(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Siapa pelakunya?
Beberapa menit setelah itu, makan malam yang terlambat akhirnya mendekati selesai. Piring-piring mulai bergeser pelan, sementara pelayan datang membawa teh hangat baru tanpa banyak bicara.
Namun meskipun suasana sempat mencair, ketegangan samar tetap terasa menggantung di balik percakapan ringan mereka.
Raka duduk tenang dengan ekspresi yang kembali sulit dibaca, jemarinya sesekali bergerak pelan di atas meja, seperti pikirannya sedang berjalan jauh lebih cepat daripada yang terlihat.
Selina diam-diam melirik ke arahnya beberapa kali sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil.
“Kamu sedang berpikir lagi, kan?” tanyanya tiba-tiba.
Raka mengangkat pandangan tipis. “Aku memang sedang berpikir.”
“Nah, itu,” balas Selina cepat. “Wajahmu mulai seperti tadi lagi.”
“Wajah seperti apa?”
“Wajah seseorang yang sedang menyusun sesuatu di kepalanya dan berencana tidak tidur sampai pagi,” jawab Selina tanpa ragu.
Raka terdiam sepersekian detik.
Nyonya Shanum langsung mengangguk kecil. “Mama setuju.”
“Ma.”
“Jangan membantah,” sahut wanita itu cepat. “Mama mengenal wajahmu sejak kamu kecil.”
Selina hampir tersenyum kecil melihat bagaimana untuk kesekian kali malam itu, Raka terlihat tidak punya ruang untuk berargumen.
Nyonya Shanum lalu meletakkan cangkir tehnya perlahan. “Mulai malam ini,” ujarnya tegas, “kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa pengawalan tambahan.”
“Aku sudah bilang akan ada pengamanan tambahan.”
“Itu belum cukup.”
Raka sedikit menghembuskan napas pendek, tetapi kali ini tidak langsung menyanggah, tatapannya turun sejenak pada meja sebelum akhirnya berkata tenang, “Baik.”
Jawaban itu membuat Selina tanpa sadar berkedip kecil lagi, pria keras kepala di depannya benar-benar sedang memilih mengalah malam ini.
Namun beberapa detik kemudian, Raka berdiri dari kursinya.
“Aku harus melihat laporan sementara sebelum tidur.”
“Kau lihat?” gumam Selina cepat sambil menoleh pada Nyonya Shanum. “Baru saja bilang baik.”
“Aku hanya mengecek laporan saja,” balas Raka datar.
“Jam segini?”
“Masalahnya tidak mengenal jam tidur.”
Selina langsung mendecak pelan. “Tersersah kau saja.”
Nyonya Shanum menghela napas kecil sebelum akhirnya ikut berdiri. “Baik,” katanya tenang tetapi tegas. “Kalau memang mau bekerja, maksimal satu jam.”
Raka mengangkat alis tipis.
“Satu jam,” ulang Nyonya Shanum tanpa memberi ruang negosiasi. “Setelah itu tidur.”
Raka terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “…Baik, Ma.”
Selina spontan menutup bibir menahan senyum.
“Kenapa?” tanya Raka sambil melirik sekilas.
“Tidak apa-apa,” jawab Selina cepat. “Aku hanya baru sadar ternyata ada orang yang bisa membuatmu menurut.”
“Berisik.”
“Lihat, Tante,” gumam Selina pelan dengan nada dibuat serius. “Dia mulai galak lagi.”
Nyonya Shanum justru terkekeh kecil, suara tawanya terdengar hangat di tengah malam yang sejak tadi terasa tegang. “Sudah, kalian berhenti bertengkar,” ujarnya ringan. “Sekarang naik dan istirahat.”
Raka mengangguk kecil lalu bergerak meninggalkan ruang makan, tetapi langkahnya berhenti ketika sadar seseorang masih berdiri diam di belakang kursi.
Ia menoleh sedikit. “Kau tidak ke kamarmu?” tanyanya pada Selina.
Selina tampak sedikit tersentak. “Hah?”
“Kau tadi bilang lelah,” lanjut Raka tenang. “Sudah malam.”
Untuk sepersekian detik, Selina hanya menatapnya, sedikit tidak siap mendengar perhatian sederhana yang keluar begitu saja dari pria itu.
“Oh...” gumamnya kecil sebelum buru-buru mengangguk. “Iya.”
Nyonya Shanum yang memperhatikan hanya diam sambil menyembunyikan senyum tipis.
Malam semakin larut, tetapi untuk pertama kalinya setelah kejadian yang mencekam itu, suasana mansion terasa sedikit lebih hangat, meskipun di balik ketenangan sementara tersebut, seseorang di luar sana masih bergerak diam-diam.
