NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesan yang Berbeda

Setibanya di rumah, Angkasa langsung menuju kamarnya di lantai dua tanpa mempedulikan mamanya yang mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan yang terdengar seperti dengungan lebah di telinganya.

"Aang capek, Ma," kata Angkasa sambil berjalan gontai menaiki tangga menuju kamarnya. Nyonya Mahendra hanya menghela napas panjang.

Angkasa menghempaskan tubuhnya ka atas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang mengguratkan kembali wajah Nia yang ceria.

"Kamu Aang kan? Angkasa? Angkasa Biru Cakrawala? Iya kan? Ini aku! Kamu inget? Nia! Inget kan?"

Pertanyaan Nia masih terngiang jelas di telinga Angkasa. Angkasa tak menyangka dia akan bertemu kembali dengan Nia setelah sebelas tahun terpisah. Nia tak berubah. Masih ramah, ceria seperti Nia yang Angkasa kenal dulu.

"Dia bahkan masih inget nama lengkap ku," gumam Angkasa.

Angkasa bangun dari rebahannya, membuka koper yang dibawanya tadi dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berukuran 15cmx25cmx7cm terbuat dari kayu. Angkasa duduk di lantai kamarnya, bersandar pada dipan kasurnya, membuka kotak kayu itu perlahan. Banyak foto masa kecilnya bersama Nia saat di panti, beberapa gambar karya Nia yang selalu indah dan sebuah gelang persahabatan buatan Nia.

Angkasa mengambil gelang persahabatan yang Nia buat dari manik-manik warna hitam, warna favorit mereka, dengan manik-manik bergambar alfabet N di tengah gelang. Angkasa meraba manik-manik alfabet N dengan ibu jarinya.

"Dia bahkan masih memakai ini setelah belasan tahun," gumam Angkasa yang tadi sempat melirik pergelangan tangan kiri Nia yang mengenakan gelang yang sama dengan manik-manik alfabet A.

Angkasa memakai gelang itu. Lalu menatapnya lama sebelum akhirnya dia lepas lagi. Angkasa menutup kotak kayu dan menyimpannya di lemari bagian bawah.

Angkasa kembali merebahkan tubuhnya. Tangannya masih membawa gelang persahabatan yang dia ambil dari kotak masa lalunya.

"Kamu... masih sama, Nia. Tapi... aku enggak," gumam Angkasa.

Setelah menatap gelang persahabatannya cukup lama, Angkasa menyimpannya di saku celananya. Lengan kanannya dia biarkan menutupi matanya yang terpejam.

'Aku harap, kita nggak akan pernah ketemu lagi,'

***

Nia menatap kaos putihnya yang menggantung basah di jemuran balkon kamar kosnya. Dia masih mencerna kejadian sore tadi yang bagai mimpi. Bertemu dengan Angkasa adalah hal yang selama ini dia nantikan. Namun, pertemuan kembali itu tak seperti yang dia selalu bayangkan.

"Nia? Siapa?" kata Angkasa waktu itu dengan nada dingin sambil memasukkan kembali uang ke dalam dompetnya.

"Eh? Nia. Dunia Damai Sentosa. Kamu lupa?" tanya Nia lagi, memastikan Angkasa tak melupakan nama panjangnya. Angkasa terdiam.

"Sayangnya, Nona, dunia sedang tidak damai sentosa. Perang sedang berkecamuk di bagian belahan bumi yang lain," kata Angkasa sambil memasukkan dompet ke dalam sakunya. Nia mengerutkan alisnya.

"Dunia Damai Sentosa itu nama panjang aku. Kamu lupa?" tanya Nia yang merasa aneh. Baginya, orang-orang tidak akan dengan mudah melupakan namanya yang unik. Angkasa terdiam.

"Nama yang indah. Jadi... saya minta maaf karena ketidak-hati-hatian sopir saya, baju kamu jadi kotor dan basah," kata Angkasa dingin.

"Eh?"

"Apa perlu kami mengantar kamu sebagai tindakan ganti rugi?" tanya Angkasa, meski terdengar sopan, tapi nada dan ekspresinya sangat datar dan dingin.

