Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi itu Alena kembali duduk termenung di dalam kamar kostnya. Sudah dua Minggu ini setelah kejadian itu ia mengurung diri seolah hidupnya masih dibayang-bayangi malam kelam itu.
Kamar kost sederhana itu mendadak terasa sempit dan sesak. Tatapannya kosong menatap jendela yang sedikit terbuka. Cahaya matahari masuk samar, namun sama sekali tidak mampu menghangatkan hatinya.
Ia lebih sering diam. Jarang keluar kamar. Bahkan memilih berhenti bekerja di club malam itu. Bukan karena tidak butuh uang. Justru sekarang ia semakin kesulitan membayar hidupnya sendiri.
Tubuh Alena perlahan gemetar dan ...
Brak!
Suara pintu terbuka membuatnya tersentak. Rina masuk sambil membawa kantong plastik berisi makanan.
“Kamu belum makan lagi?” keluh gadis itu.
Alena hanya tersenyum kecil. “Aku belum lapar.”
“Kamu bilang begitu dari kemarin!”
Rina langsung duduk di sampingnya sambil menatap wajah pucat Alena dengan cemas.
“Lena… badanmu makin kurus.”
“Aku cuma capek.”
Namun baru saja selesai bicara, Alena tiba-tiba menutup mulutnya sendiri. Wajahnya berubah pucat. Ia buru-buru berlari ke kamar mandi.
“Huek—!”
Rina langsung berdiri panik.
“Lena!”
Suara muntah terdengar cukup lama dari dalam sana dan hal itu membuat Rina benar-benar merasa khawatir.
"Lena tidak apa-apa kan?"
Tidak ada jawaban hingga beberapa menit kemudian Alena keluar dengan tubuh lemas.
Rina makin curiga. “Kamu sakit?”
Alena menggeleng pelan. “Mungkin masuk angin.”
jawaban itu justru membuat Rina mengerutkan kening, seolah tidak masuk akal.
“Masuk angin sampai dua minggu?”
Deg.
Jantung Alena mendadak berdebar tidak karuan, ingatannya langsung menjurus pada malam itu.
"Tidak ... dan jangan sampai ...."
Ia langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, namun ia tidak bisa menghindari satu hal. semakin hari tubuhnya jelas menunjukkan hal yang berbeda, dan ia merasa ada yang aneh beberapa hari terakhir.
Tubuhnya seting sekali mengalami mual muntah dan haidnya... Alena langsung menegang.
Sudah terlambat hampir dua Minggu seharusnya ia sudah mendapatkan tamu bulanannya itu satu Minggu yang lalu tapi tidak dengan hari ini.
Seketika wajahnya perlahan memucat.
“Lena…” suara Rina melemah. “Jangan bilang kamu…”
“Tidak!” potong Alena cepat, suaranya justru terdengar gemetar.
Rina terdiam beberapa detik. Tatapannya perlahan berubah penuh rasa kasihan. "Ya sudah kalau gitu kamu tenang dulu ya, lebih baik makan dulu biar tubuhmu tidak banyak kekurangan cairan."
Alena mengangguk pelan meskipun perutnya tidak merasa lapar, tapi ia tahu jika terus menerus menolak makanan seperti ini, yang ada tubuhnya akan semakin rapuh.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di tempat lain.
Suara langkah terdengar dingin dan tegas, semua karyawan menundukkan pandangannya saat pemilik hotel berbintang itu datang.
Ruang kerja Keil ada di lantai paling atas. Pintu hitam besar terbuka otomatis dengan akses khusus. Di dalamnya, suasana langsung terasa dingin dan tenang.
Dinding ruangannya di dominasi dengan warna abu gelap dan Hitam elegan. lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit membuat suasana terlihat mahal sekaligus elegan.
Di sisi kanan terdapat rak minuman mahal dan lemari kaca berisi koleksi whiskey impor.
Sementara di sisi kiri, jendela kaca besar membentang memperlihatkan gemerlap kota malam dari ketinggian.
Di dalam ruangan ini pikiran Kael benar-benar kacau, fokus kerjanya mulai berkurang, sejak dua Minggu ini gadis itu tidak masuk club bahkan setelah kejadian itu sang gadis sudah mengundurkan diri dari kerjaannya.
