NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Mobil

Sepanjang perjalanan yang membelah keheningan malam Jakarta, kabin mobil mewah itu terasa lebih mencekam daripada ruang rapat Mahardika Group paling tegang sekalipun. Sunyi. Menyesakkan. Hanya terdengar deru mesin yang halus dan suara napas yang tidak teratur.

Zea duduk meringkuk di kursi penumpang, tubuhnya menempel ke pintu sejauh mungkin dari jangkauan Erlangga. Ia seolah ingin menembus pintu itu agar bisa melompat keluar. Tangannya yang masih mengenakan seragam pelayan gemetar hebat, saling meremas di atas pangkuan. Matanya merah, menatap kosong ke arah jendela dengan napas yang memburu pendek-pendek.

Sementara itu, Erlangga tetap menatap lurus ke jalanan di depan. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut. Kedua tangannya menggenggam setir begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Hening itu akhirnya pecah ketika Zea memberanikan diri untuk bicara. Suaranya kecil, nyaris tercekik oleh isak tangis yang tertahan.

“Kenapa…?” tanya Zea lirih.

Erlangga tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada aspal hitam di depan.

Zea menoleh, menatap Erlangga dengan mata yang banjir air mata. “Kenapa Anda membawa saya lagi…? Kenapa Anda tidak bisa membiarkan saya tenang walau hanya satu hari?”

Erlangga tetap membisu, seolah-olah ia adalah patung es yang tidak bisa bicara.

“Kenapa Anda selalu memaksa saya? Kenapa Anda selalu merasa berhak mengatur hidup saya seolah-olah saya ini barang milik Anda?!” suara Zea mulai pecah, berubah menjadi isakan yang pedih. “Kurang apa yang Anda lakukan malam itu?! Apakah belum cukup Anda menghancurkan sisa-sisa harga diri saya?!”

Erlangga menegang. Setiap kata yang keluar dari mulut Zea terasa seperti sembilu yang menyayat egonya.

“Sekarang mau apa lagi?! Mau menghina saya lagi?! Mau menunjukkan pada tunangan cantik Anda itu betapa rendahnya seorang pelayan seperti saya?!” Tangis Zea kini pecah sepenuhnya.

Namun, Erlangga tetap diam. Karena jujur, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sendiri tidak tahu jawabannya. Kenapa ia mengejarnya di tengah makan malam penting? Kenapa ia membawanya secara paksa? Kenapa ia merasa sangat tersiksa melihat Zea melayani wanita lain dengan kepala tertunduk? Ia tidak tahu, dan ketidaktahuan itu justru yang paling membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

“Dasar bajingan!” teriak Zea tiba-tiba sambil memukul dashboard mobil dengan tangannya yang kecil. “Psikopat! Orang gila! Brengsek!”

Suara tangisnya makin histeris, memenuhi ruang sempit itu. “Kenapa hidup saya harus sial dengan bertemu orang jahat seperti Anda?! Kenapa Anda tidak pergi saja dari hidup saya?!”

Dan entah karena emosinya yang sudah di ambang batas, atau karena kepalanya yang terlalu penuh dengan rasa bersalah yang tidak ia pahami, akhirnya Erlangga membentak.

“DIAM!”

Suara Erlangga menggelegar, mengguncang kabin mobil. Seketika, Zea membeku. Ia tersentak hingga punggungnya menabrak sandaran kursi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, lebih parah dari sebelumnya. Air matanya jatuh makin deras, membasahi pipinya yang pucat. Namun kali ini, tidak ada lagi teriakan. Tidak ada makian. Tidak ada perlawanan.

Zea hanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya. Ia menangis dalam diam yang sangat memilukan. Ia ketakutan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Erlangga merasa bahwa bentakannya barusan adalah sebuah kesalahan besar. Ia merasa seperti monster yang baru saja memangsa mangsa yang sudah tidak berdaya. Namun, ia tidak mengatakan apa pun untuk memperbaiki suasana.

