Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke sarang serigala
Perjalanan dari pesisir terpencil menuju Jakarta ditempuh dengan kapal nelayan kayu yang aromanya menusuk hidung—campuran ikan busuk dan solar. Bagi Clara Marine, kemewahan kapal pesiar atau kenyamanan presidential suite terasa seperti memori dari kehidupan orang lain. Kini, ia duduk di sudut palka yang sempit, mengenakan kaos lusuh dan topi pet yang menutupi rambut pirangnya yang mulai kusam.
Di hadapannya, Nikolai Brine sedang memeriksa sebuah paspor palsu di bawah lampu minyak yang remang-remang. Luka di bahunya sudah mulai mengering, meski gerakannya masih terlihat kaku.
"Kita akan masuk lewat pelabuhan tikus di Jakarta Utara," Nikolai bicara tanpa menatapnya. "Silas pasti sudah menempatkan orang-orangnya di bandara dan pelabuhan besar. Dia pikir kita mati, tapi dia tetap berjaga-jaga. Itu sifat dasar seorang Marine."
"Setelah itu? Apa kita langsung ke Belanda?" tanya Clara.
"Tidak. Kita ke Rusia," Nikolai menatapnya tajam. "Aku butuh sekutu. Di Dubai, asetku sudah dibekukan. Tapi di Rusia, aku punya koneksi lama yang tidak terjangkau oleh pengaruh Silas. Kita butuh senjata, uang, dan pasukan yang cukup untuk menyerbu markas Marine di Amsterdam."
Jakarta yang Tak Lagi Sama
Jakarta menyambut mereka dengan hujan deras dan udara yang pengap. Mereka turun di dermaga liar yang dipenuhi sampah plastik. Nikolai bergerak dengan efisien, seolah ia sudah menghafal setiap sudut kota ini. Ia membawa Clara ke sebuah kawasan kumuh di pinggiran Jakarta, jauh dari gedung-gedung pencakar langit yang biasa mereka lihat.
Safe house Nikolai adalah sebuah ruko tua yang tampak terbengkalai. Di dalamnya terdapat peralatan komunikasi canggih yang tertutup debu, tumpukan senjata, dan beberapa tumpukan uang tunai dalam berbagai mata uang.
"Istirahatlah. Besok kita harus mengatur logistik untuk penerbangan gelap ke Moskow," ujar Nikolai sambil menyalakan komputer tua yang layarnya berkedip-kedip.
Clara mendekati jendela yang retak, menatap rintik hujan. Ia teringat Alice Pearl, sahabatnya. Hanya beberapa kilometer dari sini, Alice mungkin sedang bersedih karena mengira Clara tewas dalam kecelakaan. Ada keinginan besar untuk menghubungi Alice, namun Clara teringat latihan dari Nikolai: Satu koneksi dengan masa lalu adalah satu peluru untuk masa depanmu.
Pertemuan yang Tak Disengaja
Keesokan paginya, Nikolai meminta Clara untuk membeli beberapa keperluan medis di pasar tradisional terdekat agar mereka tidak menarik perhatian. Clara menggunakan masker dan kerudung sederhana. Saat sedang mengantre di sebuah apotek kecil, jantungnya hampir berhenti.
Di seberang jalan, ia melihat Alice Pearl sedang menempelkan selebaran "Orang Hilang" di sebuah tiang listrik. Di selebaran itu terdapat foto Clara saat masih bekerja di perpustakaan. Alice tampak kuyu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
Clara tanpa sadar melangkah maju, tangannya hendak melambai, namun sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pundaknya dari belakang.
"Jangan bodoh," bisik suara Nikolai yang berat tepat di telinganya.
"Dia sahabatku, Nikolai. Dia menderita karena mengira aku mati," desis Clara.
"Jika kau menemuinya, Silas akan tahu kau hidup dalam hitungan jam. Dan saat itu terjadi, Alice bukan hanya akan menderita, dia akan menjadi target untuk memancingmu keluar," Nikolai menarik Clara menjauh dengan paksa. "Pilihannya: kau tetap dianggap mati dan dia aman, atau kau menemuinya dan dia berakhir di lubang kubur."
Clara menunduk, air mata jatuh di balik maskernya. Ia membiarkan Nikolai membawanya kembali ke ruko. Rasa sakit karena harus meninggalkan dunianya benar-benar nyata sekarang. Ia bukan lagi Clara yang polos.
Persiapan ke Rusia
Malam harinya, Nikolai menyelesaikan pengaturan penerbangan. Mereka akan menggunakan pesawat kargo logistik yang biasa membawa suku cadang alat berat ke Siberia.
"Silas baru saja mengumumkan secara resmi kematianmu di televisi nasional Belanda," Nikolai menunjukkan layar monitornya. "Dia mengadakan upacara pemakaman tanpa jasad lusa di Amsterdam."
Clara menatap layar itu dengan dingin. Ia melihat Silas berdiri dengan wajah sedih yang dibuat-buat di depan foto raksasanya. "Dia sangat pandai berakting."
"Biarkan dia berpesta," Nikolai mengisi magasin senjatanya. "Rusia tidak akan ramah padamu, Clara. Musim dingin di sana bisa membunuh pria dewasa, dan orang-orang yang akan kita temui jauh lebih berbahaya daripada tentara bayaran Silas. Kau siap?"
Clara mengambil pistol yang telah diajarkan Nikolai kepadanya. Ia mengokangnya dengan gerakan yang kini jauh lebih mantap. "Aku sudah mati bagi dunia, Nikolai. Tidak ada lagi yang perlu aku takuti."
Nikolai menyeringai. Ia menyukai perubahan pada diri Clara. Obsesinya kini bukan lagi sekadar memiliki "aset", tapi melihat bagaimana wanita ini akan menghancurkan kakaknya sendiri.
"Bagus. Besok kita terbang ke Moskow. Saat kita kembali dari sana, Silas Marine akan berharap bahwa kau benar-benar mati di lautan itu."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...