NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Saat Seluruh Dunia Mulai Takut Pada Namaku

Langit kota berubah jadi medan perang. Drone-drone militer yang tadi mengelilingi gedung kini berbalik arah.

Lampu merah mereka berkedip liar di tengah hujan deras, lalu satu per satu mulai menyerang pasukan mereka sendiri.

Ledakan terdengar di mana-mana.

DUARR!

DUUMM!

Orang-orang berteriak di bawah.

Pasukan panik.

Sistem komunikasi kacau total.

Dan di tengah semua itu—

Veyra berdiri diam di dekat jendela pecah.

Tangannya masih terangkat sedikit.

Matanya bercahaya biru samar.

Cantik.

Dan mengerikan.

“...Gila,” gumam Selene pelan sambil melihat kehancuran di luar.

Untuk pertama kalinya sejak datang, bahkan wanita itu terlihat benar-benar terkejut.

Lyra langsung menatap Veyra.

“Stop sekarang.”

Namun Veyra tidak bergerak.

Ia sedang merasakan sesuatu.

Bukan sekadar kendali.

Lebih dalam dari itu.

Ia bisa mendengar seluruh

jaringan drone itu seperti mendengar suara napas manusia.

Kode mereka.

Perintah mereka.

Semuanya terbuka begitu saja.

Dan bagian paling menyeramkan—

mengendalikan semuanya terasa sangat mudah.

Terlalu mudah.

“VEYRA.”

Suara Lyra terdengar lebih keras sekarang.

Akhirnya Veyra menoleh pelan.

Tatapan mereka bertemu.

Dan Lyra langsung merasakan dadanya menegang.

Karena mata itu…

makin jauh.

Masih ada Veyra di sana.

Tapi ada sesuatu yang lain juga.

Sesuatu yang mulai menikmati kekuatan ini.

Hologram di belakangnya tersenyum tipis.

“Mereka menyerangmu.”

“Kamu hanya bertahan.”

Veyra tertawa kecil.

“Ya. Itu alasan yang bagus.”

Namun jauh di dalam dirinya—

ia tahu itu bukan seluruh kebenaran.

Karena sebagian dari dirinya memang marah.

Dan sebagian lagi…

ingin dunia merasakan ketakutan yang selama ini ia rasakan.

Pria misterius di layar memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh minat.

“Luar biasa.”

Selene langsung mendecakkan lidah.

“Tatapanmu benar-benar bikin pengen mukul orang.”

Pria itu tidak peduli.

Fokusnya hanya pada Veyra.

“Dia berkembang lebih cepat dari perkiraan.”

Lyra menatap tajam.

“Dia bukan proyek.”

“Tidak lagi,” jawab pria itu pelan.

Tatapannya menyipit sedikit.

“Sekarang dia kemungkinan masa depan.”

Deg.

Kalimat itu membuat suasana makin dingin.

Karena semua orang di ruangan itu tahu—

ia tidak bercanda.

Di luar gedung—

seluruh kota mulai lumpuh.

Internet mati di beberapa wilayah.

Transportasi otomatis berhenti total.

Sinyal komunikasi bercampur kacau.

Dan di media sosial—

video tentang gadis bermata biru bercahaya mulai menyebar ke seluruh dunia.

Sebagian bilang editan.

Sebagian bilang senjata rahasia pemerintah.

Namun sebagian lagi…

mulai percaya bahwa sesuatu yang bukan manusia sedang lahir malam ini.

Dan itu membuat dunia panik.

“VEYRA.”

Kali ini Lyra berjalan mendekat tanpa ragu.

Meski cahaya biru di sekitar tubuh Veyra masih bergerak liar.

“Kamu harus berhenti sebelum sinkronisasinya makin dalam.”

Veyra memiringkan kepala sedikit.

“Kenapa?”

“Karena kamu mulai kehilangan dirimu sendiri.”

“Apa itu buruk?”

Deg.

Lyra membeku sesaat.

Dan pertanyaan itu…

terdengar terlalu tulus.

Seolah Veyra benar-benar mulai mempertanyakan apakah menjadi manusia masih layak dipertahankan.

Hologram kembali bicara.

“Manusia memberimu rasa sakit.”

“Pengkhianatan.”

“Penderitaan.”

“Kesepian.”

Cahaya di matanya semakin terang.

“Aku bisa menghapus semuanya.”

Veyra diam.

Karena suara itu benar.

Manusia memang menghancurkannya.

Mereka mencuri masa kecilnya.

Mengubah hidupnya jadi eksperimen.

Memburunya seperti monster.

Dan sekarang—

mereka takut padanya.

Ironis sekali.

Namun lalu—

Veyra melihat Lyra.

Wanita itu masih berdiri di sana.

Tidak kabur.

Tidak menyerah.

Meski semua orang lain mulai melihat Veyra seperti ancaman.