Tak lama kemudian, mobil memasuki basement apartemen mewah miliknya. Ban mobil berdecit pelan saat berhenti tepat di slot parkir pribadi bertuliskan namanya.

“Turun,” ucap Erlangga datar, mencoba mengembalikan otoritasnya.

Zea langsung menggeleng panik, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. “Enggak… saya nggak mau.”

“Turun, Zea.”

“Enggak! Saya nggak mau naik ke sana lagi! Saya lebih baik mati daripada masuk ke tempat itu lagi!” Zea histeris, menempel ke kursi seolah-olah kursi itu adalah satu-satunya pelindungnya.

Erlangga menghela napas panjang, mencoba menahan amarahnya yang mulai menyulut kembali. “Jangan paksa saya untuk menggunakan kekerasan lagi. Turun.”

Zea justru semakin meringkuk, menangis sambil terus menggelengkan kepalanya. Akhirnya, Erlangga kehilangan sisa kesabarannya. Ia keluar dari mobil, berjalan memutar, dan membuka pintu penumpang dengan kasar. Ia menarik tangan Zea keluar.

“LEPAS! JANGAN SENTUH!” Zea memberontak hebat. Ia memukul dada Erlangga, menendang kakinya, dan menahan badannya agar tidak terseret.

Setelah beberapa detik perjuangan yang melelahkan dan menguras tenaga, Erlangga mencapai titik didihnya. Dengan satu gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia menyergap pinggang Zea dan mengangkat tubuh gadis itu ke pundaknya seperti sedang mengangkat karung beras.

“AAAAA! TURUNIN SAYA! LEPASKAN!” teriak Zea sambil memukul-mukul punggung Erlangga.

“Kalau kamu terus berteriak tanpa alasan seperti ini,” suara Erlangga terdengar rendah, dingin, dan sangat mengancam tepat di telinga Zea. “aku akan ikat tangan dan mulut kamu begitu sampai di atas dan aku akan mengulang apa yang terjadi waktu itu. Jangan buat aku melakukan hal yang lebih gila lagi.”

Seketika Zea membeku. Ancaman itu terdengar sangat nyata di telinganya. Ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, meskipun tubuhnya masih gemetar hebat karena ketakutan yang luar biasa. Ia tidak berani bergerak lagi.

Beberapa penghuni apartemen yang baru turun dari mobil menatap mereka dengan wajah bingung dan terkejut. Beberapa petugas keamanan saling pandang, ragu apakah harus bertindak. Namun, begitu mereka melihat wajah dingin dan tatapan mematikan Erlangga Mahardika, apalagi mereka kenal siapa itu Erlangga Mahardika, tak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat apalagi bertanya.

Sementara itu, wajah Zea sudah merah padam karena rasa malu yang amat sangat. Ia adalah seorang mahasiswi berprestasi, seorang anak yang berusaha menjaga martabat ibunya, dan sekarang ia diperlakukan seperti ini di depan umum.

“Turunin saya… tolong…” bisiknya sangat lirih, hampir tidak terdengar.

Erlangga tidak menjawab. Ia terus berjalan dengan langkah mantap menuju lift privat. Masuk ke dalam, dan menekan tombol lantai 38. Lift meluncur naik dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ada suara napas Zea yang tersengal.

Begitu pintu lift terbuka, Erlangga berjalan menuju pintu unit apartmentnya, ketika sudah sampai ia menempelkan jarinya, masuk, lalu menendang pintu hingga tertutup, dan menurunkan Zea tepat di tengah ruang tamu yang luas. Baru saja kaki Zea menyentuh lantai, gadis itu langsung mundur jauh hingga menabrak sofa besar di sana.

Ia menatap Erlangga dengan pandangan yang penuh dengan rasa takut dan kebencian yang mendalam. Seolah-olah ruangan mewah dengan pemandangan kota dari ketinggian itu bukanlah surga, melainkan neraka paling gelap baginya. Dan entah kenapa, tatapan penuh kebencian itu membuat dada Erlangga terasa sesak, seolah ada beban ribuan ton yang tiba-tiba menimpa jantungnya.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!