NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Pertama sang Mata -mata

Ketukan di pintu besi berornamen modern itu terdengar tepat waktu, seolah-olah sang tamu telah menghitung setiap detik langkah kakinya dengan stopwatch digital. Gibran yang baru saja selesai meneguk segelas kopi hitam instan untuk menenangkan sarafnya, langsung berdiri tegak.

Dia melirik ke arah lorong kamar. Nayla belum juga keluar.

"Nayla! Cepat sedikit!" bisik Gibran dengan nada mendesak yang tertahan di depan pintu kamar utama.

"Iya, iya! Sebentar! Gaun pilihan Mama lu ini resletingnya ada di samping dan seret banget!" terdengar teriakan frustrasi Nayla dari dalam kamar, disusul bunyi grasak-grusuk yang mencurigakan.

Sebelum Gibran sempat membalas, Renata sudah lebih dulu melenggang anggun dari arah dapur dan langsung membuka pintu apartemen.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan setelan jas hitam yang sangat rapi tanpa cela.

Rambutnya klimis disisir ke belakang, dan sebuah kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya yang lancip. Di tangan kanannya, dia mendekap sebuah tas kerja kulit berwarna cokelat tua.

Dia adalah Gunawan, asisten pribadi sekaligus "tangan kanan" Baskoro Mahardika yang terkenal dingin, jeli, dan tidak memiliki selera humor.

"Selamat malam, Ibu Renata. Den Gibran," sapa Gunawan dengan suara datar yang monoton, membungkuk hormat tepat tiga puluh derajat tidak kurang, tidak lebih.

"Malam, Pak Gunawan. Waduh,pak Baskoro ini benar-benar tidak bisa melihat anaknya santai sedikit ya. Malam-malam begini masih saja mengirim dokumen," ujar Renata sambil terkekeh pelan, meskipun nadanya sedikit menyindir suaminya. "Ayo masuk, Pak Gunawan. Silakan duduk di ruang tengah."

"Terima kasih, Ibu. Saya hanya menjalankan amanat dari Bapak Baskoro untuk menyerahkan berkas akuisisi sisa saham anak perusahaan di Singapura, sekaligus ..." Gunawan menggantung kalimatnya, matanya yang tajam di balik lensa kacamata langsung menyapu seisi ruangan, mencari keberadaan sosok yang menjadi alasan utama kedatangannya malam ini. "... sekaligus bersilaturahmi dengan menantu baru keluarga Mahardika."

Gibran menelan ludah, mencoba tersenyum seprofesional mungkin. "Silakan duduk, Pak Gunawan. Berkasnya bisa saya periksa sekarang."

Tepat saat Gunawan mendudukkan diri di sofa kulit mewah, pintu kamar utama akhirnya terbuka. Suasana di ruang tengah mendadak hening seketika.

Nayla melangkah keluar dengan ragu-ragu.

Dia mengenakan salah satu gaun kasual berkerah sabrina berwarna biru dongker yang dibelikan Renata tadi siang. Potongan gaun itu pas melekat di tubuhnya yang ramping, jatuh dengan anggun hingga sedikit di bawah lutut. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir kuda asal-asalan kini dibiarkan tergerai lurus, membingkai wajahnya yang hanya dipoles bedak tipis dan lipstik berwarna merah muda alami.

Gibran sempat terpaku selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak insiden penggerebekan malam itu, dia menyadari bahwa cewek galak di depannya ini ternyata memiliki pesona kecantikan yang sangat berkelas jika didandani dengan benar.

"Maaf membuat menunggu," ucap Nayla, suaranya sedikit bergetar karena gugup.

Dia berjalan menghampiri sofa, mencoba mengontrol langkah kakinya agar tidak tersandung karena belum terbiasa dengan sandal rumah berhak mini yang dipaksakan oleh Renata.

Gunawan langsung berdiri dari duduknya, memberikan bungkukan hormat yang sama kepada Nayla. "Selamat malam, Ibu Nayla. Saya Gunawan, asisten pribadi Bapak Baskoro."

"Malam, Pak Gunawan. Panggil Nayla saja," jawab Nayla, mencoba tersenyum seramah mungkin demi menjaga reputasi fiktifnya sebagai istri yang bahagia.

