Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25--Menjual Hp rongsok dan menyewa tangan titisan dewa
Cahaya matahari pagi menembus celah-celah kamar Naufal, memantul pada sepuluh unit ponsel yang kini berjajar rapi di atas meja. Semuanya tampak mulus, tanpa noda, dan yang terpenting: menyala sempurna dengan performa optimal.
Dengan Kepintaran 20 poin, Naufal tidak hanya memperbaiki jalur yang putus, ia melakukan undervolting pada chipset yang sering overheat agar lebih awet dari standar pabriknya.
"Selesai," gumam Naufal. Suaranya terdengar lebih berat dan berwibawa.
Naufal memandangi deretan HP itu. Di tangannya sekarang ada 5 unit Samsara S22 dan 5 unit OMNI R-11f hasil rekondisi. Jika harga pasar barang bekasnya sekitar 3-4 jutaan, maka dia baru saja menciptakan aset senilai 40 juta dari modal 1 juta perak.
### Pukul 09.00 WIB - Pasar Gadget Underground
Hari ini dia shift siang sehingga bisa pergi dulu sebelum berangkat kerja. Naufal tidak membawa barang-barang ini ke toko tentu saja.
Itu terlalu beresiko dan bisa memancing kecurigaan manajemen. Ia memacu Ducati-nya menuju kawasan Condongcatur, ke sebuah toko kecil namun ramai yang menjadi hub para kolektor HP bekas berkualitas bernama "Second-Chance Gadget".
Naufal sebagai sales HP tentu tahu tempat ini, dulu dia pernah mencari unit second berkualitas, pelayan dari pemilik juga ramah.
Pemiliknya, seorang pria kurus bernama Goni, langsung berdiri saat melihat Naufal masuk membawa tas besar.
"Woi, Fal! Tumben mampir. Mau nyari unit apa?" tanya Goni akrab. Naufal memang sering mampir ke sini dulu saat masih mencari HP murah untuk adiknya.
"Gue nggak mau beli, Gon. Gue mau titip jual," Naufal mengeluarkan sepuluh unit HP tersebut dan menatanya di etalase kaca.
Goni yang awalnya santai, mendadak melongo. Jarang-jarang sales numpang jualan barang bekas, lalu Ia mengambil satu unit Samsara S22 dan menyalakan layarnya.
"Buset... ini mulus banget. Refurbished resmi?"
"Gue oprek sendiri. Semua part original, cuma gue optimalkan di sistem pendinginnya," jawab Naufal tenang.
Goni mencoba menjalankan aplikasi berat dan matanya membulat. "Gila! Suhunya stabil banget. Biasanya seri ini panasnya minta ampun. Fal, lo dapet ilmu dari mana?"
"Rahasia negara," Naufal tersenyum miring. "Gue kasih harga modal ke lo, lo ambil untung sewajarnya. Yang penting bisa laku.”
Goni langsung mengeluarkan kalkulator. "Oke, kalau kondisinya se-oke ini, gue berani ambil borongan. Gue bayar 35 juta buat semuanya sekarang juga. Gimana?"
Naufal mengetuk meja pelan. Itu masih kurang mah.
"38 juta, Gon. Gue kasih garansi personal satu tahun. Kalau ada yang komplain, gue yang tanggung servicenya di sini. Lo tinggal duduk manis dapet nama baik karena jual barang bagus."
Goni terdiam, menatap Naufal seolah baru pertama kali melihat pemuda itu. Aura Naufal sekarang sangat mendominasi. "Sialan... oke, 38 juta! Deal!"
[Ding!]
[Transaksi Berhasil!]
[Saldo Anda: Rp 163.000.000]
### Pukul 12.00 WIB - Toko xx
Naufal sampai di toko dengan santai. Andre yang sedang melayani pelanggan langsung melirik sinis. ia heran melihat Naufal yang berangkat siang dan seenaknya meminta ubah jadwal shif lalu bisa diterima manajer terus tidak ditegur lagi.
Cuma bermodal alasan "urusan lapangan".
"Enak banget ya jadi anak emas," sindir Andre saat Naufal meletakkan tas di meja.
"Mentang-mentang habis jualan 15 juta, borongan 50 unit … sekarang jam kerja jadi suka-suka. Jangan sembarangan tukar shift dong, kasihan Siksa kamu minta gituan, kalau gue ogah.”
“Udah-udah, gue gak masalah kok kak.” Siska yang mulutnya suka mencibir pun merasa gak nyaman kalau ada konflik terutama kondisi mereka juga sedang melayani pelanggan.
Naufal hanya menoleh sedikit, menatap Andre dengan Aura Intimidasi yang tipis. "Daripada lo kak, ada di toko tapi nggak jualan apa-apa, mending lo diem dan liat gimana profesional kerja."
