NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan Juandra

Judika duduk termenung di dalam kamarnya, senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. Baru saja dia bertemu dengan orang yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Seseorang yang tanpa sadar telah menyelamatkan nyawanya bertahun-tahun lalu.

Kalau saja orang itu tidak ada. Mungkin dirinya sudah lama tiada di dunia ini. Dulu setiap hari dia harus menahan siksaan, pukulan, dan kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Hidupnya bagai neraka sampai akhirnya dia bertemu Xohan Areksa, dokter yang dulu bertugas di klinik sekolah tempat dia belajar.

Bukan hanya merawat luka-lukanya. Dokter itu juga yang memberi tempat berteduh, mengajarkannya arti kepercayaan, dan membantunya bangkit dari keterpurukan.

Dan baru Judika ketahui belakangan, Xohan Areksa adalah ayah dari Yohan Areksa, teman barunya yang kini sudah sangat akrab dan selalu ada di sampingnya.

 ***

Di kediaman Pertama, Judika sedang sibuk bersiap-siap berangkat sekolah. Tahun ini dia baru masuk kelas 1 SMA, dan sebentar lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas. Seragam putih abu-abu sudah rapi menempel di tubuhnya, rambut disisir rapi, dan tas sekolah sudah tergantung di bahu.

TOK..

TOK..

"Judika? Kau sudah bangun belum, Nak?" terdengar suara ketukan diikuti suara lembut ayahnya, Juandra Pratama.

"Iya, Ayah! Aku sudah bangun!" teriak Judika dari balik pintu, lalu mengambil barang-barang terakhirnya.

"Bagus. Ayah tunggu di meja makan ya! Segeralah turun. Nanti kau terlambat," ucap Juandra lagi dari luar.

"Baik, Ayah! Aku segera turun!"

^^^

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Judika melangkah turun menuju ruang makan. Dia melihat sosok ayahnya yang sudah duduk menunggu dengan senyum hangat.

"Pagi, Ayah!" sapa Judika sambil duduk di kursi hadapan ayahnya.

"Pagi, sayang. Ayo makan cepat. Nanti terlambat," ucap Juandra sambil menggeser piring berisi makanan ke arah putranya.

"Iya, Ayah."

 ***

Tidak jauh berbeda, di kediaman Wiguna. Chandra Wiguna juga sedang bersiap berangkat. Dia kini duduk di bangku kelas 3 SMA. Tinggal sedikit lagi dia akan lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Pagi, Bu," sapa Chandra saat masuk ke ruang makan.

"Pagi, sayang," balas Jovina Wiguna, ibunya, sambil menuangkan susu ke dalam gelas.

"Bagaimana tidurmu tadi malam? Nyenyak?" tanya Jovina lembut sambil menatap wajah putra sulungnya.

"Nyenyak, Bu," jawab Chandra sambil tersenyum tipis.

"Baguslah. Sekarang makanlah dan habiskan semuanya. Jangan ada yang tersisa ya," pinta Jovina.

"Baik, Bu."

 ***

Sekarang Judika sudah berada di dalam kelasnya. Dia duduk termenung menatap jendela. Pikirannya melayang entah kemana, sampai tiba-tiba dua tangan menepuk keras bahunya bersamaan.

"Judika!"

"Aishhh!" Judika langsung melompat kaget, menoleh dengan wajah kesal. "Kalian mau buat aku mati muda ya, kak? Tiba-tiba datang seperti hantu saja!"

Jericko dan Tamma hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah adik bungsu mereka itu.

"Siapa suruh melamun dari tadi? Baru pagi, otakmu sudah kemana-mana," kata Jimin sambil duduk di sampingnya.

"Memangnya kau mikirin apa sih, Dika?" tanya Tamma ikut duduk di sisi lain.

"Aku sedang memikirkan kakakku," jawab Judika datar.

Mendengar itu, senyum di wajah kedua temannya perlahan hilang. Jericko menatapnya ragu.

"Jadi kau sudah memaafkan kak Chandra ya, Dik?"

"Siapa bilang aku memaafkannya?" balas Judika cepat.

"Tadi kan kau bilang sedang memikirkan dia?" tanya Tamma bingung.

"Aku memang memikirkan dia. Tapi aku memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa menjauh darinya, dan tidak akan pernah bertemu lagi. Selamanya!"

Suara Judika terdengar dingin. Tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya.

Jericko dan Tamma saling bertatapan, menghela napas pelan.

"Dika, kau tidak bisa begitu. Bagaimana pun juga Chandra itu kakak kandungmu. Sekeras apapun kau ingin lari atau menjauh, darah dan ikatan keluarga itu tidak akan pernah hilang," kata Jericko mencoba menasehati.

"Aku tidak peduli!" potong Judika tegas. "Yang aku miliki dan anggap keluarga cuma Ayah. Hanya Ayah. Tidak ada orang lain. Kalau aku tidak berhasil menjauh darinya, cuma ada satu cara supaya aku benar-benar bebas."

"Apa maksudmu?" tanya Tamma mulai merasa tidak enak.

"Mati," jawab Judika singkat dan pasti.

"Judika!" bentak Jericko dan Tamma bersamaan, matanya terbelalak kaget.

"Kau gila ya?! Segitu besarnya kebencianmu sampai kau berani bicara begitu? Dia tetap kakakmu, Dika!" geram Tamma.

"Aku benar-benar membencinya. Sangat membencinya," ucap Judika, matanya menyiratkan kebencian yang sudah terpendam bertahun-tahun lamanya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan ibumu? Apakah kau juga membencinya?" tanya Jericko pelan dengan hati-hati.

"Aku sudah bilang tadi. Keluargaku cuma Ayah. Hanya Ayah. Tidak ada yang lain," jawab Judika tanpa ragu sedikit pun.