Renata yang melihat menantunya tampil cantik langsung menepuk kedua tangannya gembira. "Aduh, lihat kan, Pak Gunawan? Menantuku cantik sekali, bukan? Gibran memang pintar kalau cari istri. Tidak usah yang neko-neko, yang alami begini justru bikin adem rumah tangga."

Gunawan tidak langsung menjawab. Matanya dengan jeli memperhatikan setiap detail kecil.

Dia melihat tas ransel kanvas Nayla yang masih tergeletak agak mengenaskan di dekat sudut meja TV, lalu beralih menatap deretan kantong belanjaan mewah di dekat koridor, dan akhirnya tatapannya terkunci pada cara duduk Gibran dan Nayla.

Menyadari tatapan menyelidik dari sang "mata-mata", Gibran langsung bertindak.

Dia menggeser duduknya mendekati Nayla, lalu tanpa ragu meraih tangan kiri Nayla dan menggenggamnya erat di atas paha.

Nayla tersentak kecil mendapat serangan mendadak itu. Jari-jari Gibran terasa hangat, namun cengkeramannya yang kuat memberikan kode keras: ("Jangan dilepas kalau lu masih sayang sama pekerjaan lu!")

Nayla terpaksa membalas genggaman itu, meskipun dalam hatinya dia sedang membayangkan sedang meremas leher Gibran.

"Begitu rupanya. Alasan yang sangat logis bagi seorang pemimpin," ucap Gunawan akhirnya, meskipun nada suaranya tetap menyimpan sedikit keraguan.

Dia mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani oleh Gibran dan memasukkannya ke dalam tas kerja. "Saya akan menyampaikan penjelasan ini secara detail kepada Bapak Baskoro. Saya harap pernikahan ini membawa kebaikan bagi stabilitas perusahaan."

Gunawan berdiri dari duduknya, menandakan bahwa kunjungan inspeksinya malam ini telah selesai. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam Ibu Renata, Den Gibran, Ibu Nayla."

"Malam, Pak Gunawan. Hati-hati di jalan ya," sahut Renata ramah.

Gibran dan Nayla mengantar Gunawan hingga ke depan lift pribadi.

Tepat sebelum pintu lift tertutup, Gunawan berbalik dan menatap mereka berdua sekali lagi dengan senyuman tipis yang misterius. "Oh ya, Den Gibran. Bapak Baskoro juga berpesan ... besok malam akan ada makan malam merayakan ulang tahun relasi bisnis kita, keluarga Wijaya. Bapak meminta Den Gibran dan Ibu Nayla untuk hadir bersama sebagai pasangan suami istri resmi. Pakaian untuk Ibu Nayla akan dikirimkan besok siang oleh desainer pribadi keluarga."

Deg.

Pintu lift tertutup rapat, membawa Gunawan turun dan meninggalkan sebuah bom waktu baru yang baru saja diaktifkan di dalam pikiran Gibran dan Nayla.

Begitu sosok sang mata-mata benar-benar hilang, Nayla langsung melepaskan genggaman tangan Gibran dengan sentakan kasar. Dia mundur dua langkah, menatap Gibran dengan mata melotot panik.

"Makan malam keluarga Wijaya?! Bukannya itu keluarga cewek yang mau dijodohkan sama lu?!" seru Nayla setengah berteriak, tidak peduli lagi jika Renata yang berada di ruang tengah mendengar suaranya.

Gibran memegangi jidatnya yang mendadak terasa pening luar biasa. "Iya ... Thalia Wijaya. Anak tunggal pemilik Wijaya Corporindo. Bokap gue sengaja melakukan ini untuk menguji kita di depan umum. Kalau kita mengacau besok malam, sandiwara kita selesai sebelum sempat berjalan satu minggu."

"Jadi kita besok harus berperan,seperti pasangan suami istri pada umumnya ." ucap Nayla dengan mata yang sedikit membola

"Iya,Bahkan bisa lebih,kita harus terlihat lebih mesra,dan terlihat seperti pengantin baru yang saling mencinta ."

Nayla menjatuhkan bahunya lemas, menyadari bahwa kehidupan dewasanya yang membosankan kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi sebuah medan perang sosialita yang penuh dengan jebakan mematikan.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!