Andre tersentak, entah kenapa dia merasa tenggorokannya tercekat saat melihat tatapan Naufal. Lagipula sekarang mulutnya jadi berani begini. Ia tahu bahwa dia belum jualan tiga hari berturut-turut dan mengejek, dasar junior kaparat!
Andre baru saja hendak menyalak, namun suaranya tertahan di kerongkongan. Tatapan Naufal seolah membedah seluruh rasa tidak percaya dirinya. Ia mendengus kasar, memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan tumpukan brosur yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala
Naufal tidak peduli lagi, lalu berjalan menuju area pajangan brand Veva (samaran dari Vivo)—brand saudara sekaligus rival OMNI. Di sana, Siska tampak sedang berkeringat dingin menghadapi seorang pelanggan pria bertubuh tambun yang wajahnya sudah mulai memerah.
Di atas meja kasir, aplikasi HCi (Home Credit) menunjukkan status "Pending" yang tak kunjung berubah.
Rengga yang merupakan sale kredit juga ikut berkeringat pasi. Pria berambut belah tengah itu naik pikam, pasalnya dia juga belum jualan tiga hari ini atasan dia sudah bawel minta ampun.
"Gimana sih, Mas? Saya ini skor kreditnya bagus! Masak ambil Veva V-30 ini aja muter-muter terus aplikasinya?" keluh pelanggan itu, Pak Bambang.
Siska mencoba tersenyum meski panik, membantu menjawab sebagai ganti dari rengga sales itu udah pusing soalnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya server HCi-nya sedang padat, atau mungkin ada data yang kurang sinkron sedikit. Mohon tunggu sebentar ya, Pak."
"Lama! Saya ada rapat ini! Kalau lima menit lagi nggak bisa, saya batalin aja!"
Rengga langsung panik. “s-sabar ya, mas. Sebentar ya.”
“Sebentar-sebentar … saya orang sibuk bos! Saya juga mau kerja!”
Rengga emosi dikira kami disini lagi main apa asw emang. Tapi dia cuma tersenyum kaku bersikap profesional.
Siska melirik Naufal dengan tatapan minta tolong. Andre yang melihat dari kejauhan justru tersenyum sinis.
'Mampus lo Siska, itu unit Veva paling mahal. Kalau batal, target mu bulan ini terjun bebas!' batin Andre. Dia jelas senang kalau rekan kerjanya berada di bawah,
Naufal mendekat, berdiri di samping Siska. "Boleh saya bantu cek sebentar, Mbak?"
"Eh, Fal... iya, tolong. Gue udah coba refresh berkali-kali tetep nyangkut di verifikasi wajah dan ID," bisik Siska frustrasi.
Rengga langsung tersenyum, dia teringat tangan titisan tuhan dari Naufal kemarin, dia ini raja hoki.
“Iya fal! Tolong pinjem tangan wangimu itu! Kita-kita belum jualan beberapa hari ini!” ujar rengga minta tolong pasrah.
Naufal tersenyum simpul. Mungkin bagi sales lain gak ada guna bantu saingan, namun siska itu sudah bantu banyak untuk dia, rengga juga. Jadi kali ini dia mau membalikan hutang budi.
“Santai … siska jangan panik, biat tangan titisan tuhan ini yang bantu.”
Siska yang tadi sempat ingin menangis karena takut gagal closing menatap Naufal penuh harapan. Bagi Naufal ia sedkit terkejut dan pangling baru pertama kali ini dia melihat sorot mata penuh kejujuran dan … sialnya terlihat imut bagi naufal.
“T-tolong ya fal!”
“Apapun untukmu nona cantik.”
Naufal tidak membuang waktu. Ia menerima tablet tersebut dari tangan Rengga yang gemetar. Begitu jemarinya menyentuh layar, panel sistem transparan yang hanya bisa dilihat olehnya langsung melakukan pemindaian mendalam.
[Ding!]
[Analisis Sistem Aktif!]
[Masalah Terdeteksi: Bug pada modul cache aplikasi HCi & kegagalan enkripsi foto KTP akibat resolusi kamera tablet yang tidak dikalibrasi.]
"Sini biar saya yang urus, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap Naufal dengan suara berat dan penuh percaya diri.
Sementara Andre yang memperhatikan cuma mencibir dalam hati. 'Tindakan percuma, paling cuma gak ACC.’
***************
A/N : Author bawa novel baru lagi nih, jangan lupa dibaca juga gays
Judul : Sistem Petani : Mengubah Sampah Menjadi cairan Dewa
Sinopsis:
Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi emas]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa,
dengan cairan ini dia aka menjadi petani sultan!
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN