NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Pertemuan Pertama

Hari itu bergerak dengan ritme yang terasa lebih lambat dari biasanya, seolah waktu sengaja ditarik lebih panjang tanpa alasan yang jelas. Sejak pagi, Airel Virellia sudah berusaha menjalani semuanya seperti rutinitas yang selama ini ia pegang, datang tepat waktu, duduk di kursi yang sama, dan membuka buku dengan sikap yang terlihat tenang. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah, tidak ada tanda bahwa pikirannya sedang tidak berada di tempat yang sama dengan tubuhnya.

Namun di dalam dirinya, sesuatu tidak berhenti bergerak.

Nama itu terus muncul tanpa diminta, berulang di kepalanya dengan cara yang tidak bisa ia hentikan. Zevarion Hale, dua kata yang sederhana, tetapi membawa terlalu banyak hal yang tidak bisa ia jelaskan. Wajah itu juga ikut muncul, tidak lagi samar seperti sebelumnya, melainkan jelas dengan detail yang semakin sulit untuk diabaikan.

Airel mencoba fokus pada penjelasan dosen di depan, mencoba menangkap setiap kata yang disampaikan. Tangannya tetap menulis, mencatat beberapa poin penting, bahkan sesekali mengangguk seolah benar-benar mengikuti alur pembelajaran. Namun di sela-sela itu, pikirannya tetap terlepas, kembali pada satu momen yang terus berulang tanpa henti.

Tatapan itu.

Jarak yang terlalu dekat.

Dan sesuatu yang terasa lebih dari sekadar kebetulan.

Kelas berakhir tanpa ia benar-benar menyadari kapan tepatnya dosen menutup pembelajaran. Suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang memenuhi ruangan kembali menariknya ke kenyataan. Airel menutup bukunya perlahan, gerakannya tenang, meski pikirannya masih tertinggal di tempat lain.

“Kamu pulang sekarang?” tanya Kalista dari samping, nada suaranya ringan namun tetap penuh perhatian.

Airel mengangguk kecil. “Iya.”

Kalista memperhatikannya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Jangan bengong di jalan.”

Airel hanya membalas dengan sedikit lengkungan di bibirnya, tidak benar-benar menjawab, lalu berdiri dan berjalan keluar kelas bersama arus mahasiswa lainnya.

Koridor kampus terasa lebih padat dari biasanya, suara percakapan bercampur dengan langkah kaki yang saling bersahutan. Beberapa orang berdiri berkelompok di sudut, sementara yang lain berjalan cepat tanpa berhenti, seolah sudah punya tujuan yang jelas sejak awal. Airel melangkah di antara mereka dengan ritme yang sama, tidak terburu, namun juga tidak benar-benar santai.

Pikirannya masih belum kembali sepenuhnya.

Ia tidak benar-benar memperhatikan arah orang-orang di sekitarnya, tidak menyadari seseorang yang berbelok dari sisi berlawanan dengan kecepatan yang hampir sama. Dan dalam satu detik yang terlalu singkat untuk dihindari, bahu mereka bertabrakan.

Buku di tangan Airel hampir terlepas.

Refleks, ia menggerakkan tangannya untuk menahan, sementara tangan lain juga bergerak pada saat yang sama. Jari mereka bersentuhan, hanya sebentar, tetapi cukup untuk membuat semuanya terasa berbeda.

Airel terdiam.

Waktu seperti tersendat di titik itu, tidak benar-benar berhenti, namun melambat dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia mengangkat wajahnya perlahan, dan di sana, tepat di hadapannya, berdiri sosok yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Lebih nyata.

Zevarion Hale.

Jarak mereka tidak sampai satu langkah, cukup dekat untuk melihat detail yang sebelumnya tidak sempat ia perhatikan. Garis wajahnya terlihat jelas, sorot matanya dalam dan tidak mudah ditebak, dan ada ketenangan yang tidak berubah dari ekspresinya.

Airel tidak langsung menarik tangannya, begitu juga Zev tidak segera menjauh. Sentuhan itu memang sudah terlepas, tetapi sisa dari momen itu masih terasa, seperti ada sesuatu yang tertinggal di antara mereka.

“A… maaf,” ucap Airel pelan.

Suaranya terdengar lebih kecil dari biasanya, hampir tenggelam oleh suara orang-orang di sekitar.

Zev menatapnya.

Beberapa detik berlalu tanpa kata, lebih lama dari yang seharusnya untuk sekadar menanggapi permintaan maaf. Ada sesuatu dalam cara ia melihat, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa langsung ia tangkap.

“Enggak apa-apa,” jawabnya singkat.

Suaranya rendah dan tenang, namun cukup untuk membuat Airel sulit mengalihkan pandangan.

Mereka terdiam setelah itu.

