NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barter Nyawa Dan Rasa

Malam merayap turun di pinggiran Jakarta, membawa hawa lembap yang menusuk tulang. Di dalam rumah sederhananya, Nara berdiri di depan cermin buram, menatap pantulan dirinya yang terasa asing. Ia mengenakan terusan hitam pendek dengan potongan dada rendah, seragam "kerjanya" di klub malam. Lalu menutupnya dengan jaket kulit agar tak begitu kentara jika sedang sial bertemu tetangga yang belum terlelap.

Tangannya gemetar saat memoleskan lipstik merah menyala, warna yang selalu ia benci karena terasa seperti luka yang dipamerkan.

Nara menyambar tas kecilnya, berniat segera berangkat. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu kayu yang mulai lapuk itu, sebuah sentakan keras dari luar membuat pintu terdorong masuk.

"Mau ke mana, Cantik? Sudah rapi begini, bau mawar, atau mau pamer paha di depan laki-laki hidung belang?"

Nara tersentak mundur, jantungnya mencelos. Romi berdiri di ambang pintu dengan seringai miring yang memuakkan. Bau alkohol samar tercium dari napasnya, dan matanya yang merah menelusuri tubuh Nara dengan lapar.

"Mas Romi? Apa-apaan ini? Keluar dari rumahku!" seru Nara, suaranya bergetar hebat. Ia mencoba mendorong bahu pria itu, namun Romi jauh lebih kuat. Dengan satu gerakan kasar, Romi masuk dan membanting pintu di belakangnya.

Klik.

Suara kunci yang diputar membuat darah Nara membeku. Romi mengangkat kunci itu tinggi-tinggi, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.

"Mas, buka pintunya! Kita punya perjanjian! Jatuh tempo utang itu masih tiga minggu lagi!" teriak Nara, punggungnya merapat ke dinding saat Romi mulai melangkah mendekat.

Romi tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan.

"Perjanjian? Nara, jangan naif. Seratus juta itu bukan uang kecil. Kamu pikir dengan menari-nari di acara-acara pejabat-pejabat seperti cacing kepanasan itu, kamu bisa mengumpulkan seratus juta dalam tiga minggu? Jangan mimpi! Kamu tidak akan pernah sanggup melunasinya. Dan kalau pun sekarang kamu bekerja di tempat lain, sebagai pelacur mungkin, tak akan bisa melunasi uang itu segera." Nada merendahkan Romi membuat Nara mengepalkan tangan sesaat tapi dia berusaha menahan diri tidak mau sampai membuka pekerjaannya di club malam sebagai penari erotis.

"Aku akan melunasinya! Aku akan bekerja lebih keras!"

"Sudahlah, Nara. Menyerah saja," Romi kini sudah berada tepat di depan Nara, memerangkap tubuh gadis itu di antara kedua lengannya yang bertumpu pada dinding. "Aku ingin kamu. Aku ingin kamu jadi istri keduaku. Aku akan menjamin hidupmu, kamu tidak perlu lagi mengotori kakimu kemana-mana selarut ini. Aku akan memberikan apa pun, asal malam ini kamu patuh padaku."

Nara menggeleng tegas, air mata kemarahan mulai menggenang.

"Kamu gila, Mas! Ingat Mbak Sarah! Dia istri yang baik, dia sedang menunggumu di rumah. Apa yang kamu lakukan ini hanya akan menyakitinya!"

"Sarah?" Romi mendengus meremehkan. "Dia membosankan. Aku tidak peduli lagi padanya. Kalau kamu mau, malam ini juga aku akan menceraikannya. Aku akan menjadikanmu satu-satunya, Nara. Aku akan menceraikan Sarah demi kamu. Kurang apa lagi?"

Tangan Romi mulai merayap naik, hendak menyentuh leher Nara yang jenjang. Nara membuang muka dengan jijik, tangannya memukul-mukul dada Romi.

"Keluar! Kamu menjijikkan, Mas! Aku lebih baik mati daripada harus bersama laki-laki pengkhianat sepertimu!"

"Jangan keras kepala, Nara! Kamu itu sudah terpojok!" bentak Romi, ia mencengkeram bahu Nara dan mulai memaksa wajahnya mendekat ke leher gadis itu.

"Tolong! Siapa pun, tolong!" jerit Nara histeris.

BRAKKK!

Suara hantaman keras menghantam pintu depan. Sekali, dua kali, dan pada hantaman ketiga, kayu pintu itu jebol. Sosok tinggi atletis berdiri di sana dengan napas memburu. Cahaya lampu jalan dari luar membingkai tubuhnya, memberikan kesan seperti malaikat maut yang baru saja turun dari langit.

Bagaskara.

Matanya yang biasanya sedingin es kini menyala karena amarah yang murni. Ia melihat Romi yang sedang menindih Nara, dan dalam sekejap, Bagaskara menerjang. Ia menarik kerah baju Romi dan melayangkan tinju mentah tepat ke rahang pria itu.

