Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Diatur
“K-kenapa aku harus ikut juga untuk menemui para tetua vampir?” protes Evelyn kepada Evander.
Saat ini Evelyn sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan pakaian yang diberikan pelayan kastel tadi pagi.
Sementara Evander terlihat tenang mengenakan jubah hitamnya.
“Karena mereka ingin bertemu denganmu.”
“Tapi aku tidak ingin bertemu mereka terus,” gumam Evelyn pelan. “Tatapan mereka menyeramkan.”
Evander menatap Evelyn beberapa detik.
“Mereka hanya penasaran.”
“Itu tetap membuatku gugup.”
Namun Evander justru berjalan mendekat ke arah Evelyn.
“Kau calon Ratu Nocturne.”
“Aku belum setuju menjadi ratumu!”
“Tidak ada yang bertanya soal itu.”
Mata Evelyn langsung membelalak kesal.
“Evander!”
Namun Raja Vampir itu justru terlihat santai.
Tatapan merahnya malah tampak sedikit geli melihat Evelyn mulai berani membantah dirinya.
“Aku tidak suka diatur-atur,” gumam Evelyn sambil memalingkan wajahnya.
“Benarkah?”
“Iya!”
Evander perlahan mendekatkan wajahnya sedikit.
“Tapi tadi malam kau terus memanggil namaku karena takut.”
Wajah Evelyn langsung merah padam.
“Itu beda!”
“Apa bedanya?”
“A-aku…”
Evelyn langsung kehilangan kata-kata.
Sementara sudut bibir Evander kembali terangkat tipis.
“Ayo,” ucapnya rendah. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Namun Evelyn masih diam di tempat sambil terlihat enggan keluar kamar. Melihat hal itu, Evander tiba-tiba menghela napas kecil.
Lalu.
Tubuh Evelyn langsung terangkat.
“Eh?!”
Mata Evelyn langsung membelalak panik saat dirinya tiba-tiba digendong Evander.
“Evander! Turunkan aku sekarang juga!”
“Tidak.”
“Kamu curang!”
“Aku hanya tidak ingin calon ratuku kabur.”
Wajah Evelyn langsung merah karena malu dan kesal sekaligus. Sementara Evander justru berjalan santai keluar kamar sambil menggendongnya.
Dan para pelayan kastel yang melihat pemandangan itu langsung menundukkan kepala sambil diam-diam terkejut.
Karena Raja Vampir mereka. Benar-benar memanjakan manusia itu setengah mati.
**
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di ruangan khusus tempat para tetua vampir berkumpul.
Ruangan itu jauh lebih sunyi dibanding aula utama semalam.
Aura dingin memenuhi seluruh sudut ruangan.
Di tengah ruangan terdapat meja panjang hitam dengan simbol Klan Nocturne yang terukir megah di atasnya.
Dan di sana.
Valerius Nocturne bersama para tetua vampir sudah menunggu kedatangan mereka.
Kini Evander perlahan menurunkan Evelyn dari gendongannya.
Wajah Evelyn masih sedikit merah karena malu sejak tadi digendong melewati lorong kastel.
Namun Evander tetap tidak melepaskannya begitu saja.
Tangannya masih menggenggam erat tangan Evelyn seolah memperingatkan siapa pun bahwa gadis itu berada dalam perlindungannya.
Tatapan beberapa tetua vampir langsung turun melihat genggaman tangan mereka. Dan itu cukup membuat suasana ruangan menjadi lebih tegang.
Sementara Evander berdiri tenang di samping Evelyn.
“Jadi katakan sekarang,” ucap Evander dingin. “Ada perlu apa kalian memanggilku lagi?”
Tetua Magnus Draven langsung menyipitkan matanya.
“Kau benar-benar berubah sejak manusia itu datang.”
Namun Evander sama sekali tidak terlihat peduli.
Tatapan merahnya tetap dingin. Lalu Valerius perlahan membuka suara.
“Kami hanya ingin memastikan sesuatu.”
Tatapan matanya perlahan mengarah pada Evelyn.
“Apakah manusia itu benar-benar mampu bertahan hidup di dunia vampir.”
Tubuh Evelyn langsung sedikit menegang mendengar ucapan itu. Namun genggaman tangan Evander justru semakin erat.
“Dia akan bertahan,” jawab Evander cepat.
Tetua Zephiron Vale langsung menghela napas kecil.
