Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Kasihan
Suasana kafe mulai sedikit lebih sepi. Musik jazz pelan mengalun di antara suara mesin kopi dan dentingan sendok dari meja-meja lain. Namun meja Junie dan Marvel justru terasa semakin panas.
Junie masih menatap sahabatnya dengan ekspresi sulit dipercaya. Sementara Marvel terlihat jauh lebih santai dibanding seharusnya.
“Gila…” gumam Junie pelan sambil mengusap wajah. “Aku nggak nyangka kau bakal main beginian.”
Marvel malah tertawa kecil. “Jangan sok suci.”
“Aku bukan sok suci,” balas Junie cepat. “Tapi ini jelas salah.”
Marvel menyandarkan tubuh ke kursi. “Kadang hidup tuh nggak sesimpel hitam putih, Jun.”
Junie mendelik. “Selingkuh tuh salah. Titik!"
Marvel mendesah panjang dramatis. “Ih. Kenapa sih kalau lagi jatuh cinta orang jadi bijak semua?”
Junie tidak tertawa kali ini. Dia memang tidak mengenal Zayn secara pribadi. Namun tetap saja, mendengar sahabatnya tidur dengan istri orang membuatnya muak.
Marvel yang melihat ekspresi Junie akhirnya terkekeh kecil. “Kasihan juga sih sebenarnya si Zayn.”
Junie mengernyit. “Kenapa?”
Marvel memainkan sendok di gelas kopinya pelan. “Nasibnya emang selalu diselingkuhi pasangan.”
Junie mengangkat alis. “Maksudnya?”
Marvel meliriknya sekilas. “Kau nggak tahu?”
Junie menggeleng.
Marvel langsung bersandar lebih santai. Nada bicaranya berubah seperti orang sedang bergosip santai.
“Istri pertamanya dulu juga katanya selingkuh.”
Junie diam.
“Hamil pula,” lanjut Marvel enteng.
Junie langsung mengernyit tajam. “Hah?”
“Itu yang aku dengar.”
Junie mulai merasa pembicaraan ini tidak nyaman.
“Makanya dia cerai,” tambah Marvel. “Lumayan rame dulu sebenarnya. Tapi anehnya identitas mantan istrinya ditutup rapat sama keluarga Hartanto. Bahkan semenjak Zayn nikah sama tuh cewek."
Junie sedikit terpaku.,Mantan istri Zayn. Entah kenapa, tiba-tiba wajah Naomi muncul sekilas di kepalanya. Mengingat Naomi pernah cerita tentang masalah yang menimpanya dengan mantan suami. Namun dia langsung menepis pikiran itu mentah-mentah. Jakarta memang kecil untuk kalangan tertentu, tapi tidak sekecil itu.
Marvel masih lanjut bicara. “Pas nikah sama Anggun aja mereka heboh banget,” katanya. “Masuk majalah, berita mana-mana. Tapi mantan istrinya dulu kayak disembunyiin.”
Junie menghela napas kecil. “Mungkin memang mau jaga privasi.”
Marvel mengangguk setengah hati. “Bisa jadi.” Lalu dia tersenyum miring. “Tapi aku penasaran juga sih.”
Junie menatapnya datar. “Kau penasaran sama semua hal.”
“Ya iyalah.”
Junie benar-benar sudah kehilangan mood ngobrol santai sekarang. Dia masih terlalu terganggu dengan fakta bahwa Marvel tidur dengan istri orang.
“Vel,” panggilnya serius.
Marvel menoleh.
“Putusin hubungan itu.”
Marvel langsung mendecak kecil. “Nah mulai.”
“Aku serius.”
Marvel memutar bola mata malas. “Jun—”
“Kalau nggak,” potong Junie dingin, “aku sendiri yang bakal bongkar.”
Hening sejenak. Marvel langsung menatap Junie tidak percaya.
“Kau nggak mungkin serius.”
Junie balas menatap tanpa ekspresi. “Coba aja.”
Marvel langsung tertawa pendek saking tidak percayanya. “Anjir. Tega banget sama teman sendiri.”
“Aku justru lagi nolongin kau.”
Marvel mendesah frustrasi. “Junie…” katanya sambil mencondongkan badan. “Ini bukan urusan gampang.”
“Justru karena nggak gampang makanya berhenti sekarang!”
Marvel mengusap rambutnya kasar.,“Dengar,” katanya. “Aku tahu ini salah.”
“Syukurlah otakmu masih nyala.”
“Tapi aku juga nggak bisa langsung melepaskannya.”
Junie mendelik tajam.
Marvel tertawa hambar. “Kau pikir aku nggak pernah nyoba jaga jarak?”
Junie diam.
“Anggun itu…” Marvel berhenti sebentar lalu mendesah. “Bikin candu.”
Junie langsung memasang wajah jijik. “Najis dengarnya.”
Marvel malah tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian, senyumnya memudar sedikit.
“Dia kesepian, Jun. Katanya permainan suaminya nggak memuaskan."
