NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Malam Penentuan

Tiga hari telah berlalu sejak Guru Ling mengumumkan bahwa latihan terakhir Cang Li akan segera dimulai.

Siang itu, suasana di sekitar rumah kayu Guru Ling terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Angin berembus pelan melewati rumpun-rumpun bambu hitam di belakang rumah, menimbulkan suara gesekan halus yang terdengar menenangkan. Di halaman depan, Cang Li dan Su Yan duduk berdampingan di atas tangga kayu, sama-sama memandangi pepohonan hutan yang bergoyang lembut di kejauhan.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Cang Li sedang memikirkan latihan malam nanti, sementara Su Yan beberapa kali melirik ke arahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi masih ragu untuk memulainya.

Akhirnya, Su Yan membuka suara lebih dulu.

“Junior Li… malam ini kau benar-benar akan menjalani latihan terakhir itu?” tanyanya pelan.

Cang Li menoleh. “Maksud Senior… latihan di bawah air terjun saat badai datang?”

Su Yan mengangguk.

“Iya,” jawab Cang Li dengan tenang. “Guru bilang itu tahap terakhir sebelum turnamen. Kalau aku ingin menjadi lebih kuat dalam waktu singkat, aku harus melewatinya.”

Su Yan terdiam sejenak. Wajahnya tampak tidak setenang biasanya.

“Begitu ya…” ucapnya lirih.

Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Setelah beberapa detik, Su Yan justru bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjelaskan apa pun.

Cang Li mengernyit heran melihat perubahan sikap gadis itu, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. Dalam benaknya, malam nanti jauh lebih penting daripada rasa penasarannya saat ini.

Di dalam rumah, Su Yan langsung menuju ruang tengah, tempat Guru Ling sedang duduk sambil membersihkan pedangnya dengan kain tua berwarna gelap.

“Guru,” panggil Su Yan dengan nada serius.

Ling mengangkat pandangannya. “Ada apa? Wajahmu terlihat tegang sejak tadi.”

Su Yan melangkah mendekat. “Tolong hentikan latihan malam ini.”

Tangan Ling berhenti sesaat.

Su Yan mengepalkan kedua tangannya. “Saya tahu Junior Li keras kepala, dan saya tahu dia ingin menjadi kuat. Tapi latihan terakhir itu terlalu berbahaya. Di bawah air terjun saat badai petir datang? Itu bukan latihan biasa. Itu bisa membunuhnya.”

Ling menatap muridnya itu tanpa segera menjawab. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia memahami kekhawatiran Su Yan.

“Justru karena itu latihan ini penting,” jawab Ling akhirnya.

Su Yan mengernyit. “Penting sampai harus mempertaruhkan nyawanya?”

Ling meletakkan pedangnya di atas meja kayu. “Kekuatan Cang Li saat ini sudah berada di ambang batas.”

“Maksud Guru?”

Ling bersandar sedikit, lalu menjelaskan dengan nada yang lebih dalam.

“Selama dua minggu terakhir, perkembangan Cang Li memang sangat pesat. Ia berhasil mengasah insting tempurnya, mempertajam penggunaan elemen petir, dan memperkuat kontrol atas energi spiritualnya. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia lewati hanya dengan latihan biasa.”

Su Yan menatap gurunya dengan serius.

“Tubuhnya seperti wadah yang terlalu sempit,” lanjut Ling. “Semakin keras ia berlatih, semakin banyak energi yang ia dorong ke dalam tubuhnya. Masalahnya, wadah itu tidak cukup besar untuk menampung semuanya. Jika ia terus berkembang tanpa memperluas meridiannya, maka kekuatannya akan berhenti di titik ini.”

Su Yan mulai memahami, tetapi masih ada kebingungan di wajahnya.

“Jadi… latihan terakhir ini bertujuan untuk memperluas meridiannya?”

Ling mengangguk pelan. “Benar. Tekanan alam adalah cara tercepat untuk memaksa tubuhnya beradaptasi. Air terjun akan memberi tekanan fisik yang besar, sementara badai petir akan memberi tekanan spiritual yang jauh lebih berat. Jika tubuhnya mampu bertahan, kapasitas energi di dalam dirinya akan meningkat drastis.”

Su Yan terdiam.

Namun Ling belum selesai.

“Selain itu,” katanya sambil menurunkan suara, “ada satu hal lagi yang harus kau ketahui, Su Yan. Sebagian besar kekuatan di dalam tubuh Cang Li… sedang tersegel.”

Mata Su Yan langsung membelalak.

“Tersegel…?”

Ling mengangguk lagi. “Saat ini, yang bisa ia gunakan secara normal hanyalah sebagian kecil dari potensinya. Sisanya masih tertahan jauh di dalam tubuhnya. Karena itulah petir ungunya kadang terasa liar dan tidak stabil. Bukan karena dia lemah, melainkan karena kekuatan di dalam dirinya belum sepenuhnya bisa keluar dengan benar.”

Su Yan mematung beberapa saat.

Ia sudah menduga bahwa Cang Li bukan kultivator biasa, tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa kenyataannya akan sejauh ini.

