Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah sholat ashar, Asya dan Rara piket masak di dapur ndalem. Mereka asik memasak sambil sesekali bercanda ria. Asya terlihat begitu handal dalam memasak. Soal rasa, tak perlu diragukan lagi.
Tak lama kemudian, gus Kafka memasuki dapur. Ia berjalan menuju kulkas mengambil air dingin. Setelah itu ia duduk di meja makan sambil meminum air dingin itu. Matanya dari tadi tak lepas dari memandang Asya.
"Hayo loh Gus Kafka ngelihatin apa?," goda Rara sambil tersenyum
"Hus ngomong apa kamu ini?," ucap gus Kafka terkekeh sambil menundukkan pandangannya
"Sudah Gus nggak usah malu gitu sama saya," goda Rara
Asya yang mendengarkan percakapan keduanya hanya memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya Rara malah menggoda gusnya sendiri. Asya tak habis pikir, bagaimanapun juga gus Kafka adalah guru mereka. Setidaknya sebagai seorang murid harus menghormatinya.
"Kamu jangan sok tau, em-," ucap gus Kafka menatap Rara bingung
"Nama saya Rara, Gus," ucap Rara seolah tau apa yang difikirkan gus Kafka
"Iya, Rara. Kamu jangan suka berspekulasi seperti itu," ucap gus Kafka santai
"Tapi memang kenyataannya seperti itu Gus. Saya tau kok kalo sebenarnya gus Kafka selalu memperhatikan sahabat saya, kan?," ucap Rara sambil tersenyum jail
Asya melotot mendengar penuturan Rara yang asal ceplas ceplos itu.
"Maksud kamu apa?," ucap gus Kafka sedikit gugup
"Tidak perlu ditutupi Gus. Feeling saya sebagai sahabat Asya itu kuat jadi saya bisa merasakannya," ucap Rara sambil tersenyum
"Jujur saya memang kagum sama teman kamu," jawab gus Kafka santai
"Kalo gitu saya pasti-," ucapan Rara terpotong
"Saya permisi dulu, assalamualaikum," ucap gus Kafka lalu meninggalkan dapur
"Waalaikumsalam," jawab Rara dan Asya
Rara melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia melirik ke Asya yang menatapnya tajam. Rara hanya cengengesan menatap sahabatnya itu.
"Maaf ya, Sya," ucap Rara memelas
"Kamu ngapain sih ngomong kayak gitu sama gus Kafka?," ucap Asya kesal
"Aku kan ngomong apa adanya. Eh gus Kafka malah bilang kalo suka sama kamu," ucap Rara sambil tersenyum
"Terserah deh Ra," ucap Asya malas
"Cie yang dikagumi sama gus sendiri," goda Rara
"Udahlah ayo cepetan selesaikan ini. Sebentar lagi sholat maghrib nih. Kita harus kembali ke asrama," ucap Asya tanpa memperdulikan godaan dari Rara
"Oke siap, laksanakan," ucap Rara sambil memperagakan hormat membuat Asya terkekeh
Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang menguping pembicaraan Asya dan Rara di balik tembok dapur. Ia tersenyum lalu kemudian pergi dari sana.
Skip
Setelah selesai sholat maghrib dan isya' berjamaah, kini semua santri mengikuti kajian rutinitas setiap malam jumat. Biasanya yang menyampaikan kajian adalah pak kyai ataupun bisa digantikan oleh ustadz-ustadz pondok.
Banyak bisik-bisik santriwati mengenai siapa yang menyampaikan kajian kali ini. Karena pak kyai yang sedang ke luar kota.
Terlihat seorang pria muda berdiri di depan sana. Tak lupa tangannya membawa mic. Terdengar beberapa pekikan santriwati saat tau siapa sosok pria di depan sana. Ya, dia adalah gus Kafka. Pria dengan sejuta pesonanya yang mampu membuat seluruh santriwati mengaguminya dan berkhayal untuk bisa bersanding dengannya.
Asya hanya menampilkan wajah datarnya. Telinganya panas mendengar santriwati yang terlalu berlebihan dalam mengagumi gus Kafka. Itulah pikir Asya yang menganggap temannya terlalu lebay.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam gus Kafka memulai kajiannya
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh santri serempak
"Baiklah kali ini saya yang akan menyampaikan beberapa ilmu dalam kajian ini. In Sya Allah bermanfaat bagi kehidupan kalian ke depannya," ucap gus Kafka memandang seluruh santri bergantian
"Saya akan menyampaikan Kultum Tentang Ikhlas. Mungkin semua orang telah tahu apa yang namanya ikhlas, sering orang yang mengartikan ikhlas dengan melakukan sesuatu tanpa mengharap imbalan apa-apa.
