NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Pecahnya Sangkar Kristal

​Suasana di dalam mansion Jacob siang itu terasa seperti sedang berada di dalam sebuah bom waktu yang baru saja meledak. Suara deru mesin mobil Devan yang mengerem mendadak di halaman depan terdengar seperti genderang perang. Tak lama kemudian, pintu besar mansion terbuka dengan dentuman keras.

​Devan masuk dengan langkah gontai, pakaiannya yang kemarin kini terlihat kusut, wajahnya yang tampan tampak kuyu namun tetap menunjukkan ekspresi keras kepala. Di belakangnya, Vanya berjalan dengan langkah gemetar. Ia baru saja turun dari mobil Bara, namun segera dipaksa masuk bersama Devan oleh pengawal atas perintah Davit.

​Di ruang tengah, Davit Jacob berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Di sampingnya, Olivia duduk dengan wajah yang memerah karena menahan malu, sementara Carlo, Rose, dan Bella berdiri mematung di sudut ruangan. Atmosfer di sana begitu berat, oksigen seolah hilang ditelan oleh kemarahan sang kepala keluarga.

​"Dari mana saja kau, Devan?" suara Davit terdengar rendah, namun getarannya membuat kaca-kaca di ruangan itu seolah ikut bergetar.

​"Aku punya urusan," jawab Devan pendek, mencoba melewati ayahnya menuju tangga.

​"Urusan?!" Davit berteriak, suaranya menggelegar. "Urusanmu adalah berdiri di samping istrimu semalam! Urusanmu adalah menjaga kehormatan keluarga ini, bukan merangkak di apartemen wanita murahan itu seperti anjing yang kelaparan!"

​Devan berhenti, ia berbalik dan menatap ayahnya dengan api di matanya. "Aku sudah menuruti kemauanmu untuk menikah! Aku sudah memberikan status 'Istri Jacob' pada wanita ini! Apa lagi yang Papa mau?"

​"Aku mau kau tidak menjadi sampah yang mempermalukan aku di depan seluruh kolega bisnisku!"

Rumah sakit

​Bau antiseptik yang tajam perlahan menusuk indra penciuman Vanya. Matanya yang terasa berat perlahan terbuka, disambut oleh cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk bagian belakang kepalanya secara bersamaan.

​Vanya mengedipkan mata berkali-kali, mencoba menjernihkan pandangannya. Hal pertama yang ia cari adalah sosok suaminya. Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia masih menyimpan harapan tipis—mungkin, setelah ia mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya, Devan akan ada di sana. Menungguinya dengan rasa bersalah atau setidaknya sedikit rasa terima kasih.

​Namun, kursi di samping ranjangnya kosong.

​"Nona? Nona Vanya sudah sadar?"

​Suara itu milik Sesilia. Sekretarisnya itu langsung berdiri dari kursinya, wajahnya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Ia segera menekan tombol panggilan untuk perawat.

​Vanya mencoba menggerakkan bibirnya yang kering. "Devan... di mana?"

​Sisilia terdiam sejenak. Ia menunduk, tidak berani menatap mata nonanya. "Tuan Devan tadi sempat ke sini, Nona. Tapi..."

​"Tapi apa?"

​"Beliau hanya datang sebentar untuk memastikan Nona tidak meninggal. Setelah dokter bilang keadaan Nona stabil, Tuan Devan pergi lagi. Katanya ada urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan," Sesilia menjelaskan dengan suara lirih.

​Vanya membuang muka ke arah jendela. Urusan mendesak. Ia tahu betul apa artinya itu. Devan hanya merasa kasihan—kasihan seperti melihat seekor hewan terluka di pinggir jalan, lalu setelah memastikan hewan itu masih bernapas, ia melanjutkan perjalanannya tanpa beban. Perasaan "ya sudahlah" dari Devan terasa jauh lebih menyakitkan daripada hantaman vas bunga itu sendiri.

​"Sudah kubilang, jangan terlalu berharap pada pria yang hatinya sudah mati," suara berat itu muncul dari arah sudut ruangan.

​Vanya menoleh dan mendapati Bara sedang berdiri bersandar di dinding dekat pintu. Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai tadi siang—kemeja yang kini memiliki noda darah kering milik Vanya di bagian lengannya.

​"Bara... kau masih di sini?" bisik Vanya.

​Bara berjalan mendekat, menatap Vanya dengan tatapan yang datar namun tidak beranjak. "Seseorang harus tetap di sini untuk memastikan tagihan rumah sakitnya dibayar dan sekretarismu tidak pingsan karena ketakutan."

​Bara menarik kursi yang tadi dikosongkan Devan dan duduk di sana. Ia memperhatikan perban yang melingkar di kepala Vanya. "Kau bodoh, Vanya Benjamin. Melindungi pria yang bahkan tidak sudi melihatmu saat kau sekarat. Kau hampir mati demi pria yang sekarang mungkin sedang tertawa di apartemen wanita lain."

​Vanya memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata lolos di sudut matanya. "Aku tidak melakukannya untuknya. Aku melakukannya agar tidak ada darah yang tertumpah lebih banyak di rumah itu."

​"Kebohongan yang sangat indah," sahut Bara dingin. "Tapi di mataku, kau hanya sedang mencoba membeli cinta dengan nyawamu. Dan kabar buruknya, harga Devan tidak semurah itu."

​Suasana ruangan menjadi hening. Sisilia keluar sebentar untuk berbicara dengan dokter, meninggalkan Vanya dan Bara dalam kesunyian yang mencekam.

