Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #15
"Della, Lo lagi nyari siapa?" ujar salah satu teman sekelas Della dia bukan dari geng Della, hanya teman sekelas saja.
"Gue lagi nyari Clara, kebetulan Lo dari kantin kan? Clara ada di sana gak?" Della tudepoin.
"Gak ada, tapi gue barusan lihat dia keluar dari ruang kepala sekolah, terus langsung ke parkiran dan pergi, ternyata dia anak orang kaya tau bawa mobil sport warna ungu," jelas nya kepada Della.
Hal ini membuat Della melongo, temannya itu jelas-jelas menguntit Clara, bukan hanya melihat nya sekilas saja malah tau sampai ke akarnya.
"Lo merhatiin dia dari sejak kapan? Lo gak mungkin kebetulan lihat kan?" tanya Della lagi.
"Maaf Del, tapi gue juga penasaran, kok bisa dia kayak Cery ya, tapi jujur sih sekarang gue udah tau dia itu cuma sekilas mirip doang, Lo tau sendiri Cery kan miskin gak mungkin naik mobil mewah, Cery juga udah bener-bener meningal dan udah di makamin,"
Kini Della dan teman sekelas nya itu saling diam satu sama lain, entah apa yang ada di pikiran mereka, namun lagi-lagi Della sadar atas ucapan teman nya, Cery miskin dan Cery juga sudah ada di dalam pemakaman, mereka benar-benar bodoh sudah menganggap seseorang yang mirip adalah Cery sendiri.
Tampa terasa beberapa jam pun berlalu, kini jam pelajaran sekolah pun telah usai, seluruh siswa dan siswi bergegas keluar dari gerbang sekolah untuk segera pulang.
Della bergegas masuk ke dalam mobil nya, ia terlihat buru-buru, seperti ada hal yang hendak ia lakukan.
Linus yang melihat itu buru-buru menghampiri mobil Della dan mengetuk jendela mobil nya.
"Ada apa?" tanya Della melihat Linus dari jendela mobil.
"Lo mau ke mana? Langsung pulang apa gimna? Gue boleh minta tolong sesuatu gak?" Ia membungkuk agar lebih dekat melihat Della yang ada di dalam mobil dan memastikan kalau di dalam sana Della hanya sendiri.
"Gue ... Gue ada hal penting, emang Lo mau minta tolong apaan?" gugup nya Della membuat Linus sedikit curiga.
"Gue mau minta Lo temenin gue ke rumah Cery," ujar Linus setengah berbisik.
Della mengangkat alisnya tidak percaya, ternyata Linus malah punya tujuan yang sama dengan nya." Masuk," Della segera mengkode Linus untuk masuk ke dalam mobil nya.
Linus yang tidak ingin buang-buang waktu segera masuk ke dalam mobil Della, mereka pun segera meninggalkan sekolah.
Raja yang melihat itu merasa curiga." Linus ngapain masuk ke mobil Della? Bukan nya dia bawa mobil sendiri? Kok malah di tingal? Mereka mau ke mana?" Begitu banyak pertanyaan dari Raja kepada dirinya sendiri karena setahunya Della dan Linus sedang bertengkar, tiba-tiba berada dalam satu mobil membuat nya sangat penasaran.
Raja pun akhirnya memutuskan untuk mengejar mobil Della, dia mengikuti mereka dengan sembunyi-sembunyi.
Sementara itu Della dan Linus sama sekali tidak menyadari karena asik mengobrol.
"Dell, emang Lo tau di mana rumah Cery?" Tutur Linus melirik Della yang sedang fokus menyetir.
"tau," jawab Della singkat.
"Dari mana?" ujar Linus lagi, lama tidak saling bertegur sapa dengan Della membuat mereka sedikit cangung berkomunikasi.
"Bi Suni, gue pernah tanya alamat rumah nya sama ni Suni," ungkap Della lagi.
