Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Keluarga Baru di Hutan Bambu
Pintu rumah terbuka perlahan, memperlihatkan ruang dalam yang tenang dan tertata rapi. Long Chen melangkah masuk bersama Meng Wu, kakinya menyentuh lantai kayu yang halus dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Interiornya luas, bahkan jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar. Tiang-tiang kayu berdiri kokoh menopang bangunan, sementara cahaya alami masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kerasnya dunia kultivasi di luar sana.
Matanya menyapu sekeliling dengan kagum, setiap sudut ruangan terasa baru dan menenangkan baginya. “Tempat ini…” ucapnya pelan, namun kata-katanya terhenti sebelum sempat selesai.
“Guru!” seru sebuah suara ceria dari dalam rumah.
Seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun berlari menghampiri dengan langkah ringan, rambutnya terikat sederhana dan wajahnya bersinar penuh semangat. Kehadirannya langsung mengubah suasana menjadi lebih hidup.
Ia adalah Ling Er.
Tanpa ragu, gadis itu langsung mendekat ke arah Meng Wu, matanya berbinar saat melihat kedatangan mereka, seolah menyambut sesuatu yang baru dengan penuh antusias.
“Guru, selamat datang!” seru gadis kecil itu dengan wajah cerah, suaranya penuh semangat yang langsung menghidupkan suasana ruangan.
Matanya kemudian beralih ke Long Chen, penuh rasa penasaran. “Guru, dia siapa?” tanyanya polos.
Long Chen terdiam sejenak, sedikit canggung saat menjadi pusat perhatian.
Meng Wu menjawab dengan santai, nadanya ringan namun jelas, “Perkenalkan, namanya Long Chen. Mulai sekarang, dia bagian dari kita dan akan tinggal di sini bersama.”
Mata Ling Er langsung berbinar semakin terang.
“Benarkah?!” ucapnya dengan antusias, seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat ia tunggu.
Ling Er langsung mengulurkan tangannya dengan penuh semangat, senyumnya lebar dan tulus. “Senang bertemu denganmu, namaku Ling Er, murid keempat Guru Meng Wu,” ucapnya dengan nada ceria. Ia lalu menambahkan dengan bangga, “Salam kenal, junior Long Chen.”
Long Chen terlihat sedikit canggung, namun ia tetap mengulurkan tangannya dan membalas sapaan itu dengan sopan. “Iya… senior Ling Er, aku juga senang bertemu denganmu,” jawabnya pelan.
Tangan mereka berjabat sebentar sebelum perlahan dilepas.
Ling Er yang tadi begitu percaya diri tiba-tiba tampak sedikit malu saat dipanggil “senior”, pipinya memerah tipis, namun senyumnya tidak hilang.
Meng Wu tersenyum kecil melihat reaksi Ling Er, lalu berkata dengan nada santai namun penuh arti, “Nanti juga kau akan terbiasa dipanggil seperti itu.”
Ling Er hanya tersenyum tipis, masih sedikit malu namun tidak lagi menyangkal.
Meng Wu kemudian mengalihkan pembicaraan, tatapannya kembali serius. “Yang lain di mana?” tanyanya.
Ling Er langsung menjawab, “Senior Mo Fan dan Senior Shi Hao ada di dapur,” ucapnya cepat, lalu ia sempat berhenti sejenak.
Ekspresinya berubah.
Nada suaranya tidak lagi secerah sebelumnya. “Kalau Senior Mei Ling…” lanjutnya pelan.
Meng Wu langsung menatapnya dengan lebih fokus. “Bagaimana kondisinya, apakah sudah membaik?” tanyanya, kali ini dengan nada yang jelas lebih serius.
Ling Er menunduk sedikit, jemarinya saling menggenggam. “Dia bilang sudah membaik,” jawabnya lirih, lalu menggeleng pelan, “tapi menurutku… justru semakin parah.”
Ia mengangkat pandangannya sedikit, namun ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. “Dia hanya tidak ingin kita khawatir,” tambahnya pelan.
Suasana di ruangan itu berubah.
Kehangatan yang tadi terasa perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan yang halus namun nyata.
Long Chen hanya diam di tempatnya.
Ia belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi, namun ia bisa merasakan bahwa sesuatu yang tidak sederhana sedang berlangsung di tempat ini.
