti Emas Kegelapan* di dalam Dantiannya meledak dengan kekuatan penuh. Elemen Bumi purba melesat keluar, menekan gravitasi di sekitar piramida hingga batu-batu spiritual di bawah kakinya mulai berderit.
Kemudian, ia mengaktifkan *Koin Timbangan Surga* yang melayang di depan dadanya. Koin itu berputar cepat, memancarkan proyeksi neraca emas raksasa yang menyelimuti seluruh tumpukan seratus juta batu spiritual tersebut.
"Menelan Langit Tahap Absolut: Likuidasi Ruang!"
Qixuan menyerap seluruh energi dari seratus juta batu spiritual itu dalam satu hentakan napas.
Piramida harta senilai pendapatan seribu sekte selama satu tahun itu... hancur menjadi debu putih seketika. Seluruh energi murninya ditarik ke dalam *Koin Timbangan Surga*, ditukar dan dikonversi menggunakan hukum *Pertukaran Setara* menjadi gelombang energi spasial (*spatial energy*) yang kepadatan dan ketajamannya menyerupai pisau bedah kosmik.
Qixuan mengarahkan telapak tangannya ke langit. Pisau energi yang dibeli dengan seratus juta batu spiritual itu melesat ke atas, menghantam tepat di titik bekas luka dimensi tersebut.
*CRAAAAAAKK!*
Suara kain sutra raksasa yang dirobek paksa menggema ke seluruh penjuru Benua Tengah. Langit malam seketika terbelah. Retakan sepanjang seratus meter menganga lebar, memperlihatkan kekosongan hitam legam yang dipenuhi badai petir emas menyambar-nyambar. Di balik badai petir dimensi itu, kilauan pilar-pilar cahaya putih dan istana-istana ilahi terlihat samar-samar. Itulah gerbang menuju Alam Ilahi!
Hawa tekanan yang luar biasa suci dan berat langsung menetes dari celah tersebut, menekan seluruh daratan fana di bawahnya.
Di batas luar kawah, Hong Lian dan Yan Ling harus berpegangan satu sama lain agar tidak jatuh berlutut menahan tekanan atmosfer dewa yang bocor ke dunia fana.
"D-Dia benar-benar merobek langit..." bisik Yan Ling tak percaya, giginya bergemeretak.
Di puncak debu batu spiritual, Qixuan tidak membuang waktu satu detik pun. Ia tahu celah yang dibuka secara paksa ini tidak akan bertahan lama, dan hukum alam semesta akan segera mencoba menyembuhkannya. Ia tidak berniat melompat masuk; tubuhnya belum siap menerima gesekan dari lorong dimensi yang penuh badai tersebut.
"Sekarang, mari kita lihat seberapa besar ikan yang berenang di dekat dermaga kalian," Qixuan menyeringai iblis.
Kedua tangannya didorong ke depan. Dari dalam punggungnya, delapan rantai raksasa berwarna hitam legam melesat keluar. Rantai-rantai itu tidak terbuat dari besi, melainkan dibentuk dari elemen *Air Kegelapan (Yin)* purba yang dikompresi dengan elemen Bumi. Setiap mata rantainya memancarkan hawa dingin yang bisa membekukan waktu sesaat.
*Pusaran Air Kegelapan: Rantai Beku Pengikat Jiwa - Mode Ekstraksi!*
Kedelapan rantai hitam itu melesat masuk ke dalam robekan langit, menembus badai petir emas, dan mencengkeram membabi buta ke dalam wilayah pinggiran Alam Ilahi yang terlihat di balik celah tersebut.
Di dalam Alam Ilahi, kepanikan seketika meledak di sekitar area gerbang dimensi tersebut. Para dewa penjaga yang sedang berpatroli membelalakkan mata saat lantai awan kristal mereka tiba-tiba berlubang, dan rantai-rantai hitam penuh aura kotor dari dunia fana menyerbu masuk layaknya tentakel gurita raksasa.
"I-Invasi dari alam bawah?!" jerit salah satu dewa berbaju zirah perak. "Mustahil! Hukum penahan dimensi seharusnya meluluhlantakkan materi apa pun yang menyentuhnya!"
Rantai-rantai Yin purba milik Qixuan memiliki sifat menelan energi. Meskipun badai petir dimensi terus menggerus rantai tersebut, Qixuan terus menyuplai energi regenerasi dari dalam *Inti Emas Kegelapan*-nya tanpa henti. Rantai itu menggelepar ganas di dalam wilayah ilahi.
