Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
Satu bulan telah berlalu sejak drama Edo yang menguras emosi. Kehidupan di kediaman Sebasta kembali ke ritme normal—setidaknya normal versi mereka: Arga yang makin posesif dan Aneska yang makin sibuk dengan dunianya.
Pagi itu, kantor agensi Aneska sedang dalam mode chaos. Project besar dari perusahaan otomotif global menuntut fokus penuh Aneska. Ia berangkat pagi buta, bahkan hampir tidak sempat menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Bi Sumi.
"Mas, gue berangkat dulu! Ada meeting subuh!" teriak Aneska sambil berlari memakai flat shoes-nya.
Arga yang baru keluar dari kamar dengan bathrobe hitamnya hanya bisa terpaku melihat bayangan istrinya menghilang di balik pintu. Padahal, hari ini adalah tanggal yang sudah ia tandai dengan sepuluh lingkaran merah di kalender kerjanya.
Kejutan yang "Salah Paham"
Pukul lima sore, Aneska pulang dengan wajah kuyu. Rambutnya yang biasa rapi kini sedikit berantakan karena seharian memikirkan konsep iklan. Begitu taksi yang ia tumpangi berhenti di depan gerbang rumah, ia melihat sebuah mobil sport Porsche berwarna putih mutiara dengan pita merah besar terparkir gagah di driveway.
Aneska turun dari taksi dan mengernyitkan dahi. Ia berjalan memutari mobil mewah itu.
"Gila... si Perjaka Tua beli mobil baru lagi?" gumam Aneska. "Dasar boros! Mobil di garasi udah kayak showroom, masih aja nambah. Pantesan tadi pagi dia senyum-senyum nggak jelas, pamer mainan baru ternyata."
Aneska masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Di ruang tengah, lampu mendadak redup, hanya ada cahaya lilin yang menuntunnya ke meja makan. Di sana, sudah tersedia berbagai hidangan laut mewah dan sebuah kue tart kecil dengan lilin angka '26'.
Arga berdiri di samping meja, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung, tampak sangat tampan dan... penuh harap.
"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Arga lembut, melangkah mendekat untuk memeluk pinggang Aneska.
Aneska terdiam. Ia menatap kue itu, lalu menatap Arga, lalu beralih ke kalender di dinding. "Hah? Hari ini tanggal... astaga! Gue ulang tahun?!"
Arga menghentikan langkahnya. Matanya menyipit. "Jangan bilang lo lupa hari ini tanggal berapa, Aneska."
"Hehe... Mas, sumpah, gue beneran lupa! Gue tadi sibuk banget pitching klien. Gue pikir hari ini hari Selasa biasa," Aneska nyengir tanpa dosa. "Terus... itu kue buat gue?"
Arga menghela napas berat, mencoba menahan rasa kecewa. "Bukan cuma kue, Nes. Mobil di depan itu juga buat lo. Hadiah karena lo udah lahir ke dunia ini dan jadi milik gue."
Aneska melongo. "Mobil putih itu? Buat gue?! Gue pikir lo beli buat koleksi lo sendiri! Gue baru aja mau ngomel karena lo boros!"
"Aneska..." suara Arga berubah jadi rendah dan parau. "Gue udah nyiapin ini dari sebulan lalu. Gue bahkan bela-belain pulang cepet, nyuruh Bi Sumi libur biar kita bisa berduaan, dan lo... lo bahkan nggak inget ulang tahun lo sendiri?"
Ngambek Mode: Max
Sisi hyper perhatian Arga yang merasa terabaikan langsung meledak dalam bentuk yang tidak terduga: Ngambek Manja.
Arga melepaskan pelukannya, berbalik, dan duduk di meja makan dengan wajah ditekuk. Ia tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Mas... ya maaf. Namanya juga kerjaan," bujuk Aneska. Ia mendekat dan mencoba merangkul bahu Arga dari belakang.
"Nggak usah pegang-pegang," sahut Arga pendek. "Pergi aja sana mabar atau urusin project lo itu. Gue emang nggak penting bagi lo."
Aneska memutar bola matanya. "Dih, gitu aja ngambek. Sini deh, gue tiup lilinnya sekarang ya?"
"Nggak usah. Lilinnya udah mau abis, kayak kesabaran gue."
Aneska merasa geli sekaligus gemas. Ia tahu cara menaklukkan pria ini. Ia duduk di pangkuan Arga, memaksa suaminya itu menatapnya. "Mas Arga yang paling ganteng, paling kaya, dan paling posesif... maafin gue ya? Sebagai gantinya, gue bakal pake hadiah dari lo buat keliling Jakarta besok. Terus malam ini... gue bakal turutin satu kemauan lo. Apa pun."
Mendengar kata 'apa pun', telinga Arga seolah tegak berdiri. Namun, ia masih ingin mempertahankan harga dirinya yang terluka.
"Nggak tertarik," ucap Arga bohong. "Gue mau tidur di kamar tamu malam ini. Gue mau ngerasain gimana rasanya jadi orang yang nggak dianggap."
"Oh, beneran? Ya udah, kalau gitu gue tidur duluan ya. Padahal tadi gue baru mau bilang kalau gue beli lingerie baru warna merah..." Aneska beranjak berdiri dengan wajah pura-pura sedih.
Baru tiga langkah Aneska menjauh, tangan Arga langsung menarik pinggangnya hingga ia terduduk kembali di pangkuan pria itu dengan posisi yang lebih intim.
"Oke, gue maafin. Tapi hukumannya berkali-kali lipat!" desis Arga di ceruk leher Aneska. Sifat dominannya kembali dalam sekejap. "Gue nungguin lo seharian, Nes. Lo tahu gimana rasanya kangen tapi yang dikangenin malah asyik sama klien?"
"Iya, iya, maaf..." Aneska mendesah saat bibir Arga mulai menuntut haknya. "Tapi Mas, kado mobilnya... itu beneran?"
"Iya, tapi besok baru gue kasih kuncinya. Sekarang, gue mau 'kado' gue dulu," Arga mengangkat Aneska dan membawanya menuju kamar dengan langkah lebar.
Malam yang Panjang
Sesampainya di kamar, Arga tidak memberikan celah bagi Aneska untuk bicara lagi. Ia merebahkan Aneska di kasur, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari laci nakas yang membuat mata Aneska membelalak.
"Arga! Itu box yang bergerigi lagi?!" teriak Aneska.
"Katanya apa pun, kan?" Arga menyeringai nakal. "Tadi lo udah bikin gue sedih, sekarang lo harus tanggung jawab bikin gue seneng sampe pagi. Anggap aja ini bunga dari rasa diabaikan gue tadi sore."
"GUE BARU ULANG TAHUN, GA MAU DIKIRIM KE UGD!"
"Tenang, Sayang. Gue bakal pelan-pelan... tapi lama," bisik Arga sebelum membungkam protes Aneska.
Malam itu, perayaan ulang tahun Aneska berubah menjadi sesi "balas dendam" manja Arga yang tak berujung. Aneska menyadari, sesibuk apa pun dia, melupakan tanggal penting bagi Arga adalah kesalahan fatal yang berujung pada lemasnya seluruh tubuh di keesokan harinya.