NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 - Bukan Lagi Sendirian

Sore hari perlahan turun di Hutan Bambu Ungu, cahaya matahari berubah menjadi lebih hangat dan lembut, menyelinap di antara batang-batang bambu yang bergoyang pelan tertiup angin. Suasana hutan menjadi lebih tenang, seolah ikut beristirahat setelah seharian dipenuhi latihan.

Long Chen dan Ling Er berjalan kembali menuju rumah, langkah mereka terasa lebih berat dari biasanya. Kelelahan jelas terlihat dari cara mereka bergerak, napas yang sedikit lebih dalam, dan tubuh yang tidak lagi seringan saat pagi tadi.

Sesampainya di rumah, mereka masuk ke dalam dengan langkah yang masih terasa berat, lalu di dalam mereka melihat Shi Hao yang sedang berjalan menuju dapur.

“Kalian habis latihan, ya?” tanya Shi Hao sambil menoleh, suaranya santai namun penuh perhatian.

Long Chen mengangguk. “Iya, Senior,” jawabnya sopan.

Shi Hao tersenyum tipis lalu bertanya lagi, “Bagaimana latihan pertamamu, apakah terasa sulit?”

Long Chen menarik napas sejenak sebelum menjawab dengan jujur, “Latihannya memang cukup keras, tapi aku menikmatinya. Aku senang bisa dilatih oleh Senior Mo Fan dan Guru Meng Wu.”

Mendengar itu, Shi Hao tersenyum lebih lebar, jelas merasa lega. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya ringan.

Ling Er langsung menoleh ke arah Shi Hao dengan ekspresi penuh harap. “Senior Shi Hao, bagaimana kondisi Senior Mei Ling hari ini, apakah sudah membaik?” tanyanya cepat.

Shi Hao menjawab dengan tenang, “Aku sudah memeriksanya hari ini. Sepertinya… lebih baik dari kemarin,” ucapnya jujur.

Mendengar itu, Long Chen dan Ling Er langsung merasa lega.

Ling Er tersenyum cerah, wajahnya kembali penuh semangat seperti biasanya. “Aku mau menjenguknya!” serunya tanpa ragu.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari menuju kamar Mei Ling, langkahnya ringan dan penuh antusias.

Long Chen menoleh ke arah Shi Hao dengan sikap sopan, masih membawa semangat setelah latihan tadi. “Ada yang bisa kubantu, Senior?” tanyanya.

Shi Hao tersenyum hangat, sikapnya santai namun ramah seperti biasa. “Aku mau ke dapur untuk memasak makanan untuk Mei Ling,” jawabnya, lalu sedikit mengangkat alis. “Sekalian… kau mau belajar memasak , bagaimana junior?”

Mata Long Chen langsung berbinar, rasa lelahnya seolah sedikit menghilang. “Aku sangat mau, Senior!” jawabnya dengan antusias.

Shi Hao terkekeh pelan melihat reaksinya. “Baiklah, ayo kita ke dapur,” katanya sambil berbalik.

“Ayo,” sahut Long Chen cepat, lalu segera mengikuti di belakangnya.

Di dapur yang hangat, Shi Hao mulai mengajarkan dasar-dasar memasak dengan sabar, dari menyalakan api, memotong bahan dengan ukuran yang tepat, hingga mengatur besar kecilnya api agar masakan tidak gosong.

“Perhatikan warna makanan,” kata Shi Hao sambil mengaduk perlahan. “Kalau sudah matang, warnanya akan berubah seperti ini, dan aromanya juga akan berbeda.”

Long Chen berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan penuh fokus. Setiap gerakan ia amati, lalu ia coba menirunya dengan hati-hati, seolah ini sama pentingnya dengan latihan pedang.

Pisau di tangannya bergerak sedikit kaku di awal, namun perlahan menjadi lebih stabil. Ia mulai memahami ritme, kapan harus pelan, kapan harus cepat, dan bagaimana mengendalikan api agar tidak terlalu besar.

Beberapa saat kemudian, masakan itu akhirnya selesai.

Uap hangat mengepul dari piring, membawa aroma sederhana namun menggugah selera.

Long Chen tersenyum, rasa puas terlihat jelas di wajahnya setelah berhasil menyelesaikan masakan pertamanya. “Terima kasih sudah mengajariku, Senior. Ini sangat membantuku,” ucapnya tulus.

Shi Hao mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Tenang saja,” jawabnya ringan, lalu menunjuk ke arah hidangan yang baru selesai dimasak. “Sekarang, antarkan makanan yang kau masak itu ke Mei Ling.”

Long Chen sedikit ragu, langkahnya tertahan sejenak di depan dapur. “Kalau… dia tidak suka makanan ini bagaimana?” tanyanya pelan, ada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Shi Hao tertawa kecil, nada tawanya ringan dan menenangkan. “Dia pasti senang, kok. Apalagi itu hasil buatanmu,” jawabnya santai. Ia lalu menambahkan dengan penuh keyakinan, “Aku yakin dia akan menyukainya. Kau harus percaya diri.”

Kata-kata itu sederhana, namun cukup untuk menenangkan hati Long Chen.

Ia menarik napas dalam.

Perlahan menghembuskannya.

