Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Sisi Lain Sang Miliarder
Suasana di sudut perpustakaan kota terasa makin sunyi, menyisakan ketegangan halus yang akrab di antara mereka. Jarak semeter di atas meja kayu oak itu terasa begitu dekat. Aisya bisa mencium samar wangi maskulin khas kayu cedar dari tubuh Cassian—aroma yang sama dengan mantel wol yang dikembalikannya tiga bulan lalu.
Aisya menurunkan pandangannya, enggan menatap sepasang mata elang Cassian yang terlalu intens. Jemarinya meremas pelan pulpen di tangannya.
"Alhamdulillah... kabar saya dan keluarga saya jauh lebih baik, Tuan Noir," bisik Aisya lirih dari balik niqabnya, memastikan suaranya tidak mengalun terlalu keras di ruang literatur yang hening ini. "Allah selalu punya cara untuk mencukupkan hamba-Nya. Saya sudah mendapatkan pekerjaan tetap di pusat komunitas, dan... kafe paman saya juga sudah bisa beroperasi kembali."
Cassian menumpangkan satu sikunya di atas meja, menopang dagunya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Pusat komunitas? Jadi itu alasanmu menolak masuk ke mobilku hari itu? Hanya untuk menjadi staf administrasi di sebuah lembaga sosial lokal?"
"Itu pekerjaan yang terhormat, Tuan Noir," potong Aisya dengan binar mata yang mendadak menajam, bersikeras mempertahankan harga dirinya. "Dan yang paling penting, saya bisa membantu paman saya tanpa harus merepotkan siapa pun. Termasuk Anda."
Cassian terdiam sejenak. Ada dengusan tipis yang lolos dari sela bibirnya, namun bukan dengusan ejekan. Pria itu justru merasa geli sekaligus kagum. Keangkuhan dan kemandirian Aisya di tengah keterpurukan benar-benar di luar prediksi pemikirannya tentang wanita pada umumnya. Gadis mungil ini begitu rapuh secara fisik di matanya, namun memiliki benteng pertahanan mental yang luar biasa kokoh.
Cassian lalu melirik buku sejarah Mediterranean tebal yang terbuka di hadapan Aisya, lalu beralih ke buku catatan kecilnya.
"Kau tahu, Aisya... di dunia bisnis yang kujalani, tidak ada yang namanya kebetulan yang datang bertubi-tubi," ujar Cassian dengan nada suara yang rendah dan penuh teka-teki. "Kafe pamanmu yang mendadak mendapatkan hak sewanya kembali dengan harga murah, lalu yayasan tempatmu bekerja yang tiba-tiba memiliki dana besar untuk menggajimu secara profesional... apa kau benar-benar berpikir semua itu murni karena keberuntungan?"
Jantung Aisya mendadak berdesir hebat. Pulpen di tangannya terlepas, bergulir pelan di atas meja sebelum akhirnya ditahan oleh ujung jari Cassian yang besar dan kokoh.
Aisya mendongak seketika. Matanya membelalak menatap Cassian yang kini sedang menatapnya balik dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Otak cerdas Aisya langsung menghubungkan semua benang merah yang terjadi dalam satu minggu terakhir.
"Tuan Noir... jangan katakan kalau Anda..." kalimat Aisya menggantung, tercekat di tenggorokan oleh rasa tidak percaya yang membuncah.
Cassian Tidak langsung menjawab. Ia hanya memajukan tubuh tegapnya beberapa senti, membuat jarak di antara mereka kian terkikis. Ditahannya pulpen Aisya di bawah ujung telunjuknya yang kokoh, seolah sedang mengunci pergerakan gadis itu.
"Aku tidak mengatakan apa-apa, Aisya," bisik Cassian rendah, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penegasan kuasa. "Aku hanya menyukai efisiensi. Dan melihatmu duduk meratapi nasib di aspal jalanan Toronto tempo hari adalah hal yang sangat tidak efisien."
Aisya menarik napas dalam-dalam di balik kain niqabnya. Tebakannya benar. Semua kemudahan, pemulihan sewa kafe Paman Hamdan, hingga dana hibah mendadak di Islamic Centre tempatnya bekerja—semuanya adalah ulah pria miliarder di hadapannya ini.
Ada rasa haru yang mendadak menyeruak di dada Aisya karena menyadari Cassian diam-diam melindunginya dari balik layar. Namun di sisi lain, harga diri Aisya kembali terusik.
"Kenapa Anda melakukan sejauh ini, Tuan Noir?" tanya Aisya, binar matanya menatap Cassian lurus-lurus, menuntut jawaban yang jujur. "Saya sudah katakan, utang tanggung jawab saya atas dokumen Anda sudah lunas. Anda tidak memiliki kewajiban apa pun untuk mencampuri urusan keluarga saya, apalagi sampai mendanai tempat saya bekerja."
Cassian menarik kembali tangannya, menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu perpustakaan dengan gestur yang teramat santai. "Anggap saja itu kompensasi karena aku membiarkan Julian Vance mengendus keberadaanmu hingga menyulitkan keluargamu. Sekarang, tikus kecil itu sudah kubereskan. Perusahaannya sudah berada di bawah kendaliku."
Aisya tertegun. Mulutnya bungkam. Pengaruh seorang Cassian Noir memang terlalu menakutkan untuk diukur oleh akal sehatnya. Pria ini bisa menghancurkan karier seseorang atau membangkitkan sebuah bisnis hanya dalam hitungan hari.
Cassian kemudian melirik buku sejarah tebal di hadapan Aisya yang halamannya baru terbuka setengah. "Kulihat kau masih mencoba mencari referensi kuno dari buku-buku umum yang sudah usang ini. Bukankah status mahasiswamu sudah berakhir?"
Aisya menunduk sedikit, merapikan letak bukunya. "Status mahasiswa saya mungkin sudah selesai, Tuan. Tapi mencari ilmu tidak memiliki batasan status. Saya masih ingin melanjutkan riset sejarah saya secara mandiri."
Mendengar itu, Cassian menumpangkan satu lengannya di atas meja, senyum miring yang tipis kembali terukir di wajah tegasnya.
"Kalau begitu, kau membuang-buang waktu di perpustakaan kota ini, Aisya," ujar Cassian dengan nada menantang. "Di kediaman pribadiku, aku memiliki perpustakaan dua lantai dengan koleksi manuskrip asli abad pertengahan dan catatan sejarah Mediterranean yang tidak akan pernah kau temukan di belahan Kanada mana pun. Buku-buku yang bahkan tidak boleh disentuh oleh sembarang profesor universitas."
Cassian mengambil selembar kartu nama hitam elegan dari saku kemejanya, lalu menggesernya di atas meja hingga berhenti tepat di depan buku catatan Aisya.
"Aku menawarkanmu akses khusus ke sana. Kau bisa datang ke mansionku setiap akhir pekan untuk melanjutkan riset menyebalkanmu itu tanpa ada yang mengganggu," lanjut Cassian mutlak, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Aisya dengan intens. "Dan jangan khawatir, Kevin akan selalu ada di sana untuk memastikan batasan-batasan konyol yang kau agungkan itu tetap aman."
Aisya memandangi kartu nama hitam berpahat nama Cassian Noir dengan tinta emas tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Tawaran itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi seorang pencinta literatur sejarah seperti dirinya. Namun, melangkah masuk ke dalam wilayah pribadi seorang pria lajang seperti Cassian Noir tentu adalah hal yang sangat besar dan berisiko bagi hidupnya yang penuh batasan.