BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 — “Hujan yang Membawa Tenang”
Malam itu hujan turun cukup deras. Suara rintiknya memenuhi atap kontrakan kecil milik Arga. Lampu kamar yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi. Di sudut meja, secangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu, sementara Arga masih duduk menatap layar ponselnya tanpa tujuan.
Hari-hari belakangan terasa semakin berat. Tagihan menumpuk, pekerjaan makin melelahkan, dan tubuhnya mulai sering sakit karena kurang istirahat. Namun yang paling membuatnya lelah adalah pikirannya sendiri.
Ia takut gagal.
Takut semua perjuangannya tidak akan membawa perubahan apa pun.
Arga memejamkan mata sambil mengusap wajahnya perlahan. Dadanya terasa sesak. Untuk beberapa saat, ia benar-benar ingin menyerah saja pada hidup.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Satu pesan masuk dari Ara.
“Kamu belum tidur?”
Arga menatap pesan itu beberapa detik sebelum membalas singkat.
“Belum.”
Tak sampai semenit, telepon dari Ara langsung masuk.
“Kenapa belum tidur?” tanya Ara dengan suara lembut.
“Belum ngantuk aja.”
“Kamu bohong.”
Arga tersenyum tipis.
“Aku cuma lagi banyak pikiran.”
Suasana di seberang sana mendadak hening beberapa detik.
“Mau aku datang?”
Arga langsung menggeleng meski Ara tak bisa melihatnya.
“Hujan deras gini, jangan.”
“Tapi kamu lagi nggak baik-baik aja.”
Ucapan itu membuat Arga diam. Ara memang selalu bisa menyadari sesuatu bahkan ketika Arga berusaha menyembunyikannya.
“Aku cuma capek,” ucap Arga lirih.
“Aku tahu.”
Beberapa menit mereka terdiam sambil mendengar suara hujan yang turun tanpa henti.
Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya butuh didengar.
“Ara…” panggil Arga pelan.
“Hm?”
“Kamu pernah nggak ngerasa takut sama masa depan?”
Ara tersenyum kecil di balik telepon.
“Sering.”
“Terus gimana caranya kamu tetap tenang?”
Ara menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Karena aku percaya… hidup nggak selalu buruk.”
Arga menatap jendela kamarnya yang dipenuhi embun hujan.
“Tapi kalau kenyataannya gagal terus gimana?”
“Berarti hidup lagi ngajarin kamu jadi lebih kuat.”
Jawaban sederhana itu membuat Arga kembali terdiam.
Selama ini ia selalu melihat kegagalan sebagai akhir. Padahal mungkin itu hanyalah bagian dari perjalanan yang harus dilewati.
“Aku takut nggak bisa bahagiain orang yang aku sayang,” ucap Arga jujur.
Di seberang sana, Ara tersenyum tipis.
“Bahagia itu bukan soal punya semuanya, Ga.”
“Terus?”
“Kadang bahagia itu cuma soal ada seseorang yang tetap bertahan di samping kita.”
Dada Arga terasa hangat mendengar itu.
Hujan di luar masih turun deras, tetapi suara Ara membuat pikirannya perlahan tenang.
“Ara…”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Untuk?”
“Karena selalu ada.”
Ara tertawa kecil.
“Kamu juga selalu ada buat aku.”
Arga tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Ara kembali bicara dengan suara pelan.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Dulu aku juga pernah hampir nyerah sama hidup.”
Arga sedikit terkejut.
“Kamu?”
“Iya.”
“Terus kenapa bisa bangkit lagi?”
Ara terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Karena aku sadar… badai pasti lewat.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam bagi Arga.
Ia menatap hujan di luar jendela dengan pikiran yang berbeda. Mungkin hidup memang sedang berat. Mungkin jalan yang ia lalui tidak mudah.
Tapi seperti kata Ara…
Badai pasti lewat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga mulai percaya bahwa suatu hari nanti hidupnya akan berubah menjadi lebih baik.
Malam semakin larut. Hujan perlahan mereda, meninggalkan udara dingin yang menenangkan.
Arga mematikan lampu kamarnya lalu merebahkan tubuh di kasur tipisnya. Senyum kecil terlihat di wajahnya sebelum ia memejamkan mata.
Karena malam itu, hatinya tidak lagi seramai biasanya.
Ada satu suara yang berhasil menenangkan seluruh kekacauan di dalam dirinya.
Suara dari seseorang yang datang… tepat saat ia hampir menyerah.
Namun beberapa menit setelah sambungan telepon berakhir, Arga belum benar-benar tertidur. Ia masih menatap langit-langit kamar sambil memikirkan banyak hal.
Ucapan Ara terus terngiang di kepalanya.