Lalu mulai berjalan menuju kamar Mei Ling, langkahnya mantap meski masih ada sedikit rasa gugup.

Di kamar Mei Ling, Long Chen mengetuk pintu dengan pelan sebelum perlahan membukanya dan masuk. Suasana di dalam terasa lebih hangat dibanding sebelumnya, tidak lagi setenang dan setegang tadi siang.

Ling Er duduk di samping ranjang, sementara Mei Ling tampak sedikit lebih segar meski wajahnya masih pucat. Mereka sedang berbincang ringan ketika Long Chen masuk.

“Maaf mengganggu…” ucap Long Chen dengan sopan.

Mei Ling tersenyum lemah namun tulus. “Tidak sama sekali kok, junior Long Chen,” jawabnya lembut.

Ia lalu melanjutkan, “Oh iya, aku dengar dari Ling Er… kau sangat semangat saat latihan pertama hari ini.”

Ling Er langsung tersenyum bangga, seolah itu juga pencapaiannya.

Long Chen menggaruk kepalanya dengan sedikit malu. “Hehe… terima kasih…” jawabnya, suaranya ringan namun jujur.

Long Chen mengangkat mangkuk itu dengan hati-hati, seolah takut isinya tumpah. “Oh iya, Senior… aku membawakan makanan. Aku yang memasaknya sendiri,” ucapnya sedikit gugup, lalu menambahkan dengan tulus, “Aku harap… kau menyukainya.”

Mei Ling terlihat terkejut sesaat, matanya sedikit melebar sebelum perlahan berubah menjadi hangat. Senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat. “Terima kasih… kau baik sekali, junior Long Chen,” katanya lembut.

Ling Er di sampingnya ikut tersenyum, jelas senang melihat suasana itu.

Long Chen melangkah mendekat dan menyerahkan mangkuk tersebut, tangannya masih sedikit kaku, namun tatapannya penuh harap.

Mei Ling mulai makan perlahan, gerakannya masih lemah namun lebih stabil dari sebelumnya. Ia mengambil beberapa suapan, lalu berhenti sejenak.

Matanya sedikit berbinar.

“Makanan ini sangat enak… terima kasih, junior, sudah membuatkannya untukku,” ucapnya lembut, ada kehangatan yang jelas terasa dalam suaranya. “Aku sangat menyukainya.”

Mendengar itu, Long Chen langsung merasa lega.

Beban kecil di hatinya seolah hilang begitu saja.

Namun Long Chen melihat sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak. Tangan Mei Ling tampak kesulitan mengangkat sendok, gerakannya lemah dan tidak stabil, seolah setiap usaha kecil pun terasa berat baginya.

Tanpa berpikir panjang, Long Chen segera mengambil sendok itu dengan hati-hati. “Biar aku bantu, Senior,” ucapnya pelan.

Mei Ling sedikit menggeleng, mencoba tersenyum. “Tidak usah repot-repot, junior. Aku masih bisa makan sendiri…” katanya lirih.

Namun Long Chen tetap bertahan, suaranya tenang namun tulus. “Tidak apa-apa. Aku bersedia membantu, jadi Senior tidak perlu merasa tidak enak,” jawabnya.

Akhirnya Mei Ling tidak menolak lagi.

Ia membuka mulut perlahan, menerima suapan demi suapan yang diberikan dengan hati-hati oleh Long Chen.

Ling Er yang duduk di samping hanya tersenyum, matanya berbinar melihat pemandangan itu.

Di balik pintu yang sedikit terbuka, tiga sosok berdiri dalam diam, mengamati tanpa ingin mengganggu suasana di dalam. Mo Fan, Shi Hao, dan Meng Wu memperhatikan setiap gerakan yang terjadi di kamar itu, dari cara Long Chen menyuapi dengan hati-hati hingga ekspresi Mei Ling yang perlahan menjadi lebih tenang.

Senyum tipis muncul di wajah mereka.

Bukan senyum karena hal besar.

Melainkan karena sesuatu yang sederhana, namun berarti.

Meng Wu menatap ke dalam dengan pandangan hangat, lalu berkata pelan, “Anak itu…”

Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata yang tepat.

“Aku benar-benar beruntung dia berada di sini bersama kita.”

Di dalam kamar yang tenang itu, kehangatan perlahan tumbuh tanpa perlu kata-kata berlebihan. Suasana yang awalnya dipenuhi kekhawatiran kini berubah menjadi lebih lembut, lebih hidup, seolah luka yang ada tidak lagi terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Long Chen tetap berada di samping ranjang, setiap gerakannya sederhana namun penuh perhatian, sementara Ling Er menemani dengan senyum kecil yang tulus. Mei Ling yang tadinya lemah kini terlihat sedikit lebih tenang, bukan karena penyakitnya hilang, tetapi karena ia tidak lagi merasa sendirian.

Tanpa disadari, sesuatu mulai berubah di dalam hati Long Chen.

Bukan hanya tentang kekuatan.

Bukan hanya tentang balas dendam.

Melainkan tentang tempat di mana ia bisa berhenti sejenak, menarik napas, dan merasa… tidak sendirian.

Sebuah tempat—

yang perlahan bisa ia sebut rumah.

End Chapter 18

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!