Bugh!

Romi tersungkur ke lantai, menabrak meja kayu kecil hingga vas bunga di atasnya pecah berantakan. Bagaskara tidak berhenti. Ia menyeret Romi bangun dan kembali menghantamnya.

"Beraninya kau menyentuh apa yang menjadi milikku!" desis Bagaskara, suaranya rendah namun mengandung ancaman kematian.

Romi, yang tubuhnya tidak lebih besar dari Bagas, tidak bisa memberikan perlawanan berarti. Ia menjadi bulan-bulanan kemarahan Bagaskara. Wajahnya mulai bersimbah darah. Saat Bagaskara hendak melayangkan pukulan pamungkas, Nara berlari dan memeluk lengan pria itu dari belakang.

"Bagas, cukup! Hentikan! Kamu bisa membunuhnya!" teriak Nara di tengah isaknya.

Bagaskara berhenti, napasnya tersengal. Ia menatap Romi yang merangkak mundur menuju pintu yang sudah rusak. Romi mengusap darah dari bibirnya, menatap Bagaskara dengan dendam yang membara.

"Kau... kau tidak tahu siapa aku!" ancam Romi dengan suara gemetar. "Aku akan membunuhmu! Aku akan menghancurkan kalian berdua! Tunggu pembalasanku!"

Romi bergegas pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam dengan langkah tertatih-tatih. Keheningan yang mencekam mendadak memenuhi ruangan yang kini berantakan itu.

Nara melepaskan pegangannya pada lengan Bagaskara, kakinya terasa lemas hingga ia terduduk di lantai, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

Bagaskara berbalik, amarahnya perlahan mereda berganti dengan kekhawatiran yang asing. Ia melihat tangan kanannya yang terluka dan berdarah akibat menghantam rahang Romi, namun ia tidak peduli. Ia berlutut di depan Nara.

"Apa dia sempat menyakitimu?" tanyanya, suaranya kini jauh lebih lembut.

Nara hanya menggeleng. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berpacu liar.

"Aku... aku tidak apa-apa. Tapi kamu... tanganmu..."

Nara berdiri dengan goyah, menuntun Bagaskara menuju sofa satu-satunya di ruangan itu. Ia mengambil kotak P3K kecil dari lemari. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Nara mulai membersihkan luka di buku jari Bagaskara.

Bagaskara tidak bersuara. Ia hanya memperhatikan Nara. Ia melihat bagaimana jemari lentur itu dengan telaten mengusapkan alkohol, melihat bagaimana bulu mata Nara yang panjang masih basah oleh sisa air mata namun tetap sarat akan ketegasan. Ada kehangatan yang menjalar di dada Bagaskara, sebuah perasaan protektif yang semakin mengakar kuat.

"Kenapa dia bisa melakukan itu padamu?" tanya Bagaskara memecah keheningan. "Siapa dia? Dan kenapa dia merasa punya hak untuk mengurungmu di sini?"

Nara terdiam. Ia menekan kapas ke luka Bagaskara sedikit lebih keras, membuat pria itu meringis tipis.

"Itu bukan urusanmu, Bagas. Kamu sudah menolongku, terima kasih. Tapi setelah ini, tolong pergilah."

Bagaskara tidak menyerah. Ia menggunakan tangan kirinya untuk meraih dagu Nara, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.

"Nara, jangan coba-coba membohongiku. Aku sudah melihat semuanya. Lelaki tadi bicara soal utang. Bicara soal istri kedua. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"

Nara mencoba membuang muka, namun cengkeraman lembut namun tegas di dagunya membuatnya tak berkutik. Mata gelap Bagaskara seolah-olah bisa menembus segala benteng pertahanan yang ia bangun.

Akhirnya, pertahanan Nara runtuh.

"Aku meminjam uang padanya," bisik Nara, suaranya parau. "Seratus juta. Untuk biaya operasi dan pengobatan awal Ibu di rumah sakit waktu itu, juga untuk biaya pengobatan yang terus mencekik setiap harinya. Aku sudah buntu, Bagas. Tidak ada bank yang mau meminjamkan uang pada orang biasa sepertiku."

Nara menarik napas dalam, mencoba menahan tangis yang ingin pecah kembali.

"Dia memberikannya, tapi ternyata dia menjebakku. Dia membuatku menandatangani surat pernyataan yang isinya menyebutkan bahwa jika aku tidak bisa melunasi utang itu dalam satu bulan, aku harus bersedia menjadi istri keduanya. Dan sekarang... dia menagih janji itu bahkan sebelum waktunya tiba."

Rahang Bagaskara mengeras. Kemarahan kembali menyulut di matanya, kali ini ditujukan pada kelicikan pria bernama Romi itu.

"Seratus juta? Hanya karena uang sekecil itu kamu membiarkan dirimu diinjak-injak oleh kecoak seperti dia?"

