Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Muda
Keesokan Harinya semua berkumpul di Alun Alun Kotaraja, semua rakyat dan petinggi menyambut dengan gembira Upacara pengangkatan Jaka Wisesa sebagai Pangeran Muda yang digelar secara besar-besaran di Alun-alun istana.
Di sana juga ada sebuah panggung dengan tinggi dua satu setengah meter, Di atas panggung Raja Arya Jaya duduk di tengah dengan kursi kebesarannya, Para pembesar mengapit di sisi kiri kanannya, Senopati Wira, di sebelah kanan dan di sebelah kiri Patih Bayu Geni, di sudut lain Pangeran Bima dan keluarganya termasuk Pangeran Rama
Sedangkan Jaka berdiri di belakang Raja Arya Jaya kakeknya, ia mengenakan pakaian kebesaran berwarna merah menyala dengan hiasan benang emas, di pinggangnya terselip Keris yang menjadi pelengkap busananya. Wajahnya yang tampan dengan rahang yang kokoh, membuat para putri bangsawan menatapnya terpesona
"Hadirin sekalian, dengarkanlah titah Paduka Raja Arya Jaya!" seru seorang juru bicara istana dengan suara lantang menggunakan tenaga dalam
Seluruh lapangan yang dipenuhi ribuan orang menjadi hening seketika.
"Dengan rahmat Dewata Agung, dan atas dasar darah keturunan yang sah, pada hari ini aku sahkan dan angkat Jaka Wisesa, putra dari Mahesa Adipati Tanjung, sebagai Pangeran Muda Wijaya Kesuma! Semoga ia menjadi pelindung rakyat dan penerus yang bijaksana!"
Suara sorak-sorai menggema luar biasa.
"Hidup Pangeran Muda!"
"Hidup Kerajaaan Wijaya Kesuma!"
Jaka diminta maju ke depan dan menerima penghormatan. Ia menunduk hormat kepada kakeknya,
Acara di sambung dengan pertandingan persahabatan , selain memeriahkan acara pengangkatan Jaka sebagai Pangeran Muda, Raja Arya jaya juga mencari generasi muda yang bisa di rekrut untuk menjadi prajurit istana, tentu saja selain ilmu silat yang tinggi mentalitas dan moralitas di utamakan
Satu per satu pendekar naik ke panggung dan bertanding.
Pertandingan ini membuat rakyat senang dan terhibur,
Hiaaaaat
Tiba-tiba, dari barisan pendekar di bawah, seorang pemuda tinggi besar melompat naik ke panggung dengan gerakan ringan
"Hamba Gajah Sari, memohon izin bertanding! Dan hamba ingin menantang... Pangeran Muda Jaka Wisesa!" seru pemuda itu dengan suara keras
" Eh sudah gila apa , mengapa malah menantang pangeran Muda!"
Seluruh hadirin terkejut. Berani-beraninya dia menantang pangeran yang baru saja diangkat!
Raja Arya Jaya menatap ke bawah, lalu menoleh ke Jaka.
"Cucuku, ini adalah kebiasaan untuk menguji kemampuan. Jika kau berkenan, lawanlah dia."
Jaka tersenyum dan mengangguk pelan.
"Baik Kakek."
Ia melangkah santai ke arena pertarungan , hanya melangkah biasa tak seperti Gajah Sari yang melompat dan bersalto saat masuk ke arena pertandingan
Jaka tersenyum saat melewati Pangeran Bima, ia sempat melihat jika Gajah sari tadi sempat berbisik bisik dengan Pangeran Bima sebelum maju ke arena pertandingan dan menantang dirinya, jelas ada yang di rencanakan dan ia harus lebih berhati hati apalagi mengingat penyerang gelap tadi malam menghilang di rumah Pangeran Bima
"Silakan Pangeran," ucap Gajah Sari saat mereka berhadapan , ia tersenyum licik dan melirik ke arah Pangeran Rama
" Silahkan" jaka memberi kesempatan pada Gajah Sari untuk menyerang duluan
Hiaaaaat
Wush!
wuuut
wuuut
Gajah Sari langsung menyerang dengan jurus-jurus yang ganas dan berbahaya, seakan ingin mengahabisi Jaka
Dengan santai Jaka menghindari serangan itu, langkahnya ringan seperti elang , membuat semua serangan gajah Sari sia sia
" pangeran mengapa hanya menghindar apa kau takut" ejek Gajah Sari sambil mengeluarkan jurus tendangan jarak jauh, Jurus Kuda Menendang Awan.
