NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"Apa aku selama ini salah paham padanya?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Reno. Setelahnya ia terdiam cukup lama sambil menatap meja di depannya. Untuk sesaat, keraguan mulai muncul di dalam hatinya. Namun, mengingat satu minggu terakhir di mana Inara benar-benar tidak kembali dan tidak memberi kabar apa pun, bukankah itu justru seperti membenarkan semua pikirannya selama ini?

"Tapi dia tidak ada kabar," ucap Reno dengan nada rendah.

Bram mengembuskan napas pelan sebelum menatap sahabatnya itu serius.

"Ingat-ingat dulu apa yang kamu lakukan sampai dia gak ada kabar. Aku tahu Inara bukan tipe yang pergi begitu saja tanpa ada sebab dan akibat."

Ucapan itu langsung membuat Reno kembali teringat kejadian seminggu lalu di rumah sakit. Tanpa sadar rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia berkata pelan, "Aku menamparnya… dan Zidan gak mau sama dia lagi."

"Astaga, kamu ini lelaki atau bukan, Ren?"

Reno mengusap wajahnya kasar. "Aku cuma terbawa suasana. Dia kasih bubur ke Zidan dan setelah itu Zidan diare. Sebagai ayah, apa kamu bakal diam aja?"

Bram tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Reno beberapa detik sebelum akhirnya bertanya singkat, "Kamu yakin?"

Pertanyaan sederhana itu kembali membuka keraguan di hati Reno. Karena jika dipikirkan lagi, ia memang tidak pernah benar-benar menyelidiki semuanya. Saat itu ia langsung emosi dan menuduh Inara tanpa memberi wanita itu kesempatan menjelaskan, padahal selama ini Inara selalu menjaga Zidan dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan.

"Nanti kalau dia benar-benar pergi, kamu bakal nyesel, loh," cetus Bram lagi sambil menatap Reno penuh arti.

Reno mendecakkan lidah pelan, mencoba terlihat biasa saja meski dadanya mulai terasa tidak nyaman.

"Gak mungkin."

Bram mengangkat sebelah alisnya.

"Dia terlalu cinta sama aku dan Zidan," lanjut Reno lirih, lebih seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri dibanding menjawab Bram.

Namun Bram justru terkekeh hambar. Ia menggeleng pelan sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Ren, cinta juga bisa capek," ucapnya santai, tetapi kalimat itu terasa begitu mengena.

Reno langsung terdiam.

"Ingat, Inara itu bukan perempuan yang dari awal terikat sama kamu. Dia masih punya pilihan untuk pergi kapan saja kalau sudah lelah bertahan," lanjut Bram. "Dan sekarang kenyataannya udah jelas, kan? Satu minggu dia benar-benar hilang tanpa kabar."

Rahang Reno perlahan mengeras. Entah kenapa ucapan itu membuat pikirannya semakin kacau.

Beberapa detik kemudian, ia akhirnya mengembuskan napas panjang lalu bertanya pelan, "Jadi… aku harus nyari dia?"

Bram menatap Reno cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil penuh rasa miris.

"Kalau kamu nyari dia tapi mantan istri kamu masih terus ada di tengah hubungan kalian, buat apa?" tanyanya terus terang. "Mau bikin dia makin sakit hati?"

Reno langsung mengusap wajahnya kasar. "Tapi kamu tahu sendiri kalau Zoya cuma mau dekat sama anaknya."

"Alasan apa pun gak akan bikin semuanya jadi benar," sahut Bram cepat. "Masalahnya bukan soal Zoya mau dekat sama Zidan atau enggak. Masalahnya, kamu gak pernah benar-benar tegas."

Reno kembali diam.

"Perempuan itu butuh rasa aman, Ren," lanjut Bram dengan nada lebih serius. "Kalau kamu memang mau pertahanin Inara, harusnya dia jadi prioritas kamu. Tapi dari yang gue lihat, selama ini dia malah terus dipaksa ngerti keadaan kamu tanpa pernah benar-benar dipahami balik."

Kalimat itu membuat Reno menunduk pelan.

Tanpa sadar, wajah Inara di rumah sakit kembali muncul di kepalanya. Tatapan kecewa wanita itu, caranya tetap mencoba menjelaskan meski dirinya sama sekali tidak memberi kesempatan, hingga tamparan yang kini justru terus menghantuinya. Dada Reno mendadak terasa sesak.

"Aku gak bisa kehilangan dia," gumamnya lirih.

Bram menatap sahabatnya lama sekali sebelum akhirnya menghela napas kasar.

"Itu artinya kamu egois."

Reno langsung mengangkat kepalanya.

"Kamu gak mau kehilangan Inara, tapi di saat yang sama kamu juga gak pernah benar-benar ngasih dia tempat yang aman buat bertahan," lanjut Bram tanpa ragu. "Hubungan itu gak cuma soal cinta, Ren. Kadang seseorang pergi bukan karena udah gak sayang, tapi karena terlalu lelah terus-terusan terluka."

