NovelToon NovelToon
Mawar Beracun Sang Menantu

Mawar Beracun Sang Menantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna Nellys

Warning!!

***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.

Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.

Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

Pernikahannya bukan tentang cinta.

Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.

Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.

Suaminya.

Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.

Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.

***

“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.

Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”

Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.

Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.

0o0__0o0

Warning!! Area dewasa. Tidak di sarankan untuk piyik apalagi belum mempunyai pasangan.

Ruangan itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Rison duduk diam di kursi kebesaran-nya, tubuhnya nyaris tak bergerak. Hanya jemarinya yang perlahan meremas sepotong kain hitam di tangan-nya—seolah benda kecil itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar bentuknya.

Matanya redup. Dalam. Nyaris tak berkedip.

Ia mengangkat kain itu perlahan, mendekatkan-nya tanpa tergesa. Tarikan napasnya panjang… dalam… seakan ingin menyerap sisa-sisa keberadaan seseorang yang tak seharusnya ia sentuh.

“Sial…” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Aromanya membuat ku kecanduan dan ingin merasakan langsung milik...." Guman'nya pelan. Hidungnya menghirup semakin rakus aroma underwear itu.

Namun kalimat itu menggantung tanpa penyesalan. Yang ada hanya keinginan.

Bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum, lebih seperti retakan pada kewarasan yang mulai goyah.

Obsesi itu tumbuh. Cepat. Liar.

Dan ia tidak berniat menghentikan-nya.

Dengan gerakan tiba-tiba, ia menyimpan kembali kain itu ke dalam laci. Tertutup rapat. Terkunci. Tapi bukan untuk mengakhiri—melainkan menyimpan.

Seperti rahasia.

Seperti dosa yang ingin ia ulangi.

Tangan-nya meraih ponsel. Menekan kontak sekertaris-nya yang baru beberapa bulan di rekrut.

“Ke ruangan ku. Sekarang.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar. Justru itu yang membuat-nya terdengar berbahaya.

Tut.

Tak ada ruang untuk jawaban.

Beberapa detik kemudian—

Tok… tok… tok…

Ketukan terdengar ragu. Berbeda dari biasanya.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Rina masuk, namun langkahnya kali ini sedikit tertahan. Senyumnya masih terpasang, tapi matanya mengamati tajam. Seolah ia bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di udara.

Berat.

Dingin.

Dan… tidak wajar.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak ?” suaranya halus, namun tak sepenuh-nya tenang.

Rison tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap.

Lama.

Terlalu lama.

Tatapan itu membuat udara di antara mereka menegang. Bukan ketertarikan, melainkan seperti seseorang yang sedang menilai… mengukur… atau bahkan memilih.

Rina menelan ludah pelan.

Rison akhirnya berdiri. Langkah-nya pelan. Terukur. Mengitari meja seperti pemangsa yang tak ingin buruan-nya kabur.

“Aku butuh distraksi,” ucapnya rendah. Ia berhenti tepat di depan Rina. “Dan kamu…” matanya turun sebentar, lalu kembali naik. “Selalu tahu caranya, bukan ?”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi cara Rison mengucapkan-nya—tidak.

Rina tersenyum lagi. Kali ini lebih tipis. Lebih berhati-hati. “Seperti biasa, Pak. Saya pasti akan memuaskan aset berurat milik anda.”

Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang bergeser. Karena untuk pertama kalinya, Rina merasa… dirinya bukan yang memegang kendali.

Dan di ruangan itu, sesuatu yang gelap baru saja mengambil alih.

Rina tidak bergerak sejenak.

Tatapan Rison masih tertuju padanya—tajam, menekan, seolah memerintah tanpa perlu suara.

Rina membuka gesper Rison, menarik lepas lalu melempar-nya asal. Tanya'nya menarik turun resetling... Lalu membuka pengait celananya.

Ia terdiam. Menatap gundukan yang terlihat mengembung sempurna.

"Cepat lakukan, waktuku tidak banyak." Desak Rison dengan suara datar.

Ruangan itu terasa semakin sempit.

Semakin dingin.

Namun Rina tahu… ini bukan pertama kalinya ia berada dalam situasi seperti ini.

