NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Hadiah Kecil

Pagi setelah pertemuan di daycare, Elvara datang ke kantor dengan kepala penuh kekacauan. Semalaman Rheon bercerita tanpa henti tentang Om dingin yang duduk di kursi kecil, yang ternyata bisa tertawa, dan yang menurutnya punya wajah seperti bos penjahat di film tetapi hati lumayan baik. Setiap kalimat polos dari anaknya justru membuat napas Elvara terasa makin sempit.

Ia sudah menjaga jarak selama lima tahun dengan susah payah. Ia pindah kota, membangun hidup baru, memilih diam, dan menyusun rutinitas yang aman bagi dirinya serta Rheon. Namun hanya dalam hitungan hari, Zayden sudah masuk ke ruang kerja, jam pulangnya, bahkan tempat anaknya menunggu dijemput.

Ini harus dihentikan sebelum semuanya lepas kendali. Kalau dibiarkan, pria itu akan terus masuk lebih jauh tanpa meminta izin. Dan Zayden bukan tipe orang yang mundur saat merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.

Saat tiba di lantai tiga puluh satu, meja kerjanya sudah dipenuhi jadwal pagi, tiga map baru, serta daftar panggilan yang harus dikonfirmasi sebelum pukul sepuluh. Arsen berdiri di dekat mejanya sambil menatap tablet, rapi seperti biasa dan tampak terlalu tenang untuk jam sepagi ini.

"Selamat pagi, Bu Elvara."

"Pagi."

"Pak Zayden rapat di luar sampai jam sebelas."

Kabar itu seharusnya melegakan. Setidaknya ia punya beberapa jam tanpa tatapan yang selalu terasa seperti interogasi diam-diam.

Namun Arsen menambahkan kalimat berikutnya dengan nada sama datarnya.

"Ada kurir datang tadi pagi. Beliau minta paket ini dititipkan ke Anda."

Ia meletakkan sebuah kotak besar berwarna biru di atas meja. Bungkusnya sederhana, tanpa logo mencolok, tetapi kualitas kertas dan pita yang dipakai jelas mahal.

Elvara menatap benda itu seperti melihat ancaman yang dibungkus rapi.

"Apa ini?"

"Saya tidak membuka paket milik orang lain."

"Pengirimnya?"

Arsen mengangkat mata sebentar. "Saya rasa Anda bisa menebak."

Ia menggertakkan gigi pelan. "Saya tidak suka teka-teki pagi-pagi."

Pria itu hampir tersenyum. "Pak Zayden."

Tentu saja.

Beberapa staf di sekitar mulai melirik diam-diam. Mira dari finance bahkan sengaja lewat sambil membawa dokumen tipis yang jelas bisa dikirim lewat email.

"Hadiah?" tanyanya dengan nada manis yang terlalu dibuat-buat.

Elvara tak menjawab. Ia langsung menarik pita, membuka kotak, lalu membeku sesaat.

Di dalamnya tersusun rapi satu set mainan edukasi premium. Ada balok magnetik konstruksi, puzzle alfabet interaktif, kit sains mini untuk anak usia lima tahun, dan robot coding kecil dengan lampu warna-warni. Semua terlihat dipilih dengan perhatian, bukan asal beli mahal.

Di bagian paling atas terselip kartu kecil.

Untuk Rheon. Supaya dia tidak bosan menunggu ibunya bekerja.

Z.

Rahang Elvara mengeras.

Mira mencondongkan kepala sedikit. "Lucu sekali. Anak siapa?"

"Urus pekerjaanmu," jawab Elvara dingin.

Wanita itu mundur sambil tersenyum tipis. Elvara tak perlu melihat untuk tahu gosip akan menyebar ke seluruh lantai dalam sepuluh menit ke depan.

Ia menatap isi kotak itu dengan campuran kesal dan cemas. Zayden tidak sekadar membeli mainan. Ia memilih barang sesuai usia, minat, dan tingkat kemampuan Rheon.

Artinya pria itu memperhatikan.

Terlalu memperhatikan.

Ia langsung berdiri sambil menutup kembali kotak tersebut.

"Pak Zayden sudah kembali?" tanyanya pada Arsen.

"Belum."

"Saya tunggu."

Arsen mengangguk singkat. Seolah ia tahu badai akan datang dan memilih menjauh sebelum terseret.

---

Pukul sebelas lewat sepuluh, lift privat terbuka. Zayden keluar bersama dua eksekutif asing sambil membahas angka ekspansi dengan bahasa Inggris cepat dan nada tenang. Langkahnya mantap seperti biasa, seolah dunia selalu berada di ritme yang ia tentukan sendiri.

Begitu melihat Elvara berdiri dekat mejanya sambil memegang kotak biru besar, pandangannya berubah tipis. Hanya sedikit, tetapi cukup jelas bagi orang yang sudah terlalu sering diamatinya.

