Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Bayangan di Kastil
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa kejadian berarti.
Selain Jovienne yang belakangan sering keasikan berlatih sampai larut. Malam ini aku sampai harus menyusulnya, karena dia tidak kunjung kembali. Sharla dan para pengawal mengira gadis itu sudah di kamar sejak tadi; padahal dia lagi-lagi berhasil menyelinap dari pengawasan mereka. Aku sungguh curiga Jovienne kembali berlatih dan tertidur di lapangan.
Tebakanku tidak salah.
Gadis itu nyaris terlelap di tengah arena, pedangnya tergolek di samping tubuh sementara ia terentang di bawah langit malam. Entah apa yang membuatnya begitu keras kepala, berlatih dengan begitu giat.
Kalau pengawalnya tahu dia di sini, mereka pasti akan panik.
Aku menarik-narik kain bajunya sampai dia bangun dan meninggalkan tempat itu. Rasanya seperti punya anak bandel yang hobinya keluyuran sampai malam.
Malam itu lorong kastil begitu hening. Hampir semua orang sudah terlelap di waktu ini. Hanya sesekali aku melihat beberapa penjaga berdiri di pos mereka atau patroli dalam diam.
Manusia yang baru aku pungut dari lapangan ini, tapi, tidak berniat segera kembali ke kamar. Lapar, katanya. Jadilah kami berjalan menyusuri koridor kastil yang hening, berusaha menyelinap ke dapur tanpa menarik perhatian demi mencari kudapan.
Di tengah kenakalan kecil itu, kami melihat sesosok bayangan. Bukan sembarang bayangan, namun satu dengan rambut keperakan. Di penjuru Kaelros, itu bukanlah warna rambut yang lazim. Keberadaannya serta merta akan tertuju pada satu nama—Havren.
Sejak insiden duel kemarin Jovienne dan Havren tidak pernah berinteraksi lagi. Bila berpapasan pun mereka tidak saling menyapa. Lebih tepatnya, Jovienne yang tidak menyapa. Havren sendiri tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi berakhir hanya tersenyum tipis. Sejak hari itu aku juga tidak sering melihat Havren, dicari ke tempat biasa aku menemukannya pun tidak ada. Mungkin dia masih butuh istirahat.
Biasanya bila sedikit saja melihat bayangan Havren, Jovienne akan putar arah, lalu kabur.
Melihat Havren berkeliaran di istana, biarpun sudah larut malam, seharusnya bukan hal aneh. Jovienne sendiri melakukannya.
Tapi…kali ini ada yang berbeda.
Dan kali ini, ketika kami melihat bayangan Havren di koridor temaram, Jovienne mengejarnya.
Havren terlihat...tidak seperti biasanya. Rambut panjangnya yang melewati bahu diikat dengan rapi di belakang kepala. Dia juga tidak mengenakan baju sutra dengan jubah panjang yang berkelip warna biru pucat seperti biasa. Kali ini dia mengenakan baju berwarna gelap dengan bahan yang tampak kasar; seperti pakaian pengembara, dengan sepatu boots tinggi dan tudung hitam.
Selain itu, gerak-geriknya sungguh membuat penasaran. Biasanya Havren berjalan dengan langkah santai dan ringan, selaiknya orang yang menikmati jalan-jalan di taman dengan waktu luang berlimpah. Tapi, kali ini dia terlihat terburu-buru. Seperti dikejar sesuatu—atau mengejar sesuatu.
Biarpun hanya melihat sepintas lalu, aku yakin sekali itu Havren.
Kami berusaha mengejar sambil menjaga suara langkah kaki agar tidak membuat keributan. Tidak tahu juga kenapa tidak terlintas pikiran untuk langsung memanggilnya.
Ketika melewati tikungan di koridor, kami… kehilangan jejak. Havren menghilang begitu saja. Dan tempat ini jauh dari menara kediamannya.
Kami menyusuri koridor itu lebih jauh. Bahkan sempat memeriksa beberapa ruangan yang terlewati, hingga mencapai gudang penyimpanan di dekat sana.
Nihil.
Tidak ada sedikitpun tanda-tandanya.
Seberapapun cepat Havren bergerak, seharusnya tidak semudah itu dia menghilang. Kami seharusnya masih bisa melihat arah kepergiannya.
Pencarian itu dihentikan karena Jovienne yang kesal semakin lapar. Lagipula berlama-lama di sana akan memancing kecurigaan yang tidak perlu untuk putri Solmara itu.
Esoknya, begitu selesai sarapan, Jovienne menjegal Havren di depan pintu kamarnya.
Niatnya sih begitu.
Sayangnya, begitu tiba di kaki menara, pelayan pribadi Havren memberitahu bahwa pangeran bungsu itu sudah tidak ada di kamarnya.
“Bagaimanapun juga ini mencurigakan. Kau setuju kan, Lumi?” Jovienne berbisik di telingaku seraya melangkah pergi. Kali ini pun aku sepakat dan mengiyakan dengan bersemangat.
...*...
...*...
...*...
Kupikir masalah ini akan tertunda lama, siapa kira siang di hari yang sama, kami bertemu Havren di atas benteng istana.
“Tidak kukira akan menemukanmu di sini, Pangeran Havren.” Seolah lupa sejak beberapa hari kebelakang dia menghindari interaksi, Jovienne menyapa lebih dulu.
Samar, Havren terlihat terkejut. “Perlu kukatakan hal yang sama untukmu, Tuan Putri.”
Jovienne menghembus napas kesal.