Ia menarik napas pelan, lalu melangkah mendekat. Tumit sepatunya beradu pelan dengan lantai, menciptakan ritme yang anehnya justru mempertebal ketegangan di udara.

Ia berhenti tepat di depan Rison.

Cukup dekat untuk merasakan napas pria itu. Cukup dekat untuk menyadari… ada sesuatu yang berbeda hari ini.

Bukan sekadar hasrat.

Tapi sesuatu yang lebih gelap.

Lebih dalam.

Lebih berbahaya.

Rina menurunkan pandangan-nya perlahan, jemarinya terangkat, menarik turun celana beserta boxer Rison dengan hati-hati—seolah memastikan batas yang tak pernah benar-benar ada.

Rison tidak bergerak. Ia duduk di pinggir meja kerjanya. Namun rahang-nya mengeras. Napasnya mulai berat, tak lagi setenang sebelum-nya.

“Aku harap kamu tidak mengecewakan ku,” ucapnya rendah. "Semua yang ada di tubuhmu... Harus berguna untuk kepentingan ku."

Bukan ancaman.

Tapi terasa lebih dari itu.

Rina tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang telah ia latih bertahun-tahun.

Senyum yang menyembunyikan rasa, menyamarkan pikiran, dan menutupi… ketakutan.

Perlahan, ia bersimpuh di lantai. Tangan-nya mulai memegang pusaka Rison. Nampak besar. Panjang. Gemuk. Penuh urat yang menonjol.

Rina terdiam. Tak bergerak. Fokusnya menatap pusaka sang bos... Yang membuatnya merinding layaknya di teror hantu penampakan.

"Gerakkan tangan mu, Rina." Titah Rison datar. "Atau kamu sudah bosan punya jemari lentik ? Aku tidak keberatan memborong-nya."

Rina tersentak. "Maaf, Pak. Saya hanya sedikit tidak fokus saat melihat aset bapak yang besar."

Rison mendengus. Menyalakan rokok. Lalu menghisap dengan tenang.

Di bawah sana jari lentik Rina mulai mengurut, mengocok pelan, ritmis.

Sebenar-nya dia tidak mau ada di posisi ini, namun sayang-nya wanita itu sudah terjerat kontrak dan tidak bisa keluar. Kecuali Rison sendiri yang membuang-nya.

Rison tetap diam. Mulutnya menghisap rokok di jarinya tenang. Lalu menghembuskan asapnya lewat mulutnya.

Kepulan asap bertebaran di udara. Bercampur dengan suasana yang menegangkan namun juga membakar jiwa.

"Masukkan mulut mu." Napas Rison terdengar berat, tidak lagi teratur. "Lahap pusaka ku sampai tak tersisa..."

Hening.

Terlalu pekat.

Sementara Rina tetap berada di posisinya—tenang di permukaan, namun di dalam, seluruh indranya waspada. Tangan'nya terus bergerak naik-turun dengan cepat.

"Sial!" Umpat'nya dalam hati. "Dia mau membuatku mati tertodong asetnya...."

Tak punya pilihan lagi.

Rina menarik nafas panjang. Lalu membuka mulutnya selebar mungkin. Ia melahap aset Rison sampai tak tersisa... Sesuai dengan perintah.

Kepalanya mulai bergerak maju-mundur dengan cepat. Tangan'nya terus mengurut, mengikuti gerakan mulutnya sendiri.

Glok!

Glok!

Glok!

Suara blow job itu menggema. Memenuhi ruangan yang sunyi dan hanya di iringi deting jam dinding.

Rison menghisap rokoknya yang tinggal sedikit. Lalu menekan-nya ke asbak yang ada di samping-nya.

"Eurghhh, yeah! teruskan." Erangnya mulai menikmati. "Jangan sampai kenak gigimu."

Rina tidak menjawab. Mulutnya tersumpal penuh pusaka berurat milik sang bos. Ia hanya bisa pasrah, menurut tanpa bisa membantah.

Beberapa menit berlalu...

Lalu—

Krek…

Suara gagang pintu di putar.

Keduanya membeku.

Seketika.

Rison menoleh tajam ke arah pintu. Sorot matanya berubah bukan lagi sekadar gelap, tapi waspada… dan mematikan.