Ucapan itu membuat Reno membisu. Untuk pertama kalinya sejak Inara pergi, ketakutan mulai muncul dalam dirinya. Bagaimana kalau kali ini wanita itu benar-benar menyerah? Bagaimana kalau Inara tidak akan kembali lagi seperti biasanya?

Sementara Reno masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, Bram sudah berdiri sambil meraih kunci mobil di atas meja.

"Sudahlah," ucapnya pelan. "Percuma ngomong sama orang keras kepala."

Reno hanya diam menatap meja.

"Pokoknya pikirin semuanya baik-baik sebelum terlambat," lanjut Bram sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Reno sendirian di dalam kafe.

***

Di sisi lain, Inara duduk diam di atas sofa sambil menatap layar televisi yang menyala di depannya. Acara yang berganti-ganti itu sama sekali tidak masuk ke kepalanya. Tatapannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana.

Kerinduan pada Zidan terus menyesakkan dadanya, tetapi ia memaksa dirinya untuk menahannya. Ia harus belajar menerima. Bagaimanapun, cepat atau lambat ia memang akan kehilangan anak itu. Jadi, tidak ada salahnya jika ia mulai belajar melepaskan dari sekarang.

Sudah satu minggu Inara tinggal di apartemen sahabatnya, Nila. Selama satu minggu itu pula, wanita itu lebih banyak diam seperti kehilangan semangat hidupnya.

Nila yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa menggeleng pelan. Dengan sengaja ia melemparkan setumpuk naskah ke pangkuan Inara.

"Dari pada bengong, mending temenin aku latihan naskah ini," ucapnya santai. "Terakhir kali kamu akting jadi ibu tiri jahat, hasilnya bagus banget."

Inara menoleh sekilas, lalu mengembuskan napas pelan.

"Aku lagi gak mood. Kamu aja."

Nila mendecakkan lidah sebelum ikut duduk di sampingnya.

"Peran aku kali ini masih kecil, Ra. Makanya aku harus banyak belajar." Ia melirik Inara sambil menghela napas. "Kalau kemarin kamu ikut casting, aku yakin peran ibu tiri itu pasti jadi milikmu."

Inara tersenyum tipis, tetapi senyum itu cepat menghilang. "Ya kamu tahu sendiri aku udah gak mau belajar akting lagi. Karena—"

"Karena Reno? Karena Zidan?" potong Nila cepat sambil menggelengkan kepala. "Padahal itu bakat luar biasa yang kamu punya, Ra. Tapi demi anak dan lelaki itu, kamu malah ninggalin semuanya."

Nila berhenti sejenak, menatap sahabatnya dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat menusuk.

"Dan sekarang apa yang kamu dapat?"

Inara menunduk.

Nila menyandarkan tubuhnya lalu berkata pelan, tetapi setiap katanya terasa begitu tajam. "Dicampakkan, Inara. Sekali lagi dicampakkan. Bukan dipilih."

Kalimat itu langsung menghantam pertahanan Inara. Bibirnya bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. Ia menatap Nila dengan wajah manyun seperti anak kecil yang sedang diolok.

"Kamu ini sahabat aku bukan, sih?" protesnya lirih. "Bukannya ngibur, malah nambah sakit hati."

Nila justru tersenyum tipis. Ia lalu meraih tisu di atas meja dan menyodorkannya pada Inara.

"Aku kadang bisa jadi sahabat terbaikmu," ucapnya tenang. "Tapi aku juga bisa jadi orang yang paling nyakitin kalau itu satu-satunya cara buat bikin kamu bangkit."

Inara terdiam.

Nila menatapnya lekat-lekat, kali ini dengan sorot mata yang jauh lebih lembut.

"Kamu udah terlalu lama hidup buat orang lain, Ra," lanjutnya pelan. "Sekarang coba sekali aja hidup buat diri kamu sendiri."

"Tapi aku memang—"

Belum sempat Inara melanjutkan ucapannya, Nila sudah bangkit lalu berkacak pinggang di depannya.

"Pokoknya kamu gak boleh seperti ini terus. Sekarang ganti baju dan ikut aku."

"Gak mau!"

Nila langsung menarik tangan Inara sambil mengancam, "Kalau gak mau, lihat aja nanti malam kamu tidur di luar."

"Nila!"

"Inara!"

Akhirnya Inara mengalah, apalagi melihat ekspresi Nila yang jelas tidak mau mengalah sedikit pun. Tanpa ingin berdebat lagi, ia akhirnya mengikuti keinginan sahabatnya itu dan pergi ke tempat casting bersama Nila. Namun siapa sangka, sesampainya di sana Inara justru bertemu dengan sosok yang pernah ia kenal.

1
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!