Seharusnya Kael merasa tenang, karena sudah tidak di bayang-bayangi lagi dengan rasa bersalahnya. Akan tetapi ini tidak semudah yang dipikirkan bahkan isi otaknya selalu di bayangi dengan wajah ketakutan gadis itu.
"Tidak... aku tidak boleh seperti ini, gadis itu sudah aku bayar dengan jumlah yang cukup mahal, jadi urusan kita selesai," gumamnya seolah ingin menyangkal.
Namun tanpa ia tahu, bahkan dari uang segepok yang ia berikan tidak sedikitpun gadis itu menyentuhnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya…
Sedari sore tadi gadis itu memberanikan diri untuk membeli alat kecil untuk membuktikan jika kekhawatirannya hari ini, meskipun ia tidak tahu dengan hasilnya nanti seperti apa.
Alena sudah memegang beda kecil itu, wajahnya yang pucat sedari tadi menjadi pusat perhatian tetangga kostnya, tapi Alena berusaha untuk abai.
"Itu anak baru wajahnya pucat banget, udah gitu mual terus."
"Iya, atau jangan-jangan ..."
Bisik-bisik itu terdengar jelas Alena semakin tertekan, ia menggelengkan kepalanya kuat, seolah tidak ingin dan tidak sudi jika sampai benih pria jahat itu berkembang di dalam rahimnya.
"Tidak ..."
Sekuat mungkin ia menolak, akan tetapi tidak bisa menutupi rasa takutnya itu, hingga perlahan ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Alena keluar kamar mandi, langkahnya mendadak berhenti saat melihat Rina mulai menghampiri dirinya.
"Lena kamu kenapa?" tanya temannya itu.
Alena masih belum berani menjawab tatapan gadis itu menunduk.
"Lena, kamu harus jawab," ucap Rina kembali.
Akhirnya Alena memberanikan diri untuk berkata lirih. "Tadi aku beli testpack."
Rina spontan terkejut, gadis itu tidak menyangka jika Alena yang terlihat ketakutan tapi diam-diam dia nekat hanya untuk mengetahui keadaan tubuh yang sesungguhnya.
"Terus?" tanya Rina.
Alena menggeleng pelan. "Aku masih belum berani melihatnya."
Rina terkejut, iapun mulai paham jika temannya itu masih belum benar-benar berani menghadapi semua ini.
Seketika Rina menggenggam tangan Alena, sekedar untuk menguatkan hati gadis yang tak bergaya itu.
"Lena, apapun yang terjadi kita hadapi sama-sama ya," ucapnya pelan.
Hingga pada akhirnya Alena memberanikan diri melangkah masuk ke dalam kamar mandi, di sudut ruangan ia tadi menaruh urin dalam wadah kecil, lalu di dalamnya ia masukan alat kecil itu.
Ia masih belum berani untuk melihatnya hingga perlahan tangannya mulai terulur lalu mengambilnya.
Dan beberapa menit kemudian… Alena mematung. Dua garis merah terlihat jelas di sana.
Seketika dunianya benar-benar runtuh. “Nggak…”
Tubuhnya langsung melemas hingga terduduk di lantai kamar mandi. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi bagaimana mungkin ini bisa terjadi pada dirinya yang sejak kecil tidak punya tempat pulang.
“Nggak… ini nggak mungkin…”
Tangannya gemetar memegang benda kecil itu. Hatinya benar-benar hancur. Ia bahkan tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tidak punya keluarga dan sekarang ia hamil tanpa suami.
Tangis Alena pecah memenuhi kamar mandi kecil itu. Di luar, Rina mulai panik karena tak mendengar suara apa pun.
“Lena?”
Tidak ada jawaban.
“Lena, kamu kenapa?”
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Dan saat melihat wajah Alena yang penuh air mata sambil memegang testpack itu… Rina langsung membeku.
“Ya Tuhan…”
Alena menutup mulutnya sendiri sambil menangis sesenggukan.
“Aku harus gimana, Rin…?”
Untuk saat ini Rina tidak bisa berbuat apa-apa tangannya langsung memeluk temannya itu dan hanyut dalam perasaan sedih itu.
"Lena kamu yang sabar ya, dan jalan terbaik kita harus datang dan meminta pertanggung jawaban dari pria itu," ujar Rina.
Deg!
Tubuh Alena langsung bergetar hebat, entah kenapa mendengar nama itu disebut rasa takutnya semakin mendominasi hatinya.
Bersambung. ...