Meng Wu mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang meski ada keseriusan yang tersirat di matanya. “Kita jenguk dia dulu, sekalian aku akan memperkenalkan Long Chen kepadanya,” ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Ling Er yang tadi terlihat khawatir langsung mengangkat kepala, semangatnya kembali muncul. “Aku juga mau ikut!” katanya cepat, seolah tidak ingin tertinggal.
Meng Wu meliriknya sekilas, lalu mengangguk kecil sebagai tanda persetujuan.
Ia kemudian menoleh ke arah Long Chen. “Ayo junior,” ujarnya singkat.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka bertiga mulai berjalan menuju bagian dalam rumah, melewati lorong kayu yang tenang.
Di sepanjang lorong kayu yang tenang, Ling Er berjalan di samping Long Chen dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari sebelumnya, suaranya pun diturunkan seolah tidak ingin didengar oleh Meng Wu yang berjalan di depan. “Kau tahu, Senior Mei Ling adalah murid ketiga Guru Meng Wu,” ucapnya pelan, nada bicaranya kini tidak lagi ceria, melainkan dipenuhi rasa iba.
Ia melanjutkan sambil menunduk sedikit, “Sejak kecil… dia sudah sakit-sakitan.”
Langkahnya semakin melambat, seakan setiap kata yang ia ucapkan membawa beban tersendiri. “Penyakitnya itu bisa dibilang bawaan dari lahir,” tambahnya lirih.
Ling Er menarik napas pelan sebelum melanjutkan, suaranya semakin kecil. “Karena itu… dia dibuang oleh keluarganya sendiri,” ucapnya dengan hati-hati.
Ia mengangkat pandangannya sekilas ke arah depan, lalu kembali berkata, “Bahkan dia juga diusir dari desa, karena mereka takut penyakitnya akan menular.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Long Chen sedikit terkejut.
Bukan hanya karena cerita itu, tetapi karena perasaan yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya, sesuatu yang samar… namun terasa dekat dengan masa lalunya sendiri.
Ling Er melanjutkan ceritanya dengan suara pelan, seolah setiap kata yang ia ucapkan membawa kenangan yang tidak ringan. “Suatu waktu, dia ditemukan oleh orang sekte di sebuah hutan, saat itu dia sedang duduk sendirian menahan rasa sakit yang luar biasa, lalu akhirnya dia dibawa ke sini,” ucapnya sambil menatap ke depan.
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Guru Meng Wu yang menerima tanggung jawab untuk menjaga Mei Ling dan melatihnya.”
Nada suaranya sedikit berubah, kini ada rasa kagum yang jelas terdengar. “Bahkan bisa dibilang… dia sangat berbakat. Di usia sepuluh tahun saja, dia sudah bisa menggunakan teknik tingkat keempat, sementara aku sendiri baru bisa teknik tingkat pertama, meskipun ya… aku juga baru delapan tahun,” katanya dengan senyum kecil yang sedikit malu.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
“Tapi belakangan ini… penyakitnya sepertinya kambuh lagi,” lanjutnya, suaranya kembali pelan. “Dan kali ini… mungkin lebih parah.”
Long Chen menunduk sedikit, pikirannya ikut terbawa oleh cerita itu. “…Masa lalunya… cukup menyedihkan juga,” gumamnya.
Ling Er tersenyum tipis, namun ada kesedihan yang tersimpan di baliknya. “Iya…”
Ia kemudian menambahkan dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti bisikan, “Aku juga… punya masa lalu seperti itu.”
Ia sempat terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum kecil yang mencoba kembali ceria. “Tapi… lain kali saja aku ceritakan, ya,” katanya ringan, seolah tidak ingin suasana menjadi terlalu berat.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kamar yang terletak di bagian dalam rumah, posisinya sedikit terpisah dari ruangan lain, seolah sengaja dibuat lebih tenang dan jauh dari keramaian. Pintu kayu di hadapan mereka tertutup rapat, namun dari dalam terasa aura yang lemah namun tidak stabil, seperti sesuatu yang terus berusaha bertahan.
Langkah mereka otomatis melambat.
Ling Er menatap pintu itu dengan ekspresi yang berubah serius, sementara Long Chen tanpa sadar menahan napasnya, merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya.
End Chapter 15