"Oh, nggak. Nggak usah. Nggak apa-apa. Kos aku cuma masuk gang depan itu seratus meter udah sampe kok. Kalo kamu harus nganter malah jadinya repot. Makasih," kata Nia.

"Baiklah. Terimakasih atas pengertian kamu. Kami permisi. Sekali lagi, maaf," kata Angkasa lalu pergi menuju mobilnya. Sopir Angkasa terlihat menunduk beberapa kali pada Nia sebelum akhirnya kembali ke mobil.

Nia menghela napas panjang, seiring mobil yang membawa Angkasa pergi. Dia yakin bahwa cowok itu adalah Angkasa. Namun, aneh bagi Nia jika Angkasa terlihat dan terdengar seperti robot.

"Bukannya dulu kamu lebih ceria dan... hangat?" gumam Nia sambil masih menatap kaos putih yang menggantung si jemuran balkon kamar kosnya.

Nia menatap gelang persahabatan di pergelangan tangannya yang sudah terlihat lusuh. Dilihatnya inisial A di salah satu manik-manik yang terpasang di sana.

"Apa yang membuat kamu berubah, Ang?" gumam Nia sambil menatap gelang persahabatan di pergelangan tangannya.

Nia menghela napas panjang lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Ingatan masa kecilnya kembali terlintas menghiasi langit-langit kamarnya yang kosong.

Nia bangkit dari rebahannya, memilih satu kanvas kosong yang dia simpan di samping lemari bajunya lalu meletakkannya pada easel yang berdiri di depan pintu kaca kamar kosnya yang menghadap ke balkon. Nia kembali menghela napas panjang. Dipejamkannya matanya. Setelah beberapa detik, dia membuka mata perlahan menatap kanvas kosong yang juga menatapnya.

Nia mengambil pensilnya, menggariskan tipis-tipis sebuah sketsa dasar lalu mengambil palet warnanya, menyapukan warna abu-abu, biru dan sedikit warna oranye lembut di beberapa titik. Nia mundur beberapa langkah, mengamati kanvasnya lalu kembali menyapukan warna abu gelap, hitam, dan beberapa warna netral.

Nia kembali mundur, mengamati hasil lukisannya yang dirasa masih ada sesuatu yang kurang di dalamnya. Nia kembali menyapukan warna oranye dengan sedikit kuning di beberapa titik untuk memberi kesan hangat. Nia sedikit memundurkan tubuhnya, lalu menyapukan kembali sedikit warna biru dan ungu di beberapa tempat.

Tangan Nia berhenti menyapukan kuas. Dia tertegun lalu mundur beberapa langkah. Dia kini menatap ke arah kanvasnya yang kini penuh dengan warna namun terkesan dingin.

"Um! Dingin. Kata yang tepat buat kamu sekarang, Ang," gumam Nia.

Nia terduduk di lantai sambil menatap lukisan Angkasa yang dia buat. Ada rasa rindu yang tak bisa Nia jelaskan. Ada jarak asing yang Nia rasakan. Sosok yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda.

Nia memeluk lututnya masih sambil menatap lukisannya. Di luar, hujan turun deras. Kaos putih yang masih menggantung di jemuran balkon, Nia biarkan begitu saja.

Nia menenggelamkan kepalanya diantara lutut dan lengannya. Ada rasa kecewa dan sedih yang beradu di dalam hatinya, membuat matanya panas lalu basah. Airmata Nia mengalir seiring hujan turun semakin deras. Wajah dingin Angkasa dan wajah ceria Angkasa kecil silih berganti melintas ruang ingatan Nia.

Nia menengadah, kembali menatap lukisannya. Dia kemudian berdiri berjalan perlahan menuju lukisannya.

"Setidaknya, aku tau kamu masih hidup. Meski mungkin tidak sebahagia yang aku kira," gumam Nia sambil menatap sosok Angkasa dalam lukisannya.

"Tak apa. Aku akan jadi matahari yang akan bersinar sekuat tenaga untuk mengembalikan senyum di wajah mu. Kamu ingat?" gumam Nia lagi.

Nia berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Dia menatap langit gelap beserta hujan lebatnya.

'Semoga... kita bisa bertemu lagi, Ang. Aku harap begitu,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!