Beberapa menit kemudian bel sekolah masuk berbunyi memecah suasana. Semua siswa segera bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing, dan suasana kelas kembali menjadi hening saat guru masuk ke dalam ruangan.

***

Juandra kini berada di ruang kerjanya. Sebagai Direktur di salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Posisinya didapatkan bukan karena warisan atau koneksi, tapi karena kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab yang dia miliki.

Berkat kesuksesannya ini. Juandra mampu membeli sebuah rumah mewah dan besar bahkan dua lantai. Rumah itu dia beli dan dipersiapkan dengan satu tujuan yaitu suatu hari nanti ketika dia berhasil menemukan kembali istri dan putra sulungnya, mereka akan tinggal bersama disini. Berkumpul kembali seperti dulu, dan memulai hidup baru yang damai.

"Semua pekerjaan sudah selesai. Saatnya pulang dan aku akan menjemput Judika. Pasti dia senang sekali kalau tahu aku datang menjemputnya," gumam Juandra sambil tersenyum lebar sembari membayangkan wajah cerah putra bungsunya.

Saat keluar dari ruangannya, semua karyawan menyapa dengan hormat dan ramah.

"Selamat siang, Pak!"

"Selamat siang semuanya. Kalau pekerjaan kalian sudah selesai, silakan pulang saja. Jangan dipaksakan ya. Aku tidak mau ada karyawanku jatuh sakit karena kelelahan," ucap Juandra dengan nada lembut namun tegas.

"Baik, Pak! Terima kasih, Pak!" jawab mereka bersamaan.

Setelah itu, Juandra segera meninggalkan gedung kantornya.

***

Dalam perjalanan pulang, Juandra mampir ke sebuah minimarket. Dia tahu betul kesukaan Judika. Jadi dia membeli susu pisang, camilan kesukaan, serta beberapa makanan dan minuman lain untuk stok di rumah.

Setelah selesai membayar, Juandra masuk ke dalam mobilnya.

Saat hendak menyalakan mesin, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok wanita yang berjalan di trotoar seberang jalan. Tubuhnya membeku seketika.

"Jovina Wiguna," batin Juandra. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari rongga dada.

Tanpa berpikir panjang, Juandra langsung turun dari mobil dan berlari mengejar wanita itu.

^^^

"Jovina Wiguna!" panggil Juandra keras.

Wanita itu berhenti melangkah, perlahan membalikkan badan.

DEG..

"Juandra Pratama," gumam Jovina. Matanya melebar kaget.

Mereka saling menatap dalam diam. Di mata Juandra terpancar kerinduan yang mendalam, rasa sayang yang tidak pernah pudar selama bertahun-tahun berpisah.

Sedangkan di mata Jovina tercampur banyak perasaan yaitu kejutan, ragu, dingin, namun terselip juga rasa yang dia sendiri enggan akui.

Juandra melangkah perlahan mendekat sampai akhirnya dia berdiri tepat di hadapan wanita yang masih menjadi pemilik hatinya itu.

Tanpa memberi kesempatan Jovina untuk berkata apa-apa, dia langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan erat.

GREP..

"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, Jovina Wiguna," isak Juandra, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis yang akhirnya pecah.

Namun tidak lama kemudian Jovina. Dia mendorong tubuh suaminya menjauh. Wajahnya kembali dingin dan tegas.

"Untuk apa kau menemuiku lagi? Kita sudah berpisah, Juandra Pratama! Kita tidak punya hubungan apa-apa lagi," ucap Jovina dengan penekanan kuat.

"Tapi kau masih istriku! Aku belum pernah menceraikanmu, dan sampai detik ini aku masih mencintaimu. Maafkan aku atas kesalahan di masa lalu, Jovina. Tolong kembalilah padaku," pinta Juandra dengan nada memohon. Air mata terus mengalir di pipinya.

"Maafkan aku, Juandra. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang bersama Chandra," jawab Jovina tegas.

"Lalu bagaimana dengan Judika? Dia juga anakmu! Kalau kau membenciku, aku terima. Tapi jangan benci dan lupakan anak kandungmu sendiri!" suara Juandra mulai meninggi, bercampur sedih dan marah.

"Aku tidak membencinya! Justru aku sangat merindukannya, aku ingin memeluknya, menciumnya, tapi..." suara Jovina pecah. Air mata akhirnya menetes juga. "Aku terpaksa meninggalkannya karena dirimu, Juandra! Dulu aku ingin membawa Judika pergi bersama aku dan Chandra, tapi kau menahannya dengan paksa. Akhirnya aku hanya bisa membawa Chandra dan pergi jauh, karena kalau tidak, aku tidak akan pernah bisa lepas darimu!"

"Maafkan aku. Kembalilah, Jovina. Kita mulai semuanya dari awal bersama kedua putra kita. Kita bisa menjadi keluarga yang utuh lagi," pinta Juandra lagi, berlutut di hadapan istrinya.

"Maafkan aku, Juandra. Aku benar-benar tidak bisa."

Setelah berkata begitu, Jovina berbalik badan dan berjalan pergi, meninggalkan Juandra yang terduduk lemas di trotoar, menangis sejadi-jadinya.

Namun baru beberapa langkah, saat Jovina hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi mendekat, tidak berniat berhenti.

Melihat itu, mata Juandra membelalak lebar. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung berlari sekuat tenaga.

"JOVINA!! AWASSS!!" teriak Juandra keras.

Juandra mendorong tubuh istrinya menjauh ke tepi jalan, tapi karena gerakannya yang terlalu cepat dan mendesak, tubuhnya sendiri tidak sempat menghindar.

CRASH..

BRUUKK..

Badan Juandra terpental beberapa meter, lalu jatuh tergeletak di aspal yang panas. Darah mulai mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!