*TRAAANG! KRAAK!*
Salah satu rantai berhasil melilit sebuah pilar raksasa yang terbuat dari *Giok Bintang Suci*, pilar penopang gerbang dimensi yang panjangnya mencapai dua ratus meter. Rantai lainnya mencengkeram patung gargoyle naga ilahi yang terbuat dari paduan logam *Baja Nirvana* murni.
Sementara itu, dua rantai terakhir tanpa sengaja melilit kaki seekor monster penjaga yang sedang tertidur—*Singa Kilat Ilahi*, makhluk buas setara ranah Domain Bumi tahap puncak yang dipelihara sebagai anjing penjaga gerbang.
Monster itu mengaum marah, tubuhnya memancarkan petir putih yang menghanguskan rantai es hitam tersebut.
"Lepaskan benda kotor itu!" komando dewa penjaga berzirah perak, menghunus pedang cahayanya dan menebas rantai-rantai Qixuan.
Di bawah sana, di dunia fana, Qixuan merasakan perlawanan kuat melalui koneksi mentalnya dengan rantai-rantai tersebut. Hawa petir suci mulai merambat turun melalui rantai, membakar kulit di telapak tangannya hingga melepuh. Rasa sakit yang luar biasa menyengat sistem sarafnya, namun senyum di wajahnya justru semakin gila.
"Pancingannya disambar dengan sangat keras," Qixuan tertawa serak, darah hitam menetes dari sudut bibirnya akibat tabrakan energi lintas dimensi. "Kalian mengira tali pancingku bisa dipotong semudah itu?!"
Pemuda itu menghentakkan kaki kanannya kuat-kuat ke tanah. *Inti Emas Kegelapan* di perutnya berputar hingga batas maksimal, menciptakan daya gravitasi absolut (black hole) di dalam tubuhnya.
"MENELAN LANGIT! TARIK!"
Qixuan menarik kedua lengannya ke belakang secara brutal.
Daya hisap yang melampaui logika fisika menekan rantai-rantai hitam itu. Di Alam Ilahi, para dewa penjaga terkesiap ngeri melihat pilar gerbang suci mereka tercabut dari fondasi awannya. Patung gargoyle naga tertarik paksa. Bahkan Singa Kilat Ilahi yang meronta-ronta ganas itu gagal melepaskan diri dari lilitan es hitam yang meresap ke dalam jiwanya, terseret mendekati pusaran lubang hitam dimensi.
*CRAAAAAASSSSH!*
Dengan satu tarikan terakhir yang diiringi raungan Qixuan, seluruh objek yang terlilit rantai itu ditarik paksa menembus badai petir dimensi, jatuh melesat keluar dari celah langit Benua Tengah layaknya meteor rongsokan dari surga.
Sebuah pilar *Giok Bintang Suci* seberat puluhan ribu ton, dua patung naga dari *Baja Nirvana* murni, dan seekor *Singa Kilat Ilahi* yang sedang mengaum kebingungan... jatuh berhamburan menghantam dasar kawah obsidian Jinling.
*BLLLLLAAAAAAMMMMM!*
Gempa bumi skala sembilan melanda seluruh Benua Tengah. Awan debu membumbung tinggi, menutupi langit malam. Kawah obsidian retak menjadi kepingan-kepingan tajam.
Tepat setelah tangkapan itu jatuh, hukum alam semesta yang menolak kerusakan dimensi bereaksi sangat keras. Celah robekan di langit itu langsung tertutup dengan sendirinya, menyegel rapat portal menuju Alam Ilahi dan mengunci sisa badai petir di luar angkasa.
Di tengah kepulan asap debu di dasar kawah, Qixuan berdiri terengah-engah. Jubah linennya compang-camping akibat hawa panas dimensi. Kulit lengannya melepuh dan menghitam, namun luka itu segera beregenerasi dengan cepat berkat vitalitas dari kultivasi *Domain Bumi*-nya.
Ia menurunkan tangannya, menatap hasil tangkapan di hadapannya dengan kepuasan seorang pemancing ulung yang baru saja memenangkan turnamen piala dunia.