"Uang sekecil itu bagimu adalah nyawa bagi ibuku, Bagas!" sahut Nara dengan nada pedas. "Kamu tidak tahu rasanya harus menjual harga diri di atas tiang tari setiap malam hanya untuk membeli satu botol obat, dan setelah uangnya kudapat pun selalu habis untuk menutupi biaya yang lain."

Bagaskara terdiam. Ia menatap Nara lama, lalu ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Nara sempat memberontak, namun perlahan ia menyerah, menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagaskara, membiarkan air matanya membasahi kemeja mahal pria itu.

"Dengar aku, Nara," bisik Bagaskara di telinganya. "Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhmu lagi. Besok, utangmu padanya akan lunas. Detik ini juga, kamu tidak berutang apa pun pada siapa pun."

Bagaskara melepaskan pelukannya, menatap Nara dengan tatapan yang sangat dalam dan posesif. Ia mengusap pipi Nara yang kemerahan.

"Tapi aku punya syarat," lanjut Bagaskara, suaranya berubah menjadi rendah dan menggoda, namun sangat serius. "Mulai malam ini, jangan pernah lagi melangkahkan kakimu ke klub malam itu. Aku tidak ingin ada mata lain yang melihatmu menari seperti itu."

Nara menatapnya bingung. "Lalu bagaimana aku ..."

"Menarilah hanya untukku, Nara. Menarilah hanya di atas ranjangku," ucap Bagaskara telak, membuat napas Nara tertahan di tenggorokan. "Aku akan menjamin semuanya. Hidupmu, rumah ini, biaya pengobatan ibumu di rumah sakit sampai dia sembuh total, dan semua hal yang berhubungan dengan uang. Kamu tidak perlu lagi mencemaskan angka-angka itu. Kamu hanya perlu berada di dekatku."

Nara terpaku. Penawaran itu adalah sebuah sekoci di tengah badai, namun ia tahu sekoci itu menuju ke sebuah pulau yang mungkin akan mengurungnya selamanya. Ia menatap mata Bagaskara, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketegasan seorang penguasa yang sedang mengklaim wilayahnya.

"Bagas... ini..." Nara kehilangan kata-kata.

"Jangan jawab sekarang," potong Bagaskara, ia berdiri dan menarik Nara agar ikut berdiri. "Tapi ingat, Nara. Kesabaranku ada batasnya. Dan setelah apa yang terjadi malam ini, kamu tahu dunia di luar sana terlalu kejam untuk gadis sepertimu jika sendirian."

Bagaskara melangkah menuju pintu yang rusak, berhenti sejenak untuk menoleh.

"Besok asistenku akan datang untuk membereskan pintu ini dan membawa surat pelunasan utangmu. Tidurlah. Jangan pergi ke mana-mana."

Bagaskara pergi meninggalkan Nara yang berdiri mematung di tengah ruang tamu yang berantakan. Nara menyentuh bibirnya yang masih terasa panas. Ia merasa terjepit di antara dua bara api. Romi adalah kehinaan yang nyata, sementara Bagaskara, Bagaskara adalah gairah yang akan menghanguskannya sekaligus melindunginya.

Nara menatap sisa-sisa perkelahian di lantainya. Benang takdirnya kini benar-benar telah ditarik paksa oleh tangan Bagaskara, dan ia tidak tahu apakah ia akan berakhir sebagai ratu atau hanya sekadar pajangan indah di dalam sangkar emas putra Prawijaya Group. Satu yang pasti, malam ini, aroma mawar di rumah itu telah bercampur dengan aroma keringat dan kekuasaan pria yang kini memegang kendali atas napasnya.

1
deeRa
Bacanya aku berkaca-kaca ini, Tegar ya Nara 🥺
susilawatiAce
baca novel. ini tegang
deeRa
This story is very sufficient to describe the simplicity of love, Gak sengaja baca Seruni akhirnya baca yang lain juga karya Kak Lemari kertas ini.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊
deeRa
Lagi boleh gak? 👀👉👈
Lemari Kertas: maleman ya 😄
total 1 replies
susilawatiAce
ceritanya menarik
deeRa
Setelah ini sepertinya aku juga jatuh suka sama Nara setelah Seruni😍😍
Lilla Ummaya
Lanjutt
Mira Hastati
bagus
stnk
bagus ceritanya...dari awal udah bikin emosi...
Afternoon Honey
semakin seru jalan ceritanya
Sri Astuti
seru
Putri dewi Mulya Syania
lanjut Thor seru bangett
Afternoon Honey
makin tegang dan seru jalan ceritanya
susilawatiAce
bakalan rumit nih kisah vinya bagas dan nara
Afternoon Honey
tetap menyimak cerita bersambung ini
susilawatiAce
sebentat Nara akan jadi milik mi bagas
Lemari Kertas
udah up ya guys masih nunggu review
susilawatiAce
Hasrat mengalahkan logika
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor..😍
Meiny Gunawan
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!