“Kalau begitu…” Su Yan menelan ludah. “Latihan malam ini juga bertujuan untuk membuka sebagian segelnya?”

Ling menghela napas pelan. “Setidaknya, itu salah satu kemungkinan terbaik yang bisa kita harapkan. Jika tubuhnya berhasil beradaptasi, maka sebagian dari segel itu mungkin akan melonggar dengan sendirinya. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat kekuatannya naik ke tingkat yang sama sekali berbeda dari sekarang.”

Su Yan menunduk, mencoba mencerna semua penjelasan itu.

Namun tak lama kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya.

“Kalau ada kemungkinan terbaik,” katanya perlahan, “berarti ada kemungkinan terburuk juga, bukan?”

Ling terdiam sejenak.

Su Yan langsung tahu bahwa firasat buruknya benar.

“Ada,” jawab Ling jujur. “Jika tubuhnya tidak mampu menahan tekanan itu, maka energi yang tertahan di dalam dirinya bisa bereaksi liar. Dan jika itu terjadi… akibatnya akan sangat berbahaya.”

Su Yan merasakan dadanya menegang.

Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia juga tahu bahwa gurunya tidak akan mengatakan semua hal jika waktunya belum tepat.

Ling pun berdiri dari duduknya.

“Namun untuk saat ini, hanya ini jalan terbaik yang ada,” katanya. “Dan satu hal yang harus kau ingat, Su Yan… jangan katakan apa pun pada Cang Li tentang hal ini.”

Su Yan terkejut. “Kenapa?”

“Karena jika pikirannya terganggu sebelum latihan dimulai, tubuh dan energinya akan ikut goyah. Itu justru akan memperbesar kemungkinan kegagalan.”

Su Yan menggigit bibirnya, lalu akhirnya mengangguk pelan.

“Saya mengerti, Guru…”

Ling berjalan melewatinya dan berhenti di ambang pintu.

“Kadang-kadang,” ucapnya tenang, “menjadi kuat bukan soal memilih jalan yang aman, melainkan soal apakah seseorang sanggup menanggung harga yang harus dibayar.”

Setelah mengatakan itu, Ling pun keluar dari rumah, meninggalkan Su Yan sendirian dengan perasaan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

Sore hari, langit Desa Sura mulai tertutup awan gelap.

Suasana di sekitar hutan terasa lebih dingin dari biasanya, seolah alam sendiri sedang bersiap menyambut sesuatu yang besar. Di depan rumah, Su Yan berdiri sambil membawa pedangnya, sementara Cang Li sedang memeriksa kembali pedang kayu latihannya yang telah ia gunakan selama beberapa hari terakhir.

Su Yan menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Aku akan pulang dulu sebelum malam semakin larut,” katanya.

Cang Li mengangguk. “Baik, Senior.”

Su Yan ragu sesaat, lalu menambahkan, “Latihan malam ini… semoga berjalan lancar.”

Cang Li tersenyum tipis, jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali tiba di rumah Ling.

“Tenang saja,” jawabnya. “Aku akan baik-baik saja. Guru sudah mempersiapkan semuanya. Tidak mungkin aku tumbang hanya karena sedikit hujan dan petir.”

Su Yan memandang wajahnya beberapa detik lebih lama.

Entah kenapa, jawaban sederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Ia lalu memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil agar kegelisahannya tidak terlihat.

“Jangan terlalu percaya diri, Junior Li,” katanya, mencoba kembali ke nada bicara biasanya. “Kalau kau sampai pingsan lagi, aku tidak mau repot-repot menyeretmu pulang.”

Cang Li terkekeh pelan. “Kalau aku benar-benar pingsan, bukankah Senior pasti tetap akan menolongku?”

Su Yan langsung terdiam.

Pipinya memanas begitu cepat hingga ia sendiri merasa malu.

“Kau… banyak bicara sekarang,” gerutunya pelan sambil berbalik.

Sebelum Cang Li sempat menanggapi, Su Yan sudah melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Namun saat berjalan menyusuri jalan setapak menuju desa, pikirannya justru semakin kacau.

Angin sore mengibaskan ujung rambutnya, tetapi itu tidak cukup untuk menenangkan perasaannya.

“Ada apa denganku…” gumamnya pelan.

Ia menunduk, memandangi telapak tangannya sendiri.

Sejak kapan ia mulai terlalu memikirkan Cang Li?

Sejak kapan ia mulai khawatir berlebihan setiap kali pemuda itu terluka?

Dan sejak kapan ia mulai merasa senang hanya karena melihatnya tersenyum tipis atau mendengar suaranya memanggil “Senior” dengan nada yang setengah patuh dan setengah mengejek itu?

Su Yan menggigit bibir bawahnya pelan.

“Jangan-jangan…” pikirnya dalam hati.

Ia langsung menggeleng kuat-kuat, seolah ingin menolak kemungkinan itu.

“Tidak mungkin… kan?”

Namun semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas pula jawaban yang mulai tumbuh diam-diam di dalam hatinya.

End Chapter 32

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!