Orang-orang terus berjalan di sekitar mereka, beberapa hampir menyenggol bahu mereka, namun keduanya tetap berdiri di tempat yang sama. Seolah ada ruang kecil yang terbentuk di antara keramaian, ruang yang hanya berisi mereka berdua tanpa gangguan.

Airel bisa merasakan detak jantungnya sendiri dengan jelas, lebih cepat dari biasanya, lebih terasa setiap detiknya. Namun bukan hanya karena jarak yang terlalu dekat, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa ia jelaskan.

Perasaan itu muncul lagi.

Familiar.

Namun juga asing.

Seperti sesuatu yang pernah ia kenal dengan sangat dekat, tetapi tidak bisa ia ingat sepenuhnya.

Zev sedikit mengernyit, sangat tipis hingga hampir tidak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia juga merasakan sesuatu. Tatapannya tidak langsung berpaling, seolah ia juga mencoba memahami hal yang sama.

“Kamu…,” ucapnya pelan, lalu berhenti.

Kata itu menggantung di antara mereka, tidak selesai, seperti ia sendiri tidak yakin bagaimana melanjutkannya.

Airel menatapnya, menunggu tanpa sadar.

Namun Zev tidak melanjutkan kalimat itu, ia hanya mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali menatap Airel.

“Gapapa,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.

Airel mengangguk kecil, meski tubuhnya tidak langsung bergerak. Zev juga masih berdiri di sana, menciptakan jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Airel menggenggam bukunya sedikit lebih erat, mencoba menahan sesuatu yang tidak ia pahami. Ia ingin mengatakan sesuatu, apa saja, tetapi kata-kata terasa sulit untuk keluar. Yang terasa lebih kuat justru bukan percakapan, melainkan getaran yang tidak terlihat namun jelas terasa.

Zev menarik napas pelan, lalu sedikit memiringkan kepala, seolah mencoba melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Tatapannya kembali fokus pada Airel, lebih dalam, lebih lama.

Dalam satu detik itu, sesuatu terasa sangat dekat.

Seperti ada benang tipis yang menghubungkan mereka.

Tidak terlihat.

Namun ada.

Airel menelan pelan, tangannya terasa sedikit dingin, sementara di saat yang sama ada kehangatan yang muncul tanpa alasan yang jelas. Kontras itu membuatnya semakin sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku jalan dulu,” kata Zev akhirnya.

Nada suaranya tetap tenang, namun ada jeda kecil sebelum kalimat itu keluar, seolah ia juga tidak sepenuhnya ingin memutus momen itu.

Airel mengangguk.

“Iya.”

Satu kata itu cukup untuk mengakhiri jarak yang tadi terasa terlalu dekat.

Zev melangkah melewatinya, jarak mereka kembali berubah dalam satu gerakan sederhana. Saat ia lewat di sampingnya, Airel bisa merasakan hembusan angin tipis yang mengikuti langkahnya.

Dan dalam satu detik yang sangat singkat, langkah Zev melambat.

Hanya sedikit.

Seolah ada sesuatu yang menahannya.

Namun ia tetap melanjutkan.

Airel tidak langsung berbalik, ia tetap berdiri di tempatnya dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. Pikirannya kosong, tetapi perasaannya justru penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Beberapa detik kemudian, ia akhirnya menoleh.

Zev sudah beberapa langkah di depan, tetapi pada saat yang sama, ia juga berhenti.

Dan perlahan, ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu lagi.

Lebih singkat kali ini, namun tetap cukup untuk membuat sesuatu bergetar di dalam diri Airel.

Tidak ada kata yang keluar.

Tidak ada gerakan tambahan.

Hanya satu pandangan yang menyisakan banyak hal yang tidak terucapkan.

Zev mengalihkan pandangan lebih dulu, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berhenti lagi.

Airel menatap punggungnya yang semakin menjauh, jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun bukan hanya karena kejadian tadi, melainkan karena sesuatu yang tertinggal setelahnya.

Ia tidak tahu apa itu.

Namun ia tahu satu hal.

Ini bukan sekadar kebetulan.

Airel menunduk sedikit, tangannya menyentuh ujung buku yang tadi hampir jatuh. Sentuhan itu masih terasa, singkat, tetapi meninggalkan sesuatu yang lebih lama.

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkah lagi. Namun langkahnya tidak lagi sama seperti sebelumnya, karena ada sesuatu yang sudah berubah.

Mereka bukan lagi dua orang yang hanya saling melihat dari kejauhan.

Mereka sudah berbagi jarak.

Berbagi tatapan.

Dan tanpa benar-benar mengerti, berbagi sesuatu yang sama.

Meski percakapan itu singkat, yang tertinggal justru jauh lebih besar dari kata-kata yang mereka ucapkan. Bukan tentang apa yang dikatakan, melainkan tentang apa yang mereka rasakan, sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja dan tidak bisa dikembalikan seperti semula.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!