​"Keluargamu akan datang besok pagi," ucap Bara kemudian. "Ayahmu sedang sibuk menekan pamanku agar memberikan kompensasi saham atas kejadian ini. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menanyakan kabarmu. Mereka hanya menanyakan 'berapa jahitan' yang kau terima agar mereka bisa menghitung berapa keuntungan yang bisa mereka tuntut."

​Vanya tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. "Dunia ini memang sangat indah, bukan?"

​Bara terdiam, matanya menatap lekat ke arah Vanya. Ia melihat kerapuhan di balik wajah cantik itu, namun ia juga melihat ketegaran yang mulai mengeras.

​"Mulai sekarang, belajarlah untuk egois, Vanya," ucap Bara pelan, hampir seperti bisikan. "Karena jika kau tidak menjaga dirimu sendiri, tidak ada orang lain di keluarga Jacob—termasuk suamimu—yang akan melakukannya untukmu."

​Vanya menatap langit-langit kamar rumah sakit. Di malam yang dingin itu, ia akhirnya menyadari sepenuhnya: ia benar-benar sendirian di tengah kemegahan keluarga Jacob. Dan satu-satunya orang yang bersedia menemaninya di saat tersulit justru adalah pria yang dianggap sebagai "orang asing" di keluarganya sendiri.

​Harapan tentang pernikahan yang normal telah mati malam itu, terkubur bersama pecahnya vas bunga di lantai mansion. Yang tersisa kini hanyalah Vanya yang baru—istri pajangan yang mulai menyadari bahwa ia punya duri untuk melindungi dirinya sendiri.

​Davit yang sudah kehilangan kendali atas emosinya melihat ke arah meja samping. Di sana terdapat sebuah vas bunga kristal yang berat, hadiah dari kolega luar negeri yang melambangkan kekuasaan. Tanpa berpikir panjang, Davit menyambar vas itu. Amarahnya telah membutakan logikanya. Ia mengangkat vas itu tinggi-tinggi, bermaksud melampiaskan frustrasinya pada putra bungsunya.

​"Papa, jangan!" teriak Bella histeris.

​Devan hanya berdiri mematung, menantang ayahnya dengan tatapan berontak, seolah ia memang ingin dihancurkan sekalian. Namun, tepat saat Davit mengayunkan vas itu dengan tenaga penuh ke arah kepala Devan, sebuah bayangan putih melesat di depan mereka.

​BUKK!

​Suara benturan benda tumpul itu terdengar begitu mengerikan di ruangan yang sunyi.

​Vas itu pecah berkeping-keping di lantai, tapi bukan Devan yang jatuh. Vanya berdiri di depan Devan dengan posisi menghalangi. Waktu seolah berhenti berputar. Davit terpaku, tangannya masih menggantung di udara dengan sisa tenaga yang bergetar. Devan membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan.

​Selama beberapa detik, Vanya hanya berdiri diam. Ia menatap Davit dengan pandangan yang perlahan mengabur. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengaduh. Namun, perlahan-lahan, dari sela-sela rambut hitamnya yang tertata rapi, cairan merah kental mulai mengalir. Darah segar itu merembes cepat, membasahi keningnya, dan menetes ke lantai marmer putih yang dingin.

​"Vanya..." gumam Devan pelan, suaranya hilang ditelan keterkejutan.

​Vanya mulai kehilangan keseimbangan. Lututnya melemas. Saat tubuhnya hampir menyentuh lantai, sebuah tangan yang kuat menangkapnya. Bukan Devan, melainkan Bara.

​Bara, yang sejak tadi berdiri di bayang-bayang pintu masuk, langsung bergerak seperti kilat. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat mengerikan—penuh dengan amarah yang dingin.

​"Apa yang kalian lakukan?!" suara Bara tidak keras, tapi terdengar sangat mengancam.

​Bara tidak menunggu jawaban dari Davit yang masih syok atau Devan yang membeku. Tanpa sepatah kata pun, ia menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Vanya, lalu mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongan bridal style.

​"Bara, tunggu!" teriak Devan yang baru sadar dari ke terpakuannya.

​Bara berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Devan dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin melubangi dada sepupunya itu. "Jangan mendekat, Devan. Kau sudah cukup menghancurkannya hari ini."

​Bara langsung membawa Vanya lari menuju mobil Sedan hitam nya yang masih menyala di depan. Ia meletakkan Vanya di kursi penumpang dengan sangat hati-hati, lalu ia sendiri melompat ke kursi kemudi. Mobil itu melesat pergi dengan decitan ban yang memekakkan telinga, meninggalkan mansion Jacob dalam kehampaan yang mencekam.

​Di dalam rumah, Davit Jacob jatuh terduduk di sofanya. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak pernah bermaksud melukai Vanya; ia hanya ingin menghukum putranya. Namun sekarang, ia baru saja mencelakai menantu yang baru ia jemput dari keluarga Benjamin—sebuah keluarga yang bisa menghancurkan bisnisnya jika mereka tahu putri mereka berdarah di rumah ini.

​Olivia menangis sesenggukan di sampingnya, bukan karena kasihan pada Vanya, melainkan karena takut akan skandal baru yang lebih besar.

​Sementara itu, Devan berdiri mematung menatap bercak darah di lantai. Tangannya yang sempat ingin meraih Vanya tadi masih menggantung di udara. Pikirannya kacau. Ia ingat bagaimana Vanya berdiri di depannya tanpa ragu, melindunginya dari kemarahan ayahnya sendiri.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!