"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Diantara Kesibukan dan Rasa Sepi
Hari-hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Suasana di rumah besar itu perlahan berubah lagi. Bukan karena ada musuh yang datang, tapi karena jarak yang mulai tercipta di antara dua hati yang dulu begitu dekat.
Sejak Arga resmi memegang kendali penuh atas seluruh lini bisnis keluarga, waktunya benar-benar habis tersedot oleh pekerjaan. Pagi buta ia sudah pergi, malam hari pun sering pulang saat mata sudah mengantuk.
Komunikasi mereka pun jadi terbatas. Obrolan hangat saat makan malam yang dulu menjadi rutinitas wajib kini semakin jarang terjadi. Seringkali Kirana menyendiri makan bersama Arka yang masih kecil, sementara Arga masih terjebak di dalam rapat atau di depan laptop di ruang kerjanya.
Malam itu, seperti biasa Kirana sudah menyiapkan makan malam hangat. Ia menunggu sampai jam sembilan malam, tapi Arga belum juga turun dari ruang kerja di lantai dua.
Dengan hati-hati membawa nampan berisi makanan, Kirana naik ke lantai atas. Ia mengetuk pintu ruang kerja suaminya pelan.
Tok... tok... tok...
"Masuk," sahut suara Arga dari dalam terdengar lemas.
Kirana masuk perlahan. Ruangan itu berantakan dengan tumpukan berkas dan kertas di mana-mana. Arga duduk di balik meja kerjanya yang besar, keningnya berkerut dalam, mata tajamnya menyapu layar komputer dengan serius.
"Sayang... makan dulu yuk. Udah dingin lho nasinya," kata Kirana lembut sambil meletakkan nampan di sudut meja.
Arga hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap layar.
"Nanti aja, Ran. Ini ada data penting yang harus selesai malam ini. Kamu makan duluan sama Arka aja," jawabnya singkat, nada suaranya datar dan tidak bersemangat.
Hati Kirana terasa dicubit perlahan. "Tapi ini udah malam banget, Ar. Kamu dari pagi belum istirahat. Kasihan badan kamu, nanti sakit lagi ingat waktu dulu..."
"AKU TAU!" potong Arga tiba-tiba, suaranya meninggi sedikit karena stres. Ia melemparkan pulpen ke atas meja dengan kesal. "Kamu tuh ya, kalau ngomong jangan ngegas terus atau ngomel terus dong! Aku lagi pusing mikirin uang, mikirin masa depan kalian, eh kamu malah datang bikin tambah pusing dengan omonganmu itu!"
Kirana tertegun di tempatnya. Matanya berkaca-kaca seketika. Ia tidak memarahi, ia hanya mengingatkan dengan baik-baik.
"Aku... aku nggak marah atau nggak ngegas, Ar. Aku cuma khawatir..." bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Aku cuma mau kita makan bareng kayak dulu. Aku kangen ngobrol sama kamu."
Mendengar itu, Arga sedikit tersentak. Ia melihat wajah istrinya yang sedih dan terluka. Ia sadar ia baru saja berkata kasar.
"Ran, maaf... aku..." Arga mencoba memegang tangan Kirana, tapi dengan cepat Kirana menarik tangannya mundur.
"Udah lah. Kamu lanjutin kerja aja. Makanan taruh sini, nanti kalau lupa makan biar basi," kata Kirana mencoba tegar, tapi air mata sudah mulai menetes. Ia berbalik badan dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu, menutup pintu pelan namun terasa berat.
Arga memukul meja kerja sendiri dengan frustrasi.
"Dasar bodoh... mulut gua nih ya..." umpatnya pada diri sendiri. "Padahal niatnya baik, kenapa jadi gitu sih..."
Tapi rasa lelah dan tumpukan pekerjaan membuatnya kembali terpaku pada kursi. Ia tidak segera mengejar istrinya untuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Ia pikir besok pagi juga akan baik-baik saja.
Pagi harinya, suasana di kamar tidur terasa canggung dan dingin.
Arga bangun dan melihat Kirana sudah berdandan rapi, sedang merapikan baju Arka yang sudah mulai bisa duduk dan memegang mainan sendiri.
"Sayang..." panggil Arga serak. "Maafin aku semalem ya. Aku lagi stres banget jadi ikutan ngomel. Maafin aku ya?"
Kirana tidak menoleh, ia tetap sibuk memakaikan topi ke kepala anaknya.
"Iya, gapapa. Kamu kan capek," jawabnya datar tanpa ekspresi. "Aku siapin baju kamu udah di gantungan. Aku mau ajak Arka jalan pagi ke taman depan, dia lagi rewel soalnya."
"Eh... iya. Hati-hati ya."
Kirana keluar kamar tanpa mencium pipi Arga seperti biasanya. Pagi yang biasanya hangat dan penuh ciuman selamat pagi, kini terasa hambar.