Linus teridam, dia tidak lagi angkat bicara, begitu juga dengan Della.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah kecil sederhana di komplek yang cukup sepi.
Linus melihat sekeliling tempat tersebut yang ternyata cukup sepi dan suasana nya juga begitu dingin.
"Turun," ujar Della.
Mereka pun akhirnya turun bersamaan dari mobil, Della berjalan menuju pintu pagar rumah Cery ia melihat nomer dari rumah tersebut dan sudah benar mereka turun tepat di depan rumah Cery.
Tidak lama kemudian, mobil Raja pun berhenti di belakang mobil Della, ia tidak lagi bersembunyi, langsung turun dari mobil dan menghampiri Della dan Linus yang kaget karena kedatangan dirinya.
"Kalian ngapain ke sini?" ungkap Raja sambil menatap dingin Linus.
"Lo yang ngapain ngikutin kita ke sini?" jawab Linus dengan tatapan tajam nya.
"Udah, bisa gak sih kali ini aja gak usah bertengkar, kita itu ke sini mau ketemu bi Suni kita harus tanya ke bi Suni kalau Cery itu punya saudara kembar atau engga soalnya yang ngerasain Clara mirip Cery udah bukan gue doang! Kak Raja plis percaya," ujar Della sambil memohon kepada Raja dan Linus untuk tidak berkelahi.
Di saat seperti itu, seseorang keluar dari dalam rumah merasa tidak nyaman karena suara-suara perdebatan yang ada di depan rumah nya.
"Kalian anak-anak sekolah ngapain berhenti di depan rumah saya terus bertengkar?" ujar seorang wanita gemuk sambil memegang kunci yang sepertinya hendak meninggalkan rumah tersebut.
Ketiganya sontak kaget dan sama-sama berpaling menatap wanita tersebut.
"Maaf buk, bukannya ini rumah bi Suni ya? Rumah Cery? Kok ibuk yang di sini?" ujar Della.
"Mereka? Oh iya, dua Minggu lalu BI Suni pindah ke rumah majikannya, ini mah kontrakan saya sekarang sudah kosong tadi saya masuk untuk memeriksa apakah ada barang yang tertinggal sekaligus membereskan untuk menerima pengontrak baru, memang nya ada apa? Apa kalian kenal dengan bi Suni dan anak asuhnya?" ujar sang pemilik kontrakan yang terlihat sangat mengenali bi Suni.
"Anak asuh?" ujar Della, Linus dan Raja secara bersamaan.
Ketiganya terlihat sangat kaget karena mendengar kata anak asuh, yang mereka tau Cery adalah anak bi Suni.
Saat Della menanyakan tentang Cery dua Minggu lalu di pemakaman,bi Suni juga mengatakan kalau Cery adalah anak kesayangan nya satu-satunya.
"Tunggu, yang ibu maksud anak asuhnya itu siapa ya?" ujar Raja yang juga kaget atas pernyataan ini.
"Ibu sepertinya tau banyak soal kelaurga bi Suni, bagaimana kalau kami minta informasi dari ibu aja?" sambung Linus.
"Maaf, saya memang tau soal anak asuhnya, namun sepertinya tidak enak untuk bicara,ini bukan urusan saya, lagipula saya juga buru-buru," ungkap wanita tersebut seketika wajah nya berubah menjadi takut.
"Bagaimana kalau kita bayar?" tawar Della.
Demi informasi tentang Cery mereka bahkan rela membayar sang pemilik kontrakan.
Mendengar kata bayar, sontak ibu kos tersebut tidak bisa menahan diri nya, ia memang sangat cinta dengan uang sehingga tidak bisa menahan apapun kalau sudah berurusan dengan uang.
"Baik, ayo sebaiknya kita bicara di dalam saja," ungkap pemilik kosan yang kemudian mempersilahkan ketiga tamunya masuk ke dalam.
Della, Raja dan Linus pun lega mereka tidak masalah kehilangan banyak uang untuk mendapatkan informasi ini.
