NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Sosok "Malaikat Maut" dari Jakarta

​Begitu sampai di lobi depan, mereka melihat Hans Lesmana sedang meletakkan Tania Santoso ke dalam kursi belakang mobil pribadi Keluarga Tania dengan sangat hati-hati.

​Tatapannya seolah terpaku pada Tania, begitu fokus seakan ia ingin mengukir bayangan gadis itu hingga ke dalam tulang sumsumnya.

​Ghina menonton adegan itu dengan jantung berdebar kencang. Ia merasa ngeri sendiri; rasanya kalau melihat lebih lama lagi, matanya bisa bintitan. Ia bergegas menyelinap masuk ke mobil lewat pintu sebelah, tidak berani bernapas keras-keras sambil berusaha mengecilkan keberadaannya sekecil mungkin.

​Duduk di atas kursi yang empuk, rasa sakit di pergelangan kaki Tania mulai terasa sedikit berkurang. Ia melambaikan tangan dengan malu-malu ke arah Hans yang berdiri di luar mobil, sementara pipinya masih terasa panas.

​"Terima kasih, Pak Hans. Saya pamit pulang duluan."

​"Hm," sahut Hans rendah. Sosoknya yang tinggi tetap berdiri mematung di tempat. Tatapannya yang dalam mengikuti Bentley hitam itu hingga siluet mobilnya menghilang ditelan arus lalu lintas malam Jakarta.

​Hans mengangkat tangannya; kehangatan kulit Tania yang halus dan aroma samar rambutnya seolah masih tertinggal di ujung jarinya.

​Tania Santoso.

​Ia membisikkan nama itu dalam hati. Matanya semakin dalam, menyimpan gejolak emosi kompleks yang tak seorang pun mampu pecahkan.

​Pintu mobil tertutup dengan suara deb, seketika memutus kebisingan dunia luar dan tatapan intens pria tadi.

​Ghina sudah tidak tahan lagi. Ia langsung merangsek maju dan mencengkeram lengan Tania. Matanya membelalak lebar, memancarkan api gosip yang membara. Kata-katanya meluncur secepat senapan mesin:

​"Tania! Tania sayangku! Mengaku sekarang atau aku interogasi sampai pagi! Katakan! Apa-apaan tadi itu? Siapa sebenarnya pria dengan aura semenakutkan itu? Yohan saja sampai diam seribu bahasa di depannya, tidak berani berkutik sedikit pun! Sejak kapan kamu kenal sosok dewa seperti dia?"

​Ia mengguncang bahu Tania dengan penuh semangat, rasa penasaran di matanya hampir tumpah.

​Tania yang diguncang-guncang hanya bisa mengusap pelipisnya dengan pasrah, berusaha menenangkan sahabatnya.

​"Ghin, tenang, tolong tenang dulu."

​Tania sedikit mengernyit, mencoba mengingat kembali momen-momen yang membuat jantungnya berpacu, sambil dengan hati-hati memilih bagian mana yang bisa ia ceritakan.

​"Tadi di koridor. Aku tidak sengaja menabraknya dan pergelangan kakiku terkilir. Terus, dia... dia membawaku ke ruangan mereka."

​Ia sengaja melewatkan bagian yang terlalu intim, seperti dekapan pria itu dan rasa posesif Hans yang sempat membuatnya sesak napas.

​"Cuma menabrak? Itu saja?" Ghina menaikkan sebelah alisnya, jelas tidak percaya satu kata pun. Ia mendekat, menyelidiki setiap ekspresi di wajah Tania. "Cara dia menatapmu itu tidak sesederhana itu! Tatapannya itu, tsk tsk, seperti ingin menelanmu bulat-bulat!"

​"Tidak, tidak, aku harus cek latar belakang pria ini. Seseorang yang bisa membuat Yohan bersikap seperti cucu yang penurut pasti bukan orang sembarangan di Jakarta."

​Sambil bicara, jemari lentik Ghina dengan lincah menari di atas layar ponselnya, mencari informasi dengan cepat.

​Hati Tania entah mengapa ikut berdebar cemas. Ia pun sangat ingin tahu siapa pria itu—pria yang membawa tekanan begitu hebat namun matanya menyimpan setitik... kelembutan?