Hiaaaat!
Wuuuut
Dengan gerakan cepat dan bertenaga Gajah sari melayangkan tendangan ke arah selangkangan Jaka, membuat yang melihat terhenyak kaget akan serangan tak tahu malu itu
Jaka tak kaget menghadapi serangan tendangan Gajah Sari, ia malah masuk ke dalam jarak serangan lawan.
Wuuut
Tap
Tangannya bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan kaki Gajah Sari yang sedang menendang,
wush
Bruugh!
dengan satu hentakan Gajah sari terpental dan jatuh dari panggung saat Jaka menyentakan tangannya yang mencekal kakinya
" Horeee"
rakyat yang melihat itu bersorak senang, mereka memang tak menyukai Gajah Sari yang sombong saat naik tadi, jadi saat berhasil di jatuhkan rakyat pada senang
Wajah Gajah Sari memerah menahan malu
"Matilah kau!" tiba tiba Gajah sari mengambil sesuatu dari balik bajunya dan berteriak keras
Wush
Seeer
seeer
puluhan Jarum beracun melesat dengan jarum-jarum kecil beracun ke arah wajah Jaka!
Syuuut!
Syuut!
Syuut!
" Jaka Awas!" Raja Arya Jaya berteriak memperingati cucunya saat melihat serangan jarum beracun itu
Jaka tak bisa menghindar, jika ia menghindar rakyat yang sedang menonton akan menjadi korban jarum itu, ia dengan cepat mencabut keris di pinggangnya dan dengan gerakan cepat ia memutar keris itu
Tring
tring
tring
semua jarum berjatuhan di lantai panggung, setelah serangan jarum itu berhasil di gagalkan, Jaka melesat ke arah Gajah Sari dengan keris di tangannya
Melihat itu Gajah Sari mencabut belati dari pinggangnya,
Traaaang!
Krraaaak!
Aaaaargh
Ia mencoba menangkis namun kali ini Jaka bermain serius. Dalam tiga jurus saja, Jaka berhasil mematahkan tangan Gajah Sari yang memegang belati,
Gajah sari menjerit kesakitan , belum reda sakit di tangan satu tendangan Jaka melesat
Wuuut
bugh
Egh
Gajah sari melenguh pendek saat tendangan itu mengenai perutnya ia terduduk dengan perut mulas
Senopati Wira yang sudah mendekat ke arena saat Gajah Sari menggunakan jarum beracun itu langsung meringkus Gajah Sari
" Lepaskan " Gajah sari mencoba memberontak , namun dengan Cepat senopati Wira Pati menekannya ke tanah membuat Gajah sari tak berkutik lagi
" Katakan mengapa kau menyerang Pangeran Muda dengan senjata Rahasia!" bentak Senopati Wira Pati
" Ha ha ha. aku tak suka saja!" Gajah Sari tertawa
" katakan atau aku akan menyiksamu!" seru Patih Bayu Geni
" Sudah ku bilang aku benci melihat dia!" teriak Gajah Sari
" Baiklah , jika itu maumu!" ucap Patih Bayu Geni, ia menotok salah satu urat Gajah Sari dan mengirimkan tenaga dalamnya,
" Argh" Gajah sari menjerit, saat hawa panas menjalar dari totokan Patih Bayu Geni, rupanya Patih Bayu Geni mengirimkan tenaga dalam khasnya yang mempunyai sifat panas seperti namanya Geni.
" Bila kau tak mau bicara , aku punya waktu luang untuk menyiksamu" ancam Patih Bayu Geni
" Bunuh saja aku!" raung Gajah Sari
" Katakan atau aku akan membuat urat uratmu terbakar!"
" Mati saja kalian! Argh"
Gajah sari menjerit saat Patih Bayu Geni menambah tenaga dalamnya
" lepaskan saja ia tak akan bisa lari!" Ucap Patih Bayu Geni pada senopati Wira Pati yang masih menekan Gajah sari ke tanah
" aaargh"
saat di lepas Gajah sari bergulingan kesana kemari, wajahnya terlihat menahan sakit yang teramat sangat
" Kalian akan mati semua!" teriak Gajah sari menyumpahi
" Rupanya kau kuat juga" Patih Bayu Geni menambahkan lagi tenaga dalamnya
"Aaaaargh"
"lepaskan aku, aku akan memberitahukan mu!" Gajah Sari ang merasa tubuhnya di bakar dari dalam menyerah
Patih Bayu Geni dengan cepat melepaskan totokan nya