NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ketukan di pintu terdengar pelan tapi berulang.

“Room service.”

Gilang terbangun dengan kaget. Punggungnya nyeri, lantai dingin masih menempel di kulitnya. Ia bangkit perlahan, matanya setengah terbuka, kepala berat. Saat membuka pintu, seorang pelayan berdiri sopan di depan dengan troli berisi makanan.

“Selamat pagi, Pak. Sarapan untuk kamar ini. Dipesan sejak malam dan dijadwalkan dikirim jam tujuh,” ucap pelayan itu ramah.

Gilang mengerutkan dahi. “Saya nggak pesan apa-apa.”

Pelayan tersenyum kecil. “Pesanannya tercatat atas nama Ibu Valeria.”

Nama itu langsung membuat Gilang terdiam. Beberapa detik ia hanya berdiri menatap makanan di troli itu sebelum akhirnya berkata pelan, “Taruh aja di meja.”

Pelayan masuk, menata makanan, lalu pamit. Begitu pintu tertutup, kamar itu kembali sunyi.

Gilang menatap meja itu lama—sarapan lengkap dengan kopi panas dan roti panggang yang masih mengepul.

Ia menarik napas dalam, duduk di tepi ranjang, lalu memandangi cangkir itu seperti sedang memandang sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar kopi.

Gilang menatap sarapan itu lama, lalu tiba-tiba tertawa pelan—hambar, tanpa benar-benar ada rasa lucu di sana.

“Bahkan saat aku nggak kerja seperti yang dia mau,” gumamnya pelan, “aku masih dapat perhatian seperti ini.”

Ia bersandar di kursi, menatap kopi yang mulai kehilangan uapnya. Bibirnya tersenyum tipis, tapi matanya kosong.

“Lucu ya… orang kayak aku masih dikasih perhatian.”

Tangannya terulur, tapi bukan untuk mengambil makanan. Ia hanya menyentuh gagang cangkir itu sebentar, lalu menarik tangannya lagi.

Rasa lapar nggak muncul, hanya perasaan aneh yang menggantung di dada—antara bersalah, malu, dan bingung.

Gilang akhirnya mengambil sendoknya, awalnya hanya sekadar mencicipi. Suapan pertama terasa hambar di lidahnya, tapi perutnya merespons cepat. Ia mencoba lagi, satu sendok, lalu satu lagi.

Pelan-pelan, rasa itu mulai terasa—hangat, gurih, menenangkan.

Tanpa sadar, piringnya makin kosong. Gilang terus makan, tidak benar-benar menikmati, tapi seperti tubuhnya yang akhirnya sadar sudah lama kekurangan tenaga.

Sampai suapan terakhir habis, ia baru berhenti, menatap piring kosong di depannya.

Ia menarik napas pelan.

“Enak juga…” gumamnya, lirih.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, wajahnya agak tenang. Tidak bahagia, tapi juga tidak sesesak sebelumnya.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar, membuat Gilang yang sedang duduk di tepi ranjang sontak menoleh cepat. Piring sarapannya masih di atas meja, kosong tanpa sisa.

“Mbak eh bu.?” suaranya terdengar terkejut, bahkan sedikit panik. Ia refleks berdiri, padahal belum sempat merapikan diri sepenuhnya.

Valeria masuk dengan langkah tenang, blazer abu-abu muda membingkai tubuhnya rapi. Rambutnya tersisir ke belakang, wajahnya sudah siap untuk berangkat kerja. Ia menatap Gilang sebentar, lalu matanya jatuh pada meja di sebelah tempat tidur.

Begitu melihat piring yang kosong, bibirnya menipis menjadi senyum kecil. “Syukurlah,” katanya datar tapi lembut, “setidaknya perutmu sudah kenyang.”

Gilang hanya bisa menatapnya, masih setengah bingung. “Kamu… yang pesen sarapan itu?”

Valeria mengangguk ringan, lalu duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri. “Iya. Saya tahu kamu nggak bakal pesan sendiri.”

Ia menoleh, menatap Gilang dengan pandangan tenang. “Saya cuma nggak mau kamu kelaparan di kamar ini.”

“Terima kasih,” ucap Gilang pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara dengung AC kamar.

Valeria berdiri, berjalan ke arah meja, lalu meletakkan kartu akses di sana. “Ini,” katanya tenang. “Hotel ini sudah saya perpanjang sampai besok.”

Gilang mengerutkan kening. “Untuk apa?”

“Untuk kamu istirahat,” jawab Valeria datar. “Sampai hatimu tenang. Saya tidak mau kamu bekerja dalam keadaan seperti kemarin.”

Ia mengambil tasnya, menatap Gilang sejenak sebelum melangkah pergi. “Ingat Romeo, saya membayarmu untuk bisa melayani saya, bukan malah untuk menangis dihadapan saya, dengar itu!"

Pintu tertutup dengan suara klik pelan, tapi gema kata-kata Valeria masih terasa di kepala Gilang.

Ia memandangi pintu itu lama, seolah berharap perempuan itu akan kembali. Tapi tidak. Yang tersisa hanya hening dan detak jam di dinding.