Ia menyelesaikan percakapan dengan tamunya, mempersilakan mereka masuk ke ruang rapat kecil, lalu berjalan ke arah Elvara.

"Kamu tampak siap perang."

Elvara mendorong kotak itu ke dadanya.

"Ambil kembali."

Zayden melirik isi kotak sekilas. "Kenapa?"

"Saya tidak meminta."

"Rheon akan suka."

"Itu bukan poinnya."

Beberapa kepala di area kerja langsung menunduk ke layar masing-masing. Namun telinga semua orang jelas sedang bekerja.

Zayden menatap sekeliling sebentar, lalu kembali padanya.

"Masuk."

Ia berbalik menuju ruang CEO tanpa menunggu jawaban. Elvara mengikuti dengan rahang kaku. Begitu pintu tertutup, ia meletakkan kotak di meja dengan bunyi cukup keras.

"Saya minta Bapak berhenti."

"Spesifik."

"Berhenti ikut campur hidup anak saya."

Zayden menyandarkan tubuh ke sisi meja, lengan terlipat santai. Sikap itu terlalu tenang untuk orang yang baru ditegur.

"Membelikan mainan disebut ikut campur?"

"Kalau dilakukan pria yang hampir tidak saya kenal, iya."

"Kita saling kenal."

"Kita pernah bertemu. Itu beda."

Tatapan pria itu menajam.

"Masih suka menghapus bagian yang tidak nyaman."

"Saya sedang menjaga batas."

"Atau menyembunyikan sesuatu?"

Elvara mengabaikan pertanyaan itu. "Rheon bukan urusan Bapak. Jangan kirim hadiah, jangan datang mendadak, jangan buat dia terbiasa dengan kehadiran Bapak."

Kalimat terakhir keluar lebih emosional dari rencana. Ia menyesal sepersekian detik kemudian.

Zayden menangkapnya.

"Terbiasa?" ulangnya pelan.

"Maksud saya..."

"Kamu takut dia menyukai saya?"

"Tidak."

"Bohong."

Ia maju satu langkah. Tidak agresif, tetapi cukup untuk membuat ruang terasa lebih sempit.

"Kenapa kamu sangat defensif hanya karena mainan?"

"Karena saya ibunya."

"Dan?"

"Dan saya yang menentukan siapa yang dekat dengannya."

Hening menggantung beberapa detik. Zayden memandangnya seperti sedang menimbang sesuatu yang sudah hampir pasti.

Lalu ia bertanya pelan, "Ayahnya tidak menentukan apa-apa?"

Dada Elvara mengencang.

"Itu bukan topik kita."

"Justru mungkin itu topik utama."

Ia mengambil robot coding dari dalam kotak dan memeriksanya singkat.

"Anak lima tahun biasanya suka hal seperti ini."

"Banyak orang tahu itu."

"Tapi saya tahu dia suka robot."

Elvara membeku.

Zayden mengangkat mata. "Saya tahu dia benci brokoli. Saya tahu dia bicara cepat saat antusias. Saya tahu dia berusaha terdengar dewasa saat membahas ibunya."

Setiap kalimat menghantam pertahanannya sedikit demi sedikit.

"Berhenti mengamati anak saya."

"Kalau saya tidak mau?"

Nada datar itu lebih berbahaya daripada bentakan.

Elvara menarik napas keras. "Kalau Bapak terus begini, saya resign."

"Bukan ancaman baru."

"Kali ini sungguh."

"Silakan."

Ia terpaku sesaat. Jawaban itu bukan yang ia harapkan.

Zayden meletakkan mainan ke meja dan berjalan mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah.

"Resign, pindah kota, ganti pekerjaan. Kamu pikir itu akan menghentikan rasa penasaran saya?"

"Apa sebenarnya yang Bapak mau?"

"Kebenaran."

Jawaban itu datang tanpa jeda.

Ruangan terasa terlalu kecil.

"Dan kalau saya tidak punya apa pun untuk diberi tahu?"

Ia menatap lurus ke matanya.

"Kamu selalu salah kalau mengira matamu bisa bohong."

Elvara memalingkan wajah lebih dulu. Ia benci bahwa pria itu masih mengenal kebiasaannya.

---

Ia keluar dari ruang CEO dengan napas tidak teratur. Kotak hadiah tertinggal di dalam. Beberapa staf langsung pura-pura sibuk saat ia lewat, mengetik terlalu cepat atau membuka file yang bahkan tak mereka lihat.

Mira datang lima menit kemudian sambil membawa map tipis.

"Semua baik-baik saja?"

"Kalau kamu penasaran, tanya langsung ke CCTV."

Wanita itu tersenyum kecut lalu mundur.

