Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau Udah Sah?
Mengetahui Alvaro adalah seorang penderita buta warna. Satu detik setelah sempat terkejut, Dena langsung kasihan padanya.
Dan karena kasihan, Dena langsung memikirkan sesuatu.
Tentang, apa mungkin setiap warna yang terlihat di matanya akan selalu terlihat berbeda di mata Alvaro?
Dan oleh sebab itu, Dena lantas bertanya langsung kepada yang bersangkutan.
Satu pertanyaan Dena ajukan. Begini, kalau semisal malam ini ia pakai gaun warna merah. Apa di mata Alvaro gaun itu akan tetap terlihat sama merahnya?
Tak menunggu lama Alvaro menoleh, sempat sih laki-laki itu membayangkan Dena memakai gaun merah. Alvaro kemudian merespon dengan anggukan.
Dena jadi berpikir, mungkin, di mata Alvaro gaun itu masih terlihat berwarna sama.
"Jadi, tetep kelihatan sama, Om?" ulang Dena.
"Iya," kata Alvaro.
Tapi Dena masih kurang percaya, ia kembali memastikannya.
Sebab, kalau di mata Alvaro ungu saja bisa terlihat seperti biru, masak iya warna merah nggak ada bedanya.
"Tapi kan Om buta warna, kenapa Om masih bisa ngeliat?" sangkal Dena. Bukannya ragu, tapi kalau jawabannya begini kan jadi kurang seru. Akhirnya Dena bertanya itu.
Alvaro spontan menoleh, mengernyit tipis, "Masih bisa ngeliat?"
"Memang bisa?"
Alvaro menghela napas, seperti persis menahan dongkol mendengar pertanyaan itu. "Ya bisa lah. Gue cuma buta warna, bukan buta penglihatan! Artinya ya gue masih bisa ngeliat!" sungutnya kali ini.
Sementara Dena jadi yang nyengir-nyengir sediri. Agak takut pula pertanyaannya malah bikin Alvaro tersinggung. Sembari tersenyum ia lalu berkata, "Ah... iya juga ya..."
"Eh?" Dena spontan menoleh, ketika ia merasa, kok seperti ada yang salah, dan benar saja. Ternyata memang salah. Salah paham pula.
"Aduh, maksud saya bukan itu Om, bukan kelihatan atau enggaknya saya di mata Om. Tapi warna merahnya?" ralat Dena cepat-cepat, sebelum dikira Alvaro sudah bertanya yang tidak-tidak.
"Oh." Tapi, Alvaro tetap mengangguk, seolah biarpun pertanyaan diubah, jawabannya masih sama.
Dena jadi lega, ternyata Alvaro tidak jadi marah, dan ia pun malah semakin tertarik.
Soalnya, sejauh umurnya berkelana, baru kali ini ia berbicara langsung dengan seorang penderita buta warna.
Kesempatan yang bagus untuk menambah wawasan, pikirnya.
"Jadi tetep sama aja ya, Om?" Dena antusias.
"Iya."
"Kelihatan jelas juga?"
"Jelas."
Dena membulatkan mata, menatap Alvaro lebih dalam. "Warna merah di gaun saya kan, Om?" tanyanya memastikan ulang, takut Alvaro salah paham lagi.
Alvaro menggeleng sekali, "Bukan!"
Dena langsung mengernyit, "Kok bukan?Terus yang kelihatan jelas apa dong?"
Satu detik Alvaro masih diam, begitu ada mobil nyalip satu. Ia lalu menoleh.
"Bawelnya!" sergah Alvaro.
Satu detik tidak sampai, sunyi datang.
Dan beberapa detik kemudian Dena dibuat bengong.
Tapi, walaupun Dena bengong karena jawaban Alvaro tidak sesuai ekspektasinya. Alvaro juga tidak salah sepenuhnya.
Sebab, kalau dipikir-pikir lagi, Dena ini memang terkenal bawelnya, atau lebih tepatnya suka banget ngomong di bagaimanapun keadaannya, dan kalau diam sebentar saja, mungkin Dena malah frustasi.
