Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula, Masalah yang Sama
Anak kecil minggir dulu. Novel khusus dewasa.
Bantu supportnya ya, klik 👍dan ❤️
Thank's
***
“Gimana kalau saya melunasi hutang pakai tubuh saya? Saya siap ngelayani Pak Haris kapan pun kalau Pak Haris lagi kepengen.”
“Kamu mau bayar hutang yang nilainya sampai miliaran dengan tubuhmu? Gila kamu, ya?! Sampai kamu tua hutangmu masih belum akan lunas, tahu!” bentak pria berambut keperakan yang bertubuh gemuk dan pendek.
“Kamu ini sama aja nggak masuk akalnya kayak si detektif gadungan itu. Pokoknya saya nggak mau tahu. Kamu harus bayar hutang-hutangmu itu gimanapun caranya. Silakan kamu jual rumah, jual diri, atau apa punlah. Yang penting kamu bayar hutang.”
Christaly memasang wajah lebih memelas lagi. Sambil mengatupkan tangan di dada ia berusaha kembali bernegosiasi. Ia mengatakan kalau saat ini dirinya sudah nggak punya apa-apa lagi. Perusahaan tekstilnya juga sudah gulung tikar.
Sekarang Christaly juga sedang menganggur, bahkan untuk makan pun ia harus mengirit makan mie instan. Dengan kondisinya yang seperti sekarang ini, bagaimana mungkin dia bisa mencicil hutang?
Sekali lagi, Christaly berusaha meyakinkan pria berusia lima puluh delapan tahun yang berkepala botak, bermata besar, berhidung seperti hidung babi, dan berkulit hitam itu kalau satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk mencicil hutang-hutangnya hanya dengan cara dia melayaninya di tempat tidur. Tapi, usahanya sia-sia.
Lintah darat itu sama sekali tidak tergiur dengan kemolekan tubuh Christaly. Melirik pun tidak. Padahal, ia jauh lebih cantik dan lebih muda dari istri Pak Haris.
Sesaat, Christaly berpikir mungkin saja Pak Haris ini mempunyai masalah dengan penglihatannya. Atau, yang paling masuk akal karena ia sudah impoten. Memikirkan kemungkinan yang kedua itu membuat Christaly tak sadar tersipu mengerti situasinya.
“Malah senyum-senyum. Kamu denger saya tadi ngomong, nggak?!” tegur Pak Haris marah.
“Eh, emang tadi Pak Haris ngomong apa?” ulang Christaly sambil menggaruk kepalanya, merasa bodoh.
Pak Haris menggeram kesal. Padahal dia sudah bicara panjang lebar. Tapi, ternyata Christaly tidak mendengarkannya. “Huh! Pokoknya saya nggak mau tahu, dalam dua bulan ke depan hutang itu harus lunas. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya!” ancam Pak Haris.
Mata tajam pria botak yang wajahnya sama sekali tidak ramah itu lurus menatap mata Christaly. Membuat gadis muda berusia dua puluh satu tahun itu secara refleks mundur satu langkah. Ia menelan ludah. Kemudian dengan lemah ia mengagukkan kepala tanda dirinya sudah mengerti.
“Baik, Pak. Saya Janji saya akan membayar lunas hutang saya. Tapi .... Em, soal tawaran saya itu. Tolong dipertimbangkan lagi, Pak.”
Meski sudah ditolak berulang kali Christaly masih belum mau menyerah. Ia masih mencoba membujuk. “Oh, iya. Tawaran saya ini berlaku selagi hutang-hutang saya masih belum lunas. Jadi, Pak Haris tinggal bilang saja kalau Pak Haris setuju.”
“Lacur! Kamu pikir saya ini pria tolol, apa? Enak sekali kamu mau bayar utang pakai tubuhmu yang sudah bekas itu. Nggak, saya nggak mau!” kesal karena Christaly terus menerus merayunya Pak Haris pun menumpahkan caci maki. Ia mengumpat dan menyebut Christaly sampah masyarakat karena isi pikirannya yang mesum itu.
“Daripada kamu mikir gimana caranya ngerayu saya agar mau tidur sama kamu, mending kamu mikir gimana caranya biar bisa dapat uang yang banyak. Ingat, ya. Waktu kamu cuma dua bulan. Kalau kamu nggak sanggup bayar, minimal bunga-bunganya dulu, siap-siap saja. Saya bakalan laporin kamu ke polisi.”