“Masalahnya bukan hanya itu, Yang Mulia.”
Tatapan tajam para tetua perlahan tertuju pada Evelyn.
“Sejak rumor tentang calon Ratu Nocturne menyebar”
“Klan vampir lain mulai bergerak.”
Mata merah Evander langsung berubah lebih dingin.
Sementara Evelyn terlihat bingung.
“Klan lain?” gumamnya pelan.
Tetua Cassius Morvain menatap Evelyn cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Tidak semua vampir menyukai keberadaan manusia di sisi Raja Vampir.”
Sunyi.
Lalu Valerius kembali membuka suara dengan nada lebih serius.
“Dan salah satu klan yang paling tidak menyukainya”
Aura ruangan langsung berubah lebih berat.
“Adalah Klan Dracul.”
“Apa kalian meremehkan kekuatanku?” ucap Evander dingin kepada seluruh tetua vampir.
Seketika.
Aura mengerikan langsung memenuhi seluruh ruangan.
Udara terasa jauh lebih berat hingga bahkan beberapa pelayan di luar ruangan langsung gemetar ketakutan. Tatapan merah Evander perlahan menyapu seluruh tetua vampir satu per satu.
“Kalian harus ingat,” lanjutnya rendah namun penuh tekanan. “Bagaimana simbol itu mendatangiku waktu itu.”
Ruangan langsung sunyi. Tidak ada satu pun yang berani memotong ucapan Raja Vampir.
“Bukan aku yang mengemis memintanya memilihku menjadi Raja Vampir.”
Deg.
Simbol hitam kemerahan di tangan Evelyn tiba-tiba ikut bersinar samar seolah merespons aura Evander.
Para tetua langsung terdiam. Karena mereka semua mengetahui cerita itu.
Beratus tahun lalu.
Simbol Raja Vampir muncul sendiri pada tubuh Evander Nocturne.
Dan sejak saat itu.
Tidak ada vampir yang mampu menandingi kekuatannya. Tatapan merah Evander kini berubah jauh lebih tajam.
“Jika simbol Raja memilih Evelyn,” ucapnya dingin. “Maka itu bukan urusan siapa pun untuk menolaknya.”
Tetua Magnus Draven langsung mengepalkan tangannya pelan.
“Yang Mulia, kami hanya mengkhawatirkan perang antar klan—”
“Aku tidak peduli.”
Jawaban Evander terlalu cepat. Seluruh ruangan kembali sunyi.
“Aku tidak membutuhkan persetujuan siapa pun,” lanjutnya. “Termasuk para tetua.”
Mata Evelyn langsung sedikit membesar.
Ini pertama kalinya dia melihat Evander benar-benar menunjukkan sisi Raja Vampirnya di depan semua orang.
Dan aura itu.
Benar-benar mengintimidasi. Bahkan Valerius Nocturne hanya diam memperhatikan putranya.
Lalu perlahan.
Sudut bibir mantan Raja Vampir itu terangkat samar.
“Masih sama seperti dulu,” gumam Valerius pelan.
Tatapan Valerius kemudian beralih pada Evelyn.
Dan untuk pertama kalinya.
Tatapannya tidak lagi sedingin sebelumnya.
“Sekarang aku mengerti,” ucapnya pelan. “Kenapa simbol itu memilihmu.”
Evelyn langsung terdiam bingung.
Namun sebelum dia sempat bertanya.
Brak!
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka keras. Seorang penjaga vampir masuk dengan napas berat.
“Yang Mulia!” ucapnya panik sambil berlutut. “Klan Dracul telah memasuki perbatasan wilayah Kastel Nocturne!”
“Biarkan mereka masuk ke dalam wilayahku,” ucap Evander dingin.
Seketika seluruh ruangan menjadi sunyi. Tatapan merah Raja Vampir itu terlihat sangat mengerikan sekarang.
“A-apa?” penjaga vampir itu terlihat terkejut.
Namun Evander justru perlahan berdiri dari kursinya sambil tetap menggenggam tangan Evelyn.
Aura hitam kemerahan mulai muncul samar di sekitar tubuhnya.
“Aku ingin melihat,” lanjutnya rendah. “Seberapa tahan mereka berada di wilayah Raja Vampir.”
Deg.
Para tetua vampir langsung terdiam.
Mereka tahu.
