Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Haru dan Kasim berjalan dipinggiran sungai. Mereka sudah berputar mengelilingi kota ini selama tiga hari tapi mereka belum juga ketemu sama Vair. Mereka hampir saja menyerah tapi teringat hukuman yang akan mereka dapat dari tuannya benar benar membuatnya ngeri mereka terpaksa terus melanjutkan pencarian ini.
"Haru, coba kamu lacak keberadaan nona Vair dengan ilmu kebatinan kamu. Aku betul betul sudah muak sama tugas dan perintah dari tuan Mafia. Aku ingin segera menyelesaikan semua ini."
Haru mengangguk dia duduk diatas rerumputan dengan mata terpejam kedua tangan anteng memegang kedua lutut. Berkonsentrasi untuk membuka ilmu batinnya.
Melihat temannya sudah mulai beraksi. Kasim ikut duduk dan mengawasi supaya tidak ada yang mengganggunya. Harapan Kasim begitu besar kali ini. Semoga saja Haru bisa menemukan keberadaan nona Vair dan membawanya pada tuan Mafia.
Haru mengerut kening saat ilmu kebatinannya sudah terbuka, dia menggeleng ke sana kemari saat bayangan nona Vair mulai terlihat walau masih belum jelas. Haru kembali fokus supaya bayangan itu terlihat jelas tapi satu hal yang membuatnya sedikit bingung.
Vair terlihat ada didekat pinggiran sungai dengan kain jarik yang menutupi tubuhnya. sungai yang sepertinya ada satu lokasi dengannya. Haru kembali serius, lebih fokus karena merasa tidak benar dengan apa yang dia lihat melalui batinnya. tapi Kasim mengguncang bahunya cukup kencang hingga dia tidak bisa fokus dan membuka mata.
Haru menatap Kasim jengkel. "Kamu mengganggu konsentrasiku Kasi---"
"Lihat itu," Kasim menunjuk sisi sungai yang ada tidak jauh darinya. "Itu wanita mirip Nona Vair. Atau aku salah mengenali?"
Haru menajamkan penglihatan, tersenyum ketika wanita disana memang sepertinya nona Vair. "Sim, kita culik aja. Persetan wanita itu mau memberontak."
"Jangan lupa, dia punya kekuatan,"
"Halah. Bodo amat. Ayo!"
Haru dan Kasim segera meringkus wanita yang memang Vair, yang sedang mandi sekaligus mencuci pakaian. Mereka sudah muak dengan tugas ini jadi mereka tidak pedulikan Vair yang memberontak bahkan kain jarik itu hampir saja terlepas jika Vair tidak buru buru memeganginya.
"Hei!"
"Kalian kenapa culik aku? Kalian mau bawa aku kemana?!"
"Diam!" Haru dan Kasim membentaknya bersamaan. Vair hanya bisa diam dengan banyak dugaan dugaannya.
Tringgg
Mereka sudah sampai rumah besar tuan Mafia. Vair seketika merasa marah karena di bawa ke rumah ini lagi. Vair marah pada Mafia karena kemungkinan dia bersekongkol dengan Vari. Dan ini mungkin ada sangkut pautnya dengan Vari juga.
"Ah!"
Vair mengerang kesal dia melangkah dan menarik kerah pakaian Haru dan Kasim. Vair memukul, menendang, bahkan menjambak mereka dengan brutal. Tidak pedulikan jika mereka berdua bisa saja mati di tangannya.
Mafia yang tengah bersantai di kamarnya dengan dua pelayan yang sibuk mengipasinya terdiam, menajamkan pendengaran karena samar dia mendengar suara keributan dari luar rumah besarnya.
"Pelayan, periksa luar rumah. Apa yang terjadi di sana, cepat!"
"Baik tuan," satu pelayan wanita yang mengipasi di sisi kanannya pergi dari kamar Mafia untuk melihat luar rumah sesuai perintah.
Begitu sampai di ambang pintu, pelayan melihat perkelahian antara Kasim dan Haru dengan satu wanita yang menurutnya tidak asing. "Kaya pernah liat, tapi siapa? di mana?" gumam si pelayan.
