Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 - MHB
"Arka! Kamu lihat kan? Aku nggak sengaja, tapi Kakak ini malah sinis banget ke aku," adu Ghea, mencoba memasang wajah sedih.
Arka tidak melihat ke arah baju Maya yang kotor. Ia justru menatap lurus ke mata Ghea. "Aku dengar semuanya, Ghea. Semuanya."
Ghea membeku. "Maksudnya? Aku cuma—"
"Aku bilang, aku dengar semuanya," Arka memotong dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang tertahan. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di depan Maya, seolah-olah ia adalah perisai yang tak tertembus.
Arka mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah wajah Ghea dengan jari telunjuknya. Sebuah gestur yang sangat tidak sopan, namun sangat efektif untuk menunjukkan otoritas.
"Dengarkan ini baik-baik, karena aku nggak akan mengulanginya," suara Arka kini memenuhi area tersebut, menarik perhatian lebih banyak orang. "Dia bukan cuma pasanganku malam ini. Dia adalah satu-satunya orang yang punya hak atas aku. Hidupku, pilihanku, dan semua yang aku capai adalah karena dia."
Ghea mencoba memprotes, "Tapi Arka, dia itu tante-tante yang—"
"Jaga bicaramu!" gertak Arka, membuat Ghea berjengit mundur. "Sekali lagi aku dengar kamu menghina dia dengan sebutan rendah seperti itu, aku pastikan kamu nggak akan pernah bisa satu tim lagi denganku. Tidak di kampus, tidak di dunia kerja, tidak di mana pun. Kamu bukan saingannya, Ghea. Kamu bahkan nggak berada di level yang sama untuk sekadar menyebut namanya."
Maya tertegun di belakang punggung Arka. Ia bisa melihat otot bahu Arka yang menegang. Selama ini ia selalu merasa harus melindungi Arka dari dunianya yang kejam, namun malam ini, Arka menunjukkan bahwa ia mampu meruntuhkan dunia siapa pun yang berani menyentuh harga diri istrinya.
"Tapi Arka, aku cuma peduli sama kamu—" Ghea mencoba meraih lengan Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Arka tidak memberikan kesempatan. Sebelum Ghea menyelesaikan kalimatnya, Arka berbalik ke arah Maya. Tanpa aba-aba, ia menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Maya dan tangan lainnya di punggungnya.
Hup!
Arka menggendong Maya dengan gaya bridal style di depan ratusan mata mahasiswa dan dosen yang menonton.
"Arka! Apa-apaan? Turunkan aku!" bisik Maya panik, wajahnya memerah sempurna karena malu sekaligus terkejut.
"Diam, Maya. Bajumu kotor dan aku nggak mau kamu berlama-lama di ruangan yang udaranya sudah terkontaminasi sama orang kayak dia," jawab Arka tegas.
Arka melangkah lebar keluar dari aula, melewati kerumunan yang memberikan jalan dengan ekspresi takjub. Ghea ditinggalkan mematung di sana, menjadi pusat perhatian yang memalukan setelah baru saja dipermalukan secara publik oleh pria yang ia kejar-kejar.
Begitu sampai di area parkiran yang lebih sepi, Arka baru menurunkan Maya di samping motornya. Napas Arka masih terlihat memburu, matanya masih berkilat marah.
"Kamu gila ya?" Maya merapikan gaunnya yang kusut dan kotor, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil di bibirnya. "Semua orang melihat kita, Arka. Besok namaku bakal makin viral."
Arka tidak tertawa. Ia mendekati Maya, memegang kedua sisi motor di belakang tubuh Maya, mengurung wanita itu di antara lengannya. "Biarkan saja. Aku nggak peduli. Aku lebih nggak terima kalau dia menghinamu seolah-olah kamu itu orang asing yang nggak berharga."
Maya menatap wajah Arka. Kacamata yang ia pakai di ruang rapat kemarin tidak ada, namun aura kedewasaan yang sama terpancar kuat. "Arka, aku bisa menghadapi gadis seperti dia. Aku sudah biasa menghadapi klien yang jauh lebih kasar."
"Aku tahu kamu bisa," bisik Arka, suaranya mulai melunak. "Tapi kamu nggak harus selalu melakukannya sendiri. Aku suamimu, Maya. Tugas pertamaku adalah memastikan nggak ada satu orang pun yang bikin kamu merasa kecil, termasuk mahasiswi genit seperti Ghea."
Maya terdiam. Ia menyentuh dada Arka, merasakan detak jantung pria itu yang masih kencang. Ia menyadari bahwa taring Arka keluar bukan karena ego, tapi karena rasa cinta yang begitu besar. "Baby Tiger" miliknya telah benar-benar berubah menjadi macan pelindung yang tangguh.
"Terima kasih," gumam Maya. "Dan... terima kasih sudah bilang kalau aku satu-satunya yang punya hak atas kamu. Itu terdengar... sangat keren."
Arka akhirnya tersenyum, seringai nakalnya kembali muncul. "Hanya keren? Aku pikir itu terdengar sangat romantis."
"Sedikit," jawab Maya malu-malu.
Arka melepas jaket blazernya dan menyampirkannya ke bahu Maya untuk menutupi noda jus di bajunya. "Ayo pulang. Aku nggak mau kamu masuk angin. Dan soal Ghea... jangan dipikirkan lagi.
Malam itu, Jakarta terasa lebih tenang dari biasanya. Setelah kegaduhan di aula kampus, kesunyian di dalam mobil, yang kali ini dibawa Arka karena ia bersikeras Maya tidak boleh kedinginan di atas motor dengan baju basah—terasa sangat padat. Hanya ada suara deru mesin yang halus dan gesekan ban dengan aspal basah.
Maya duduk di kursi penumpang, masih terbungkus jaket blazer milik Arka yang aromanya sangat maskulin, campuran antara parfum mahal dan sisa-sisa adrenalin. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap butiran air sisa hujan yang merayap di kaca jendela. Pikirannya melayang kembali ke momen di mana Arka menunjuk Ghea dengan sorot mata yang begitu tajam.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