Setelah mengatakan ancamannya yang entah telah ke berapa kalinya Pak Haris lalu membalikkan badan dan pergi. Meninggalkan Christaly yang masih syok dengan ancaman Pak Haris dan tak percaya jika rencananya untuk menggoda lintah darat itu gagal total.
Sekarang mau tidak mau dia harus mulai memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dua bulan untuk melunasi hutang-hutangnya. Sebab, sekalipun ia menjual rumah peninggalan orang tuanya, itu juga tak akan cukup.
Sepuluh milyar. Christaly juga tak yakin jika dengan menjual diri dia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Benar seperti yang dikatakan oleh Pak Haris. Sampai dia tua dan tidak menarik lagi, dia pasti belum bisa mengumpulkan uang itu.
“Huh, sial! Masa iya aku harus gantung diri juga kayak papa dan mama? Nggak banget deh mati muda.” Christaly menggigit bibir bawahnya, ia sedang berpikir keras.
“Oh, iya. Tadi Pak Haris bilang kalau kayak detektif gadungan itu, kan? Pasti yang Pak Haris maksud pria yang kata Celine halu yang rumahnya di dekat gapura pintu masuk perumahannya Celine. Yang ada plangnya di depan rumah itu. Kalau benar ....” Christaly segera mengeluarkan ponsel genggamannya untuk menelepon Celine, ia punya ide untuk mendapatkan uang.
Panggilan telepon itu tidak langsung dijawab. Sampai pada dering terakhir masih belum ada jawaban dari Celine. Tak mau menyerah, Christaly kembali meneleponnya untuk yang kedua kali. Tapi, lagi-lagi nihil. Tak ada jawaban. Sambil mengumpat kesal Christaly kembali mencoba menelepon temannya itu, hingga akhirnya terdengar suara Celine di ujung panggilan telepon.
“Hallo, Christaly. Ada apa?”
Tak mau basa-basi Christaly langsung bertanya, “Cel, kamu kenal nggak sama detektif yang kata kamu yang rumahnya dekat gapura itu?”
“Oh, si halu Sean. Aku nggak kenal secara pribadi sih, cuman tahu sedikit aja. Dan, ya, dari yang aku denger dia memang kelilit hutang sana sini,” jawab Celine. “E
Memangnya kamu ada perlu apa tanya-tanya soal Sean? Jangan bilang kamu juga mau pakai jasa detektifnya. Jangan aneh-aneh, deh, Christaly.”
“Ish, apaan sih?! Ya, nggaklah. Buat apa coba aku nyewa jasa detektif? Suruh nyari kecoak gitu?” sergah Christaly cepat-cepat.
“Aku tuh tanya karena tadi Pak Haris si muka babi itu datang ke rumah. Biasa, nagih hutang. Terus, ya, karena aku nggak punya uang dia marah-marah. Nah, pas dia lagi caci maki aku, dia sempet bilang kalau aku sama saja kayak si detektif gadungan itu. Yang dimaksud si muka babi itu pasti detektif yang rumahnya di dekat gapura itu, karena aku pernah nggak sengaja lihat mobil muka babi belok ke sana.”
“Terus?”
“Hem, si detektif itu, siapa tadi namanya?”
“Sean.”
“Ya, si Sean itu juga terlilit hutang sama kayak aku. Si muka babi ini kan sama sekali nggak mau dibayar dengan apa pun selain uang. Jadi, aku pikir karena kita punya masalah yang sama, aku bisa mengajak si Sean ini buat kerja sama.” Christaly menjelaskan. “Sebenernya aku juga bisa ngelakuin ini sendiri. Tapi, kalau berdua hasilnya pasti lebih baik.”
“Tunggu dulu. Memangnya kamu mau ngapain?” cecar Celine dengan nada curiga. “Kamu nggak berencana buat Bunuh Pak Haris, kan?”
Christaly tertawa. “Tadinya aku memang pengen ngeracunin si muka babi itu biar mampus. Tapi, aku takut ketahuan dan masuk penjara. Tenang aja, kamu nggak usah khawatir. Aku nggak mau bunuh Pak Haris, kok. Aku cuman mau nyulik istrinya terus minta tebusan sepuluh milyar. Tapi, kalau rencana ku gagal, ya, terpaksa.”
Tak ingin mendengar ocehan Celine, Christaly pun langsung menutup telepon, mematikan ponselnya agar Celine tidak bisa menghubunginya balik. Setelah itu ia pun naik ke kamar tidurnya dan mulai bersiap menyusun rencananya. Dengan penuh percaya diri Christaly yakin ia bisa mengajak Sean untuk berkomplot dengannya. Karena mereka mempunyai masalah yang sama dengan orang yang sama.