Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sejak pertemuan dengan Pak Arbani, ada satu hal yang langsung ia pahami—kalau ia ingin bertahan, ia tidak bisa hanya mengandalkan ingatan yang perlahan kembali. Ia butuh pijakan. Sesuatu yang nyata. Dan yang bisa dipegang.
Kontrol.
Dan itu dimulai dari hal yang paling dekat. Yaitu hak miliknya sendiri.
Siang itu, Adinda duduk di dalam mobil bersama Naya. Map berisi beberapa dokumen terbuka di pangkuannya. Bukan map dari Pak Arbani—map itu justru ia simpan rapat, seolah tidak ingin disentuh terlalu cepat.
Yang ia buka sekarang… adalah hal-hal yang selama ini terlihat kecil.
“Ini semua atas nama kamu?” tanya Naya, matanya menelusuri lembar demi lembar.
Adinda mengangguk pelan. “Sebagian iya. Tapi ada juga yang masih gabungan… sama Arya.”
Nada suaranya datar. Tidak ada lagi getaran seperti sebelumnya. Ia sudah melewati fase terkejut. Sekarang… ia mulai menyusun.
“Aset dari Pak Arbani itu aman,” lanjutnya pelan. “Dari awal memang atas namaku. Cuma… belum bisa aku akses sepenuhnya.”
Naya langsung mengerti.
“Jadi yang kamu lakukan sekarang…”
“Aku amankan yang bisa disentuh dulu,” potong Adinda tenang.
Ia menatap dokumen di tangannya.
“Kalau yang kecil aja lepas… aku gak punya pijakan buat ke yang besar.”
Nada suaranya datar. Tidak ada lagi getaran seperti sebelumnya. Ia sudah melewati fase terkejut. Sekarang… ia masuk ke fase sadar. Dan sadar itu tidak selalu ramai. Kadang justru… sangat tenang.
“Kita mulai dari rekening dulu,” ucap Naya.
Adinda menarik satu lembar data. “Aku masih ingat PIN lamaku. Kayaknya gak pernah diganti.”
“Kalau masih aktif, itu bagus,” sahut Naya. “Berarti akses awal masih di tangan kamu.”
Adinda tidak menjawab. Ia hanya menatap angka-angka di kertas itu beberapa detik lebih lama. Angka yang selama ini tidak pernah ia pedulikan. Padahal… itu hasil kerja kerasnya sendiri.
Proses di bank berjalan tanpa banyak hambatan. Adinda datang bukan sebagai orang yang bingung.
Ia tahu apa yang ia cari. Dan dia pun tahu apa yang harus ia amankan.
Beberapa rekening lama berhasil diakses kembali. Ada yang masih aktif, ada yang sudah lama tidak disentuh. Tapi satu per satu mulai kembali ke tangannya.
Petugas sempat menatapnya beberapa kali, mungkin karena perubahan data yang cukup banyak.
Namun Adinda tidak ragu, tanda tangannya mantap. tatapannya lurus. Seolah ini bukan sesuatu yang baru. Padahal… ini pertama kalinya ia benar-benar mengambil kendali penuh.
Keluar dari bank, Naya meliriknya.
“Gimana rasanya?”
Adinda menarik napas pelan. “Seperti… akhirnya pegang sesuatu yang memang dari awal milikku.”
Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lega—lebih seperti pengakuan pada dirinya sendiri.
🍀🍀🍀🍀🍀
Malam itu, Adinda berdiri di depan lemari kecil di kamarnya. Tangannya membuka satu laci bagian bawah. Di sana tersimpan beberapa berkas penting yang selama ini hanya ia anggap sebagai “arsip biasa”.
Ia menarik satu map. Surat rumah, tangannya berhenti sejenak di sana. Ia tidak langsung membukanya. Bukan karena ragu tapi karena… ia tahu, setelah ini tidak ada lagi jalan mundur.
Di ruang tamu, suara tawa kecil terdengar. Luna, Arya dan anak balitanya.
Suasana yang selama ini membuatnya menjauh… kini justru terdengar seperti sesuatu yang harus ia hadapi.
Tidak untuk masuk, tapi cukup mengimbanginya saja, Adinda membuka map itu perlahan, matanya membaca setiap baris.
Nama. Tanggal. Dan angka-angka cicilan.
Tangannya berhenti di satu bagian, catatan pembayaran. Ia membacanya lagi kali ini lebih pelan dan teliti.
Dan di sana—tertera jelas. Sebagian besar pembayaran… atas namanya, bahkan hampir seluruhnya.
Bibirnya terangkat sedikit, senyum pahit terlihat dari sudut bibirnya.
“Jadi selama ini…” bisiknya pelan.
“…aku yang mempertahankan rumah ini, tapi semuanya bersikap layaknya aku tidak punya hak apapun."
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan harinya, Adinda sudah rapi dengan pakaian kerjanya, semua orang mungkin mengiranya pergi ke kantor, tanpa ada yang tahu jika diam-diam wanita itu mulai menyelamatkan sesuatu.