Perlahan, Gilang menghela napas panjang. “Melayani, ya…” gumamnya lirih, senyum miris muncul di wajahnya. Ia menjatuhkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit. Matanya terasa panas lagi, tapi kali ini ia tahan.

“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Katanya istirahat dulu, ya. Istirahat.”

Tapi meski matanya menutup, pikirannya tetap tak bisa diam—antara malu, marah, dan anehnya, sedikit lega.

Valeria melangkah keluar dari lift dengan langkah mantap, tapi pikirannya berantakan. Begitu sampai di lobi, ia berhenti sejenak di depan pintu kaca besar. Udara pagi yang dingin menyentuh wajahnya, tapi tak cukup untuk menenangkan pikirannya.

“Kenapa aku begini, sih…” gumamnya pelan. Tangannya meremas tali tas tanpa sadar.

Ia sudah terbiasa menghadapi banyak orang—bahkan lebih dari sekadar menghadapi. Tapi entah kenapa, pria itu berbeda. Gilang bukan siapa-siapa, cuma orang yang seharusnya jadi bagian kecil dari urusannya. Tapi tiap kali melihat matanya yang kosong itu, ada sesuatu yang mengguncang.

Valeria menghela napas keras, mencoba menertawakan dirinya sendiri. “Aku nggak seharusnya repot-repot mikirin orang asing,” ujarnya lirih.

Valeria baru saja melangkah keluar ketika langkahnya terhenti mendadak. Dari arah lobi, seorang pria dengan setelan abu-abu tengah berbicara dengan dua orang lain. Ia mengenalnya tanpa perlu berpikir dua kali.

Suaminya.

Jantung Valeria seketika berdebar. Ia tak menyangka pria itu akan ada di sini. Dari cara mereka berbicara dan map yang dibawa salah satu rekannya, sepertinya mereka sedang menuju ruang rapat hotel.

Seketika Valeria mundur setapak, menundukkan kepala, lalu berbalik arah. Ia melangkah cepat ke arah lorong samping, bersembunyi di balik dinding marmer besar. Napasnya memburu.

Sial. Kalau suaminya sampai tahu dia ada di hotel ini pagi-pagi begini, pasti akan banyak pertanyaan yang sulit dijawab.

Valeria berdiri kaku di balik pilar besar. Suara langkah sepatu suaminya menggema di lorong, makin lama makin dekat. Jantungnya berdegup tak karuan, nyaris keluar dari dada. Ia tahu betul langkah itu—mantap, berirama, dan selalu diiringi aroma parfum khas yang sulit dilupakan.

Begitu pria itu lewat bersama dua rekannya, Valeria menahan napas. Ia hanya butuh beberapa detik sampai mereka menghilang di tikungan menuju ruang rapat. Baru setelah itu ia berani bergerak, melangkah cepat menjauh dari sana.

Tangannya gemetar saat menekan tombol lift. Saat pintu tertutup, tubuhnya hampir rubuh.

“Nyaris saja…” bisiknya lirih, menatap pantulan wajahnya di dinding logam.

Ketakutan mulai digantikan rasa bersalah. Ia tahu apa yang dia lakukan salah. Tapi di sisi lain, alasan di balik semuanya bukan sekadar nafsu. Ia hanya ingin satu hal—keturunan—sesuatu yang selama bertahun-tahun tak bisa ia dapatkan dari suaminya.

Namun Romeo… entah kenapa setiap kali mengingat pria itu, ada sesuatu yang lain. Bukan hanya tentang rencana, bukan hanya tentang tujuan. Ada sesuatu yang lebih rumit dari itu, dan Valeria benci menyadarinya.

Valeria hampir mencapai pintu keluar ketika suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.

“Valeria?”

Langkahnya refleks berhenti. Tubuhnya menegang seketika. Ia menoleh perlahan, dan benar saja—Bu Bertha berdiri tak jauh darinya, rapi dengan blazer biru muda, rambut disanggul sempurna seperti biasa.

“Selamat pagi, Ma,” sapa Valeria pelan, mencoba tersenyum walau wajahnya terasa kaku.

Bu Bertha menatapnya dari kepala sampai kaki, ekspresinya datar tapi penuh tanya. “Kamu di sini pagi-pagi? Ada urusan apa?”

“Ehm… rapat, Ma. Ada klien yang minta ketemu di sini,” jawab Valeria cepat, suaranya sedikit bergetar tapi cukup jelas.

“Hm.” Bu Bertha menautkan alisnya. “Rapat di hotel? Dimas juga baru ke sini, tahu. Jangan-jangan kalian satu tempat tapi nggak sengaja lewat begitu saja?”

Nada bicaranya halus, tapi ada sindiran halus di baliknya.

Valeria menunduk. “Mungkin saja, Ma. Saya juga baru mau keluar.”

Bu Bertha hanya mengangguk singkat, matanya masih menelusuri wajah Valeria seolah mencari kebohongan. Lalu tanpa banyak bicara, ia berkata, “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

“Terima kasih, Ma.”