Mereka duduk di kursi dekat teras depan rumah tersebut, tidak sabar menunggu sang pemilik kosan menceritakan silsilah kehidupan bi Suni.
"Buk, jadi sebenarnya siapa anak asuh itu dan hubungan bi Suni dengan Cery apa?" tanya Della.
"Bi Suni itu seorang janda, dia gak punya anak dan Cery itu anak asuhnya, dia mengasuh Cery udah sejak sepuluh tahun, karena katanya Cery itu di tingal ibunya sejak usia delapan tahun, namun baru beberapa bulan terakhir Cery tingal bersama dengan bi Suni di sini, biasanya bi Suni lah yang datang ke tempatnya untuk bekerja dari pagi sampai sore," jelas sang pemilik kosan yang sudah sepuluh tahun di tinggali bi Suni.
Lagi-lagi pernyataan ini membuat Della, Raja dan Linus kebingungan.
"Terus sebenarnya Cery itu anak siapa buk?", ujar Linus ikut bertanya.
"Soal itu saya sama sekali tidak tau,"
"Tapi ibu tau kan kalau Cery sudah meningal?" Raja tiba-tiba menyela.
Seketika wajah ibu kost tersebut pucat, dia benar-benar tidak tahu kalau Cery meningal karena ia juga baru pulang dari liburan dua Minggu lalu saat kembali bi Suni sudah menyerahkan kunci kontrakan kepada suaminya.
"Mana mungkin? Memang nya dia meninggal kenapa?" bukan nya menjelaskan ia malah balik bertanya.
"Kecelakaan buk, kenapa ibu gak tau?" jelas Della sambil menepuk kepala.
Ibu kost tersebut malah semakin kaget, setelah mendengar penjelasan Della.
Satu jam pun akhirnya berlalu setelah memberikan sejumlah uang untuk secuil informasi yang ibu kost berikan, mereka bertiga pun pergi dari tempat itu dengan perasaan cukup hampa.
Mereka tidak tau di mana mereka harus menemukan tempat bi Suni bekerja agar mendapatkan informasi tentang Cery.
Karena lelah, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing saja.
Sementara itu di sisi lain.
"Kenapa sih tiba-tiba minta aku pulang? Ini kan hari pertama ku masuk sekolah pa," ungkap seorang gadis cantik yang masih mengunakan seragam sekolah nya, ia terlihat kesal sambil menghempaskan bokong nya di atas Sofa.
Di hadapan nya berdiri seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi dengan perawakan yang lumayan tampan dan rentang usia sekitar empat puluh tiga tahun.
"Clara, Kamu masih ingat kan, dengan perempuan yang ada di foto ini?" ujar laki-laki tersebut kepada putrinya sambil menunjukan foto seorang wanita cantik yang ada di ponsel nya.
"Iya, dia teman papa?" ujar Clara lagi.
Ya, saat ini Clara kembali ke rumah karena permintaan sang papa yang katanya mendesak ada hal penting yang harus di bicarakan.
"Teman? Dia itu calon mama mu, papa kan sudah bilang dia itu sebentar lagi akan menjadi istri papa," tegas sang papa terlihat kesal karena menyadari putri nya yang lupa.
"Ya gimana ya, papa kan baru kembali ke sini dua Minggu yang lalu aku juga baru sekali lihat foto dia, mana bisa aku seingat itu, udah deh pa, kalau cuma mau ngomongin soal pernikahan papa aku gak mau ikut campur, ngeselin banget sih sampe nyuruh bolos sekolah gara-gara dia," ungkap Clara dengan kesal ia membanting bantal sofa ke lantai.
"Hey, hey, kau sudah janji sama papa bakal menyetujui pernikahan ini asal papa bantuin kamu soal rahasia kamu itu," ungkap sang papa mengancam dan sambil duduk di sebelah putrinya.
Mata Clara terlihat tajam menatap sang papa yang membahas soal sebuah rahasia dirinya.
Bersambung ....