Kalimat itu bukan ancaman biasa. Wilayah Kastel Nocturne dipenuhi aura milik Evander sendiri.
Dan jika Raja Vampir benar-benar marah…
Seluruh wilayah itu bisa berubah menjadi tempat paling mengerikan bagi vampir mana pun.
Tetua Zephiron langsung menatap Evander serius.
“Yang Mulia, Klan Dracul datang bukan tanpa alasan.”
“Aku tahu.”
“Mereka kemungkinan besar datang karena manusia itu.”
Tatapan merah Evander langsung berubah jauh lebih dingin.
Dan refleks.
Tangannya menarik Evelyn sedikit lebih dekat ke samping tubuhnya.
“Kalau begitu,” ucapnya pelan penuh ancaman. “Mereka datang ke tempat yang salah.”
Deg.
Bahkan Evelyn yang berdiri di sampingnya langsung merasakan hawa menyeramkan dari ucapan itu.
Sementara Valerius hanya memperhatikan putranya dalam diam. Lalu perlahan mantan Raja Vampir itu tersenyum samar.
“Sudah lama aku tidak melihatmu semarah ini, Evander.”
Namun Evander sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari penjaga tadi.
“Panggil Lucien, Kaizer, Raven, Ciel, dan Lucthen.”
“Baik, Yang Mulia!”
Penjaga itu langsung pergi dengan cepat. Sementara Evelyn mulai merasa tidak tenang.
“Evander…” panggilnya pelan.
Tatapan merah Evander langsung melembut sedikit saat melihat Evelyn.
“Kau tetap di kastel.”
“Apa akan terjadi perang?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Evander perlahan mengangkat tangannya menyentuh pipi Evelyn dengan lembut.
“Jika mereka berani menginginkanmu”
Aura mengerikan Raja Vampir langsung memenuhi ruangan sekali lagi.
“Maka aku akan menghancurkan seluruh Klan Dracul.”
“A-apa adikmu memang selalu ikut juga bersamamu disaat seperti ini?” tanya Evelyn pelan kepada Evander.
Saat ini suasana ruangan masih terasa tegang setelah mendengar Klan Dracul memasuki wilayah Kastel Nocturne.
Namun pertanyaan Evelyn justru membuat Lucien yang baru masuk bersama yang lainnya langsung terkekeh kecil.
“Tentu saja,” jawab Lucien santai sebelum Evander sempat berbicara. “Aku adik kesayangannya.”
“Tidak ada yang mengatakan itu.”
Lucien langsung mendecakkan lidah kesal.
“Lihat? Dia memang dingin seperti batu.”
Sementara Kaizer, Raven, Ciel, dan Lucthen yang berdiri di belakang hanya diam menahan ekspresi mereka.
Karena sangat jarang ada yang berani bercanda di depan Raja Vampir saat suasana seserius ini.
Evelyn sendiri justru sedikit penasaran.
“Jadi kalian memang selalu bersama?”
Lucien mengangguk kecil.
“Walaupun Kak Evander sering meninggalkan kastel bertahun-tahun,” jawabnya. “Tetap saja, kalau ada masalah besar seperti ini, kami akan berada di sisinya.”
Tatapan Lucien perlahan berubah sedikit serius.
“Terutama jika menyangkut calon ratunya.”
Wajah Evelyn langsung sedikit merah lagi. Namun kali ini Evander tidak membiarkan Lucien menggodanya terlalu lama.
“Lucien.”
“Iya, iya.”
Lucien langsung mengangkat kedua tangannya malas. Sementara Evander kembali menatap Evelyn.
“Lucien memang ikut bertarung bersamaku sejak lama.”
Tatapan merahnya lalu mengarah pada Kaizer, Raven, Ciel, dan Lucthen.
“Mereka semua adalah orang-orang kepercayaanku.”
Evelyn perlahan melihat satu per satu wajah mereka. Kaizer terlihat tenang dan dingin. Raven memiliki tatapan tajam seperti pemburu.
Lucthen tampak menyeramkan dengan aura haus darahnya. Sementara Ciel terlihat paling tenang dan sopan.
Entah kenapa.
Untuk pertama kalinya Evelyn menyadari sesuatu. Orang-orang di sekitar Evander benar-benar sangat kuat.
Dan itu membuat Evelyn semakin sadar. Seberapa besar posisi Raja Vampir di dunia mereka.