Dalam agama kita, ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta'ala. ikhlas sendiri mempunyai terdapat dalam praktek-praktek kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam mengajar, ikhlas dalam beribadah, dll.
Nah, contohnya apabila kita masukkan dalam konteks ibadah, maka ikhlas berarti melakukan ibadah karena Allah SWT, bukan yang lain, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin terlihat soleh, tapi benar-benar semata-mata hanya karena Allah.
...Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: " Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama untuk-Nya."...
Ayat diatas menerangkan pada kita tentang berlaku ikhlas dalam beragama. Agama apabila tidak dilandasi dengan ikhlas dan kejujuran akan runyam dan seolah tak berbekas. Orang sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa sedikitpun menempatkan agama dalam prioritas hidupnya.
Ikhlas dalam beragama menjadi sangat penting untuk pupuk dalam diri, karena dengan ikhlas, semua urusan akan menjadi lebih terang dan mudah untuk dijalankan.
Setelah kita memahami isi dari berlaku ikhlas, maka marilah kita mulai memupuk dan melatih diri kita untuk ikhlas dalam segala hal. Sehingga apa yang telah Rasulullah siratkan dalam hadist nya tidak terjadi pada kita. Aamiin"
"Itulah yang bisa saya sampaikan malam ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Saya akhiri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap gus Kafka mengakhiri kajiannya
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh santri serempak
Seluruh santri berbondong-bondong meninggalkan masjid. Kembali menuju asramanya masing-masing karena memang setiap malam jumat, madrasah diniyah malamnya akan diliburkan.
Masjid sudah begitu sepi. Semua orang sudah meninggalkan masjid. Hanya tersisa Asya yang sedang duduk di kursi sebelah masjid. Rara sudah kembali lebih dulu ke asrama karena ia harus ke kamar mandi untuk panggilan alam mendadak, wkwk.
Asya tengah berada di taman samping masjid. Matanya memandang ke arah langit. Tak henti-hentinya ia takjub dengan keindahan langit malam hari.
"Kamu suka sama bintang?," tanya seseorang yang sudah berdiri tak jauh dari Asya
"Waalaikumsalam," sindir Asya tanpa menatap lawan bicaranya
"Eh iya, assalamualaikum Asya," ucap gus Kafka sambil tersenyum merutuki kelalaiannya
"Waalaikumsalam," jawab Asya malas
"Kamu ngapain malam-malam sendirian di sini?," tanya gus Kafka yang juga menatap langit
"Mengagumi ciptaan Allah," ucap Asya singkat
"Kamu tau tentang bintang sirius?," tanya gus Kafka
"Bintang yang paling terang kan?," ucap Asya
"Ya. Ibarat bintang, kamu itu seperti sirius. Paling terang. Ya, paling terang di hatiku," ucap gus Kafka sambil tersenyum dan menatap langit
"Asya, saya nggak pernah main-main dengan ucapan saya. Tolong buka sedikit hati kamu untuk saya," ucap gus Kafka penuh harap
"Kenapa harus saya?," tanya Asya sambil menatap lurus ke depan
"Karena rasa itu tiba-tiba hadir tanpa rencana," ucap gus Kafka menjelaskan
"Tapi saya tidak bisa Gus," ucap Asya pelan
"Saya memahaminya, mungkin ini terlalu cepat bagi kamu," jawab gus Kafka sambil tersenyum tipis
"Maaf," ucap Asya lirih
"Tidak apa. Tapi apa saya boleh minta satu hal dari kamu?," ucap gus Kafka
"Apa?," tanya Asya
"Izinkan saya memperjuangkan kamu di sepertiga malam," ucap gus Kafka membuat Asya terdiam
"Saya sadar bahwa saya tidak bisa memaksakan kamu untuk mencintai saya. Tapi tidak salah kan? Jika saya memperjuangkan kamu di sepertiga malam saya? Bukankah Allah maha membolak-balikkan hati hamba-Nya?," terang gus Kafka
"Saya kembali ke asrama dulu Gus, assalamualaikum," ucap Asya lalu berjalan menuju asrama
"Waalaikumsalam," jawab gus Kafka sambil menatap kepergian Asya
Tanpa mereka sadari jika percakapan yang terjadi tak luput dari pandangan 2 orang yang sedari tadi tersenyum misterius.