NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Retakan Itu Berawal.

Flashback, dua puluh tiga tahun yang lalu…

Di balik pagar tinggi Mega mansion keluarga Anderlecht, tersembunyi sebuah rahasia kelam yang tidak pernah diketahui dunia luar. Orang-orang hanya melihat kemewahan: taman seluas lapangan sepak bola, barisan supercar, pesta-pesta gemerlapan, dan keluarga yang terlihat sempurna di mata publik.

Namun di dalamnya… kehancuran sudah lama berakar.

Rumah tangga Heron William Anderlecht pengusaha minyak dan properti yang disegani di seluruh Eropa pelan-pelan runtuh seperti istana kaca. Dan pusat retakan itu adalah wanita yang dulu ia cintai setengah mati Wilia Elbern, istrinya sendiri.

Perselingkuhan Wilia terungkap bukan karena sebuah skandal paparazzi, melainkan karena ia sendiri yang membuka pintu masa lalunya. Ia kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya, Brian McKnight. Cinta lama yang menurutnya tidak pernah padam… meski telah ia kubur dengan perjodohan keluarga.

Dan ketika Heron mengetahuinya… dunianya runtuh.

Tapi yang paling hancur bukanlah kedua orang tua itu.

Yang paling tersayat adalah anak-anak mereka terutama Liora, si sulung, yang sejak kecil sudah menjadi saksi pertengkaran demi pertengkaran. Liora tumbuh dengan harapan kosong dari seorang ibu yang tidak pernah menginginkannya sejak ia terlahir.

Hari itu, untuk pertama kalinya, semua kepalsuan meledak.

“Dasar anak yang tidak berguna.”

Kata-kata itu keluar dari bibir Wilia seperti serpihan es yang menusuk dada. Liora berdiri diam, kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku jarinya memutih.

“Ibu pikir aku meminta untuk lahir sebagai anak Ibu?” suaranya bergetar, tapi tatapannya tajam. “Aku tidak pernah meminta dilahirkan. Kami ada… karena keputusan kalian berdua.”

Air matanya jatuh, tapi tubuhnya tetap tegak, menantang.

“Apa aku, Ayah, dan adik-adikku masih kurang bagi Ibu?”

Ia menatap wajah wanita itu wanita yang seharusnya menjadi pelindung, bukan penghancur.

“Kenapa Ibu harus berselingkuh? Kurang apa Ayah? Apa Ibu tidak tahu luka apa yang harus kami tanggung karena keputusan Ibu ini?”

Namun Wilia hanya berdiri, diam seperti patung marmer.

Liora mengumpulkan keberanian.

“Ayah sudah memberikan semuanya pada Ibu. Kehidupan mewah, status, kenyamanan. Tapi… kenapa Ibu tetap memilih orang lain? Apa Ibu tidak pernah mencintai Ayah?”

Keheningan turun seperti kabut gelap.

Kemudian Wilia tersenyum tipis senyum yang tidak pernah dilihat Liora sebelumnya.

“Aku tidak pernah mencintai ayahmu.”

Kata-kata itu memotong udara seperti belati.

“Pernikahan kami hanya kontrak keluarga. Dia mencintaiku… tapi aku tidak pernah mencintainya. Bahkan kalian…”

Tatapan Wilia turun, menghunus seperti racun.

“Aku membenci kalian.”

Sesuatu dalam diri Liora runtuh.

“Dan aku tidak tahan berada dalam mansion ini,” lanjut Wilia ketus. “Semua kemewahan ini… bukan kebebasan. Ini penjara. Bodyguard di mana-mana, kamera di setiap sudut. Aku seperti burung yang dipotong sayapnya.”

“Semua itu Ayah lakukan untuk melindungi Ibu…” Liora mencoba bertahan, walaupun suaranya begitu lemah.

“Cukup!” bentak Wilia.

Liora menunduk, menggigit bibir.

“Kalau begitu… apa salahku?” tanyanya lirih. “Apa salahku sebagai anak Ibu… sampai Ibu membenci kami?”

Wilia menjawab tanpa keraguan sedikit pun.

“Kesalahanku yang terbesar adalah melahirkanmu. Dan saudara-saudaramu.”

Plak!

Tanpa sadar, Liora menampar ibunya. Bukan karena benci melainkan karena hatinya pecah begitu keras hingga tubuhnya bereaksi sendiri.

“Mengapa Ibu menyalahkan kami atas dosa yang Ibu sendiri pilih?” bisiknya luka.

Wilia membalas tatapannya dengan bara kemarahan.

“Kalian hanyalah beban! Anak pembawa sial!”

Liora tertawa kecil, pahit, pedih.

“Dan Ibu hanyalah wanita yang tidak pernah puas meski sudah diberi segalanya. Ibu masih tergoda oleh pria lain.”

Plak!

Tamparan Wilia membuat kepala Liora terpelanting.

Dan tepat pada saat itulah, pintu terbuka.

“Wilia! Apa yang kau lakukan?!”