​Kehadiran pria itu bak batu yang dilemparkan ke dalam sumur tua, menimbulkan riak-riak di hatinya yang sudah tenang selama dua puluh tahun.

​Ghina bergumam pelan, "Coba kita lihat... orang yang bisa bikin Tuan Muda Yohan tunduk... Jakarta... marga Lesmana..."

​Cahaya layar ponsel terpantul di wajah Ghina. Ekspresinya yang tadinya penuh semangat perlahan membeku saat informasi mulai muncul. Matanya membelalak kaget, lalu berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Mulutnya menganga cukup lebar untuk dimasuki sebutir telur, bahkan napasnya seolah tertahan.

​"Oh... My... God!"

​Ghina menarik napas tajam. Tangannya gemetar hebat hingga ponselnya hampir merosot, namun ia berhasil menangkapnya tepat waktu. Ia mencengkeram lengan Tania yang lain dengan sangat erat, suaranya bergetar hebat seolah baru saja melihat hantu.

​"Tania! Tania! Kita... sepertinya kita tidak sengaja memancing 'Malaikat Maut'!"

​"Ada apa? Kamu berlebihan sekali, membuatku takut saja."

​Tania merasa semakin tidak tenang melihat reaksi ekstrem sahabatnya. Ia ikut condong ke arah layar ponsel Ghina.

​Di layar itu, tiga kata "Hans Lesmana" terpampang tebal, seolah memiliki bobot ribuan ton. Di bawahnya berderet gelar dan deskripsi latar belakang yang mengintimidasi.

​"Keluarga Lesmana Jakarta... Ahli Waris Tunggal... CEO Grup Lesmana saat ini..."

​Jari Ghina gemetar saat menunjuk tulisan itu. Suaranya serak menahan tangis.

​"Dia 'Pangeran Mahkota' asli Jakarta! Sosok legendaris 'Tuan Hans' yang keberadaannya misterius, yang kejam dan tak kenal ampun, yang bisa membuat seluruh Jakarta bergetar hanya dengan sekali hentakan kaki! Internet bilang dia berdarah dingin, penuh perhitungan, dan punya kekuasaan tak terbatas—pria yang berdiri di puncak piramida tertinggi Jakarta! Dan... dan..."

​Ghina dengan cepat menggulir layar ke bawah.

​"Lihat ini! Kamu bisa menemukan banyak prestasi dan legenda mengerikannya secara online, tapi sadar tidak? Tidak ada satu pun fotonya! Bahkan tidak ada foto tampak depan sama sekali! Seberapa mengerikan orang semisterius ini? Tania, kamu menabraknya dan dia tidak langsung melemparmu keluar—leluhurmu pasti sudah menabung pahala yang sangat banyak!"

​Tania terdiam menatap kata-kata dingin yang menusuk itu.

​Kata sifat seperti "Tuan Muda Berwajah Es," "Sosok terlarang yang tak berani diusik kalangan elite," dan "Mesin Pencetak Uang Berjalan" terasa seperti palu godam yang menghantam kesadarannya.

​Itu dia. Ternyata benar-benar dia.

​Hans Lesmana yang tak terjangkau, yang eksistensinya bagai dewa di Jakarta, yang hanya ditemukan dalam legenda bisnis dan rahasia kaum sosialita.

​Ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengingat mata dalam yang seolah bisa menembus segalanya, aura kuat yang tak terbantahkan, dan suhu ujung jarinya yang panas seperti api saat menyentuh kulitnya.

​Deskripsi online itu seolah cocok satu per satu, menggambarkan sosok Raja yang dingin dan tak punya hati. Namun, rasanya itu bukan sepenuhnya pria yang ia temui tadi.

​Sebab...

​Dalam benak Tania, cara pria itu menatapnya—dengan fokus yang hampir terasa seperti obsesi—dan nada suara beratnya yang seolah membelai saat berbisik "anak pintar" di telinganya, masih terekam sangat jelas.

​Rasa dingin yang ia bawa tidak terasa setajam itu bagi Tania. Setidaknya, di depannya, apa yang pria itu tunjukkan lebih merupakan kelembutan yang kikuk dan membingungkan di tengah sikap dominannya.

​Pertentangan batin ini kembali menimbulkan riak di hati Tania. Sebuah kepanikan baru yang terasa asing, namun sedikit manis, mulai menyebar perlahan di kedalaman jiwanya.

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!