“Pak Rison ?” suara dari luar. “Saya bawa dokumen yang harus di tandatangani sekarang.”

Rina menegang.

Itu suara asisten divisi keuangan.

dia berdiri di luar pintu.

Terlalu tiba-tiba.

Dan pintu itu, tidak terkunci.

Rison mengumpat pelan di dalam hati. Refleks, tangan-nya bergerak cepat, mencengkeram bahu Rina dan menariknya bangkit.

Gerakan-nya kasar. Mendadak.

Rina hampir kehilangan keseimbangan, tapi ia cepat menyesuaikan diri. Ia masuk ke dalam kolong meja kerja milik Rison.

“Sebentar!” jawab Rison, suaranya kembali dingin. Stabil. Seolah tak terjadi apa-apa. Ia duduk di kursinya.

Namun rahangnya masih mengeras. Pelepasan sudah berada di ujung, namun terpaksa harus tertunda. Matanya melirik ke arah bawah meja.

Ke arah rahasia yang tersimpan di dalamnya. Dan ke arah Rina yang kini bersimpuh terlalu dekat dengan pusaka'nya yang masih menjulang tinggi. Menunggu jatah makan yang belum selesai di berikan

“Lanjutkan tugasmu,” bisiknya tajam, nyaris tanpa suara. "Dan jangan menimbulkan suara mencurigakan."

Rina tidak menjawab.

Ia hanya bergerak cepat. Mengocok sebentar lalu melahap kembali aset berurat itu. Mulut dan tangannya bergerak seirama, ritmis.

"Eurghhh.." Rison mengerang kembali. "Lebih cepat lagi, Bitch..."

Ia menekan kepala Rina hingga seluruh pusaka'nya tertelan dan menembus kerongkongan sekertaris-nya.

Tangan'nya mencengkeram erat rambut-nya lalu menggerakkan kepalanya sesuai keinginan-nya, tanpa peduli Rina tersiksa atau tidak.

Tok… tok…

Ketukan kedua. Lebih tidak sabar.

“Masuk,” akhirnya Rison berkata.

Klek!

Pintu terbuka.

Seorang pria masuk sambil membawa map tebal. Langkahnya terhenti sepersekian detik saat melihat ekspresi horor Rison di dalam.

“Maaf, Pak… saya tidak tahu ada—”

“Lanjutkan,” potong Rison dingin.

Nada suaranya cukup untuk membungkam.

Pria itu langsung menunduk, berjalan mendekat, meletakkan dokumen di meja. Tapi matanya sempat melirik sekilas ke arah Rison.

Sunyi.

Tegang.

Berat.

Rison menyadari itu. Ia memasang wajah datar tenang, profesional.

“Ada yang mau di jelaskan ?” ucapnya tenang, seolah paham tanpa di minta.

Pria itu mengangguk cepat, meski kerutan di dahinya belum sepenuh-nya hilang. "Laporan berikutnya akan di berikan oleh Mawar."

Rison hanya diam. Menatap dokumen di depannya. Namun pikiran-nya… tidak lagi di sana.

Mawar.

Nama itu terus menghantui otaknya.

Dan untuk pertama kalinya, Laki-laki itu merasakan sensasi yang berbeda.

Bukan hanya hasrat. Tapi juga… risiko. Dan anehnya... Itu justru membuat-nya semakin bergairah.

Udara di ruangan itu berubah.

Lebih berat.

Lebih pengap.

"Hem, baiklah." Jawabnya tenang. Meski suaranya terdengar berat. Ia merasa miliknya akan meledak sebentar lagi. "Kau boleh keluar."

Ia mendorong dokumen yang sudah di tanda tangani dengan jarinya.

Pria itu mengangguk. Mengambil dokumen itu. "Saya permisi, Pak."

Klek!

Pintu baru saja tertutup kembali.

Suara langkah kaki menjauh di lorong luar perlahan menghilang… meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

Rison tidak langsung bergerak.

Ia masih duduk di belakang meja, kedua tangan-nya bertumpu, kepala sedikit menunduk. Napasnya belum sepenuh-nya stabil.

Sementara Rina, Masih berada di tempatnya. Terjepit di antara kedua paha Rison yang terbuka lebar.

