Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bukan Hanya Tubuhku
Ujung keras meja kayu jati menekan punggung Sumarni dengan kasar. Rasa pening akibat kelelahan seharian seketika berganti menjadi ketegangan otot yang menyakitkan.
Bau tajam alkohol yang bercampur dengan asap tembakau cengkeh langsung menyambut indra penciumannya dengan sangat agresif.
Harjono mengunci pergerakan wanita itu dengan kedua lengan kokohnya. Dada bidang pria itu naik turun dengan cepat. Hawa panas memancar dari balik kemeja katunnya, membakar udara malam paviliun yang sebelumnya terasa dingin menusuk tulang.
Kamar itu hanya diterangi cahaya pucat dari sinar rembulan yang menembus celah jendela kayu. Dalam keremangan, sepasang mata kelam Harjono berkilat penuh gairah yang liar. Dominasi absolut memancar dari setiap tarikan napasnya yang berat dan berantakan.
Pria itu menundukkan kepalanya secara tiba-tiba. Bibir kasarnya menyentuh kulit hangat di perpotongan leher Sumarni. Ia memberikan kecupan basah yang penuh tuntutan kekuasaan.
Napas Harjono menderu memburu di telinga Sumarni. Pria itu seolah ingin melahap seluruh kewarasan yang tersisa di ruangan sempit berlantai tegel tersebut.
Jantung Sumarni berdegup sangat kencang hingga terasa menghantam tulang rusuknya sendiri. Sensasi asing menggelenyar hebat di perut bawahnya. Sentuhan bibir Harjono adalah sebuah badai yang meruntuhkan pertahanan fisiknya perlahan-lahan.
Jari-jari besar Harjono merayap turun dengan tergesa. Telapak tangan pria itu terasa kasar akibat memegang serat tembakau, tapi membawa kehangatan yang membuat bulu kuduk Sumarni meremang. Ia menyentuh peniti kebaya Sumarni yang sudah terbuka separuh.
Harjono ingin menandai wanita itu malam ini juga. Ia ingin menghapus jejak tawa indah istrinya bersama pria lain yang merobek harga dirinya siang tadi.
"Kamu milikku, Sumarni," bisik Harjono parau. "Hanya milikku."
Gigitan pelan di bahu Sumarni membuat wanita itu tersentak kaget. Rasa perih kecil itu justru menjadi alarm yang membangunkan akal sehat Ratna Dewi. Insting masa depannya menolak keras penyerahan diri yang hanya didasari oleh pelampiasan ego lelaki.
Ini bukan romansa yang ia inginkan. Ini adalah obsesi buta yang merendahkan nilai dirinya sebagai seorang perempuan utuh.
Sumarni mengangkat kedua tangannya yang sedari tadi bergetar hebat. Ia meletakkan telapak tangannya yang kapalan tepat di atas dada kiri Harjono. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu sama gilanya dengan miliknya.
Dengan sisa tenaga dari tubuh yang kelelahan, Sumarni mendorong dada pria itu. Dorongan itu tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan ketegasan mental yang tidak terbantahkan. Ia menciptakan jarak di antara tubuh mereka yang saling menempel erat.
Gerakan penolakan itu membuat Harjono membeku seketika. Pria angkuh pemilik pabrik kretek itu menatap Sumarni dengan raut wajah sangat terkejut. Selama ini, istri keduanya itu tidak pernah berani menatap matanya, apalagi menolak sentuhan intimnya.
"Hentikan, Mas Harjono," ucap Sumarni dengan nada suara bergetar namun tajam.
Panggilan "Mas" yang keluar dari bibir Sumarni bagaikan siraman air es di tengah kobaran api. Selama bertahun-tahun, wanita itu selalu memanggilnya dengan sebutan "Tuan" yang sangat kaku. Panggilan bernada personal itu sukses menyentuh sudut hatinya, memudarkan kabut alkohol di kepalanya dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Harjono dengan suara serak. Napasnya masih memburu menahan hasrat. "Kamu adalah istri sahku."
Sumarni merapatkan kembali kebayanya dengan jemari yang masih terasa dingin. Ia menatap lurus ke dalam manik mata kelam suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Karena Anda menyentuh saya malam ini bukan karena cinta atau kerinduan," jawab Sumarni lugas. "Anda hanya sedang marah dan merasa terancam. Raden Mas Bramantyo melihat nilai dalam diri saya yang selama ini Anda sia-siakan."
Rahang Harjono mengeras mendengar kebenaran telanjang yang menampar egonya itu. Kata-kata Sumarni menembak tepat di jantung pertahanannya.
