Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Bagas meninggalkan kontrakan Kyra dengan pikiran yang berkecamuk. Ia harus menekan Kyra untuk datang lusa malam. Itu adalah satu-satunya jalan. Ia tahu Kyra akan membencinya, tapi ini adalah langkah penting.
Saat ia tiba di apartemen mewahnya, suasana di ruang tengah terasa tegang. Revan duduk di sofa, menatap keluar jendela kota yang berkilauan.
Bagas meletakkan kunci mobil dan tas kantornya di meja konsol. Ia berjalan ke bar mini dan menuang single malt ke dalam dua gelas.
“Duduk, Van,” kata Bagas, suaranya lelah. Ia menyodorkan satu gelas whisky kepada adiknya.
Revan mengambil gelas itu, tetapi tidak meminumnya. Matanya terpaku pada kakaknya.
“Sekarang jelaskan,” tuntut Revan, suaranya rendah dan penuh desakan. “Siapa anak itu, Kak? Aku serius. Kenapa dia memanggilmu ‘Om Bagas’ tapi dia fotokopi wajahmu waktu kecil? Dan… siapa ibunya?"
Bagas memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kekuatan. Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan ini dari Revan, adiknya yang paling dekat dengannya.
“Namanya Aldian,” kata Bagas, menatap Revan lurus-lurus. “Dia anakku.”
Revan terdiam sejenak. Lalu ia tertawa, tawa yang terdengar hampa dan histeris. “Anakmu? Kau sedang bercanda, Kak. Kau bahkan tidak pernah terlihat punya pacar serius selama delapan tahun terakhir! Bagaimana bisa—”
“Aku tidak bercanda, Revan. Dia memang anakku,” potong Bagas, nadanya final, mematikan semua keraguan. “Aldian lahir lima tahun lalu.”
“Kyra,” gumam Revan, matanya melebar. “Wanita yang kau nikahi secara diam-diam lima tahun lalu? Yang kemudian tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kau sebut lagi?”
Bagas mengangguk perlahan. “Ya. Kyra adalah istrinya. Dan Aldian adalah putraku dari pernikahan itu.”
Revan menjatuhkan dirinya kembali ke sofa, menyandarkan kepala
“Aku tidak percaya,” bisik Revan. “Aku pikir kau gila waktu itu, tiba-tiba menikah tanpa memberitahu siapa pun. Kenapa kau tidak pernah bilang? Kenapa dia menghilang? Kau bilang dia pergi meninggalkanmu, Kak!”
Bagas meletakkan gelasnya di meja. Wajahnya mengeras, dipenuhi memori yang menyakitkan.
“Dia tidak meninggalkanku, Van. Dia dipaksa pergi,” jelas Bagas, suaranya berat.
“Dipaksa? Oleh siapa?!”
Bagas menatap Revan dengan tatapan yang penuh kepedihan dan amarah yang terpendam.
“Kau ingat saat aku bilang aku akan membawa Kyra ke Papa dan Mama untuk perkenalan resmi, beberapa minggu setelah kami menikah?”
Revan mengangguk.
“Papa dan Mama tahu tentang pernikahan itu, Van. Bahkan sebelum aku sempat memberitahu kalian.”
Revan terdiam, bingung. “Bagaimana?”
“Papa tahu tentang pernikahan kami. Dia menentang habis-habisan. Dan kau tahu bagaimana Papa kalau dia mau sesuatu, dia akan lakukan apa pun.” Bagas mengusap kacamatanya, suaranya pecah sedikit. “Dia menemui Kyra diam-diam. Memberikan uang. Ancaman. Tekanan. Dan dia minta Kyra pergi… meninggalkanku. Tanpa kabar. Tanpa pesan.”
Revan terdiam lama. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar, tetapi suara kakaknya terlalu jujur untuk menjadi kebohongan.
“Kyra… menerima itu?” Revan bertanya, suaranya pelan.
“Dia tidak punya pilihan. Dia takut. Dia sendirian. Dia tidak mau aku dan karirku bermasalah dengan Papa,” lanjut Bagas. “Dia pergi. Dia meninggalkanku surat, memintaku melupakannya, dan bilang dia tidak mencintaiku lagi. Aku baru mengetahui kebenarannya beberapa tahun kemudian, setelah beberapa penyelidikan yang aku lakukan secara diam-diam.”
Revan menggeleng, memproses informasi yang mengejutkan itu. “Dan Aldian… Kyra tidak memberitahumu tentang Aldian?”
“Kyra tidak tahu dia hamil saat dia pergi. Dia baru tahu setelah dia pindah ke Jakarta. Dia membesarkan Aldian sendirian, tanpa bantuan siapa pun, selama lima tahun,” jelas Bagas, matanya dipenuhi rasa bersalah. “Aku baru menemukannya lagi beberapa minggu lalu. Aldian… dia tidak tahu aku ayahnya. Dia hanya tahu aku ‘Om Bagas’.”
Revan menatap kakaknya dengan tatapan penuh rasa iba. “Ya Tuhan, Kak. Jadi selama ini kau tahu dia di luar sana, tapi kau tidak bisa melakukan apa-apa karena Papa?”
“Aku mencoba menemukannya, tapi Papa mengawasiku dengan ketat. Papa juga mengancam Dika untuk tidak membocorkan informasi apa pun,” kata Bagas. “Aku baru berhasil menemukan jejaknya setelah Papa meninggal, dan aku mengambil alih kendali penuh di perusahaan. Tapi dia sudah hilang, Van. Aku mencarinya selama dua tahun sebelum akhirnya menemukan dia bekerja di perusahaan sebagai office girl itu.”
Bagas menatap adiknya dengan tatapan memohon. “Aku tidak akan kehilangan mereka lagi, Revan. Kyra adalah istriku, dan Aldian adalah anakku. Aku akan membawa mereka kembali. Aku akan memperbaiki kesalahanku.”
Revan mengangguk, rasa terkejutnya berganti menjadi pemahaman. “Aku mengerti, Kak. Aku akan membantumu. Tapi, Mama… kau tahu Mama akan bereaksi hebat jika tahu tentang ini.”
“Itulah mengapa acara lusa malam itu sangat penting,” kata Bagas, matanya kembali menunjukkan tekad yang kuat. “Aku harus melakukan sesuatu sebelum Mama berhasil menjodohkanku