“Badai pasti lewat.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa mampu membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Di luar, suara hujan mulai mengecil. Sesekali terdengar suara motor melintas di jalan sempit depan kontrakan. Udara dingin masuk perlahan dari celah jendela yang belum tertutup rapat.
Arga menarik selimut tipisnya lalu memejamkan mata.
Tetapi pikirannya kembali membawa dirinya ke masa-masa yang selama ini ia coba lupakan.
Ia teringat ayahnya yang bekerja keras sejak pagi sampai malam demi keluarga. Tangan kasar ayahnya selalu menjadi bukti bahwa hidup memang tidak mudah. Dulu Arga sering berpikir ketika dewasa nanti ia ingin membuat hidup ayahnya lebih tenang.
Namun kenyataannya, sampai sekarang ia bahkan masih kesulitan mengurus hidupnya sendiri.
Arga menghela napas panjang.
Kadang ia iri melihat orang lain yang hidupnya terlihat lebih mudah. Teman-temannya sudah memiliki pekerjaan tetap, kendaraan bagus, bahkan ada yang sudah menikah dan punya rumah sendiri.
Sementara dirinya?
Masih tinggal di kontrakan kecil dengan atap yang bocor ketika hujan datang.
Masih menghitung uang setiap akhir bulan agar bisa tetap makan sampai gajian.
Masih sering pura-pura kuat meski sebenarnya lelah.
Ponselnya kembali bergetar pelan.
Satu pesan lagi dari Ara.
“Udah tidur?”
Arga tersenyum kecil lalu membalas.
“Belum.”
“Nah kan bener.”
“Kok belum tidur juga?”
“Aku takut kamu kepikiran terus.”
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dada Arga terasa hangat lagi.
Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang benar-benar peduli padanya seperti ini.
“Ga…” tulis Ara lagi.
“Hm?”
“Jangan terlalu keras sama diri sendiri ya.”
Arga menatap layar ponselnya lama.
Kalimat itu terasa menusuk.
Karena memang benar. Selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia memaksa dirinya terus kuat, terus berjalan, terus bertahan tanpa pernah memberi kesempatan untuk beristirahat.
Ia selalu menyalahkan dirinya ketika gagal.
Selalu merasa dirinya kurang.
Selalu merasa belum pantas bahagia.
Padahal ia juga manusia.
Ia juga lelah.
“Aku cuma takut jadi beban buat orang lain,” balas Arga akhirnya.
Beberapa detik kemudian Ara membalas.
“Orang yang tulus nggak akan nganggep kamu beban.”
Mata Arga perlahan memanas.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang benar-benar memahami isi kepalanya tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Hujan akhirnya berhenti sepenuhnya. Suasana malam berubah menjadi sangat tenang.
Ara lalu mengirim pesan lagi.
“Besok jangan lupa makan.”
“Iya.”
“Dan jangan kebanyakan kopi.”
Arga tertawa kecil.
“Kamu cerewet.”
“Aku peduli.”
Senyum Arga kembali muncul.
Malam itu terasa berbeda.
Biasanya malam hanya dipenuhi rasa cemas dan pikiran buruk. Tetapi sekarang ada sedikit harapan yang tumbuh di dalam dirinya.
Mungkin hidupnya memang belum baik-baik saja.
Mungkin masalahnya belum selesai.
Tagihan masih tetap ada.
Pekerjaan tetap melelahkan.
Dan masa depan masih terasa menakutkan.
Tetapi setidaknya sekarang Arga tidak merasa sendirian lagi.
Kadang kekuatan terbesar seseorang bukan berasal dari uang atau jabatan.
Kadang kekuatan itu datang dari satu orang yang berkata, “Aku ada di sini.”
Dan Ara berhasil menjadi alasan kecil yang membuat Arga ingin bertahan sedikit lebih lama.
Arga lalu bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekati jendela. Jalanan di luar terlihat basah terkena hujan. Lampu-lampu kota memantul di genangan air, menciptakan suasana yang tenang.
Ia tersenyum kecil sambil memandang langit malam.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia tidak merasa benar-benar kalah.
Mungkin hidup memang belum memberinya kebahagiaan sekarang.
Tetapi mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu perlahan-lahan.
Dan mungkin… semua rasa sakit ini suatu hari nanti akan terbayar.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan terakhir dari Ara malam itu.
“Tidur ya. Besok harus semangat lagi.”
Arga mengetik balasan pelan.
“Iya. Makasih udah nenangin aku.”
Ara langsung membalas.
“Kalau capek cerita aja. Jangan dipendem sendiri.”
Arga menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya kembali di kasur.
Matanya perlahan mulai terasa berat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga tertidur tanpa air mata.
Karena di tengah hidup yang terasa kacau, akhirnya ada seseorang yang membuatnya percaya…
bahwa dirinya masih layak untuk diperjuangkan.