Nafasnya memburu, pengab bercampur desakan pusaka sang bos yang terasa semakin membesar. Memenuhi rongga mulutnya.

Tangan'nya dan rahang-nya terasa keram. Namun ia terus bergerak cepat. Agar blow job ini segera berakhir dan ia bisa terbebas dari siksaan pusaka Rison.

"Ssstt... Ah! Sedikit lagi, Rina." Desis Rison sambil mendesah. Ia membayangkan yang ada di bawah sana menantunya. "Shit! Mulutnya pasti sangat sempit."

Rina mengernyit heran. Namun ia tidak mengeluarkan pertanyaan yang ada di otaknya.

Hingga akhirnya.

JLEB!

Rison menekan kepala Rina, menelan seluruh pusaka'nya tanpa sisa. Dan cairan kental putihnya muncrat memenuhi rongga mulut sekertaris-nya.

Rina melotot. Memukul-mukul pelan paha Rison. Tanda ia butuh nafas.

"Aahhh... Rose!" Rison mendesah puas. Ia langsung menarik kasar rambut Rina, hingga kepala wanita itu mendongak. "Telan. Jangan sampai satu tetespun cairan saya keluar sia-sia."

Glek!

Rina menelan paksa sperma itu. Dadanya memburu naik-turun menghirup rakus udara. Wajah merah di penuhi peluh yang menetes.

"Good!" Ucap Rison. Ia menghempas kasar kepala Rina. "Keluar dan rapikan dirimu.... Jangan menimbulkan kecurigaan sekecil apapun."

Rina tidak menjawab.

Ia hanya bergerak cepat. Keluar dari kolong meja. Merapikan penampilan-nya, mengatur napas, menetralkan ekspresi.

Dalam hitungan detik, Wanita itu kembali menjadi sekretaris profesional—tanpa celah.

Tenang.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Namun hanya mereka berdua yang tahu… betapa panas-nya adegan yang baru mereka lewati.

“Pintunya…” suara Rison rendah, serak. “Tutup rapat.” Perintah. Tanpa perlu di ulang.

Rina melangkah. Pelan. Terukur. Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah sunyi. Tangan-nya meraih gagang pintu dan memutarnya pelan.

Klik.

Pintu tertutup rapat.

0o0__0o0

1
Jojo Marjoko
ngesot gak tuh 🤭🤭🤭🤭 othornya melawak di tengah ketegangan 🤭🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
si presto mintak di sleding otaknya tuh 🤣🤣🤣🤣 jahat bet dah mah Ares
mrahboy Hboy
bagus ares😍😍😍😍 jadi laki jangan lembek...apalagi istrimu banyak yang ngincer👍👍👍
Selindia Morenas
Anjai, Ares mengerikan sekali epribady 🤣🤣🤣🤣 tapi gue suka 😍😍
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
antara tegang dan pengen ngakak bayangin LC ngesot kayak suster🤣Aresmu setia Mawar gak akan tergoda selain dengan mu Dreso lebih jahat dari iblis dan binatang emang
Selindia Morenas
gas.. update nya Thor 💪💪💪
mrahboy Hboy
ayo rose....cepat selamatkan suamimu😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
kasihan Ares tak tau apa-apa malah jadi korban
Selindia Morenas: gue heran, mereka adik kakak tapi kayak musuh bebuyutan 🤭🤭🤭
total 1 replies
Qorey
lanjut thor
Selindia Morenas
siapakah itu ?
Selindia Morenas
mangkanya jaga suaminya yang bener....entar di gondol perempuan lain ... ngamok 🤣🤣🤣
Selindia Morenas
mawar benar-benar pemain 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪 semakipenasaran akoh🙏 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
Mawar memang pintar 😍😍😍😍
mrahboy Hboy
menyala mawar 😍😍😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
salfok sama Mawar apa sudah pakai celana dalam 🤭🤭🤭
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣
Jojo Marjoko
Terkadang perhatian kecil yang di abaikan justru nampak sangat berarti 😄😄😄😄 dan mawar pintar mencari cela itu 😍😍💪💪
Mita Paramita
🔥🔥🔥
sasip
sama seperti kejahatan, perselingkuhan pun bisa terjadi karena ada kesempatan.. 😉🤭😅
Qorey
bermain cantik kau mawar😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!