Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Pamer
Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Itulah, pepatah yang sering kita dengar.
Ya, usaha Rachel untuk lebih dekat dengan Violet akhirnya berhasil.
Dan atas apresiasinya, Rachel mendapatkan bonus, sejumlah uang tunai dari Rysh. Bahkan, uang itu lebih banyak dari gajinya tiga bulan bekerja.
Dan minggu ini, Rachel berhasil memboyong Violet untuk jalan-jalan di mall.
"Selama ini, kamu belanja dimana?" tanya Rachel, menenteng beberapa paper bag.
"Di sini, atau di online," sahut Violet.
"Kita ke toko sepatu itu yuk," ajak Rachel menatap toko sepatu yang cukup terkenal.
"Kamu udah belanja terlalu banyak Hel," peringat Violet dengan nada memelas.
"Ini namanya self reward …" sahut Rachel, menarik lengan Violet.
Sembari menunggu pelayan mengambil ukuran sepatu yang di inginkan, kini Rachel mencoba mengulik informasi dari Violet, atas permintaan Rysh.
Tujuannya ialah satu. Rysh ingin mengetahui apakah Violet mengakui hubungan mereka. Atau masih menyembunyikannya.
"Vio ... Apa kamu punya pacar?"
Violet mengernyit. Dia memang mulai nyaman dengan Rachel. Tapi, tidak dengan memberikan informasi pribadinya.
Karena itu, sesuatu hal yang amat tabu di umbarkan pada orang yang baru di kenalnya.
Iya, secara hanafiah dia dan Rachel memang sudah kenal lama. Tetapi, mereka baru akrab beberapa hari yang lalu.
"Aku mempunyai seseorang, mungkin akan cocok dengan mu," pancing Rachel.
"Hel, jangan terlalu jauh mencampuri urusan hidupku. Kita gak sedekat itu," tutur Violet memperjelas posisi Rachel.
Bukannya sakit hati, Rachel malah tersenyum.
Mungkin belum saatnya, atau bisa jadi pendekatan mereka belum terlalu berarti bagi Violet.
Setelah menghabiskan setengah hari di mall, akhirnya Violet pulang.
Perlu di ketahui, sekarang Violet sudah tinggal di rumah pernikahan yang sebelumnya di katakan Rysh.
Tak hanya Violet, Dania juga ada disana.
Dan untuk mengusir rasa bosan sang mertua, Rysh membuat kebun organik di belakang rumah, serta kandang untuk ayam petelur.
Dan Dania, sering menghabiskan waktu disana. Karena untuk urusan pekerjaan rumah, semua sudah di urus oleh art.
"Sayurnya mulai tumbuh ya bu," ujar Violet, yang sengaja datang mencari keberadaan ibunya.
"Iya ... Nanti, setelah panen, ibu berencana membagi-bagikan pada tetangga sini," terang Dania, melihat-lihat kebunnya.
"Ibu bahagia?" pertanyaan itu terlontarkan begitu saja, dari bibir Violet.
"Kenapa kamu tanya begitu? Ibu akan jauh bahagia, jika kamu bahagia, nak!" seru Dania, mendekati Violet.
"Kamu ada masalah sama Rysh?" sambung Dania, merapikan anak rambut Violet.
Violet menggeleng, dia berjalan beberapa langkah, dan duduk di kursi kayu yang telah di siapkan oleh Rysh.
"Aku takut bu ... Aku takut jatuh cinta sama Rysh," terang Violet menatap jauh kedepan.
Dania menggenggam tangan Violet. Dia memilih untuk menjadi pendengar yang baik, sebelum memberikan nasehat ataupun wejangan untuk sang anak.
"Kadang dia terlalu baik, dia terlihat tulus. Namun, satu sisi dia juga terlihat egois. Bahkan tak jarang, dia terlihat dominan," Violet menatap tangannya yang berada di genggaman ibunya.
"Aku takut, jika cinta ini melukaiku bu," tambah Violet.
Dan tanpa Violet dan Dania tahu, Rysh ada disana, dengan napan berisi minuman dingin untuk mereka nikmati disana.
Dia mendengarkan semuanya.
"Nak … Tak semua cinta itu buruk, tak semua pasangan itu berpisah karena ego, ataupun orang ketiga. Kamu jangan hanya berpatokan sama ibu. Lihat lah, keluarga suamimu. Mereka keluarga cemara, dan Rysh hidup dari keluarga bahagia," jelas Dania lembut.
"Tapi bagaimana jika aku gak hamil? Bukankah, perceraian itu tetap terjadi?"
"Kita gak pernah tahu, apa yang akan terjadi kedepannya. Jadi, lebih baik, kita sebagai manusia berprasangka baik, pada sang pencipta," nasehat Dania, mengelus punggung tangan Violet.
"Lagipula, dunia medis sekarang canggih. Dan aku tidak kekurangan uang, untuk membayarnya," suara di belakang mereka berhasil membuat Dania dan Violet bergejolak kaget.