Pilar suci raksasa dan patung logam dewa itu tergeletak berantakan, memancarkan cahaya ilahi yang membuat malam terlihat seperti siang hari. Di tengah-tengah puing tersebut, Singa Kilat Ilahi meronta berdiri. Monster raksasa berbulu emas yang memancarkan petir putih itu mengaum marah ke arah Qixuan, bersiap melompat untuk mencabik-cabik makhluk fana yang berani menariknya dari surga.
Qixuan tidak mundur. Ia hanya mengeluarkan kipas giok barunya, membukanya, dan menyembunyikan sebagian senyum iblisnya di balik kipas tersebut.
"Mo Chen. Leng Yue," panggil Qixuan dengan nada datar.
Dua bayangan melesat maju dari kegelapan. Mo Chen dengan pedang bayangan pembunuh dewanya, dan Leng Yue dengan tombak es pembekunya, langsung berdiri di hadapan monster ilahi yang murka tersebut. Hawa membunuh dari dua jenderal bayangan itu—yang kini kekuatannya telah melampaui ahli puncak fana—mengunci setiap pergerakan sang singa.
Qixuan melangkah melewati kedua jenderalnya, menepuk patung gargoyle yang terbuat dari *Baja Nirvana* dengan penuh kekaguman.
"Hong Lian," Qixuan memanggil sang Teratai Pandai Besi yang masih mematung di kejauhan karena syok melihat perampokan lintas dimensi ini.
"H-Hamba di sini, Tuanku!" Hong Lian tergagap, berlari menghampiri dengan kaki gemetar, matanya terbelalak melihat tumpukan logam dewa yang memancarkan hukum keabadian di depan matanya.
"Logam *Baja Nirvana* ini memiliki karakteristik anti-hukum ruang, dan *Giok Bintang Suci* ini sanggup menyerap gesekan waktu," Qixuan mengetuk-ngetukkan kipasnya pada material-material purba tersebut. "Lebur semuanya. Campurkan dengan emas dan besi bintang kita. Bangun lambung utama *Bahtera Pemecah Dimensi Ilahi*. Aku ingin kapal itu sekuat cangkang kura-kura dewa penopang bumi."
Qixuan kemudian menoleh ke arah Singa Kilat Ilahi yang kini sedang ditekan auranya oleh Mo Chen dan Leng Yue. Monster itu menggeram rendah, insting dewanya menyadari bahwa pemuda fana di depannya adalah eksistensi yang jauh lebih berbahaya daripada dewa mana pun di alam atas.
"Adapun kucing besar ini..." Qixuan memicingkan matanya. "Ambil intinya (core) untuk dijadikan stabilisator energi reaktor kapal kita. Gunakan kulit dan bulu emasnya untuk melapisi kursi kebesaranku di anjungan utama. Aku ingin duduk dengan nyaman saat kita menjebol atap rumah mantan majikannya."
Hong Lian menjatuhkan rahangnya, lalu tawa buas yang melampaui kegilaan meledak dari mulutnya. Ia mengeluarkan palu tempa raksasanya, matanya menyala menatap material yang tidak pernah disentuh oleh pandai besi fana manapun sejak awal mula penciptaan.
"Ini akan menjadi mahakarya terbesar dalam sejarah pandai besi! Kapal kita akan sanggup berenang di lautan lava dimensi sekalipun, Tuanku!" raung Hong Lian penuh semangat, tidak lagi mempedulikan fakta bahwa ia sedang membedah barang curian dari para dewa.
Qixuan mengalihkan pandangannya kembali ke langit malam yang kini kembali tenang dan dipenuhi bintang-bintang biasa.
Dewa-dewa Alam Ilahi mungkin percaya bahwa mereka memiliki waktu satu siklus matahari untuk menghukumnya. Mereka mengira sang anomali akan duduk diam menunggu kiamat.
Kenyataannya, Tuan Muda Dewa Kekayaan baru saja memecahkan jendela rumah mereka, merampas tiang penyangga pintu mereka, dan menculik anjing penjaga mereka untuk dijadikan jok kursi. Pembangunan mesin pemusnah lintas dimensi telah resmi dimulai. Saat *Bahtera Pemecah Dimensi Ilahi* selesai dirakit, Qixuan tidak akan datang untuk meminta maaf. Ia akan datang untuk menagih biaya perbaikan jendela yang baru saja ia pecahkan sendiri. Panggung monopoli pamungkas kini telah terbentang di antara para bintang.