Junie tidak menjawab.
“Dan bodohnya aku malah masuk ke hidup dia.”
Junie menggeleng pelan. “Kesepian bukan alasan buat selingkuh.”
Marvel mengusap tengkuknya frustrasi. “Iya aku tahu.”
“Kalau Zayn tahu?”
“Aku mati.”
“Kalau istrimu tahu?”
Marvel langsung diam. Itu cukup menjadi jawaban.
Junie menatap sahabatnya lama. Untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar terlihat kecewa.
“Sebagai teman,” katanya pelan, “aku cuma berusaha ngelakuin hal yang benar.”
Marvel menghela napas panjang.
“Dan sebagai teman,” balasnya lelah, “aku menyesal cerita ke kau.”
Junie tidak menjawab.
Marvel akhirnya mengangkat kedua tangan menyerah. “Oke,” katanya. “Kasih aku waktu sedikit.”
Junie tetap diam.
“Aku bakal selesain.”
“Kapan?”
Marvel mengusap wajah. “Secepatnya.”
Junie menyipitkan mata beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk tipis. Namun ekspresinya masih dingin.
Marvel mendesah panjang sambil bersandar lagi. “Gila…” rutuknya. “Baru pertama kali aku takut sama dokter bedah plastik.”
Junie akhirnya mendengus kecil. “Bukan takut,” ujarnya datar. “Sadar diri.”
...***...
Di sisi lain kota Jakarta, rumah besar keluarga Hartanto tampak megah dan tenang dari luar. Lampu taman menyala indah. Kolam renang memantulkan cahaya malam. Namun suasana di dalam rumah justru terasa dingin.
Anggun berdiri di balkon lantai dua sambil mengenakan robe satin tipis. Jemarinya memegang rokok yang menyala redup di tengah malam. Asap tipis keluar perlahan dari bibirnya. Tatapannya lurus ke arah kamar bayi di dalam rumah.
Dari balik pintu kaca, terlihat baby sitter sedang mondar-mandir menggendong Abyan yang menangis tanpa henti.
“Shh… iya sayang…”
Tangisan bayi itu samar terdengar sampai balkon. Anggun langsung mengerutkan kening.
“Kok nangis terus sih…” keluhnya kesal. Padahal dia bahkan tidak menggendong anak itu. Namun entah kenapa suara tangisan Abyan tetap membuat kepalanya pening.
Hari ini dia lelah sekali. Pemotretan butik molor. Meeting banyak. Belum lagi Zayn terus mengirim pesan yang membuat emosinya naik turun.
Anggun mengisap rokoknya lebih dalam. Kadang dia sendiri bingung sejak kapan hidup pernikahannya mulai terasa membosankan. Zayn memang suami yang baik di mata orang lain. Tampan, kaya, dan sukses. Tapi terlalu sibuk dan semakin membosankan untuk Anggun. Bahkan sekarang setelah punya anak, perhatian Zayn justru terasa makin sedikit. Mereka bahkan jarang bicara selain soal pekerjaan atau Abyan.
Tangisan bayi kembali terdengar.
“Ya ampun…” geram Anggun sambil memijat pelipis.
Setelah menghabiskan rokoknya, dia akhirnya masuk lagi ke dalam rumah. Kakinya melangkah santai melewati koridor besar yang sunyi.
Namun langkahnya mendadak melambat saat mendengar suara samar dari ruang kerja bawah.
Suara laki-laki. Ayah mertuanya, Roby Hartanto. Awalnya Anggun tidak terlalu peduli. Namun beberapa detik kemudian, alisnya perlahan naik. Nada suara Roby terdengar berbeda. Terlalu lembut dari biasanya.
“Iya sayang… nanti aku datang.”
Anggun langsung berhenti di dekat tangga. Matanya sedikit menyipit.
“Kan aku bilang jangan ngambek begitu…”
Anggun otomatis melirik ke arah lorong ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka.
Suara itu jelas sekali dan yang membuatnya heran. Ratna seharusnya sudah tidur sejak tadi.
“Hmm?” gumam Anggun.
Roby tertawa kecil di dalam sana. Tawa yang tidak pernah Anggun dengar saat pria itu bicara dengan Ratna.
“Yaudah nanti aku kabarin lagi.”
Nada suaranya benar-benar terdengar mesra. Sangat mesra. Anggun langsung mematung kecil.
Beberapa detik kemudian telepon ditutup. Anggun buru-buru melangkah mundur sebelum ketahuan menguping. Dadanya mendadak berdebar aneh. Pikirannya langsung penuh.
‘Jangan-jangan…’
Mata Anggun perlahan membesar. Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya naik tipis. Karena tiba-tiba dia merasa menemukan sesuatu yang menarik di rumah keluarga Hartanto yang selama ini terlihat sempurna.
'Pantas saja dia jarang ada di rumah. Ternyata punya yang lain.' Anggun menyimpulkan dalam hati.