NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persekutuan Rahasia dan Janji Sang Penjaga

Suasana di koridor paviliun putri tampak sunyi, namun di dalam kamar Princess Aurelia, ketegangan terasa begitu nyata. Aurelia sedang menatap sepupunya, Princess Elara, dengan tatapan memohon yang paling dalam. Elara, yang kini telah tumbuh menjadi gadis remaja dengan keanggunan sempurna, tampak sedang menimbang-nimbang permintaan nekat adiknya itu.

"Kamu ingin pergi ke pasar rakyat lagi? Dan ke sungai itu? Aurelia, apa kamu sudah gila?" bisik Elara dengan suara tertahan. Rambut pirangnya yang indah berkilau tertimpa cahaya lilin. "Penjagaan sekarang tidak sama seperti saat kita umur sepuluh tahun. Ayahmu menempatkan prajurit tambahan di setiap sudut!"

Aurelia memegang tangan kakaknya yang putih dan halus. "Tolonglah, Kak Elara. Aku merindukan udara luar. Aku merindukan tawa yang jujur. Lucas akan menjagaku, aku berjanji."

"Lucas? Pemuda wakil kepala logistik itu?" Elara menyipitkan matanya. "Aku harus melihatnya sendiri dulu. Aku tidak bisa membiarkan adikku pergi dengan sembarang orang tanpa memastikan dia bisa melindungimu. Bawa dia ke sini, lewat jalan rahasia perpustakaan."

Aurelia terkejut, namun segera mengangguk. Dengan bantuan peluit kayu yang ditiup sangat pelan di dekat jendela, tak lama kemudian Lucas muncul di ruang baca tersembunyi dengan pakaian yang lebih rapi namun tetap sederhana.

Saat Lucas masuk, ia segera membungkuk hormat kepada kedua putri tersebut. Elara menatap Lucas dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang tajam. Ia berjalan mengelilingi Lucas, memeriksa sikap tubuh dan cara pemuda itu menatap Aurelia.

"Jadi, kau adalah Lucas," ujar Elara dengan nada kaku khas bangsawan. "Adikku sangat mempercayaimu. Tapi bagiku, kau tetaplah orang asing yang bisa membahayakan posisinya jika rahasia ini terbongkar."

Lucas mengangkat wajahnya, menatap Elara dengan tenang namun tegas. "Hormat saya, Tuan Putri. Saya sadar siapa saya dan siapa Princess Aurelia. Saya tidak akan membiarkan sehelai rambutnya pun terluka atau kehormatannya ternoda. Saya bersedia menyerahkan nyawa saya sebelum ada satu pun prajurit yang menyentuhnya."

Melihat kesungguhan di mata Lucas, pertahanan Elara akhirnya luluh. Ia menghela napas panjang dan menoleh ke arah Aurelia. "Baiklah. Aku akan membantumu sekali lagi. Aku akan mengatakan pada dayang dan penjaga bahwa kita sedang melakukan meditasi sunyi di dalam perpustakaan dan tidak boleh diganggu selama tiga jam."

Elara kemudian menatap Lucas dengan sorot mata mengancam namun penuh rasa sayang pada adiknya.

"Aku menitipkan adikku kepadamu, Lucas. Jaga dia baik-baik. Awas saja kalau terjadi sesuatu padanya atau jika dia pulang dengan air mata. Aku sendiri yang akan melaporkanmu kepada Raja, dan kau tahu apa hukumannya bagi rakyat jelata yang menculik seorang putri."

Lucas menunduk mantap. "Siap. Saya tidak akan mengecewakan Anda. Saya akan menjaga Aurelia."

Sebelum pergi, Aurelia menghambur ke pelukan Elara. Ia memeluk kakaknya erat-erat, menghirup aroma parfum mawar yang menenangkan. "Terima kasih, Kakakku yang sangat cantik sekali. Terima kasih sudah mau membantuku."

Elara membelai rambut Aurelia dengan lembut. "Pergilah. Dan kembalilah tepat waktu."

Dengan bantuan jubah kumal untuk menutupi identitasnya, Aurelia menyelinap keluar bersama Lucas menuju kereta logistik yang sudah disiapkan di gerbang belakang. Begitu mereka berhasil keluar dari gerbang istana, udara segar pasar rakyat langsung menyambut mereka.

Suasana pasar di sore hari sangat meriah. Aurelia merasa jantungnya berdebar kencang karena senang. Mereka berjalan menyusuri kerumunan, dan kali ini, Lucas tidak ragu untuk menggandeng tangan Aurelia dengan erat agar ia tidak tersesat di antara lautan manusia.

"Lihat, Lucas! Kedai roti goreng itu masih ada!" seru Aurelia sambil menunjuk sebuah kedai kecil.

Mereka membeli roti goreng yang masih panas dan aromanya sangat menggoda. Sambil mengunyah, mereka tertawa mengingat betapa belepotannya wajah mereka dulu saat pertama kali mencoba roti itu. "Dulu kamu makannya sampai ke hidung!" ejek Lucas.

"Kamu juga sama saja!" balas Aurelia sambil memukul bahu Lucas pelan.

Mereka terus berjalan menuju tepi sungai, tempat mereka dulu menghabiskan waktu bersama. Sesampainya di sana, matahari mulai tenggelam, menciptakan warna jingga kemerahan di permukaan air yang tenang. Aurelia duduk di atas batu besar, melihat aliran air yang sama seperti enam tahun lalu.

"Masih sama seperti dulu ya, Lucas," ucap Aurelia dengan mata berbinar. "Ikan-ikannya masih banyak. Ingat tidak waktu kamu hampir terpeleset karena mencoba menangkap ikan besar untukku?"

Lucas tertawa lepas, suara tawa yang sangat jujur. "Tentu saja aku ingat. Aku basah kuyup dan harus bersembunyi di dalam kereta logistik supaya tidak ketahuan prajurit penjaga gerbang."

Aurelia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap Lucas, menikmati momen kebebasan ini tanpa memikirkan apa pun yang akan terjadi esok hari. Ia hanya ingin menikmati rasa roti goreng ini, suara aliran sungai, dan keberadaan Lucas di sampingnya.

Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi selama enam tahun berpisah, saling mengejek, dan tertawa lepas seolah beban istana tidak pernah ada.

"Hari ini benar-benar asyik," bisik Aurelia. "Terima kasih sudah membawaku kembali ke sini."

Lucas tersenyum, menatap air sungai yang berkilau. "Selama kamu senang, aku akan melakukannya lagi. Sekarang, ayo kita kembali sebelum Elara benar-benar melaporkanku ke Raja karena kita telat lima menit."

Mereka kembali ke istana dengan hati yang dipenuhi kegembiraan masa kecil yang hidup kembali. Di balik dinding batu yang tinggi, rahasia ini tersimpan rapi, menjadi bahan bakar bagi Aurelia untuk menghadapi hari-harinya sebagai putri di hari esok.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!