Dena jadi nyengir lagi.
Tapi karena Dena yang terus-terusan ngomong sampai-sampai lupa nggak pake jeda. Perjalanan mereka yang seharusnya terasa biasa-biasa saja, jadi terasa jauh berbeda.
Yang pada akhirnya membuat perjalanan mereka jadi tidak terasa lama.
Mobil terus melaju, membelah jalan raya di waktu hampir tengah malam. Di samping Alvaro, Dena masih memeluk balonnya erat-erat, macam takut balonnya tiba-tiba direbut.
...***...
"Tapi, Om. Kalau lampu merah di persimpangan, Om bisa liat nggak?"
Setelah beberapa saat terdiam. Dena tiba-tiba bertanya lagi. Seakan, stok pertanyaan di dalam kepalanya, seperti tidak pernah ada habisnya.
Alvaro menoleh, kali ini lebih sigap dari sebelumnya, "Nyala atau tidaknya?"
Dena ngangguk-ngangguk, "Iya, bisa nggak?"
"Bisa, kan dari tadi lo juga liat sendiri, gue tetep berhenti kalau di persimpangan," jawab Alvaro.
"Lah, kalau gitu artinya Om masih bisa bedain antara warna merah dengan hijau dong?" sahut Dena malah jadi ragu, sebetulnya Alvaro beneran buta warna atau tidak sih? Apa cuma pura-pura.
Alvaro melirik Dena, kebetulan mereka tiba di persimpangan. Lampunya menyala merah, dan Alvaro lantas menginjak pedal rem, padahal mobil di depan masih berani menerobos.
"Sebenarnya ya enggak kelihatan jelas bedanya," kata Alvaro sembari menatap ke arah tiang lampu lalu lintas.
"Tapi, kenapa gue bisa tau lampunya yang nyala warna merah, karena gue tau letaknya ada di atas," ungkapnya.
Mendengar itu Dena langsung mengerti. Dena lalu menoleh lagi ke arah Alvaro.
"Ah, iya juga ya. Om masih bisa tau dari letaknya ya," kata Dena sambil mengusap-usap balon ungu di pangkuannya.
"Tapi, kalau di mata Om Varo warnanya emang nggak keliatan jelas bedanya?" sambung Dena ketika tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Berarti kalau lampu lalu lintas-nya saya balik, Om bakal ngira warna ijo-nya merah dong?" tanyanya.
Alvaro mengernyit, "Serius lo nanya begitu?"
Dena mengangguk-angguk. "Jawab aja, kira-kira Om bakal berhenti atau tetep jalan?"
"Ya tetep jalan," sahut Alvaro.
"Oh ya? Kan Om nggak tau kalau itu warna ijo, kenapa Om tetep jalan?" tanya Dena.
"Kata siapa gue nggak tau? Gue tau," sanggah Alvaro.
Dena kontan mencebikan bibir, "Tau dari mana emangnya?"
"Ya dari lo, kan lo udah ngomong ke gue kalau lampu-nya mau lo balik," sahut Alvaro dengan ekspresi meledek.
Sementara Dena langsung bengong lagi.
Sunyi.
Alvaro jadi cekikikan.
Dan, Dena mulai merasa seperti terjebak oleh perkataannya sendiri.
"Kalau gitu lampunya saya balik secara diam-diam aja di belakang Om!" sungut Dena tersenyum jahil.
"Biar Om Varo berhenti, padahal warna lampunya ijo!" tambahnya mendengus-dengus. Tapi juga tertawa-tawa di detik kemudian sambil menjulurkan lidah.
Alvaro mencebik saja.
"Gue tetep jalan," sahutnya tak lama.
"Kenapa nggak berhenti?"
"Karena gue nggak lewat situ," jawab Alvaro, singkat, padat, dan membuat Dena langsung melongo.
Dena jadi terdiam, lalu menatap depan sambil menahan geram. Mobil kemudian lanjut jalan pelan-pelan.
Tapi, Dena masih diam. Alvaro jadi gemas.