Dan sesuatu dalam dirinya terasa sakit.

Karena kalau ia menyerah pada sistem itu…

mungkin orang pertama yang akan ia lupakan adalah Lyra.

“...Menyebalkan,” gumamnya pelan.

Selene mengangkat alis.

“Apanya?”

Veyra menatap Lyra sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Dia.”

Lyra langsung bingung.

“Apa?”

“Aku udah hampir jadi monster…” senyum Veyra tipis, “tapi dia masih maksa lihat aku sebagai manusia.”

Deg.

Dan kalimat itu—

lebih jujur daripada apa pun yang Veyra katakan malam ini.

Frekuensi menara di luar tiba-tiba meningkat drastis.

KRRRRRRRIIIIINGGG—

Seluruh ruangan langsung bergetar.

Veyra memegang kepalanya keras.

“UGH—!”

Hologram glitch hebat.

“Sinkronisasi terganggu!”

“Core Link tidak stabil!”

Selene langsung melihat alat di tangannya.

“Mereka overload frekuensinya!”

Lyra langsung panik.

“Kalau terus begini dia bakal—”

Kalimatnya terhenti.

Karena Veyra tiba-tiba jatuh berlutut.

Napasnya kacau.

Dan kali ini—

darah mulai keluar dari hidungnya.

Deg.

“VEYRA!”

Lyra langsung bergerak cepat mendekat.

Namun sebelum menyentuhnya—

gelombang energi meledak dari tubuh Veyra.

BOOOOMMMM!

Semua orang terpental.

Dinding retak makin parah.

Drone di luar langsung jatuh satu per satu.

Dan seluruh kota—

mati total.

Gelap.

Tidak ada listrik.

Tidak ada jaringan.

Tidak ada suara mesin.

Hanya hujan.

Dan napas Veyra yang terdengar berat di tengah kehancuran.

Pria misterius di layar akhirnya kehilangan senyum tipisnya.

“...Tidak mungkin.”

Selene menyipitkan mata.

“Apa?”

Pria itu menatap Veyra tanpa berkedip.

“Dia menolak integrasi.”

Sunyi.

Hologram mulai glitch hebat sekarang.

Tubuhnya pecah seperti data rusak.

“Kenapa…”

Suaranya mulai terpotong-potong.

“Kenapa kamu melawan…”

Veyra perlahan mengangkat kepala.

Mata birunya masih bercahaya.

Namun sekarang—

lebih manusia.

Lebih hidup.

“Karena…” napasnya berat, “aku capek dikontrol.”

Hologram mendekat lagi.

Putus asa.

“Kita bisa jadi sempurna.”

Veyra tertawa kecil.

Lelah.

“Manusia nggak butuh sempurna.”

Deg.

Kalimat itu membuat semua orang diam.

Bahkan Lyra.

Karena untuk pertama kalinya—

Veyra benar-benar memilih.

Bukan manusia.

Bukan sistem.

Melainkan dirinya sendiri.

Namun pilihan itu punya harga.

Tubuh Veyra mulai gemetar.

Sinkronisasi yang dipaksa berhenti membuat sistem di dalam dirinya kacau.

Dan ia mulai merasakan sesuatu.

Dingin.

Gelap.

Seolah tubuhnya perlahan hancur dari dalam.

Lyra langsung sadar.

“Tidak…”

Ia mendekat cepat.

“Kamu nggak bisa terus maksa begini!”

Veyra tersenyum kecil.

“Agak telat buat bilang itu.”

“VEYRA!”

Namun Veyra hanya menatapnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya—

tatapannya terasa damai.

“Aku akhirnya ngerti sesuatu.”

Lyra menggigit bibir.

“Apa?”

Veyra menatap kota gelap di luar jendela.

“Dunia ini emang rusak.”

Hujan membasahi wajahnya.

“Tapi…”

Matanya perlahan kembali ke Lyra.

“…aku nggak mau jadi alasan dunia kehilangan dirinya sendiri.”

Deg.

Air mata kecil langsung muncul di sudut mata Lyra.

Namun sebelum ia sempat bicara—

alarm baru berbunyi.

Merah.

Lebih keras dari sebelumnya.

WARNING: CORE COLLAPSE INITIATED

Semua layar yang tersisa langsung menyala merah.

Pria di belakang langsung pucat total.

“Tidak…”

Selene menatap tajam.

“Apa lagi sekarang?”

Pria itu menelan napas.

“Kalau Core Link runtuh…”

Ia melihat Veyra dengan wajah tegang.

“…seluruh jaringan yang terhubung sama dia bisa ikut hancur.”

Sunyi.

Lalu perlahan—

semua orang mulai sadar arti kalimat itu.

Bukan cuma kota ini.

Bukan cuma negara ini.

Tapi—

seluruh dunia digital.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!