Arya pun tidak banyak bertanya, dan hal itu menjadi kebetulan yang sangat menguntungkan bagi adinda.
"Din," panggilnya pelan.
Adinda menoleh sebentar. "Ada apa."
"Nanti malam ada waktu gak?" tanyanya.
Adinda mengerutkan alisnya. "Tumben."
"Gak tumben sih, tapi kamunya aja yang selalu menolakku," ucapnya tenang.
Memangnya kamu mau apa," sahut Adinda tanpa basa-basi.
Arya sedikit menggaruk pelipisnya yang tidak gatal." Ada yang mau aku omongin mengenai finansial ku yang saat ini masih dibilang masih belum memenuhi apalagi biaya Airin kemarin juga kebutuhan Axel."
"Terus," potong Adinda.
"Boleh gak Ndin untuk kali ini saja kamu pinjemin uang lagi, atau gak salah satu kartu ATM mu aku pegang."
Deg!
Jantung Adinda serasa ingin copot. Baru saja ia mengamankan benda-benda itu tapi seolah mendapatkan firasat untung saja ia bergerak lebih cepat dari yang dipikirkan.
"Gak bisa Mas, dan untuk kali ini aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kebutuhan mu dan keluargamu," ucap Adinda tenang.
"Din ayolah, aku tahu kamu punya hati yang baik."
"Dan karena itu kamu selalu memanfaatkan aku."
Setelah berbicara seperti itu tanpa menunggu jawaban Adinda langsung meninggalkan Arya yang masih terus menerus memanggil dirinya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di kantor notaris, suasana terasa lebih formal. Tapi tidak menekan. Adinda duduk dengan tenang. Naya di sampingnya, sesekali memberi isyarat kecil jika ada yang perlu diperhatikan.
Dokumen-dokumen itu disusun rapi di meja.
Perubahan nama. Penguatan hak. Dan penyesuaian kepemilikan.
Tidak semuanya bisa langsung selesai. Tapi cukup… untuk membuat satu hal jelas.
Adinda bukan lagi orang yang bisa disingkirkan begitu saja.
“Ini akan diproses bertahap, Bu,” ujar notaris.
Adinda mengangguk. “Tidak masalah.”
“Yang penting datanya sudah masuk dulu.”
“Baik.”
Keluar dari sana, langkahnya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai.
Tapi karena… ia sudah mulai bergerak.
Di dalam mobil, ia menatap lurus ke arah jalanan. Hari ini cuaca cerah. Matahari cukup terik, sama halnya dengan semangatnya yang cukup membara.
Di tengah perjalanan tiba-tiba saja Naya menoleh.
“Mereka pasti gak nyangka kamu sampai sejauh ini.”
Adinda mengangkat sudut bibirnya. “Mereka pikir aku masih sibuk cari ingatan.”
Ia berhenti sejenak. “Padahal… aku lagi ambil hidupku kembali.”
"Siip, pokonya kaku tidak boleh tinggal diam," sahut Naya.
"Tadi pagi saja, Arya tiba-tiba mau minjam ATM ku," cerita Adinda.
Naya terperangah. "Apa! Berarti insting mu mengenai ATM itu sangat kuat."
"Alhamdulillah setelah cukup lama hidup dalam kebohongan, akhirnya Allah memberi ku jalan."
🍀🍀🍀🍀🍀
Sore itu, setelah semuanya selesai ia pulang seperti biasa, langkahnya pelan saat pintu mulai terbuka.
Suasana rumah tetap sama. Tidak ada yang berubah. Dan itu… justru menguntungkan. Sintia duduk di ruang tengah. Matanya sekilas menatap Adinda yang baru masuk.
Ada sesuatu di sana. Kecurigaan. Tapi belum cukup kuat untuk dibuktikan.
“Dari mana?” tanyanya ringan.
Adinda meletakkan tasnya. "Kerja dong Bu, memangnya dari mana."
Sintia mengangguk pelan. Tapi tatapannya tidak lepas, dari raut Adinda. Seolah tahu jika ada yang disembunyikan dari menantunya itu.
"Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu terlalu sibuk di luar sana," nada suaranya seperti curiga.
"Ibu, tahu dari mana, padahal kan cuma di rumah saja," sahut Adinda tenang.
Sintia seperti kelabakan sendiri, wanita paruh baya itu dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Adinda bisa merasakannya. Namun ia tidak menoleh, ia kembali berjalan pelan dan tenang seperti biasanya.
Setelah sampai di kamar, Adinda langsung merebahkan tubuhnya seolah ingin menghilang rasa penatnya sejenak. Tapi saat dirinya baru merebahkan tubuhnya suara dering handphone terdengar.
Segera ia mengangkatnya.
"Selamat sore apa benar ini dengan Ibu Adinda," ucap suara dari seberang sana.
"Iya saya sendiri," sahut Adinda dengan hati-hati.
"Bu, saya hanya memberikan kabar jika Pak Arbani dari kemarin malam, menghilang."
Deg!
Kabar itu benar-benar membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.
Bersambung....