"Kenapa diam? Udah capek ngasih pertanyaan?" goda Alvaro sambil tangan kirinya mencubit-cubit pipi Dena.
Dena mendengus, lalu mendorong tangan Alvaro agar menjauh dari wajahnya.
"Iya! Habisnya Om nyebelin banget sih! Saya jadi males mau nanya-nanya lagi!" sungut Dena.
Alvaro jadi tertawa, lalu dengan tersenyum ia kemudian berkata, "Baguslah, kalau lo diam, hidup gue jadi jauh lebih tenang."
Mendengar itu Dena langsung tambah geram, sampai-sampai pengen banget menendang wajah Alvaro yang selalu saja berhasil membuatnya naik pitam.
"Tauk ah, Om!"
...***...
Lima belas menit akhirnya terlampaui, dan mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan rumah kost Dena.
Sebuah rumah sederhana yang cat di dinding depannya juga sudah tidak jelas rupanya.
Mungkin dulu ketika baru ditimpa, cat-nya berwarna krem, tapi setelah beberapa bulan kemudian, sekarang sudah berubah hingga hampir terlihat seperti putih.
Terus kapan hari ketika malam nyaris gelap gulita gara-gara listrik padam serempak, warna rumah kost itu malah terlihat hampir kayak kecoklatan.
Nah, bingung kan?
Bahkan, Dena saja yang sudah cukup lama tinggal di sana, terkadang masih suka kesel sendiri.
Gara-garanya, waktu itu ia pernah berdebat dengan teman-temannya yang mau datang main.
Dena berkata kepada mereka, kalau rumah kost-nya warna putih, tapi teman-temanya langsung pada menyangkal, dan bilang kalau di mata mereka warnanya terlihat seperti kuning.
Nah, loh...kok bisa beda lagi?
Waktu itu Dena langsung berpikir. Apa jangan-jangan, rumah kost itu memang tidak punya jati diri? Masak iya warnanya bisa ganti-ganti. Memangnya situ bunglon?
Sebelum turun begitu mobil telah terparkir.
Tak lupa Dena mengucapkan terima kasih pada Alvaro yang sudah mengantarnya.
Ya, walaupun itu juga karena Mama Nita yang minta.
Tapi Dena tetap lega, setidaknya ia sudah kembali pulang ke istananya sendiri dengan keadaan sehat wal afiat.
"Langsung tidur, nggak usah begadang!" pesan Alvaro.
"Iya, Om ... Lagian siapa juga sih yang mau begadang. Orang saya udah ngantuk beneran," sahut Dena nguap-nguap sembari sibuk melepas sabuk pengaman.
"Tapi, kalau memang ada PR, jangan lupa dikerjakan. Jangan malah beneran langsung tidur!" tambah Alvaro yang sekarang malah justru doi yang kelihatan bawelnya.
"Loh?" Dena spontan menoleh.
"Memangnya saya harus tetap mengerjakan PR, Om?" tanya Dena mengernyit tipis.
"Ya iya lah. Yang namanya PR ya harus dikerjakan! Kenapa enggak?" tanya balik Alvaro, ia juga terheran-heran kenapa Dena memberi pertanyaan itu.
"Tapi kan sekarang saya udah resmi jadi calon istri pemilik sekolah..."
"Harusnya saya dikasih pengecualian soal PR atau tugas dong! Minimal buat ngurang-ngurangin beban hidup saya lah," cicit Dena berkedip-kedip manja.
Alvaro menghela napas sambil membatin, "Serius, PR atau tugas sekolah bisa jadi beban hidup seberat itu?"
Kemudian Alvaro melirik Dena begitu ia mulai sadar, calon istrinya itu sepertinya memang bukan tipe murid yang rajin. Masak iya persoalan PR saja masih dipermasalahin—ngapain?
"Baru juga calon, masih belum sah. Jadi buat apa musti dikasih!" sahut Alvaro, malas. Aslinya sih mau, tapi masih dipikir-pikir dulu.
Dena menoleh. Dan dengan lirih ia pun bertanya, "Kalau udah sah, memangnya bakal dikasih?"