Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kutukan
" Silakan turun tuan muda nyonya muda, "
Laura fokus memperhatikan, Anto yang menuntun Martin dan menaruh kursi roda Martin di hadapannya. Lalu Martin duduk di kursi roda tersebut
" Martin, bukankah kamu bisa jalan tadi kenapa pakai kursi roda? " Tanya Laura begitu penasaran membuat Anto dan Martin serempak menoleh ke arah gadis tersebut.
" Pikir pakai otak sempit mu! " Sarkas Martin, lalu mendorong kursi rodanya sendiri Langsung disusul Laura dan Anto
" Pak Anto, pasti tahu kan kata mama pak Anto teman masa kecil Martin! " Kata Laura rasa penasaran bersarang di dadanya,
Anto, menatap lekat sang majikan lalu menghela napas panjang
" Tuan muda itu, sakit dari semasa kecil Nyonya muda makanya harus pakai Kursi roda ia cuman bisa berjalan di sekitar rumah saja dengan kakinya. Selebihnya di luar dia harus pakai kursi roda " Tutur Anto
" Kenapa penyakit nya aneh sekali? " Tanya Laura dengan raut kebingungan
" Entahlah, katanya itu kiriman dari penyihir — Tuan Martin itu Pernah di kutuk! " Tutur Anto membuat pupil Laura melebar.
" Di kutuk apa? "
Anto, menatap lekat gadis tersebut lalu ia merapatkan tubuhnya lebih dekat oleh Laura lalu membisikkan sesuatu yang kelam dan tabu hanya keluarga dirinya dan keluarga Martin yang tahu,
" Karena, Ayahnya Tuan Muda pernah menjalin Rasa dengan seorang penyihir perempuan dan ayahnya tuan muda melanggar janji dan akhirnya di kutuk oleh penyihir tersebut! " Ungkap Anto
Laura, refleks menutup mulutnya dengan tangannya — ia menatap Anto tidak percaya
" Siapa nama penyihir tersebut? " Tanya Laura tangannya bergetar, ingatannya langsung menusuknya ke dunia sihir
Anto, mengedikkan bahunya
" Entahlah, tapi yang pasti penyihir itu kuat sekali. Hubungan Ayahanda Tuan muda dan Penyihir Wanita tersebut sangat Erat "
" Kasihaan Martin, seharusnya Mama Quenza yang marah karena dirinya di jadikan selingkuhan! " Geram Laura
Membuat Anto, menghela napas kasar lalu berkata dengan nada pelan seolah takut ada yang mendengar ucapannya
" Bukan nyonya muda, yang di selingkuhi itu adalah penyihir tersebut "
" Apaaa?? " Pekik Laura membuat semua Karyawan menoleh, ke arahnya membuat Laura menundukkan kepalanya
" Nyonya muda mari masuk ke ruangan, Tuan muda Martin " Anto meng-klik Tombol lift khusus dan terbuka. Sementara Martin sudah entah kemana dengan kursi rodanya itu,
" Pak Anto, apakah sebelum nya Martin pernah bersama gadis lain selain ku? " Tanya Laura tetiba membuat Anto melirik ke arahnya, lalu menggeleng kan kepalanya
" Tidak, Nyonya satu-satunya yang Tuan muda Martin Dekati " Sahut Anton
Laura mangut-mangut, ketakutan jelas tersirat di wajah cantiknya itu pikirannya melayang kemana-mana. Satu yang menjadi pikirannya apakah dirinya mengenal sosok penyihir yang selingkuhi oleh ayahnya Martin yang dimana ayah mertuanya,
" Nyonya muda sudah sampai silakan keluar! " Anton mempersilakan nyonya muda nya itu keluar dari lift, lalu disusul lelaki tersebut di belakang gadis itu
" Ini nyonya silakan masuk! " Anton lagi-lagi membuka kan pintu ruangan untuk Laura agar gadis itu masuk, "terimakasih pak Anton! "
" Sama-sama "
Krekk!
Martin menoleh tatapannya melayang tajam, ke sosok yang baru saja muncul di ambang pintu. Laura merasa perubahan suasana di sekitar nya pun langsung mendekati Martin ia tahu sekali tatapan tajam itu adalah tanda Martin sangat murka,
" Martin, kata mama jangan marah-marah nanti cepat tua! " Cetus Laura membuat Martin membuang muka ke arah lain, membuat Laura bersendekap dada. Dengan kasar ia menaruh bongkongnya di sofa hingga membuat cekungan yang dalam di sofa tersebut,
" Ngga usah sok marah gitu! " Suara Martin langsung terdengar membuat Laura menoleh ke arah Martin,
" Siapa yang marah! "
" Kamu! "
" Aku? " Tunjuk Laura ke dirinya lalu ia menggeleng kan kepalanya, bibirnya masih terlipat " Aku ngga marah, kamu tuh yang tukang marah! " Cerocos Laura
" Ck!, wanita berisik! " Geram Martin
" Daripada kamu Tukang marah! " Sungut Laura
" Anto!! " Teriak Martin membuat Anto bergegas masuk wajahnya pucat pasi, ia tahu akan ada hal yang tidak mengenakan yang akan disampaikan bosnya itu.
" Ya ada apa, Tuan muda? "
" Bawa wanita itu pergi! " Tunjuknya ke sosok Laura yang duduk di sofa, membuat Anto meneguk ludahnya kasar bagaiamana bisa diri nya mengusir wanita tersebut.
" Tapi tuan" Anton nampak begitu ragu,
" Kenapa? " Tanya Martin
" Stop, tanpa kamu suruh saya keluar saya juga bakal keluar! " Laura bangkit dari duduknya, Ia berlalu begitu saja membuat batin Martin terbakar karena kesombongan gadis.