Elvara duduk dan mencoba fokus pada pekerjaan. Ia membuka email, memeriksa revisi, menyiapkan jadwal sore. Namun jemarinya masih gemetar kecil.

Ia membuka ponsel. Ada foto dari Nira. Rheon sedang duduk di lantai sambil menggambar roket besar dengan krayon biru dan merah. Lidah kecilnya menjulur karena terlalu fokus.

Air mata hampir naik karena lelah, tetapi ia menahannya.

Tak lama kemudian pintu ruang CEO terbuka. Arsen keluar sambil membawa kotak biru tadi dan meletakkannya kembali di meja Elvara.

"Pak Zayden bilang simpan."

"Saya sudah menolak."

"Saya hanya menyampaikan."

Ia pergi sebelum sempat diprotes.

Elvara menatap kotak itu seperti benda terkutuk. Akhirnya ia memanggil kurir internal dan menyuruh paket dikirim balik ke vendor mainan dengan catatan singkat: Ditolak penerima.

Setengah jam kemudian interkom menyala.

"Masuk."

Ia masuk tanpa mengetuk.

"Kenapa dikirim ke vendor?" tanya Zayden.

"Karena saya bilang tidak."

"Keras kepala."

"Saya belajar dari lingkungan."

Pria itu justru tampak tenang.

"Saya bisa beli seratus set lagi."

"Saya bisa kembalikan seratus kali."

"Sampai kapan?"

"Sampai Bapak paham."

Zayden menatap wajahnya lama sekali.

"Masalahnya, reaksi kamu terlalu besar untuk sekadar hadiah."

Elvara diam.

"Kalau saya hanya bos yang ramah pada anak pegawai, kamu cukup menolak sopan."

Ia melangkah mendekat.

"Tapi kamu marah. Panik. Protektif berlebihan."

"Saya ibunya."

"Kamu wanita yang takut saya dekat dengan seorang anak."

Tatapannya menusuk tanpa ampun.

"Kenapa?"

Tenggorokan Elvara terasa menutup. "Bapak terlalu percaya diri."

"Mungkin."

"Tapi bukan pusat dunia semua orang."

"Kalau begitu jawab satu hal."

Ia menunggu dengan tubuh kaku.

"Kenapa Rheon tidak punya nama belakang ayahnya?"

Darah di wajahnya seolah surut.

"Itu pilihan pribadi."

"Pilihanmu?"

"Bukan urusan Bapak."

"Lagi-lagi."

Ia mundur selangkah, meraih sisa kendali dirinya.

"Saya kembali kerja."

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Zayden datang lagi.

"Saya akan bertemu dia lagi."

Elvara menoleh tajam. "Jangan."

"Bukan izin yang saya minta."

Ia keluar sebelum kehilangan kontrol di depan pria itu.

---

Malam itu di apartemen, Rheon berlari menyambut saat pintu dibuka.

"Mommy!"

Elvara langsung memeluknya erat sedikit lebih lama dari biasa. Anak itu tertawa kecil karena tubuhnya terangkat sedikit dari lantai.

"Ada apa?" tanya Rheon polos.

"Capek saja."

Rheon menarik tangannya ke meja kecil di ruang tamu.

"Lihat, aku bikin menara."

Balok plastik tersusun miring dan nyaris roboh. Elvara duduk di lantai menemaninya, mencoba mengatur napas.

"Kalau Om dingin datang lagi, aku mau tunjukin ini," kata Rheon santai.

Tangannya berhenti menyusun balok.

"Kenapa sebut dia?"

"Karena dia lucu. Dia dengar cerita aku."

Elvara menatap wajah kecil itu lama. Anak-anak menyukai orang yang memberi perhatian. Sesederhana itu.

Dan Zayden, dengan segala kekakuannya, ternyata memberikannya.

Ia mengusap rambut Rheon lembut.

"Dengar ya, kalau ketemu Om itu lagi, harus selalu sama Mommy."

"Kenapa?"

"Karena... dia orang sibuk."

Rheon mengangguk walau jelas tidak paham.

Malam semakin larut. Setelah Rheon tidur, Elvara duduk sendirian di sofa kecil dengan lampu redup menyala. Kota di luar jendela bergerak tenang, kontras dengan isi kepalanya.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Zayden.

Mainan bisa ditolak. Pertanyaan saya tidak.

Ia menatap layar lama sekali sambil menahan napas.

Di sisi lain kota, Zayden berdiri di balkon penthouse dengan ponsel masih di tangan. Angin malam menerpa wajahnya, tetapi pikirannya jauh lebih tajam daripada udara.

Elvara bereaksi seperti ibu yang takut rahasianya disentuh.

Dan bagi Zayden, itu lebih berharga daripada pengakuan.

1
Lisa
Jgn keras hati Elvara..Zayden tdk akan mengambil Rheon dr kamu.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!