Begitu wanita itu pergi, Valeria akhirnya bisa bernapas lega. Dada terasa sesak, seperti baru lolos dari sesuatu yang bisa meledak kapan saja.

****************

Dimas menatap meja rapat di depannya dengan rahang mengeras. Kertas proposal berserakan, beberapa di antaranya kusut karena genggaman tangannya. Dua stafnya berdiri kikuk di sisi ruangan, saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa.

Pintu tiba-tiba terbuka keras. Bu Bertha masuk dengan langkah cepat, ekspresinya dingin tapi sorot matanya penuh amarah.

“Apa yang terjadi barusan?” suaranya tajam. “Kenapa mereka keluar dengan wajah seperti itu?”

Dimas mengangkat kepala pelan, suaranya datar tapi lelah. “Mereka mundur, Ma. Katanya desain terlalu berisiko dan harga lahan belum fix—”

“Gagal lagi?” potong Bu bertha tajam, langkahnya mendekat. “Dimas, ini sudah keempat kalinya dalam dua bulan. Kalau begini terus, reputasimu bakal kalah sama istrimu sendiri!”

Kedua staf menunduk, pura-pura sibuk dengan berkas di tangan mereka.

Bu Bertha terus menatap putranya tajam. “Kamu bisa jalankan perusahaan ini atau tidak, hah? Kalau semua klien kecewa dan investor mulai mundur, kita bisa bangkrut, Dimas!”

Dimas berdiri perlahan, bahunya tegang. “Aku masih berusaha, Ma.”

“Berusaha?” Bu Bertha mendengus pendek. “Kamu terlalu lembek! Ini dunia bisnis, bukan tempat untuk orang yang masih berharap semua bisa diselesaikan dengan sabar dan waktu!”

Dimas menatap ibunya dengan wajah letih. “Aku tahu, Ma… tapi kondisi pasar—”

“Jangan salahkan pasar!” potong Bu Bertha tajam. “Masalahnya ada di kamu. Kamu kehilangan fokus sejak pernikahanmu mulai dingin. Jangan sampai urusan pribadi menghancurkan semua yang ayahmu bangun.”

Ruangan kembali hening. Hanya terdengar dengus napas Dimas yang berat.

“Keluar,” katanya pelan ke dua stafnya.

Begitu pintu tertutup, Dimas memijit pelipisnya kuat-kuat, sementara Bu Bertha masih menatapnya tanpa sedikit pun melunak.

“Kamu sadar nggak, Dim,” katanya pelan tapi menusuk, “kalau terus seperti ini, mama mungkin harus minta Valeria yang turun tangan lagi.”

Dimas menegakkan tubuhnya perlahan. Sorot matanya berubah tajam, meski lelah masih kentara di wajahnya.

“Jangan, Ma,” suaranya rendah, tapi jelas. “Aku nggak mau Valeria ikut campur lagi.”

Bu Bertha mengerutkan dahi. “Kenapa? Setidaknya dia tahu bagaimana menenangkan investor. Kamu sendiri yang bilang waktu itu kalau dia lebih lihai dalam negosiasi.”

Dimas mengepalkan tangan di atas meja, menahan diri agar tidak terpancing. “Itu justru masalahnya, Ma. Aku baru aja minta dia bantu merger kemarin. aku yang janji akan beresin sisanya sendiri. Kalau sekarang aku panggil dia lagi, orang-orang bakal lihat aku cuma numpang nama di perusahaan ini.”

Ia menunduk, menatap berkas-berkas di depannya yang terasa semakin menyesakkan.

“Semua akan bilang aku sukses karena Valeria. Bukan karena kerja keras aku sendiri, Ma,” lanjutnya lirih.

Bu Bertha mendengus pelan. “Kamu terlalu peduli sama omongan orang, Dimas. Dunia bisnis nggak butuh harga diri, yang dibutuhkan hasil.”

“Tapi aku butuh,” potong Dimas cepat, nada suaranya meninggi tanpa ia sadari. “Aku butuh bukti kalau aku bisa berdiri sendiri, bukan cuma hidup di bawah bayangan istriku, Ma!”

Ruangan itu kembali hening.

Dimas memijit pelipisnya, suaranya menurun. “Aku malu, Ma. Aku udah janji bakal buktikan kalau keputusan merger itu bukan kesalahan. Tapi sekarang? Lihat sendiri hasilnya.”

Ia menatap meja rapat yang kini berantakan, seolah itu cerminan dirinya sendiri—terbuka, kacau, dan sulit dibereskan.

Bu Bertha terdiam sesaat, ekspresinya melunak sedikit, meski nada bicaranya tetap tegas.

“Kalau begitu, buktikan. Tapi jangan biarkan rasa malu itu bikin kamu makin tenggelam.”

Dimas hanya menunduk. Ia tahu ibunya benar, tapi kata-kata itu terasa lebih seperti cambuk daripada dukungan.

Dan di dalam dirinya, ada rasa takut yang tak ingin ia akui—bahwa tanpa Valeria, mungkin memang ia tak akan pernah bisa memenangkan apa pun.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!