Beberapa menit kemudian, suasana mansion mulai jauh lebih sunyi, pelayan perlahan membereskan meja makan, lampu ruang keluarga diredupkan, sementara koridor panjang mansion hanya diterangi cahaya hangat dari lampu dinding yang menyala temaram.
Raka berjalan lebih dulu menuju lantai atas dengan langkah tenang, satu tangan masuk ke saku celana, pikirannya jelas masih bekerja meskipun ekspresinya tetap sulit dibaca.
Di belakangnya, Selina berjalan beberapa langkah lebih lambat sambil sesekali melirik punggung pria itu.
Entah kenapa, kalimat sederhana tadi masih terngiang di kepalanya. Namun anehnya cukup membuat dadanya terasa sedikit hangat.
Ketika mereka sampai di ujung koridor lantai dua, langkah Raka berhenti di depan pintu ruang kerja pribadinya.
Selina yang sejak tadi melamun hampir menabraknya.
“Ehh...”
Raka melirik sekilas. “Kalau jalan, lihat ke depan.”
Selina langsung berdeham kecil sambil membuang muka. “Aku tahu.”
“Hm.”
Jawaban pendek itu membuatnya mendecak kecil lagi, Raka membuka pintu ruang kerja, tetapi sebelum masuk, ia berhenti sepersekian detik.
“Kau tidur saja,” ujarnya tenang. “Jangan terlalu memikirkan kejadian tadi.”
Kalimat itu membuat Selina sedikit membeku.
“Kamu pikir aku tidak akan memikirkannya?” tanyanya pelan. “Kamu hampir kehilangan nyawa, Raka.”
Sorot mata pria itu bergerak sedikit lebih lembut, meskipun hanya sesaat.
“Aku masih di sini kan,” jawabnya tenang.
Selina terdiam, aneh sekali. Padahal kalimat itu biasa saja, tetapi justru membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Namun sebelum suasana berubah, ia mengerutkan dahi kecil. “Tunggu,” katanya cepat. “Bukannya Tante menyuruhmu tidur satu jam lagi?”
“Aku hanya melihat laporan.”
“Kamu bilang begitu seperti orang yang tidak akan bekerja sampai subuh.”
Raka mengangkat alis tipis. “Kau mulai terdengar seperti Mama.”
“Bagus,” balas Selina spontan. “Berarti ada dua orang yang mengawasimu sekarang.”
Sudut bibir Raka bergerak tipis, nyaris seperti senyum kecil yang sulit ditangkap. “Aku mulai kasihan pada diriku sendiri.”
Selina langsung menyilangkan tangan. “Tidak ada belas kasihan.”
Untuk beberapa detik mereka saling menatap, lalu tanpa sadar suasana menjadi sedikit lebih ringan.
Akhirnya Raka menghela napas kecil. “Satu jam,” katanya pendek.
Selina menyipitkan mata kecil. “Janji?”
“Ya.”
Ia tampak masih ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Baik,” gumamnya. “Kalau begitu aku akan mengecek mu nanti.”
Raka sedikit mengernyit. “Mengecek?”
“Satu jam lagi,” jawab Selina cepat. “Kalau lampu ruang kerjamu masih menyala, aku laporkan ke Tante.”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara rendah Raka terdengar seperti tawa pendek.
“Kau serius?”
“Sangat.”
“Hm.”
Namun sebelum pintu ruang kerja tertutup, suara Selina kembali terdengar pelan.
“Raka.”
Pria itu berhenti.
“…Syukurlah kamu benar-benar tidak apa-apa.”
Nada suaranya lebih pelan dari biasanya, tanpa nada bercanda, tanpa gerutuan. Raka memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
“Terima kasih, Selina.”
Dan untuk alasan yang bahkan Selina sendiri tidak mengerti, dua kata sederhana itu justru membuat jantungnya berdetak sedikit terlalu cepat.
Sementara di balik pintu ruang kerja yang perlahan tertutup, suasana kembali berubah.
Tatapan Raka tertuju pada layar laptop yang baru saja ia nyalakan, beberapa berkas keamanan sudah menunggu.
Foto kendaraan, wajah-wajah hasil tangkapan CCTV, riwayat jalur pelarian. Dan sebuah nama yang baru saja dikirim Jack dengan tanda merah kecil di sampingnya.
Akses komunikasi internal... belum teridentifikasi, tatapan Raka sedikit menyipit, jemarinya bergerak pelan mengetuk meja sekali.
Lalu ponselnya kembali bergetar, pesan baru dari Jack masuk.
Tuan muda, ada sesuatu yang perlu Anda lihat. Salah satu akses internal ini sempat terhubung ke akun milik seseorang di divisi eksekutif.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km