“Salah satu pekerjaan rumahku adalah mengenal semua sudut istana Astryion, masih banyak yang harus aku pelajari,” kilahnya.
Rasa-rasanya aku ingin menabok Jovienne karena entah kenapa tiap kali bicara pada Havren gadis itu selalu terdengar sinis dan tidak sopan. Nyaris meremehkan. Seolah gadis itu sengaja memancing, ingin membuat marah atau apa.
Terlepas dari itu, Havren selalu tampak tidak peduli dan tidak terpengaruh dengan sikapnya. Saat ini pun lelaki itu hanya tersenyum dan menunjuk arah utara dari tempat kami berdiri. “Dari sini hutan maple terlihat paling indah, saya kemari untuk menikmati perubahan warna daunnya.”
Seperti yang ia katakan, daun maple sedang puncaknya berubah warna kemerahan. Begitu cantik. Seperti karpet yang terbentang membingkai tebing Veyr dan pegunungan Nimregohr di kejauhan.
“Aku melihatmu semalam di dekat sumur belakang. Apa semalam kau tidak bisa tidur, Pangeran?”
Sesuai perangainya yang tidak suka bertele-tele, Jovienne menodongkan pertanyaan itu.
“Semalam? Hmmm,” Havren bergumam pelan. “Semalam saya tidur cepat dan tidak ke mana-mana…”
Senyum tidak pernah lepas dari wajah rupawan itu.
“Anda yakin tidak salah mengenali, Putri Jovienne?” ia bertanya hati-hati.
“Rambut perak itu siapa lagi selain milikmu?”
“Barangkali permainan cahaya bulan, sehingga mengaburkan warna?” Havren memiringkan kepala, ujung jarinya menyentuh dagu, seolah benar-benar mempertimbangkan kemungkinan itu.
Semakin lama, wajah Jovienne tampak semakin kesal.
“Atau,” tiba-tiba Havren mencondongkan tubuh, satu tangannya ditangkup di samping bibir, seperti sedang memberitahukan rahasia, “apa seseorang pernah memberitahumu tentang area berhantu di istana?”
Jovienne sedikit berjengit dan mengambil satu langkah mundur. “Aku tidak takut dengan hantu! Kastil di Solmara juga banyak cerita mistis, aku sudah terbiasa!” Ia berseru cukup keras.
Havren tertawa kecil. “Kalau begitu, mungkin salah satu arwah di istana ini ingin berteman denganmu, Putri Jovienne.”
...*...
...*...
...*...
Penjelasan Havren sama sekali tidak masuk akal.
Meski, kuakui, tidak sepenuhnya mustahil. Siapa tahu memang ada arwah yang gemar menyerupai wujud penghuni istana. Kalau memang begitu, tidak heran ada banyak perbedaan antara Havren yang asli dengan yang kami lihat kemarin.
Teori itu akan dengan mudah aku terima, dan kejadian ini akan kulupakan, kalau saja aku tidak melihat hal lain.
Aku terbangun dini hari, sekitar satu jam sebelum matahari terbit. Gara-gara tuntutan alam yang tidak bisa aku abaikan.
Pelayan telah menyiapkan tempat khusus di dalam kamar Jovienne yang bisa aku gunakan untuk buang air, sehingga urusanku selesai dengan cepat. Sayangnya, setelah terbangun, aku tidak bisa lanjut tidur, dan akhirnya memutuskan untuk memulai jalan-jalan pagi lebih awal. Tidak berniat pergi jauh, aku hanya ingin ke dapur belakang, berharap ada pelayan yang sudah bangun dan berbaik hati memberikan cemilan atau menemaniku bermain.
Di antara dinding pualam yang dingin, aku mendengar suara. Terlalu jauh sehingga aku tidak bisa menangkap apa yang dikatakan. Tidak juga aku anggap penting.
Tapi, suara satunya sangat aku kenali.
Selama berbulan-bulan (sebelum aku datang ke dunia ini) suara itu mengisi pagiku dengan sapaannya yang hangat. Tanpa melihat pun aku yakin sekali itu suara Havren.
Hanya saja, suaranya kali ini berbeda. Suara Havren dalam game begitu mirip dengan Pangeran Havren yang asli di sini (sampai rasanya adalah orang yang sama); lembut, hangat, ada selintas nada kekanakan yang selalu membuat ingin tersenyum. Saat ini, suara itu terdengar… tajam, tegas, dan—dingin. Seperti suara seseorang yang tidak menerima bantahan, seseorang yang biasa memegang kuasa.
Aku mempercepat langkah. Ingin meyakinkan diri apa aku tidak salah dengar.
Tapi yang berbicara sudah tidak di sana. Hanya sekelebat bayangan aku lihat menyelinap ke arah gerbang belakang istana. Helai rambut perak yang terhembus angin mengintip dari bawah tudung hitam.
Apa itu sungguhan Havren?
Mau ke mana dia pagi buta begini?
Melihat itu, aku yakin Jovienne benar, bagaimanapun juga ini terlalu mencurigakan. Dan hal-hal ini tidak ada dalam game.
...*...
...*...
...*...
Kayu dalam perapian yang nyaris padam itu berderak pelan.
“Apa maksudmu perlu ditunda?”
“Seseorang mulai memperhatikan kita.”
“Kalau begitu singkirkan saja.”
“Tidak. Terlalu beresiko untuk melakukannya dalam waktu dekat.”
“Lalu bagaimana?”
Sosok bertudung terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.
“Kita tidak bisa gegabah. Bersabarlah. Mereka tidak akan lolos. Tidak setelah semua dosa yang telah mereka perbuat.”