Heron berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat marah. Napasnya memburu saat melihat putrinya memegang pipinya yang memerah.

“Kenapa kau menampar anakmu sendiri?”

Wilia terkekeh dingin.

“Anakmu, maksudmu? Mereka mungkin anakmu. Tapi bagiku? Mereka semua hanya membawa sial.”

“Cukup!” Heron membentak, suara besarnya menggema memecah ketegangan.

Ia melangkah maju, matanya merah penuh murka.

“Aku lebih bangga memiliki mereka daripada memiliki istri sepertimu. Kau tidak tahu diri. Dan kau tidak layak menjadi ibu.”

Keheningan panjang menggantung.

Dengan angkuh, Wilia mengambil tasnya, menatap mereka satu per satu… lalu pergi.

Tanpa melihat ke belakang.

Hari itu, perceraian bukan sekadar surat itu adalah akhir dari sebuah bab kelam.

Malam itu, mansion berubah menjadi lautan air mata.

“Kakak…” suara Victor, Albert, dan Sean pecah dalam isak. Mereka memeluk Liora seperti anak burung yang kehilangan induknya.

Liora tersenyum meski hatinya compang-camping.

“Kakak di sini… Kakak tidak akan pergi.”

Heron mendekat, lututnya seakan lemas. Matanya basah, bahunya bergetar.

“Maafkan Ayah, Liora… kalau saja Ayah ”

“Tidak, Ayah.” Liora memegang tangannya. “Ini bukan salah Ayah. Ibu pergi karena hatinya memang tidak pernah ada di sini.”

Ia mengusap air mata adik-adiknya, lalu berkata lirih namun tegas.

“Ayah… aku berjanji.”

Heron menatapnya.

“Aku akan menjaga adik-adikku. Aku akan menjadi pelindung mereka… kakak dan ibu sekaligus.”

Heron memeluk keempat anaknya dengan air mata mengalir.

“Terima kasih… Ayah tidak tahu jika kamu sekuat ini.”

Dan malam itu, di antara tangis dan luka, Liora bersumpah:

Tidak ada seorang pun yang akan menghancurkan keluarga mereka lagi.

Dua puluh tiga tahun kemudian…

“Aku tidak akan pernah melupakan luka itu, Bu…”

Liora berdiri di depan jendela gedung pencakar langit, menatap kota dari balik kaca.

“Semua penderitaan yang kau taburkan… suatu hari akan kembali padamu.”

Senyum tipis terukir di wajahnya senyum yang penuh dendam dingin yang ia simpan selama puluhan tahun.

“Aku bahkan tahu… kau tidak bisa punya anak lagi setelah menikah dengan Brian. Dan pria itu—bahkan dia pun mengkhianatimu karena kau tidak mampu memberinya keturunan.”

Tatapannya tajam, bagai mata elang yang siap menerkam.

“Kita lihat… berapa lama kau bisa bertahan.”

Tring.

Ponselnya berdering.

“Halo, Ayah.”

“Sayang, kamu belum pulang? Meeting kamu sudah selesai?”

“Sudah, Ayah. Aku pulang malam ini.”

“Papa tunggu, ya?”

“Ya, Ayah.”

Telepon terputus.

“John,” panggil Liora.

Asisten setianya segera mendekat.

“Malam ini kita kembali ke Italia.”

John mengangguk. “Siap, Nona Muda.”

Setelah lima tahun menjalankan bisnis global, akhirnya ia akan pulang. Pulang ke keluarga yang ia jaga mati-matian.

Namun John, yang biasanya tenang, mendadak ragu.

“Nona…” suaranya pelan. “Anda tidak berencana menikah?”

Liora tersenyum datar.

“Aku tidak pernah mencoba untuk ke arah sana.”

“Tuan Heron… pasti ingin melihat Anda membina rumah tangga.”

Liora menggeleng lembut.

“Aku tidak akan menikah.”

John terdiam. Jawaban itu melukai dirinya lebih dari yang bisa ia tunjukkan.

“Aku trauma dengan pernikahan,” lanjut Liora. “Pernikahan hanya membuka pintu untuk dikhianati. Aku sudah melihat semuanya.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Kurang apa Ayahku? Tapi tetap saja disakiti.”

John menghela napas.

“Beliau… sempurna.” katanya lirih.

“Dan aku tidak ingin mengulang kisah itu.”

Keheningan turun lagi.

Liora kemudian menatap John. “Ngomong-ngomong, kamu tidak berkencan?”

John hampir tersedak.

“Belum… menemukan jodoh, Nona.”

Liora tertawa kecil.

“Baiklah. Malam ini kamu boleh istirahat di mansion keluarga Anderlecht.”

John menunduk hormat. “Terima kasih, Nona Muda.”

Namun tidak ada yang mengetahui isi hatinya.

Andai ia bisa berkata jujur…

Ia telah jatuh cinta pada wanita itu sejak lama. Pada kecerdasannya, ketegasannya, kelembutannya yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Dan ia tahu… cintanya tidak akan pernah berbalas.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!