Dan sore ini, mereka habiskan waktu di kebun belakang. Menatap ayam-ayam yang saling berkejaran.
...🍇🍇🍇...
Keesokan harinya, ketika Rysh dan Violet berangkat kerja.
Ghea datang ke kediaman Rysh, hanya untuk bertemu sahabatnya.
"Kapan ayammu bertelur Nia?" tanya Ghea menatap ayam yang masih kecil-kecil.
"Nunggu dapat jodoh dulu Ghea," balas Dania sarkas.
"Dih, yang udah ada jodoh aja, belum tanda-tanda kayaknya," balas Ghea cemberut.
"Mereka baru nikah beberapa bulan Ghea. Dan jangan lupa, mereka baru berhubungan setelah kita jebak," peringat Dania.
"Iya, iya … tapi aku pengen pamer cucu Nia. Aku ingin orang-orang tahu, kalo aku punya pewaris,"
"Niat mu aja udah salah," ujar Dania menatap Ghea.
Ghea bungkam, berdebat dangan Dania, tak pernah menang. Jangankan menang, seri aja jarang.
"Kamu disini bosan gak?" tanya Ghea, dengan suara berbisik.
"Bosan," balas Dania terus terang.
"Bagaimana, kalo kamu buka usaha aja,"
"Usaha? Usiaku udah mendekati setengah abad Ghea,"
"Lah, usiakan bukan penghalang," tutur Ghea mencibir.
"Terus, usaha apa yang cocok untuk wanita jompo ini?"
"Catering … karena kamu jago masak, dan semua masakanmu lezat dan mantap," balas Ghea menaik-turunkan alisnya.
"Aku gak punya cukup tabungan Ghea," keluh Dania menghela napas.
Mengingat selama ini, uangnya selalu di ambil oleh Bastian. Bahkan, termasuk uang yang di simpan diam-diam.
"Kamu lupa siapa menantumu?" tanya Ghea, memutar mata malas.
"Dia hanya menantu Ghea. Dan tidak seharusnya, aku memanfaatkanya," terang Dania.
"Bodoh," lirih Ghea, gemas.
"Terus, kalo kamu melihat menantumu kesusahan, apa kamu akan membantunya?" sambung Ghea.
"Tentu saja … karena menantu itu, juga anak kita," balas Dania tanpa ragu.
"Nah, itu tahu. Berarti, Rysh juga mengganggap mu orang tuanya. Dan dia harus membantumu," balas Ghea.
"Masalahnya, ini bukan mudharat Ghea," tekan Dania gemas.
Dan perdebatan diantara keduanya terus berlanjut, dengan persepsi masing-masing.
Sampai akhirnya, Ghea memutuskan menanam modal, dan Dania sendiri yang mengurusnya. Dengan metode, keuntungan di bagi dua.
...🍇🍇🍇...
Di kantor, Violet baru saja keluar dari ruangan rapat, bersama beberapa direksi lainnya.
"Vio, kamu tolong susunkan poin-poin rapat tadi, dan berikan padaku, sesegera mungkin," tutur Rysh, begitu melihat Violet hendak masuk lift umum.
"Baik pak," balas Violet menunduk.
"Kemari lah, karena ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan," perintah Rysh, agar Violet satu lift dengannya.
Begitu pintu lift tertutup. Rysh langsung menyudutkan tubuh Violet, ke sudut.
"Besok-besok, rambutmu jangan di sanggul lagi," ujar Rysh dengan napas berat.
"Kenapa?" tanya Violet heran.
"Perasaan, aku telah menutup semua bekas itu, dengan sempurna," batin Violet.
"Direktur keuangan, menatap lehermu dengan napsu,"
"Hei … jangan sembarangan. Bagaimana bisa, leher dijadikan tempat napsu, kecuali, dadaku yang ku tonjolkan," Violet mendorong tubuh Rysh, geram. "Otak mu bermasalah kayaknya," sambung Violet, memutar mata malas.
"Kalo lelaki udah birahi, jangankan leher. Bahkan, betismu aja bisa dijadikan tempat hayalan terindah," peringat Rysh, menatap tajam kearah istrinya.
Glek … Violet menelan ludah.
Dan untuk sesaat, dia seperti menyetujui ucapan suaminya.
"Terus aku harus bagaimana?"
"Jauhi direktur itu," balas Rysh, memeluk pinggang Violet erat.
"Aku kan, memang gak pernah dekat sama siapapun disini," elak Violet.
"Kalo begitu, biarkan mereka sendiri yang menjauh," balas Rysh, semakin mengeratkan pelukannya.
Ting … pintu lift terbuka. Orang-orang yang berada di lantai tersebut, langsung membelalakkan matanya.
Bahkan, ada yang langsung menunduk, pura-pura tak melihatnya sama sekali.