Arga menghela napas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang retak lagi. Tapi ia menenangkan diri dengan berpikir bahwa ini hanya masalah waktu saja. Nanti juga membaik sendiri.
Namun dugaannya salah. Hari demi hari, sikap Kirana berubah drastis. Wanita itu menjadi sangat pendiam, sangat mandiri, dan seolah tidak butuh Arga sama sekali.
Ia tidak lagi menunggu Arga pulang malam. Ia tidak lagi menyiapkan makanan hangat. Ia lebih suka mengurung diri di kamar bersama Arka, atau keluar rumah mengikuti kegiatan arisan atau komunitas ibu-ibu muda.
Suatu sore, Arga pulang lebih awal karena merasa bersalah. Ia ingin mengajak istri dan anaknya makan malam di luar untuk memperbaiki suasana.
Tapi saat ia sampai di rumah, rumah terasa sepi.
"Bi Sumi! Nyonya sama Tuan Muda mana?" tanya Arga.
"Oh, Tuan. Non Kirana tadi dijemput temannya, katanya mau makan malam di luar sama teman-temannya. Pesannya kalau Tuan pulang, makan dulu saja, katanya dia mungkin pulang malam," jawab Bi Sumi hati-hati.
Wajah Arga berubah masam.
DIJEMPUT TEMAN? MAKAN MALAM DI LUAR? GAK BILANG-BILANG?!
Rasa cemburu dan rasa kesal bercampur menjadi satu. Ia duduk di ruang tamu sendirian menunggu. Perut lapar tapi tidak nafsu makan. Hatinya panas melihat rumah yang begitu besar dan mewah tapi terasa kosong melompong tanpa tawa istrinya.
Pukul 9 malam, suara mobil terdengar di halaman. Kirana masuk dengan wajah ceria, tertawa kecil sambil memegang HP-nya, sepertinya masih lanjutan obrolan dengan temannya.
Saat melihat Arga duduk gelap di sofa, Kirana kaget sedikit.
"Oh... kamu udah pulang, Ar?" tanyanya santai lalu berjalan mau naik tangga.
"Kamu dari mana aja?!" tanya Arga dingin, suaranya terdengar seram di ruang yang gelap itu.
Kirana berhenti langkahnya. "Dari makan sama temen-temen dong. Kan aku bilang ke Bi Sumi."
"Bilang apa?! Bilang kalau kamu pergi malam-malam, sama siapa, pulang jam berapa?! Kamu pikir aku ini apa?! Suami atau temen sekamar doang?!" bentak Arga, amarahnya meledak karena rasa cemburu dan rasa diabaikan selama ini.
Kirana menoleh, matanya menatap Arga tajam, tidak seperti biasanya yang selalu takut atau menangis.
"Terus kamu mau apa? Kamu aja yang sibuk sama kerjaan kamu, yang pulang tengah malam, yang ngomong kasar kalau ditanya baik-baik! Kamu anggap aku ada apa?! Pembantu yang tugasnya cuma nungguin kamu pulang terus disuruh-suruh?!" balas Kirana tidak mau kalah. Suaranya juga meninggi.
"AKU KERJA ITU KARENA UNTUK KITA!"
"AKU GAK MINTA KAYA RAYA! AKU CUMA MINTA WAKTU KAMU!" teriak Kirana memotong, air matanya akhirnya jatuh. "Dari awal nikah sampai sekarang, masalahnya selalu sama! Waktu kita dikit! Kamu anggap uang bisa beliin segalanya ya?! Uang bisa gantiin waktu kamu main sama Arka?! Bisa gak?!"
Suara Kirana bergetar hebat menahan tangis yang meledak.
"Selama kamu sibuk, aku sendirian Arga! Aku ngurus anak sendirian, aku tidur sendirian, aku makan sendirian! Rasanya aku kayak janda tapi punya suami! Aku capek! Aku bosen hidup begini!"
Hentakan suara itu membuat Arga terdiam kaku. Kata-kata itu menusuk jantungnya lebih sakit daripada pukulan benda tajam.
'Janda tapi punya suami'...
Betapa hancurnya peran dia sebagai suami sampai istrinya merasa seperti itu.
"Ran... aku..." Arga kehilangan kata-kata. Wajahnya pucat menyadari kesalahannya yang fatal.
"Aku mau istirahat. Jangan ikut kamar dulu. Aku mau tidur sama Arka," kata Kirana dingin, lalu berbalik naik tangga meninggalkan Arga yang terpaku diam di kegelapan ruang tamu.
Malam itu Arga tidur di sofa ruang tamu. Dingin, sepi, dan penuh dengan penyesalan yang mendalam. Ia sadar, ia hampir kehilangan lagi apa yang paling berharga dalam hidupnya karena kesibukan yang tak terkontrol.
Dan di kamar atas, Kirana memeluk Arka erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Maafin Ibu ya Nak... Ibu janji Ibu kuat... tapi Ibu kangen banget sama Ayah yang dulu..."