"Saya bukan barang pajangan yang bisa Anda klaim ulang sesuka hati," lanjut Sumarni. Nada suaranya mendadak melembut, membawa getaran emosi yang sangat tulus. "Jika Anda ingin masuk ke dalam hidup saya, maka cintai aku, bukan hanya tubuhku."
Keheningan pekat langsung menelan seluruh ruangan paviliun itu. Suara dengungan nyamuk malam bahkan terasa lebih bising daripada embusan napas mereka.
Harjono berdiri kaku mematung. Kalimat itu menggemakan tuntutan emosional yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya. Sumarni tidak meminta harta atau perhiasan emas. Wanita itu menuntut hal yang paling menakutkan bagi seorang pria berkuasa, yaitu kerentanan hati.
Rasa malu perlahan menjalar di dada Harjono. Ia menyadari betapa rendah tindakannya barusan, datang seperti predator kelaparan hanya untuk memuaskan rasa cemburu buta.
Tangan besar Harjono yang sedari tadi mengepal kini perlahan mengendur. Ia mengangkat tangan kanannya dengan sangat ragu. Jari-jemari kasar itu bergerak lembut merapikan helai rambut Sumarni yang berantakan di dahi.
Sentuhan kelembutan yang tidak terduga itu membuat mata Sumarni sedikit melebar. Debaran aneh kembali menyapa dadanya. Kali ini rasanya jauh lebih hangat dan menenangkan jiwa.
"Maafkan aku," bisik Harjono pelan.
Kata maaf itu adalah keajaiban yang keluar dari bibir seorang tuan pabrik yang angkuh. Harjono mundur selangkah, memberikan ruang bernapas bagi istrinya. Ia menundukkan pandangan, mencoba menata egonya yang baru saja dijinakkan dengan sangat elegan.
Layar sistem berwarna hijau neon berkedip lembut di sudut mata Sumarni.
[Penaklukan Batin Berhasil. Indikator Rasa Hormat Target meningkat drastis. Poin tambahan: 300 Poin.]
Sumarni membiarkan notifikasi itu lenyap ke udara. Fokusnya tertuju pada sosok pria rapuh di hadapannya. Harjono membalikkan badan, berjalan gontai menuju kursi rotan di sudut kamar.
Pria itu duduk bersandar, memejamkan mata dengan napas yang berangsur teratur. Ia memutuskan menghabiskan malam di kursi keras itu untuk menjaga istrinya tanpa berani menyentuhnya lagi. Tindakan itu adalah bentuk penghormatan diam-diam yang berhasil menyentuh kelembutan batin Sumarni.
Sumarni melangkah perlahan menuju kasur kapuknya. Ia menarik selimut batik tipis sebatas dada. Matanya terus menatap siluet suaminya dalam keremangan. Senyum tipis mengembang di bibirnya sebelum ia terlelap dalam rasa aman.
Keesokan paginya, kokok ayam jago bersahutan memecah embun pagi. Harjono keluar dari paviliun dengan kemeja kusut. Raut wajahnya anehnya terlihat sangat damai dan tenang.
Ia berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang untuk memastikan istrinya masih tertidur nyenyak. Tatapan matanya penuh dengan pendar kelembutan yang memabukkan.
Sikap lembut Harjono yang tidak biasa itu diawasi ketat dari balik semak taman. Ningsih, pelayan setia Sulastri, menahan napas melihat pemandangan mustahil tersebut.
Selama ini, Tuan Harjono selalu keluar dari paviliun dengan wajah penuh amarah. Pagi ini, pria kaku itu terlihat seperti pemuda yang kehilangan akal sehatnya karena cinta.
Pelayan tua itu segera berlari kecil menuju rumah utama dengan jantung berdebar kencang. Perubahan drastis ini tidak mungkin terjadi secara wajar dalam satu malam. Pasti ada sesuatu yang tidak kasat mata yang sengaja ditanam di paviliun tua itu.
Senyum licik tergambar di bibir pelayan itu saat membayangkan kehancuran istri kedua tuannya. Hawa dingin permusuhan baru segera ditiupkan ke seluruh sudut rumah besar ini.
Layar sistem di benak Sumarni yang sedang tertidur lelap mendadak berkedip merah terang menyilaukan. Suara alarm bernada tinggi berdering keras di dalam kepalanya, memperingatkan sebuah bahaya besar.
[Peringatan Dini: Reputasi Anda sedang diserang dengan fitnah mematikan. Bersiaplah menghadapi badai besar dalam dua belas jam ke depan.]