Tanpa pikir panjang pelayan kembali masuk rumah dan ingin segera melapor pada tuannya. Namun, saat pelayan baru saja berbalik, dia merasa ada yang menariknya dari belakang. Pelayan menoleh dan terkejut saat wanita yang tadi sibuk kelahi sudah ada di depannya.
"Di mana tuan mu hah?!" Vair menatap tajam pelayan itu.
"Mari ikut saya. Beliau ada di kamarnya,"
"Tidak perlu aku bisa sendiri."
Whusss
Secepat angin berhembus. Vair sudah sampai di depan kamar Mafia. Tidak perlu mengetuk pintunya dia masuk dan melotot melihat pemandangan di depannya.
Brakkk
Vair menegang saat pintu kamar Mafia tertutup rapat dengan sendirinya. Vair yakin itu ulah Mafia, dia menutup pintu dengan kekuatannya. Licik!
Mafia yang berbaring hanya dengan celana pendek tanpa atasan, menyeringai iblis. Dia tidak menyangka jika Vair akan datang sendiri ke kamarnya. Hal yang Mafia tunggu tunggu. Apa lagi lihat. Vair menemuinya dengan pakaian yang membuat kedua matanya tidak bisa berpaling.
"Kamu tiba tiba datang pada ku dan sengaja ingin menggoda ku Vair? Lihat kain jarik yang menutupi badan mu. Sungguh, itu membuat lawan jenis yang melihatnya ingin segera menerkam mu. Hahahaaa..."
Cih!
"Apa kita kembali jadi musuh?" Vair menatap tajam Mafia yang turun dari tempat tidur, lalu dia berjalan kearahnya.
"Tidak."
"Lalu? Kenapa dua anak buah mu menculik aku dan membawa ku ke sini?" Vair menatap waspada saat Mafia semakin dekat dengannya. Dia takut kejadian di dalam sel tahanan terulang lagi.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Pergi setelah aku mempertemukan kamu dengan adik mu sesuai janji ku," nada suaranya terdengar sedih bahkan wajahnya tidak menunjukan becanda sedikitpun membuat Vair merasa trenyuh dan bersalah pada Mafia. Benar yang di katakannya, dirinya pergi disaat Mafia sudah menepati janjinya mempertemukannya dengan Vari.
"Maaf,"
"Kamu tahu Vair? Aku hampir gila karena satu tahun ini tidak tahu dimana keberadaanmu. Aku ingin tahu apa yang membuat kamu pergi menghilang begitu saja."
Vair menerawang kejadian waktu itu. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi. Hingga Mafia merasa bersalah karena membuat kesalah pahaman antar saudara itu terjadi. Lebih parahnya lagi Mafia membunuh Vari tanpa benar benar mencari tahu apa yang terjadi.
"Vair, maafkan aku. Aku... aku... aku---"
"Aku apa?"
"Maaf karena aku sudah membuat salah paham diantara kalian berdua."
"Halah sudahlah. Itu sudah berlalu tapi... tidak bohong rasa rindu ku pada Vari tetap ada. Mungkin seribu kali aku memutus tali persaudaraan ini tetap...tidak bisa putus begitu saja. Nyatanya...kami saudara kandung sedarah se ibu dan se ayah."
"Yeah, tapi..."
"Tapi sudahlah. Sekarang dimana Vari? aku ingin bertemu dengannya dan mencoba menjalin hub---"
"Vari sudah tiada,"
"Hah?" Vair bingung. "Sudah tiada bagaimana maksudnya?"
"Hari itu, dimana kamu pergi, aku mencari mu bersama Vari. Di tengah jalan aku tidak bisa untuk tidak memarahi Vari. Aku berpikir jika kamu pergi karena dia yang menyakitimu jadi..."
"Kamu membunuhnya?"
Mafia menunduk, mengangguk lemah.
"Jahat kamu Mafia!" Vair memukul dada Mafia membabi buta melampiaskan kemarahannya. Mafia tidak melawan. dia hanya menerima pukulan itu dengan lapang dada sesekali meringis saat organ dalamnya tertembus.
Ingat! Pukulan Vair berbeda, dia memakai tenaga dalam, jadi pukulannya berlipat lipat dari pukulan manusia biasa yang tidak punya kekuatan.
"Nyawa dibayar nyawa."